
Perlahan Echa mengerjapkan mata menatap kearah orang yang sedang membangunkannya.
"Bangun, jangan lama-lama nanti pusing." ucap orang yang sedang merebahkan tubuhnya di samping tempat tidur Echa.
Echa melihat Bara yang sedang tidur di sampingnya, wajahnya terlihat agak pucat dan agak lemas.
"Kakak udah makan?" Tanya Echa.
"Belum." Jawab Bara yang sedang memejamkan mata, merasakan sesuatu di dalam perutnya akan keluar.
"Caca ambilin dulu makan" Ucap Echa sambil memegang kening Bara, ternyata suhu tubuh Bara lumayan panas.
Echa turun dari tempat tidur membawa makan untuk Bara, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Ca." Panggil seseorang ketika Echa ingin menuruni anak tangga.
"Kenapa Nin?" Sahut Echa ketika melihat orang yang memanggilnya itu adalah Hanin.
"Bawa minyak kayu putih gak?" Tanya Hanin.
"Ada didalam tas. Hanin sakit?" Tanya Echa penasaran.
"Kak Nathan. Hanin gak bisa lama, di kamar ada siapa?" Tanya Hanin.
"Ada Kak Bara, lagi istirahat langsung ambil aja." Jawab Echa. Setelah mendapat perkataan seperti itu Hanin melangkahkan kakinya ke kamar yang di tempati oleh Echa dengan langkah yang terburu-buru, sedangkan Echa kembali melangkahkan kakinya menuju meja catering untuk mengambil makan.
Echa melihat acara pernikahan Mutiara dan Alvero kembali berlangsung meskipun tadi pagi sempat terhambat karena satu hal. Dia juga melihat Mutiara dan Alvero dengan gaun dan setelan jas yang sangat elegan dan mewah. Echa tersenyum manis kearah Mutiara yang melambaikan tangan kepadanya.
...----------------...
10 menit telah berlalu, Echa sudah membawa piring berisi makanan ditangannya dengan antrean yang lumayan panjang.
Sesampainya dikamar Echa tidak melihat keberadaan Bara di tempat tidur, dia menyimpan piring yang ada di tangannya itu diatas meja.
"Kak." Panggil Echa.
Huek..huek..
Echa yang mendengar itu bergegas menuju kamar mandi, dia melihat Bara sedang memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pun terlihat semakin pucat.
"Kakak kenapa?!" Tanya Echa kaget sambil mengelus punggung Bara.
"Gak tau, dari tadi mual." Jawab Bara tanpa menatap kearah Echa, dia masih merasakan sesuatu akan keluar dari Perutnya.
Huek.. Huek.. Huek..
Untuk kesekian kalinya Bara kembali memuntahkan isi perutnya, bahkan sekarang dia sudah lemas merasa amat tersiksa. Bara masih ingin memuntahkan sesuatu, namun perutnya sudah kosong.
"Caca ke kamar Hanin dulu mau ambil minyak kayu putih." Ucap Echa, Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Echa yang melihat Bara sedang kesakitan itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Hanin untuk mengambil minyak kayu putih yang dipinjamnya.
Sesampainya di kamar Hanin, dia melihat Nathan yang sedang tertidur namun tidak ada keberadaan Hanin di kamar itu.
Echa masuk dengan hati-hati kedalam kamar Hanin agar tidak membangunkan Nathan yang sedang istirahat, dia langsung mengambil minyak kayu putih yang berada diatas laci samping tempat tidur.
Setelah mengambil kayu putih itu Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hanin.
"Ca." Panggil seseorang ketika Echa keluar dari kamar Hanin.
"Apalagi Gi? Kemarin gak puas apa?" Sahut Echa.
"Ca, tolong dengerin aku dulu." Ucap Algi sambil mencekal tangan Echa untuk tidak pergi.
"Caca lagi buru-buru, gak ada waktu." Ujar Echa melepas cekalan tangan Algi yang ada dipergelangan tangannya.
"Ca, aku masih sayang sama kamu." Ucap Algi menatap kearah Echa.
Setelah cekalan tangan Algi lepas Echa langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya, menghiraukan Algi yang terus memanggil namanya.
Sesampainya dikamar, Echa melihat Bara yang sedang tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kak.." panggil Echa yang kini sudah duduk disamping Bara. Bara tidak menjawab panggilan Echa.
