TEROR

TEROR
|135| DARAH


__ADS_3

Echa melangkahkan kaki keluar dari kamar Aira untuk mengambil air minum.


Namun, matanya tertuju pada seseorang yang masih berkutat dengan laptop dengan setumpuk berkas dan beberapa buku di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Bara?


"Kakak, kenapa belum tidur? Udah malem," ucap Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum ketika melihat Bara yang sedang memijat pelipisnya.


"Sebentar lagi," ujar Bara tanpa membuka matanya.


"Kak, ini udah jam 1 malem, udah tidur dulu," titah Echa sembari membereskan beberapa berkas yang berserakan. "Nanti, biar Caca yang bilang sama ayah, kakak tidur, belakangan ini kakak jarang tidur."


"Hmm" gumam Bara. Dia sedang memijat pelipisnya, kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba saja, Bara merasakan ada sesuatu yang hangat keluar dari hidungnya.


Bara mengambil tissue yang ada di atas meja dan membersihkan sesuatu yang menganggu hidungnya. "Darah."


Tissue yang Bara gunakan untuk membersihkan hidungnya, kini berwarna merah. Sedangkan Echa yang mendengar Bara berbicara seperti itu langsung mengalihkan pandangan matanya kearah Bara.


"Kakak..."


Ucapan Echa terhenti, Bara tiba-tiba saja melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Dia mengikuti Bara, jujur saja Echa takut. Meskipun hal itu wajar karena Bara kelelahan dan pusing. Tetap saja, dia khawatir dengan kondisi kesehatan Bara.


Echa melihat Bara yang sedang membersihkan hidungnya menggunakan air di wastafel. Air yang berwarna bening kini sudah berubah menjadi merah karena darah yang keluar dari hidung Bara lumayan banyak. Echa mengelus punggung Bara, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Bara menatap dirinya pantulan di cermin, dia melihat dirinya yang sedikit mengerikan. Mata sembab, ada lingkar hitam di sekitar matanya, bibir dan wajahnya terlihat pucat. Namun, wajahnya masih tampan dan enak untuk di pandang. Dia menatap Echa yang berada di sampingnya, raut wajah khawatir begitu tercetak jelas. Bara langsung memeluk tubuh Echa, menyimpan kepalanya di cekuk leher Echa.


"Kak, kerumah sakit ya? Kita periksa," ucap Echa sembari membalas pelukan Bara, mengelus punggungnya lembut.

__ADS_1


Bara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kakak, Caca mohon, Caca takut kakak kenapa-kenapa," ujar Echa.


"Kakak baik-baik aja, Ca. Ini udah gak kenapa-kenapa, cuman capek aja." Bara masih menyimpan kepalanya di leher Echa.


"Kak, sekali ini aja dengerin Caca, periksa ke dokter, jangan bikin Caca marah," ucap Echa.


Bara melepaskan pelukannya dari Echa, menatap manik mata kekasihnya yang terlihat sangat khawatir. "Ca, kakak baik-baik aja, besok juga sembuh, percaya ya. Kakak bakalan istirahat full."


"Beneran?" tanya Echa menatap lekat mata Bara.


"Iya, Ca. Temenin tidurnya," jawab Bara dengan senyuman penuh harap.


"Apaan, engga. Nanti Aira nangis nyari Caca," ucap Echa.


Bisa-bisanya Bara masih tersenyum seperti itu ketika Echa malah ketakutan setengah mati dengan keadaannya.


Echa mengembuskan nafasnya. Melihat Bara yang sedang dalam mode manja. "Oke, Caca temenin tapi gak lama ya."


...----------------...


Sinar mentari pagi mulai masuk lewat celah jendela kamar milik Bara. dia merasakan tangannya agak berat dan sulit untuk di gerakan.


Bara menatap kearah samping, melihat seorang wanita cantik sedang tertidur dengan sangat nyaman disampingnya.


Kulit putih, bibir tipis, bulu mata lentik dan seseorang yang berhasil membuat Bara benar-benar takut kehilangan wanita tersebut. Echa Aprilia Anjani.

__ADS_1


Bara membenarkan rambut Echa yang menganggu penglihatannya. Dia sangat beruntung bangun lebih cepat dari Echa. Bara bisa dengan leluasa menatap wajah Echa yang berkali-kali lipat lebih cantik.


Senyuman di bibirnya terukir begitu saja ketika memikirkan bagaimana tingkahnya yang membuat Bara jatuh sangat dalam pada pesona wanita di hadapannya.


"Sayang banget," ucap Bara dengan suara serak khas orang bangun tidur. "I love you."


Namun, Bara segera memejamkan matanya ketika merasakan Echa akan bangun karena terganggu oleh tangannya.


"Jam berapa ini?" tanya Echa pada dirinya sendiri sembari menatap jam dinding yang ada di kamar Bara,"Baru jam 6."


Echa melihat kesamping, pemandangan yang begitu memanjakan mata yang tidak boleh di sia-siakan.


"Masih tidur?" tanya Echa sembari mengecek suhu tubuh Bara.


Echa memainkan hidung mancung milik Bara, "Mancung banget, Caca aja gak mancung kayak gini, kasih dikit kek."


Dia beralih merapikan rambut Bara, lagi, lagi Echa jatuh dalam pesona Bara. Siapapun bisa Bara dapatkan, tapi kenapa Bara lebih memilih dirinya?


Echa mengecup singkat pipi Bara, " I love you."


"Kak Caca!!"


Teriakan yang datang dari kamar Aira membuat Echa terlonjak kaget. Dia bergegas turun dari tempat tidur untuk menemui Aira yang memanggil namanya.


"Iya, sebentar" ucap Echa sambil keluar dari kamar Bara.


Sedangkan Bara membuka matanya, tersenyum manis sambil memegang pipinya. "Coba aja kalau tadi gak pura-pura tidur." Bara berdiri dari tempat tidur , melangkahkan kaki menuju kamar mandi.Sebelum suara Echa yang membangunkannya.

__ADS_1


Selamat tahun Baru. Semoga tidak bosan menunggu update dari Riu yang setahun gak up🥳


__ADS_2