TEROR

TEROR
|34| MENURUN


__ADS_3

Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Bara dan Echa sudah sampai di rumah sakit.


Saat ini Echa sedang berada di samping Bara yang sedang memejamkan mata sambil menggenggam tangannya. menguatkan dirinya sendiri bahwa semua pasti akan baik-baik saja.


Dokter dan suster terus saja keluar masuk ruangan untuk memaximalkan agar Bunda An, Daniel dan Aira bisa diselamatkan.


"Ca." Panggil seseorang. Echa yang mendengar namanya di panggil itu langsung melihat ke arah sumber suara.


"Ibu.." sahut Echa melihat yang memanggilnya itu adalah Roslyn. Bara yang mendengar itu langsung membuka matanya, Roslyn dapat melihat mata bara yang sedang menahan tangisannya.


"Gak apa-apa sayang, semuanya bakalan baik-baik aja." ucap Roslyn sambil memeluk Bara.


Bara yang di peluk seperti itu membalas pelukan Roslyn sambil meneteskan air matanya yang sejak tadi dia simpan.


"Bara takut Bu.." ujar Bara dengan suara gemetar.


"Bara takut mama, papa, Aira ninggalin Bara sendirian.." sambung Bara mempererat pelukannya pada Roslyn, dia benar-benar sedang dikuasai oleh rasa takutnya. Takut semua pergi meninggalkannya secara bersamaan.


"Suth.. jangan bilang gitu, mereka pasti lagi berusaha buat membuka matanya, mereka cuman mau istirahat sebentar aja." ucap Roslyn sambil mengelus punggung Bara.


"Sekarang kamu sama Caca pulang dulu gih, ganti baju, gak enak diliat ya kalau kayak gini pasti gerah juga, biar ibu yang nungguin Mama, Papa sama Aira." sambung Roslyn sambil melepas pelukannya pada Bara, menghapus jejak air mata Bara yang terus saja keluar dari matanya.


"Tapi.." ucap Bara yang langsung di sanggah oleh Roslyn.


"Kalau udah ganti baju gak apa-apa mau kesini lagi juga, jangan lupa makan." ujar Roslyn sambil tersenyum kearah Bara. Sedangkan Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Roslyn menatap kearah Echa seolah mengisyaratkan untuk membawa Bara pulang. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ayo kak." Ajak Echa sambil menggenggam tangan Bara.


Bara langsung berdiri dari duduknya melangkahkan kaki bersama dengan Echa untuk mengganti pakaian gaun dan jas yang masih mereka gunakan.


Namun saat Bara dan Echa hilang dari pandangan Roslyn, tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan.


"Apakah ibu keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut.


"Iya betul, kenapa dok?" Tanya Roslyn.


"Pasien membutuhkan golongan darah AB sebanyak 2 labu. Rumah sakit sudah kehabisan stok darah AB." Jawab dokter tersebut.


"Baik dok saya akan usahakan untuk mencarinya. Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Roslyn dengan raut wajah khawatir sambil menatap kearah dokter yang sedang menghela nafasnya seolah keadaannya tidak ada yang baik.


"Kedua orang tuanya sudah kami tangani dan keadaannya sudah agak baik, sedangkan anaknya kemungkinan kecil untuk selamat karena dia mengalami cedera kepala yang berat tapi kami sedang berusaha agar keadaanya baik seperti kedua orang tuanya." Jawab dokter tersebut.


"Baik terimakasih." Ucap Roslyn. Dokter tersebut menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Roslyn sendirian.


...----------------...


Sedangkan disisi lain, Bara dan Echa sudah sampai di rumah Bara. Echa langsung pergi ke dapur untuk memasak makanan dan Bara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Caca belum telon yang lain." ucap Echa saat sedang menunggu makanannya matang.


Echa langsung mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya untuk menghubungi yang lain tentang keadaan keluarga Bara.


Saat dia membuka ponsel, banyak sekali pesan masuk hingga panggilan masuk dari teman-temannya yang menanyakan keberadaannya bahkan ada juga yang memarahinya karena pergi begitu saja.


"Telpon Hanin aja kali ya, kalau telpon Vivi pasti bakalan dia yang ngomong duluan." ucap Echa pada dirinya sendiri.


Echa langsung menelpon Hanin, namun tidak diangkat olehnya.


"Jam 19.50, mereka lagi sibuk?" Tanya Echa.


Echa mencoba menelpon semua teman-temannya itu tapi tidak ada yang mengangkat telponnya sama sekali.


Echa menghela nafasnya panjang, semoga teman-temannya itu tidak marah padanya karena pergi secara tiba-tiba.


Dia tidak terlalu memusingkan teman-temanya itu, mungkin saja mereka sedang sibuk dengan acara mutiara dan Alvero, Echa kembali memasak makanan untuk mengisi perut.


...----------------...


20 menit telah berlalu, Echa sudah selesai memasak makan malamnya itu, dia sedang menyiapkannya sambil sesekali melihat keatas melihat Bara yang tak kunjung turun dari kamarnya.


Echa yang sudah siap menyajikan makannya itu melangkahkan kakinya menuju kamar Bara untuk menyuruhnya makan.


