TEROR

TEROR
|73| BAPER


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, perlahan Echa membuka matanya dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan milik Bara bukan mentari pagi.


Jarak antara wajahnya dan wajah Bara hanya beberapa centi saja, pemandangan yang tidak pernah Echa lihat, tapi mungkin nanti dia akan menikmati wajah dengan pahatan yang sempurna ini setiap hari ketika membuka mata.


Bara menggeliatkan tubuhnya mengikis jarak antara dirinya dan Echa, kini hidung mancung milik Bara dan Echa menjadi sekat. Wajah Echa sudah memerah ketika hembusan nafas teratur Bara menerpa wajahnya.


Echa masih diam mematung beberapa detik sampai tiba saatnya dia dapat melihat dengan jelas ketika Bara perlahan membuka mata menatap kearahnya.


"Jangan diliat, nanti jadi candu." ucap Bara dengan suara serak khas orang bangun tidur, ketika melihat Echa masih diam tak berkutik.


Setelah mendapat perkataan seperti itu Echa langsung memalingkan wajah, menyembunyikan wajah bersemu miliknya dari Bara.


Bara yang melihat Echa memalingkan wajahnya itu langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Tahan, jangan baper. Ucap Echa dalam hati ketika Bara sudah masuk kedalam kamar mandi.


Namun tetap saja, Echa tidak bisa menghilangkan bayangan wajah tampan milik Bara ketika bangun tidur.


Gak bisaa. Ujar Echa dalam hati.


Saat Echa sedang bergulat dengan hatinya itu tiba-tiba saja Shila sudah ada disampingnya, membuat dia terlonjak kaget.


"Shila. Sejak kapan disini?" Tanya Echa kaget ketika Shila sudah berada disampingnya.


"Sejak Caca sama Bara masih tidur kayak suami istri." Jawab Shila cengengesan.


Echa yang mendapat perkataan itu semakin memerah malu.


"Kasian banget mukanya udah merah kayak gitu." Ucap Shila ketika melihat wajah Echa yang memerah.


"Shila. Udah, Caca malu." Ujar Echa menatap kearah Shila. Sedangkan Shila yang mendapat jawaban seperti itu langsung tersenyum penuh arti.


"Tuh di mata Caca ada beleknya." Ucap Shila yang langsung tertawa ketika Echa membersihkan matanya namun sama sekali tidak ada apapun.


"Shilaaa." Ucap Echa geram.


"Abisnya pagi-pagi mau nanya sesuatu malah di kasih yang uwu-uwu gimana gak iri coba?" Tanya Shila yang sudah memberhentikan tawanya.


"Mau tanya apa?" Tanya Echa.

__ADS_1


"Shila ngerasa ada anak kecil disini, emang ada ya? Tapi kok gak keliatan?" Tanya Shila bingung.


"Ada, Caca juga pernah mediasi sama anak kecil itu, anak kecilnya lumayan banyak. Mereka dikurung sama sosok jahat, kasian tapi Caca juga gak bisa apa-apa, bentar lagi pernikahan kak Tiara takutnya kenapa-kenapa." Jawab Echa.


"Iya juga sih, Shila takut kalau anak kecil itu berubah jadi sosok jahat, apalagi disini banyak energi negatif." Ucap Shila yang sudah mengeksplorasi gedung tersebut.


Namun saat Echa ingin menjawab perkataan Shila, tiba-tiba saja Bara keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapih.


"Pergi jalan terbaik." ucap Shila yang langsung menghilang dari hadapan Echa.


"Kakak mau kerumah Kak Vero lagi?" Tanya Echa ketika melihat Bara sudah menggunakan pakaian rapih.


"Iya." Jawab Bara.


"Dih gak mandi dulu." Ucap Echa.


"Males, nanti aja." Ujar Bara sambil memakai jam tangan miliknya.


Namun saat Echa ingin menjawab perkataan Bara tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok.. Tok.. Tok


"Masuk aja." Ucap Echa ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Ray, kenapa?" Tanya Echa ketika melihat Rayhan yang mengetuk pintu kamarnya itu.


"Eh.. itu Tante Mala suruh Caca kebawah buat sarapan." Jawab Rayhan sambil menatap kearah Bara yang berada di kamar Echa. Sedangkan Bara sibuk mencari kunci motor miliknya.


"Iya bentar lagi Caca turun." Ucap Echa tersenyum manis.


"Ca, kunci motor kakak dimana?" Tanya Bara sibuk mencari kunci motornya.


"Semalem kakak simpen dimana?" Tanya Echa sambil turun dari tempat tidurnya untuk membantu Bara mencari kunci motornya.


"Katanya jangan lama Ca, udah ditungguin sama Tante Mala." Ucap Rayhan yang melihat Echa malah mementingkan Bara.


"Iya, Caca turun abis ini, Ray duluan aja." Ujar Echa tanpa menatap kearah Rayhan.


Sedangkan Rayhan yang mendapat perkataan seperti itu langsung melangkahkan kakinya pergi dari kamar Echa.

__ADS_1


"Ternyata dia udah punya ya." Ucap Rayhan berlalu pergi dari kamar Echa untuk menuju meja makan dengan senyuman getir tercetak dibibirnya.


...----------------...


Echa dan Bara masih mencari keberadaan kunci motor milik kekasihnya itu. Bara selalu saja seperti ini jika masalah kunci motor, tidak bisa menyimpan dengan baik.


"Nih, makannya simpen yang bener." Ucap Echa sambil memberikan kunci motor Bara yang dia temukan di bawah meja rias.


"Tadi itu Ray?" Tanya Bara sambil membawa kunci motor dari tangan Echa.


"Iya." Jawab Echa.


"Ganteng ya?" Tanya Bara menatap mata Echa yang sedang mengikat rambutnya.


"Iya." Jawab Echa.


"Kenapa gak sama dia aja?" Tanya Bara ketus.


"Kak, masih pagi.." jawab Echa yang kini menatap Bara.


"Tadi katanya ganteng." Ucap Bara sambil memakai Hoodie miliknya.


"Namanya juga laki-laki, gak ada yang cantik." Ujar Echa.


"Hm." Gumam Bara.


"Emang kakak mau Caca sama Ray?" Tanya Echa menatap lekat kearah Bara.


"Jangan lah." Jawab Bara.


"Udah ah masih pagi udah ribut kayak gini, sana kebawah sarapan dulu baru berangkat." Ucap Echa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.


"Suapin ya." Ujar Bara ketika Echa berada diambang pintu kamar mandi.


"Sendiri." Ucap Echa.


"Suapin." Ujar Bara.


"Sendiri kak." Ucap Echa sambil menatap kearah Bara yang juga sedang menatap dirinya.

__ADS_1


"Ca.." ujar Bara dengan wajah memelas.


"Yaudah iya turun dulu sana kebawah." ucap Echa kini masuk kedalam kamar mandi.


__ADS_2