
45 menit mereka sudah selesai membeli beberapa cemilan.
"Udah kan? Gak ada lagi yang mau dibeli?" tanya Shiren sambil menenteng kantung plastik berisi cemilan miliknya. Begitupun dengan Hanin, Ivy dan Echa yang menenteng kantung plastiknya masing-masing.
"Udah." jawab Hanin, Echa dan Ivy kompak.
"Nin, biar Caca aja yang nyetir." ucap Echa.
"Ini kuncinya." ujar Hanin sambil memberikan kunci mobil Bara kepada Echa.
...----------------...
Sesampainya di parkiran mereka langsung masuk kedalam mobil. Hanin dan Echa berada di kursi depan sedangkan Shiren dan Ivy berada di kursi pengemudi bersama dengan kantung plastik berisi cemilan mereka masing-masing. Echa melajukan mobilnya keluar dari parkiran supermarket.
"Ca, jalan pintas aja. Kalau jalan yang tadi macet." ucap Ivy yang sedang memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Oke." ujar Echa yang sedang melihat Ivy dari pantulan kaca.
Keadaan di mobil sangat hening, tidak ada yang memulai percakapan.
"Hening banget, kayak berasa gak ada orang." ucap Echa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Ca, perasaan Hanin gak enak." ujar Hanin sambil menatap kearah Echa yang berada di sampingnya.
"Caca juga." ucap Echa dengan suara pelan ketika melihat Shiren dan Ivy seperti sudah menjemput alam mimpinya.
"Eh... Wait." ujar Hanin sambil melihat kebelakang.
Matanya menyipit untuk memastikan apa yang dilihatnya itu manusia.
"Ca... Anak geng motor ngikutin kita." ucap Hanin sembari menatap kearah Echa yang sedang menyetir setelah memastikan bahwa penglihatannya itu benar.
"Serius?" tanya Echa.
"Serius Ca. Buat apa Hanin bohong?" tanya Hanin meyakinkan Echa bahwa anak geng motor sedang mengikuti mobilnya.
Jumlahnya lumayan banyak dan itu yang membuat Hanin takut sekaligus khawatir.
"Telpon kak Nathan." ucap Echa sambil menancapkan gas nya dengan kecepatan diatas 80.
Hani menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ca, jangan ngebut-ngebut." ucap Ivy yang masih memejamkan matanya.
"Ada anak geng motor yang ngikutin kita." ujar Echa.
"Ya biarin lah Ca, cuman anak geng motor." ucap Shiren yang sedang memejamkan matanya.
"Geng motor?" tanya Ivy dan Shiren kompak sembari membuka matanya.
"Iya, liat belakang. Mereka masih ngikutin?" tanya Echa.
Shiren dan Ivy yang mendengar perkataan itu langsung melihat kebelakang. Dan benar saja. Segerombolan orang bermotor sedang mengikuti mobil yang ditumpangi olehnya.
"Iya. Mereka masih ngikutin kita." jawab Shiren panik.
"Ca, Kak Nathan gak diangkat." ucap Hanin yang sudah menelpon Nathan beberapa kali namun tidak diangkat.
"Pake ponsel Caca aja, telpon kak Bara. Vivi sama Shiren juga telpon yang lain." ujar Echa sambil memberikan ponsel miliknya kepada Hanin.
Mereka bertiga mengikuti apa tang dikatakan oleh Echa. Sedangkan Echa terus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas 80.
"Halo kak." ucap Hanin ketika Bara mengangkat telponnya.
"Hm?" gumam Bara yang berada dalam sambungan telpon.
"Kita di ikutin sama geng motor." ucap Hanin sambil melihat kearah belakang yang masih diikuti oleh segerombolan orang dengan kendaraan bermotor.
"Shareloc." ujar Bara.
"Iya, Hanin shareloc." ujar Hanin sambil mematikan sambungan telponnya untuk membangunkan lokasi mereka saat ini kepada Bara.
Echa masih melajukan mobilnya diatas 80. Jalanan terlihat sangat sepi, tidak ada mobil dan motor yang lewat jalan ini. Echa sama sekali tidak bisa meminta bantuan. Yang saat ini harus dia lakukan adalah melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal untuk bisa lepas dari geng motor yang mengikutinya itu.
Namun tiba-tiba saja ada satu motor yang menghadang mereka dari arah depan dan mau tak mau Echa harus menginjak rem secara mendadak.