"Kak." Panggil Echa sambil membuka kamar Bara.


Namun Echa melihat Bara yang sedang tertidur di sofa kamarnya dengan layar laptop yang menyala, menampilkan foto antara Bara, Bunda An, Daniel dan Aira yang sedang berlibur di negara Amerika serikat atau di juluki sebagai negri paman sam.

__ADS_1


"Kak.." panggil Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara.


"Kakak.." panggil Echa lagi yang kini sudah berada di hadapan Bara. Menatap wajah tenang Bara yang tampan.


"Kak." Panggil Echa lagi ketika tidak ada pergerakan atau sahutan apapun dari Bara. Echa langsung memegang kening Bara.


"Demam." ucap Echa yang merasakan suhu tubuh Bara meningkat.


Echa melangkahkan kakinya untuk mengambil selimut, setelah mengambil selimutnya Echa langsung menyelimuti tubuh Bara dan melangkahkan kakinya menuju ke meja makan untuk membawa makanan untuk Bara.


"Kenapa harus barengan kayak gini? Caca jadi khawatir sendiri, mana temen-temen gak ada yang angkat telpon Caca." ucap Echa yang sedang mengambil makanan untuk Bara.


Setelah mengambil makanan Echa kembali ke kamar Bara untuk menyuruhnya makan.


"Kak." Panggil Echa yang sudah berada di hadapan Bara sambil menyimpan makanannya di atas meja.


"Kakak.." panggil Echa lagi.


"Hm.." gumam Bara tanpa membuka matanya.


"Makan dulu, nanti tidur lagi. Caca mau mandi dulu." ucap Echa sambil mengelus kepala Bara.


"Nanti.." ujar Bara.


"Sekarang kak, isi dulu perutnya, gak apa-apa sedikit juga." ucap Echa.


"Nanti Ca, kepala kakak lagi pusing.." ujar Bara sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Caca mandi dulu, jangan lupa dimakan." ucap Echa sambil membawa handuk dan baju yang Roslyn bawa untuknya.


"Hm.." gumam Bara.


Echa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar Bara untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.


...----------------...


15 menit telah berlalu, Echa sudah selesai dengan ritual mandinya itu dengan baju yang sudah melekat di tubuhnya.


Saat Echa keluar dari kamar mandi, dia melihat Bara belum sama sekali menyentuh makanannya itu.


"Kakak.." panggil Echa. Namun tidak ada sahutan dari Bara, dia masih tertidur pulas


"Kak.. bangun dulu sebentar, makan dulu sedikit aja, biar gak pusing kepalanya. Caca suapin ya?" Tanya Echa sambil membawa nasi yang dia Bawa.


"Hm.. satu suap" gumam Bara sambil membuka selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya.


"Iya, nih makan dulu." ucap Echa sambil menyuapkan nasi ke mulut Bara yang langsung diterima olehnya.


"Udah.." ujar Bara saat Echa ingin menyuapinya lagi.


"Kakak minum obat dulu." ucap Echa sambil memberikan obat dan air minum kepada Bara. Bara meminum obat tersebut dan menyimpan gelas di atas meja.


"Mau tidur lagi?" Tanya Echa saat Bara memijat kepalanya.


"Udah dapet kabar apa dari ibu?" Tanya Bara.


"Belum ada kabar kak, nanti kalau ada kabar dari ibu, Caca bakalan kasih tau ke kakak." Jawab Echa sambil tersenyum kearah Bara.


Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Echa yang mendapat jawaban seperti itu langsung mengambil piring dan gelas kotor untuk dibawa ke dapur.


Namun saat Echa ingin melangkahkan kakinya, Bara langsung mencekal tangan Echa.


"Mau kemana?" Tanya Bara yang kini sedang menggenggam tangan Echa.


"Mau nyimpen ini kedapur." Jawab Echa.


"Nanti kesini lagi." Ucap Bara sambil menatap mata Echa.


"Iya nanti kesini lagi, lepasin dulu." Ujar Echa.


"Jangan lama." Ucap Bara sambil melepaskan genggaman tangannya dari Echa.


"Iya kak." Ucap Echa.


"1 menit." Ujar Bara kembali memejamkan matanya.


"Kak dari atas kebawah itu gak cukup 1 menit, Caca juga harus masukin makanan ke kulkas." Ucap Echa.

__ADS_1


"5 menit." Ujar Bara.


"Kakak.. jangan di waktu kayak gitu, Caca pasti kesini lagi." Ucap Echa.


"5 menit." Ujar Bara. Echa hanya menghela nafasnya mendengar penuturan seperti itu, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara sambil membawa gelas dan piring yang masih ada sisa makanan.


Echa melangkahkan kakinya menuju dapur, menyimpan gelas dan piring kotor ke tempat cucian piring dan memindahkan makanan ke kulkas.


Echa membuka layar ponsel miliknya dia melihat panggilan masuk dari Roslyn dan teman-temannya.


Tanpa berpikir panjang lagi Echa langsung menelpon Roslyn, semoga dia mendapatkan kabar baik.


"Halo Bu. Gimana kabar Bunda An sama yang lain?" Tanya Echa ketika Roslyn mengangkat telponnya.


