TEROR

TEROR
|132| DIA MILIKKU


__ADS_3

"Pergi!" seru Echa sembari menangis.


Bara yang mendengar seruan itu mengelus lembut kepala Echa, seolah mengisyaratkan bahwa Bara selalu ada di sampingnya.


"Aku menyukai pria ini, aku akan mengambilnya," ucap sosok tersebut dengan seringai yang mengerikan.


Tubuhnya memang tidak terlihat namun sosok tersebut seolah menguasai penglihatannya.


"Tidak! Dia milikku!" bentak Echa sembari mengeratkan pelukannya pada Bara.


"Bukan kah kau sudah tidak menginginkannya lagi? Aku melihat kau mengacuhkannya sejak tadi," lagi dan lagi seringai yang di tampakkan oleh sosok itu semakin mengerikan.


"Only mine."


Setelah ucapan itu, sosok yang menguasai penglihatannya itu berubah menjadi abu berwarna hitam pekat yang berterbangan.


Penglihatan Echa kembali normal, dia melihat Bara yang masih memeluknya. Dia masih mengeratkan pelukannya pada Bara, sembari memejamkan matanya. Jika saja sosok itu berhasil membawa jiwa Bara pergi, dapat di pastikan Bara akan menjadi penerus dari ilmu hitam. Namun, itu hal yang tidak mungkin. Permata biru dalam tubuh Bara membuat sosok yang akan membawanya harus berperang terlebih dahulu dengan energi yang ada di permata biru tersebut.


"Ca," panggil Bara yang masih mengelus lembut kepala Echa.


"Caca mau kayak gini dulu," ucap Echa.


Bara tidak menjawab perkataan Echa dia kembali memeluk tubuh Echa, tidak ada percakapan apapun di dalam mobil.


Drt... Drt ... Drt...

__ADS_1


Suara ponsel milik Bara mampu memecah keheningan yang ada di dalam mobil, Echa melepaskan pelukannya pada Bara, membiarkan kekasihnya itu untuk mengangkat telpon. Dia menyeka air mata yang membasahi pipinya sejak tadi.


"Iya halo, Pa?" tanya Bara sembari memberikan sekotak tisu kepada Echa.


"Kamu dimana?" tanya Daniel yang berada dalam sambungan telpon.


Bara menyeka air mata yang masih tersisa di pipi Echa. "Sebentar lagi sampai, Pa."


"Papa tunggu, jangan lama. Sebentar lagi mau berangkat." Titah Daniel yang kemudian mematikan sambungan telponnya.


"Udah, Kak. Kita berangkat aja," ucap Echa seraya tersenyum manis.


"Yakin?" tanya Bara.


Echa menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang masih tercetak begitu manis di bibirnya.


"Kenapa?" tanya Echa.


"Udah malem, kakak juga cuman sebentar, disuruh mama buat beli Snack," jawab Bara sambil memarkirkan mobilnya di depan mini market.


"Jangan lama," ucap Echa ketika melihat Bara ingin keluar dari mobilnya.


"Engga, mau nitip sesuatu?" tanya Bara seraya tersenyum manis.


Echa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Bara yang mendapat jawaban seperti itu langsung keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Kini, yang ada di dalam mobil hanya Echa. Dia melihat ke jalanan, banyak sekali anak muda yang saling bergandengan tangan. Lucu. Echa kembali teringat bagaimana perjumpaannya dengan Bara, singkat sekali. Bahkan terbilang sangat singkat.


"Banyak banget yang pacaran, emang sekarang hari apa?" tanyanya pada diri sendiri sembari membuka layar ponselnya. "Pantesan aja, sekarang malam minggu."


Netra matanya menangkap seorang laki-laki yang sedang membawa sebuket bunga mawar merah sangat cantik dan memberikan kepada kekasihnya. Raut wajah yang memerah membuat Echa tersenyum tipis, apakah dia juga seperti itu jika sedang malu?


"Dari awal pacaran kak Bara gak pernah kasih Caca bunga," batinnya sembari menatap sendu kearah dua remaja yang sedang di mabuk asmara.


"Kenapa? Mau di kasih bunga lebih besar dari itu?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut seseorang mampu membuat Echa terlonjak kaget.


"Kakak! Kaget, nyebelin banget jadi orang!" seru Echa.


Bara tertawa pelan ketika melihat wajah Echa.


"Kakak gak suka bunga," ucap Bara sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan standar membelah jalanan yang terlihat agak macet.


"Kenapa?" tanya Echa penasaran.


"Karna menurut kakak, bunga itu lambang perpisahan bukan pertemuan," jawab Bara.


Echa mengerutkan dahinya bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Bara.


"Singkatnya, bunga itu pengantar kematian. Banyak banget orang yang meninggal di kasihnya bunga. Jadi, kakak gak suka yang namanya bunga," jelas Bara sembari menatap singkat kearah Echa yang juga sedang menatap dirinya.

__ADS_1


"Iya juga ya, kalau di pikir-pikir bunga itu serem," ucap Echa yang menyetujui alasan kenapa bunga itu lambang perpisahan.


__ADS_2