Ckit. Dugh.
Semua orang yang berada di dalam mobil terbentuk kedepan dan meringis kesakitan.
Echa merasakan kepalanya terasa pening ketika terbentur pada stir mobil.
"Ca..." panggil teman-temannya yang terdengar tidak jelas di telinganya.
Kepalanya sangat sakit untuk mencerna apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
"Woi. Keluar kalian!" teriak salah seorang laki-laki dari arah depan.
Perkataan itu mampu membuat Echa tersadar. Dia menggelengkan kepalanya, merasakan ada sesuatu yang mengalir di pelipisnya.
"Darah..." gumam Echa ketika melihat stir mobil.
"Kenapa Ca? Caca gak apa-apa kan?" tanya Hanin.
"Eh... Engga." jawab Echa sambil menutupi pelipisnya dengan rambut.
"Woi! Keluar kalian!" teriak pemuda yang kini berada di dekat jendela Hanin.
"Wih. Cewek bos." ucap salah seorang temannya.
"Yoi, jago juga dia jalanin mobilnya." ujar pria yang sedang berdiri di kaca jendela sebelah Hanin.
"Kita keluar?" tanya Shiren ketakutan.
"Keluar aja." jawab Echa.
"Jangan Ca. Mau celakain diri sendiri?" tanya Ivy.
__ADS_1
"Mumpung masih dua orang, sebelum yang lainnya dateng." jawab Echa sambil menatap kebelakang yang sama sekali tidak ada gerombolan orang bermotor.
"Ca, jangan aneh-aneh. Kita perempuan." ucap Ivy.
"Caca bener. Kita harus keluar." ujar Hanin sambil menatap kearah dua orang laki-laki yang sedang berada di kaca mobil sebelahnya.
"Nin..." ucap Shiren tertahan.
"Jangan jadi perempuan yang lemah. Hanin tau apa yang harus kita lakuin sama mereka." ujar Hanin.
"Apa?" tanya Echa penasaran.
"Warna aura yang mereka pancarkan lebih dominan melankolis daripada sangar." jawab Hanin.
"Nunggu apa lagi? Kita keluar." ucap Echa sambil membuka pintu mobil untuk menghampiri dua orang anak geng motor yang katanya melankolis itu.
"Wih, cantik juga..." ucap salah seorang pria sambil menatap kearah Hanin dan Echa yang keluar dari dalam mobil.
"Oke, to the point aja, kalian sebenarnya mau ngapain?" tanya Hanin.
"Songong." jawab pria satunya lagi. Echa bisa membaca sesuatu yang ada dalam pikiran dua lelaki itu.
Laki-laki yang menyebut dirinya dan Hanin itu adalah Fano. Pria tampan yang selalu gagal dalam urusan percintaan karena pribadinya yang humble. Dan laki-laki satunya lagi bernama Erik. Pria dengan wajah diatas rata-rata itu selalu diselingkuhi. Namun tetap saja menerima, karena rasa cintanya kepada wanita lebih dalam dari wanita itu sendiri. Mengenaskan.
"Permisi kak Erik. Tapi kita cuman mau numpang lewat aja," ucap Echa sambil tersenyum kearah Erik.
"Gak mudah." ujar Erik sambil menyunggingkan senyumannya dan melangkah kearah Echa.
"Really?" tanya Echa ketika Erik berada di hadapannya.
"Hm." gumam Erik dengan wajah angkuhnya.
Jika dilihat-lihat, Erik ini memiliki pribadi yang dingin terhadap wanita.
Suara deru motor yang lumayan banyak mampu memenuhi jalanan yang tadinya sepi kini terasa ramai.
Echa dan Hanin saling menatap satu sama lain seolah mengatakan, kita dalam bahaya.
Mampus. ucap Echa dalam hati ketika melihat segerombolan orang yang mengikutinya tadi sudah mengelilingi dirinya agar tidak bisa lolos.
"Ca. Hanin. Masuk!" teriak Shiren dari dalam mobil.
"Mau masuk lagi?" tanya Erik sambil mencekal tangan Echa erat.
"Lepas!" ucap Echa ketika Erik menggenggam tangannya sangat erat.
"Gak!" ujar Erik.
BUGH.
Satu pukulan tepat mengenai perut Erik menggunakan lutut Echa.
"Argh!" teriak Erik sambil melepas cekalan tangannya dari pergelangan tangan Echa.
