
Setelah menunggu cukup lama dokter memeriksa Aira, akhirnya dokter itu memberitahu keadaan Aira yang sudah baik-baik saja ketika diberi resep obat untuk meredakan rasa nyeri yang ada di kepalanya akibat benturan.
Saat ini Echa sedang berada diruang tamu bersama dengan Misha, Bara, Bunda An dan Daniel.
Sedangkan Helena dan Edwin pergi belanja untuk stok makanan dan beberapa perlengkapan bayi.
Misha sedang berada dipangkuan Echa sambil tertawa pelan ketika Echa memainkan hidung mungil milik bayi menggemaskan itu.
"Ca, bunda mau gendong Shasha, gemes banget." Ucap Bunda An.
"Iya bunda." Ujar Echa sambil memindahkan Misha kepangkuan Bunda An.
"Shasha udah besar ya?" Tanya Bunda An ketika Misha berada dipangkuannya.
"Gemes banget ya pa." Ucap Bunda An, sedangkan Misha berusaha meraih punggung Bara yang berada disamping bunda An.
"Bar, sapa dulu Shasha nya, kayaknya pengen disapa sama kamu." Ujar Bunda An ketika melihat Misha meraih punggung Bara yang sedang menatap layar laptop.
Bara yang mendengar perkataan seperti itu langsung melihat kearah Misha yang sedang tersenyum manis kearahnya.
"Kenapa? Shasha mau apa?" Tanya Bara melihat bayi menggemaskan itu.
Misha langsung meraih tangan Bara ketika sedang mengapit hidung mungilnya.
"Bentar ya, kakak mau ngerjain tugas dulu." Ucap Bara melepaskan tangan Misha yang sedang menggenggam tangannya.
Bara kembali beralih menatap layar laptop untuk mengerjakan tugas yang belum selesai dia kerjakan ketika malam hari.
"Bar, cepet-cepet kasih cucu yang gemes banget kayak gini ya." Ucap Bunda An secara tiba-tiba.
Membuat Bara dan Echa saling menatap satu sama lain ketika mendengar ucapan tersebut.
"Ma.." ucap Bara seolah tidak ingin memperpanjang arah pembicara tersebut.
__ADS_1
"Buat persiapan aja Bar." ujar Bunda An.
Namun saat Bara ingin melontarkan perkataannya tiba-tiba saja ponsel Echa yang berada di genggaman tangannya bergetar menandakan ada telon masuk dari seseorang.
Bara langsung melihat kearah layar ponsel Echa yang menampilkan nama Algi.
"Siapa kak?" Tanya Echa.
"Algi." Jawab Bara langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo Ca, gimana semalam? Tidurnya nyenyak?" Tanya Algi ketika Echa mengangkat sambungan telponnya. Namun orang yang berada di sambungan telpon tersebut tidak menjawab perkataan Algi.
"Em, btw ada waktu buat jalan sama aku gak?" Tanya Algi ketika Echa tidak menjawab perkataannya.
"Gak. Sibuk." Jawab Bara yang langsung menutup sambungan tersebut.
...----------------...
Sedangkan disisi lain Algi sedang mengepalkan tangannya ketika mendengar suara Bara.
"Baiklah, mari kita buat adik manisnya itu menjadi adik yang malang." Ucap Algi tersenyum sinis.
Tuan. ucap Algi dalam hati memanggil seseorang yang berpengaruh dalam perjalanan kisah perjuangan cintanya kepada Echa.
"Ada apa? Kenapa kau memanggilku?" Tanya orang misterius yang berada dihadapan Algi.
"Aku ingin adik manis Bara itu menderita." Jawab Algi yang masih tersenyum sinis.
"Kau yakin? Dia anak yang manis." Ucap orang misterius tersebut.
"Sangat yakin, dia adalah kelemahan Bara." Ujar Algi.
"Dia memang anak manis tapi sangat menyebalkan, dia selalu tahu apa yang ada disekitarnya bahkan dia akan membongkar identitas ku karena saat aku membawanya pergi dia sempat melihat wajahku, Aira pasti mengenaliku." Ucap orang tersebut.
__ADS_1
"Siapa kamu dalam kehidupan mereka?" Tanya Algi penasaran.
"Sudahlah kau tidak perlu mengenalku sangat jauh. Cukup kenali aku yang penuh dengan kegelapan." Jawab orang tersebut.
"Jadi apa yang kau inginkan tampan?" Tanya orang tersebut.
"Aku hanya ingin Aira menderita, itu membuat Bara bersalah dengan keputusannya." Jawab Algi.
"Baiklah, aku akan melakukan itu untukmu." Ucap orang tersebut yang langsung menghilang dari hadapan Algi.
...----------------...
Sedangkan disisi lain Echa dan Bara sedang bersiap-siap untuk pergi ke apartemen, sudah lama dia tidak mengunjungi apartemennya itu.
"Kak Nathan sama Kak Gavin ada di apartemen?" Tanya Echa sambil memoles tipis make up diwajahnya.
"Ada." Jawab Bara yang sedang memakai jam tangan.
"Udah?" Tanya Bara.
"Ayo." Ajak Echa ketika sudah selesai menggunakan liptin dibibir tipisnya.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamar Bara.
"Kakak tunggu dibawah dulu, Caca mau liat Aira." ucap Echa.
"Iya." ujar Bara melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.
Sedangkan Echa melangkahkan kakinya menuju kamar Aira. Dia melihat kearah Aira yang sudah agak mendingan, tidak seperti tadi.
Echa melangkahkan kaki mendekat kearah Aira yang sedang tertidur pulas, dia mengelus lembut kepala Aira.
Entah kenapa sangat berat sekali meninggalkan Aira sendirian, seperti ada sesuatu yang aneh dalam tubuh Aira.
__ADS_1
Tapi Echa harus membawa Ivy dan Hanin agar bisa menggali informasi dari Aira, kemampuan mereka bisa membuka jalan untuk Echa mendapatkan titik terang dari kejadian yang menimpa Tania dan kecelakaan bunda An yang saling berkaitan.
"Aira kuat ya, Kak Caca nanti kesini lagi." Ucap Echa sambil mencium kening Aira. Ada rasa berat sekaligus tidak rela meninggalkan Aira disini tanpa pengawasan dirinya ataupun Bara.