"Kabar baiknya, ayah sama bunda An udah di pindahkan ke ruangan biasa tapi Aira keadaannya semakin menurun gak ada peningkatan sama sekali." Jawab Roslyn yang berada dalam sambungan telpon sambil menghela nafasnya panjang.


"Aira.." gumam Echa ketika mengingat perkataan Aira bahwa dirinya akan pulang jauh.


"Tapi dokter masih berusaha biar keadaan Aira baik-baik aja." ucap Roslyn.


"Iya Bu tapi gimana bunda An sama ayah? Ada yang jaga? Ibu sendirian? Yang jaga Aira siapa?" Tanya Echa.


"Ibu suruh Bi Neni sama Mang Agus buat jaga bunda An sama Ayah. Ibu masih nungguin Aira." Jawab Roslyn.


"Bu.. maaf Caca gak bisa kesana, Kak Baa demam." Ucap Echa.


"Biar Caca aja yang tunggu Aira, ibu disini sama kak Bara biar bisa tidur, ibu kan masih banyak kerjaan." sambung Echa.


"Gak apa-apa, biarin ibu aja yang disini, kalau ibu yang jaga Bara pasti bakal maksa buat kesini dan nyuruh ibu tidur disana. Bilang aja sama Bara. Ibu, Bi Neni, mang Agus jagain Bunda, Ayah sama Aira. Istirahatin tubuhnya biar demamnya turun." ucap Roslyn yang berada dalam sambungan telpon.


"Iya Bu, besok pagi Caca kesana gantian sama ibu." ujar Echa.


"Iya, kamu istirahat ya.. ibu tutup telponnya." ucap Roslyn yang langsung mematikan sambungan telponnya.


Setelah Roslyn mematikan sambungan telponnya, Echa langsung menelpon Hanin, namun tidak di angkat.


"Mereka kemana sih? Semoga mereka juga gak kenapa-kenapa." Ucap Echa yang kini menelpon Ivy.


"Halo Vi." ucap Echa saat telponnya tersambung dengan Ivy.


"Darimana? Ngilang gitu aja? Pulang? Enak ya langsung pulang gitu aja, bantuin dulu disini jangan main pulang gitu aja." ujar Ivy yang tidak memberikan Echa waktu untuk berbicara.


"Vi dengerin Caca dulu.." ucap Echa yang langsung di timpah oleh perkataan Ivy.


"Udah lah Ca, kita juga tau, Caca sama Kak Bara langsung pulang kan? Seenggaknya pamit Ca sama tante Mala, om Ferdi, Kak Tiara atau siapa kek. Biar nanti gak malu kalau Dateng lagi kesini." ujar Ivy dengan nada kesalnya, ini yang Echa pikirkan ketika harus menelpon Ivy, dia akan terus berbicara dan tidak akan memberi waktu untuknya berbicara.


"Vivi. Dengerin Caca dulu, Caca belum jelasin semuanya." ucap Echa.


Tut.


Ivy langsung mematikan sambungannya secara sepihak tanpa mendengarkan penjelasan dari Echa. inilah sifat Ivy yang susah untuk di rubah sejak mereka kenal.


"Belum apa-apa juga, belum di jelasin udah dimatiin gitu aja, Hanin, Shiren juga kemana?" Tanya Echa sambil melangkahkan kakinya ke kamar Bara.


"Kemana aja? lama banget." Ucap Bara saat Echa memasuki kamarnya.


"Tadi Caca dapet kabar dari ibu." ujar Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara.


"Apa?" tanya Bara yang langsung membuka matanya


"Bunda sama Ayah keadaannya indah membaik, udah dipindahin juga ke ruangan biasa tapi keadaan Aira semakin kesini semakin menurun, dokter juga lagi berusaha supaya Aira baik-baik aja." Jawab Echa.


"Kita kesana." ucap Bara yang langsung berdiri dari tidurnya.


Bara langsung menegang kepala dan sandaran sofa, dia merasakan seolah sedang berputar-putar, bahkan makanan yang baru saja masuk keperutnya seolah memaksa untuk keluar dari perutnya.


"Istirahat aja dulu, ibu gak cuman sendiri kok, ada Bi Neni sama Mang Agus juga yang jagain. Besok kita kesana, kakak tidur dulu." ucap Echa sambil memegang tangan Bara.


"Tidur di kasur aja ya biar badannya gak sakit-sakit pas bangun." ujar Echa sambil membawa Bara menuju kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Caca mau tidur dimana? disini?" tanya Bara yang kini sudah menidurkan tubuhnya di ranjang miliknya.


"Caca tidur di kamar Aira aja." jawab Echa.


"Disini aja." ucap Bara sambil kepalanya di pangkuan Echa.


"Jangan gini Kak, berat." ucap Echa. Bara tidak mengindahkan ucapan Echa dia malah mencari tempat nyaman untuknya tidur di atas pangkuan Echa.

__ADS_1


Echa mengelus kepala Bara yang ada di pangkuannya sedangkan Bara menutupi tubuhnya dengan selimut sampai bawah lehernya.


__ADS_2