"Tahan mereka." teriak salah seorang pria.
"Masuk aja." ucap Echa.
Namun saat Hanin dan Echa ingin masuk kedalam mobil tangannya langsung ditarik begitu saja.
"Mau kemana, cantik?" tanya seorang pria yang menarik tangan Echa agar menjauh dari mobil.
"Lepas." jawab Echa yang terus menarik tangannya agar bisa lepas dari cengkraman tangan pria yang tiba-tiba saja menariknya.
BUGH.
Echa kembali melayangkan serangan untuk melumpuhkan pria yang berada dihadapannya ini.
"Argh!" teriak pria tersebut.
Echa kembali melangkahkan kakinya untuk menuju mobil namun tiba-tiba saja.
SRET...
Seorang pria menyerang Echa menggunakan pisau tajam. Pisau itu tepat melukai diperut sebelah kanan.
"Argh..." ringis Echa pelan ketika merasakan perih di perutnya.
"Mau kemana, Lo?" tanya pria yang menusuk Echa tadi sambil menarik tangan Echa untuk menatap kearahnya.
Echa tidak mengatakan apapun, rasa perih di pelipis nya masih belum hilang, kini ditambah dengan luka diperutnya yang terasa perih.
"Jawab!" teriak pria tersebut sambil mencengkram pipi Echa.
Echa yang mendapat perlakuan seperti itu menatapnya tajam sembari menghempaskan tangan laki-laki itu dari pipinya.
"Kalau lemah jangan keluar dari mobil." ucap pria tersebut menatap tajam kearah Echa.
BUGH.
Satu pukulan dari Ivy mampu membuat pria yang berada dihadapan Echa jatuh terduduk.
"Caca gak apa-apa kan?" tanya Ivy sambil membawa besi ditangannya. Echa tersenyum tipis melihat Ivy dengan wajah polosnya memukul pria yang melukainya menggunakan besi yang bisa dibilang kuat untuk membuat musuhnya tumbang.
"Enggak." jawab Echa sambil tersenyum manis seolah dirinya baik-baik saja.
"Caca! Awas!" teriak Shiren yang sedang membantu Hanin.
Echa yang mendapat teriak secara tiba-tiba itu langsung menghindar dari serangan pria yang sedang berlari menuju kearahnya.
Dugh.
Naasnya, Echa tersandung batu kecil sehingga pelipisnya yang luka membentur pohon.
"Argh..." ringis Echa sambil memegang kepalanya yang kembali pening.
Echa langsung mendudukkan dirinya di bawah pohon tersebut, merasakan sakit di kepalanya lagi. Bahkan dia juga tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Ivy padanya.
__ADS_1
"Woi, cabut." teriak salah seorang pria kepada teman-temannya.
"Ca. Hei..." panggil seseorang yang bisa terdengar jelas oleh telinganya.
"Kakak." ucap Echa dengan suara lemah sambil melihat kearah orang yang berada di hadapannya. Bara.
"Dev. Urusin mereka. Nathan bawa Hanin ke dalam mobil." teriak Bara sambil melihat orang-orang yang melarikan diri.
"Ayo." ucap Bara sambil membantu Echa untuk bangun dari duduknya.
"Kak... Sakit..." ujar Echa lirih dengan tatapan yang mulai terpejam, wajah nya sudah pucat, dia tidak sanggup untuk berdiri. Kakinya terasa seperti melayang.
"****!" umpat Bara dengan amarah memuncak. Dia melihat darah yang mengalir dari pelipis kekasihnya itu langsung mengangkat tubuh Echa masuk kedalam mobil.
"Kak, Caca baik-baik aja?" tanya Hanin ketika Bara mendudukkan Echa di kursi depan.
Nathan dan Hanin sudah berada di dalam mobil dengan luka yang tidak terlalu parah.
"Not fine." jawab Bara sambil melangkahkan kakinya menuju kursi pengemudi dengan tergesa-gesa.
"Kak..." panggil Echa sambil menatap kearah Bara.
"Hm? Ada yang sakit?" tanya Bara dengan tatapan khawatir.
"Caca gak mau kerumah sakit." jawab Echa dengan bibir pucat dengan tangan yang masih menahan perih perut sebelah kanannya yang terkena pisau.
"Harus." ucap Bara yang kini sudah melajukan mobilnya.