"Kak pake kayu putih dulu perutnya abis itu makan," ucap Echa.
"Gak mau, gak enak baunya." ujar Bara yang berbicara dibalik selimut.
Echa hanya bisa menghela nafasnya ketika Bara sudah seperti ini, Bara memang paling anti dengan yang namanya kayu putih.
"Kalau gak mau pake kayu putih, perutnya isi dulu jangan dibiarin kosong," ujar Echa sambil melangkahkan kakinya mengambil piring dan air minum yang ada diatas meja.
Bara yang mendengar perkataan itu langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya sejak tadi. Echa duduk di samping Bara dan memberikannya air minum.
"Minum dulu," ucap Echa sambil memberikan segelas air putih kepada Bara.
Bara meminum air putih itu walaupun hanya sedikit, jujur saja perutnya kembali terasa mual jika diisi.
"Sedikit ya.." ucap Bara ketika Echa mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk pauk kemulutnya.
"Makan, jangan nego dulu," ujar Echa yang kini berhasil memasukkan nasi kedalam mulut Bara.
Belum juga nasi itu masuk kedalam perut Bara, dia langsung turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi diikuti oleh Echa yang sudah menyimpan piring diatas nakas.
Huek..Huek..
Bara memuntahkan nasi yang ada di mulutnya.
__ADS_1
"Kak, Caca balur pake kayu putih ya punggungnya?" Tanya Echa ketika melihat Bara sudah tidak bisa memuntahkan apapun dari perutnya.
"Gak mau.." Jawab Bara dengan suara lemas sambil melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
Echa yang melihat Bara seperti itu langsung mengambil kayu putih yang dia simpan diatas meja rias.
"Ca.. gak mau." ucap Bara ketika Echa membawa minyak kayu putih kearahnya. Echa tidak mengindahkan ucapan Bara, kali ini Echa tidak akan mengalah lagi.
"Buka kemejanya." ujar Echa. Bara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak, jangan buat Caca khawatir setengah mati kayak gini.." ucap Echa sambil menatap kearah Bara yang sudah pucat.
"Jangan pake itu, gak enak baunya." ujar Bara.
"Mau pake apa? Balsem?" Tanya Echa.
"Gak ada yang lain?" Tanya Bara.
Echa tidak mendengarkan ucapan Bara, dia membuka satu persatu kancing kemeja Bara.
"Ca.." rengek Bara dengan wajah memelas.
"Caca ganti sama balsem mau?" Tanya Echa sambil menatap tajam kearah Bara. Bara hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tengkurap." Ucap Echa.
Bara menuruti ucapan Echa, dia pasrah jika Echa sudah mengeluarkan sisi tegasnya seperti ini. Meskipun Bara keras kepala tapi tetap saja dia takut dengan sisi tegas yang jarang dikeluarkan Echa. Dia akan mengeluarkannya jika sudah benar-benar kesal dan marah.
Saat Echa sedang mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Bara, tiba-tiba saja ada sebuah percakapan singkat yang terdengar oleh telinganya. Dia memejamkan matanya agar bisa menangkap dengan jelas percakapan itu.
"Pastikan kalau mereka mati."
"Dan aku ingin melihat mayat Bara terlebih dahulu."
NGINGGG...
suara dengung itu menghilangkan percakapan yang memenuhi pendengarannya. Percakapan singkat yang bisa membuat Echa benar-benar takut dan khawatir.
"Kak, tadi makan apa aja pas bantuin dibawah?" tanya Echa yang sedang mengoleskan kayu putih di punggung Bara.
"Gak makan apa-apa." jawab Bara menutup hidungnya agar tidak menghirup aroma dari kayu putih yang dioleskan ke punggungnya.
"Mau Caca pesenin bubur?" tanya Echa yang masih khawatir tentang apa yang didengarnya tadi.
"Gak enak makan Ca.." jawab Bara.
"Terus mau kakak apa? perutnya jangan sampai gak diisi. Pake lagi kemejanya, nanti tambah masuk angin." ucap Echa sambil memberikan kemeja milik Bara yang tadi dibuka olehnya.
"Gak mau makan, nanti aja." ujar Bara sambil memakai kembali kemejanya.
__ADS_1
Echa hanya menghela nafasnya ketika Bara sudah seperti ini, jika tidak Bara akan tetap memilih tidak. Dia tidak akan pernah berpindah haluan menjadi iya.