TEROR

TEROR
|46| BODOH


__ADS_3

Bara POV


Saat ini dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aira, Bara menajamkan penglihatannya. Dan Yap dia berhasil menangkan satu orang bergelagat aneh, berpakaian serba hitam menuju ke arah ruangan kosong yang berada di belakang rumah sakit, ruangan jarang dipakai bahkan tidak ada orang yang melewati ruangan itu.


Bara melangkahkan kakinya mengikuti orang berpakaian serba hitam menuju ruangan kosong, matanya tak pernah lepas dari orang yang terus mengintai dirinya dan kekasihnya, Echa.


"Berhenti!" Teriak Bara sambil memegang bahu orang tersebut.


Orang itu langsung memberhentikan langkahnya dan menatap kearah Bara dengan senyuman sinisnya.


"Hans." ucap Bara yang melihat orang itu adalah Hans.


"Ah, ternyata kau masih mengenaliku." ujar Hans yang menatap kearah Bara.


"Buang-buang waktu." ucap Barra ketus sambil melangkahkan kakinya menuju kearah pintu.


Selama Bara mengikuti Hans, dia dibawa menuju ruangan gelap yang minim cahaya dan jarang dilalui orang.


"Berikan kekasihmu padaku." ujar Hans dengan senyuman sinisnya.


Bara yang mendengar perkataan itu langsung memberhentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Hans yang baru saja meminta Echa.


"Berikan dia padaku, jika kau memberikan Echa padaku akan ku buat Aira bangun." ucap Hans sambil mengeluarkan kekuatan yang menampilkan Aira sedang di kurung dalam sebuah ruangan.


Bara melihat Aira yang sedang kebingungan, ketakutan dan terus memanggil namanya.


"Bangsat!" Teriak Bara yang berlari kearah Hans untuk memukulnya.


BRUGH...


Namun Hans yang dapat membaca pergerakan Bara itu langsung melemparnya ke dinding dengan kekuatan yang dimilikinya.


"Argh.." ringgis Bara ketika punggungnya menghantam dinding dengan sangat keras hingga membuat keretakan di sekitar dinding.


DUGH..


Bara jatuh terduduk sambil merasakan linu di sekitar punggungnya dia juga merasakan perih di bahunya karena tertancap paku yang menempel di dinding.

__ADS_1


"Kau masih ingin bertarung dengan ku?" Tanya Hans dengan wajah angkuhnya. Seolah dia yang paling hebat.


"Bagaimana jika aku menang?" Tanya Bara sambil berdiri dari duduknya dan menatap tajam kearah Hans.


"Aku akan mengembalikan Aira kedalam tubuhnya tapi jika kau kalah aku tetap mengembalikan Aira namun berikan Echa padaku." Jawab Hans.


Bara dibuat bingung dengan pilihan yang diajukan oleh Hans, Echa bukan bahan taruhan, dia tidak mau menjadikan Echa sebagai bahan taruhan dari permainan murahan seperti ini tapi keadaan memaksa dirinya.


"Bagaimana?" Tanya Hans dengan senyuman sinisnya. Namun Bara masih tidak menjawab pertanyaan Hans, dia bingung.


"Baiklah, aku akan mengantar Aira pergi dan kau akan kehilangan adikmu yang cantik itu selamanya." ucap Hans yang mulai menarik Aira pergi dari ruangan itu hanya dengan memejamkan matanya.


"Tunggu.." ujar Bara yang mau tidak mau harus menerima yang diajukan oleh Hans.


"Bagaimana keputusanmu?" Tanya Hans.


Namun saat Bara ingin menjawab pertanyaan Hans, tiba-tiba saja Shila menampakan dirinya dihadapan Bara.


"Jangan lakukan itu, dia terlalu kuat." ucap Shila dengan tatapan sedih.


"Ya, ini aku Shila. Tidak perlu bertanya banyak dulu, tapi tolong jangan lakukan hal bodoh." Jawab Shila.


"Kau dengar sendiri bukan apa kata teman hantumu itu?" Tanya Hans yang juga dapat melihat Shila.