"Kak, Caca gak mau. Tolong ya... Kali ini aja, Caca gak mau." ujar Echa dengan tatapan memohon. Entah kenapa dia merasakan tidak enak hati jika harus dibawa kerumah sakit.
"Tapi Hanin..." ucap Bara sambil menatap kearah Hanin yang sedang dalam pelukan Nathan.
"Hanin cuman luka kecil kak, dirumah juga bisa diobatin." ujar Hanin sambil menahan rasa perih di sudut bibir dan tangannya.
"Ya... Caca mohon." ucap Echa sambil menatap kearah Bara. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Echa mengambil kesimpulan bahwa geng motor itu adalah orang suruhan dari seseorang. Mereka sengaja melukai Echa agar bisa pergi kerumah sakit dan pastinya akan ada seseorang yang menunggunya dirumah sakit. Ini baru feeling saja, tapi dia merasakan feeling nya ini sangat kuat.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia hanya fokus pada jalanan dengan amarah yang dia tahan.
...----------------...
Sesampainya di depan rumah, Bara langsung menggendong Echa menuju kamarnya. Tatapan memohon yang diberikan oleh Echa mampu membuat Bara tidak bisa menolaknya.Anggap saja Bara lemah.
"Jangan dulu tutup matanya." ucap Bara ketika melihat mata Echa mulai terpejam.
"Caca ngantuk." ujar Echa sambil tersenyum, seolah dirinya baik-baik saja.
"Jangan tidur dulu." ucap Bara yang mengerti jika luka di tubuh Echa bukan hanya di pelipisnya saja. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
...----------------...
Sesampainya di kamar, Bara langsung menidurkan Echa ditempat tidurnya sambil mencari kotak P3K.
"Buka jaketnya." ujar Bara yang masih mencari kotak P3K.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu hanya diam saja.
"Ca." panggil Bara sambil duduk di samping Echa dengan kotak p3k di tangannya.
"Caca baik-baik aja, kak." ucap Echa sambil tersenyum.
"Kakak cuman bilang, buka jaketnya." ujar Bara menatap lekat mata Echa.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu hanya bisa menghela nafas sambil menahan perih yang ada di perutnya. Dia membuka jaket yang menutupi luka diperutnya itu.
Bara melihat baju putih yang digunakan Echa kini sudah dipenuhi oleh darah di sebelah kanan perutnya.
"Ca..." ucap Bara sambil menatap kearah Echa.
Echa masih menampilkan senyumannya meskipun dibarengi oleh rasa sakit yang sejak tadi dia tahan.
Bara mengepalkan tangannya kuat sambil menatap penuh amarah kearah depan.
Echa yang melihat amarah dalam diri Bara itu langsung menggenggam tangannya. "Mau obatin Caca? Kalau gak kuat, biar Caca sendiri aja yang obatin."
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung menggelengkan kepalanya cepat, dia sedikit menaikkan baju Echa.
Tangannya gemetar ketika melihat goresan yang cukup panjang diperut Echa meskipun tidak terlalu parah.
Echa Manahan perih ketika Bara mulai mengobati luka diperutnya. Dia menggenggam erat tangan Bara.
Sesekali Bara melihat kearah Echa yang sedang menahan diri agar tidak meringis kesakitan.
Bara benar-benar akan menghukum orang yang sudah membuat Echa seperti ini, apapun alasannya. Bara tidak akan mengampuni mereka semua.
Mereka sudah melukai kekasihnya hingga seperti ini, Bara tidak akan tinggal diam.
"Udah, ganti baju," ucap Bara yang sudah selesai mengobati luka di perut dan pelipis Echa. Dia memberikan kaus kepada Echa.
"Keluar" ujar Echa sambil membawa kaus yang diberikan oleh Bara.
"Kenapa keluar?" tanya Bara.
"Bukannya kakak nyuruh Caca ganti baju?" tanya Echa.
"Iya." jawab Bara.
"Yaudah keluar dulu sebentar, Caca mau ganti baju." ucap Echa dengan suara yang masih lemah.
"Gak apa-apa, anggap aja latihan." ujar Bara cengengesan.
"Kak, keluar. Jangan sembunyi dibalik latihan." ucap Echa.
"Iya kakak keluar, nanti kalau udah panggil aja." ujar Bara sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Iya, udah sana..." ucap Echa.
__ADS_1
"Iya Ca, iya." ujar Bara yang kini sudah keluar dari kamarnya.