TEROR

TEROR
|24| INGIN TAHU


__ADS_3

Mentari pagi masuk lewat celah jendela apartemen Bara, setelah memakan habis martabak telur kesukaannya, kini Echa bangun dari tidurnya meskipun tubuhnya masih merasakan linu dan pegal-pegal.


"Jam 7.." gumam Echa saat melihat jam. Dia pun melihat kearah Bara yang masih tertidur pulas.


Echa bangun dari tidurnya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


15 menit telah berlalu, Echa sudah selesai dengan ritual mandi paginya itu dengan baju milik Bara yang melekat di tubuhnya.


Echa menuju kamar Bara dan melihat Bara yang masih saja memejamkan matanya, entah jam berapa Bara tertidur kemarin malam.


"Kak.." panggil Echa. Namun tidak ada sahutan dari Bara.


"Kakak." Panggil Echa lagi.


"Hm.." gumam Bara tanpa membuka matanya.


"Bangun, udah jam setengah delapan." ucap Echa.


"Bentar lagi," ujar Bara.


"Kak, jam delapan ada kelas kan?" Tanya Echa yang sedang membersihkan lukanya.


"Iya," jawab Bara sambil membuka matanya dan melihat kearah Echa yang sedang menggunakan hansaplast di beberapa bagian lukanya.


"Masih sakit?" Tanya Bara sambil bangun dari tidurnya.


"Masih agak sakit sedikit." Jawab Echa.


"Jangan deket-deket sama Hans." Ucap Bara sambil mengacak rambut Echa gemas dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Kenapa kak?" Tanya Echa bingung.


"Kalau kakak bilang jangan, ya jangan." Jawab Bara yang sedang mengambil handuk.


"Iya tapi kenapa?" Tanya Echa penasaran.


"Semua yang terjadi ulah Hans." Jawab Bara.


Echa yang mendengar penuturan dari Bara hanya bisa diam mematung menatap dirinya di pantulan kaca. Seolah bertanya pada dirinya sendiri apa maksudnya?


Caca harus panggil Shila. Ucap Echa dalam hati sambil memejamkan matanya dan memanggil nama Shila lewat batinnya itu.


Tak lama kemudian Shila muncul di samping Echa dengan muka masam, seolah panggilan Echa mengganggu harinya.


"Apa sih ca manggil-manggil?" Tanya Shila kesal.


"Shila tau gak yang terjadi kemarin ulah siapa?" Tanya Echa.


"Gak tau." Jawab Shila.


"Ayolah.. Caca butuh bantuan." Ucap Echa.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Shila.


"Kata Kak Bara semua ulah Hans." Jawab Echa.


"Emang." Ucap Shila santai.


"Yang mana sih Hans? Mau tau mukanya." Sambung Shila.


"Nanti Caca pesen makanan dulu, kalau mau tau muka Hans." Ucap Echa sambil membuka ponselnya dan memesan makanan.


"Lah kok jadi makanan? Shila mau tau muka Hans bukan makanan." Ujar Shila.


"Iya, kalau Caca pesen makanan yang bakalan anterin ya Hans." Ucap Echa.


"Oh bilang dari tadi." Ujar Shila.


Tak lama kemudian Bara naik ke atas kamar dengan telanjang dada, dia lupa membawa baju.


"Kakak! Kenapa gak pake baju langsung di kamar mandi?!" Ucap Echa saat melihat Bara telanjang dada seperti itu.


"Lupa." Ujar Bara sambil melangkahkan kakinya menuju lemari untuk memakai baju melewati Shila yang sedang menatap kekagumannya.


"Wah.. enak kali buat di pandang." Ucap Shila menatap Bara takjub.


Tiba-tiba saja bel apartemen milik Bara berbunyi, menandakan ada seseorang dibalik pintu tersebut.


"Biar Caca yang buka." Ucap Echa saat melihat Bara ingin menuju tangga.


"Iya." Jawab Echa yang melihat kearah Shila sudah berada di depan pintu.


Cklek


Pintu apartemen milik Bara terbuka yang langsung menampilkan wajah tampan Hans.


"Martabak telur lagi?" Tanya Hans saat Echa yang membukakan pintu apartemen Bara.


"Iya, makasih." Jawab Echa sambil mengambil martabak telur dari tangan Hans.


"Udah baikan?" Tanya Hans yang melihat Echa sudah seperti sedia kala.


"Oh, jadi ini yang namanya Hans." Ucap Shila saat melihat Hans sedang tersenyum manis kearah Echa.


"Heem." Jawab Echa seadanya.


"Auranya keliatan jahat banget ya," Ucap Shila.


"Kenapa Caca gak bisa liat?" tanya Echa bingung.


"Penyimpanan auranya apik banget kayaknya emang di tutup sama orang yang hebat." Jawab Shila.


"Saya pamit dulu." Ucap Hans sambil berlalu pergi meninggalkan apartemen Bara. Echa menutup kembali pintu tersebut.

__ADS_1


"Pantesan aja Hanin, Caca sama yang lain gak bisa liat atau bahkan ngerasain aura Hans. Tapi kak Bara bisa ngeliat keadaan Hans." Ucap Echa.


"Bara mulai bisa menyesuaikan kekuatannya." Ujar Shila.


"Ganteng juga ya kalau di liat-liat." sambung Shila.


"Mungkin." Ucap Echa sambil menyajikan martabak telur yang masih hangat itu ke meja makan.


"Siapa yang kesini?" Tanya Bara yang sedang menuruni anak tangga.


"Hans." Jawab Echa.


"Hans? Kenapa gak panggil kakak?" Tanya Bara.


"Tanggung kak." Jawab Echa.


"Hm.." gumam Bara sambil mengambil martabak telur yang sudah Echa sajikan.


"Nanti kalau mau berangkat Caca ikut," ucap Echa yang sedang mengambil gelas.


"Ke kampus?" Tanya Bara.


"Enggak, cuman mau ke apartemen Hanin." Jawab Echa.


"Iya." Ucap Bara.


Mereka berdua memakan martabak telur pesanan Echa yang baru saja Hans antarkan. Sedangkan Shila entah pergi kemana.


15 menit telah berlalu, kini Bara sudah siap untuk pergi ke kampusnya.


"Jam berapa pulang?" Tanya Echa.


"Paling jam 10 juga udah pulang." Jawab Bara.


"Nanti makan diluar ya?" Ucap Echa sambil menatap kearah Bara yang sedang memakai sepatu.


"Iya," Jawab Bara.


"Nanti kalau mau pulang atau lagi di jalan chat Caca ya, biar bisa siap-siap." Ujar Echa.


"Iya." Ucap Bara.


"Kakak gak sibukkan?" Tanya Echa.


"Gak tau tapi nanti kalau kakak gak chat Caca berarti kakak lagi sibuk ya." Jawab Bara sambil mencium kening Echa singkat.


"Tapi seenggaknya hubungin Caca, biar Caca gak khawatir." Ucap Echa.


"Iya, kakak usahain." Ujar Bara sambil tersenyum.


"Ayo." Ajak Bara sambil menggenggam tangan Echa untuk mengikuti dirinya keluar dari apartemen.

__ADS_1


__ADS_2