Shila langsung menatap tajam kearah Hans.


"Diam kau manusia brengsek!" Teriak Shila menatap tajam kearah Hans.


Sedangkan Hans yang dikata-katai seperti itu oleh Shila langsung mengeluarkan kekuatannya.


Shila yang melihat Hans sedang mengarahkan kekuatannya itu langsung memejamkan matanya dan membuat perisai pelindung dari kekuatan permata yang dimiliki Bara.


PRANG..


Perisai pelindung yang dibuat oleh Shila langsung hancur bersamaan dengan kekuatan Hans.


"Kenapa kau bisa melakukannya?" Tanya Hans bingung.

__ADS_1


"Kau tidak perlu bertanya, dasar manusia bodoh!" Jawab Shila kesal dengan perbuatan Hans.


"Kau lihat sendiri kan Bara? Bahkan kekuatan dari permata yang kau miliki tidak bertahan lama." bisik Shila menatap kearah Bara yang melihat kekuatannya tidak berjalan sempurna.


Maklum saja, ini adalah rumah sakit, ruangan jarang dipakai, pasti banyak mahluk tak kasat mata berenergi negatif yang otomatis kekuatan Bara terus menyingkirkan mahluk berenergi negatif itu sehingga kekuatannya tidak bisa pulih.


"Bagaimana? Kau masih ingin menerima permainan ini?" Tanya Hans dengan wajah angkuhnya.


"Jangan Bara." ucap Shila.


"Baiklah, tapi kau harus memenuhi janjimu itu." ujar Bara sambil menatap kearah Hans.


"Bara!" bentak Shila ketika mendengar jawaban Bara.


"Tentu saja aku akan memenuhi janjiku, aku paling benci pada orang yang tidak menempati janjinya. Itu sangat menjijikan." ucap Hans sambil tersenyum sinis.


"Bara! Apa yang kau lakukan? Kau sudah membiarkan dirimu sendiri dalam bahaya!" ucap Shila geram.


"Tolong lindungi Caca dan Aira, jangan sampai dia meninggalkan ruangan." ujar Bara sambil menatap kearah Shila.


"Manusia menyebalkan." ucap Shila.


"Jika terjadi sesuatu padaku, buat aku kuat bahwa Echa berada di dalam permainan ini." ujar Bara sambil menatap kearah Hans yang sedang bersiap-siap mengeluarkan kekuatannya.


"Baiklah jika itu mau mu, tapi ingat ini. Biarkan dia mengeluarkan semua kekuatannya, itu pasti akan menguras energi yang ada dalam tubunnya, disaat lemah seperti itu gunakan kekuatanmu. Jangan gunakan kekuatanmu sekarang, itu akan membuat dia mengetahui kekuatan tersembunyi dalam permata itu. Penganut ilmu hitam sangat licik." Bisik Shila yang langsung menghilang dari hadapan Bara.


Bara mencerna setiap perkataan Shila padanya, menghindar dari kekuatan yang Hans keluarkan untuknya.


"Kenapa kau tidak mengeluarkan kekuatan mu juga, dasar manusia bodoh! Itu akan membuat mu mati di tanganku! Dan Echa akan menjadi milikku!" ucap Hans geram ketika Bara berhasil menghindar dari kekuatan hitamnya.


"Apa yang kau katakan? Aku hanya manusia biasa tanpa kekuatan apapun." ujar Bara yang seolah meyakinkan Hans bahwa dia tidak memiliki kekuatan apapun.


"Baguslah jika kau tidak memiliki kekuatan, itu sangat mudah bagiku untuk mendapatkan Echa." ucap Hans kembali mengeluarkan kekuatannya.


"Argh.." ringgis Bara ketika kekuatan yang diarahkan oleh Hans itu mengenai bahunya, meninggalkan rasa perih dan membuatnya berdarah, terlihat dari lantai yang ditetesi oleh darah Bara.


"Bodoh." ucap Hans kembali mengeluarkan kekuatannya.

__ADS_1


__ADS_2