TEROR

TEROR
|89| BUKTI


__ADS_3

Echa dikagetkan dengan mobil yang melaju sangat kencang hingga menabrak seorang remaja yang sedang menyebrang jalan dengan baju seragam sama percis seperti sekolah nya dulu.


Bara langsung memberhentikan laju motornya, dia juga kaget ketika mobil itu membunyikan klaksonnya dengan sangat nyaring.


Echa melihat kearah remaja wanita yang sedang berlumuran darah, darah yang keluar dari tubuhnya itu mengingatkan dirinya dengan kematian Riana.


Darahnya mengalir percis seperti saat Riana jatuh dari lantai atas sekolahnya, Echa langsung melihat sekeliling mencari keberadaan Riana yang tadi tertangkap oleh ekor matanya. Namun nihil, Echa tidak menemukan keberadaan Riana sama sekali.


Mungkin sugesti aja ya? tanya Echa dalam hati.


"Kakak.. kenapa ada kakak jahat?" tanya Qiara secara tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Echa.


"Kakak jahat? Siapa?" tanya Echa bingung.


"Itu.." jawab Qiara sambil menunjuk kearah segerombolan orang yang mengerumuni mayat wanita tabrak lari tersebut dengan mata melotot kearahnya.


Echa dan Bara melihat kearah tangan Qiara yang menunjuk sesuatu, namun Echa tidak melihat apapun disana.


"Gak ada apa-apa," ucap Echa yang menurunkan tangan Qiara agar tidak menunjuk sembarangan.


"Ada, dia masih diem disana," ujar Qiara sambil menatap kearah tempat yang sama sekali tidak ada orang.


"Gak ada sayang.. Kakak gak ngeliat apa-apa," ucap Echa sambil mengelus lembut kepala Qiara.


"Dia liat kesini." ucap Qiara dengan mata yang menyipit seolah melihat ada orang ditempat itu.


"Sayang, udah ya.. " ujar Echa tertahan.


"Dia yang buat kakak itu mati." ujar Qiara dengan wajah polosnya menatap bergantian kearah Bara dan Echa yang mengernyitkan dahinya.


"Suth.. jangan gitu, udah ya.. jangan diliatin, biarin aja." ucap Echa sambil mengarahkan wajah Qiara untuk menatap kearah depan.


"Caca liat sesuatu?" tanya Bara dengan suara berbisik.


"Enggak, Caca gak liat apa-apa, kakak ngerasain sesuatu?" tanya Echa dengan suara pelan agar tidak dapat didengar oleh Qiara.


"Enggak." jawab Bara yang tidak merasakan ada energi jahat disekitar sini, meskipun ada yang mati dihadapannya, Bara sama sekali tidak merasakan sesuatu yang berbahaya.

__ADS_1


"Udah, ayo jalan, Caca takut Qiara susah tidur." ucap Echa sambil melihat kearah mayat perempuan yang sedang melototkan mata kearahnya dengan isi kepala dan tubuh yang sudah berhamburan kemana-mana, hingga bau amis menyeruak masuk kedalam hidungnya.


"Kakak kapan dipanggil sayangnya?" tanya Bara sambil menatap kearah Echa yang menyimpan kepala di bahunya.


"Kak.. Gak disini, udah jalan." jawab Echa mengalihkan tatap Bara menjadi kearah jalan.


Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung melajukan motornya lagi dengan kecepatan standar.


Kenapa Caca ngerasa kematiannya sama percis kayak Riana ya? Apa mungkin ini salah satu petunjuk? tanya Echa dalam hati yang menyimpulkan bahwa kejadian tadi adalah sebuah petunjuk dari teka-teki yang selama ini yang membuat hidupnya rumit.


Echa juga khawatir jika terjadi sesuatu pada Qiara setelah mendengar yang baru saja Qiara ucapkan tentang orang jahat yang sedang menatap kearah dirinya. Itu semakin memperkuat bukti bahwa Riana dibalik terornya selama ini.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang menatap kepergian motor Echa dan Bara dengan senyuman sinis tercetak dibibirnya. Seketika senyuman itu luntur ketika melihat Qiara sedang menatap dirinya lewat pantulan kaca spion motor milik Bara.


"Anak itu, aku harus mendapatkannya." ucap orang tersebut yang langsung melesat pergi, meninggalkan tempat kejadian yang telah dibuat kacau olehnya.


...----------------...


Sesampainya di parkiran supermarket Echa langsung turun dari motor dan menurunkan Qiara dari atas motor Bara sambil menggenggam tangannya.


Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka, ada yang kagum, iri bahkan tidak suka karena mereka mengira bahwa Echa menikah dini.


Echa melangkahkan kakinya menuju tempat sayur, buah dan daging yang masih segar, sedangkan Bara dan Qiara pergi ke tempat cemilan.


Dia memasukkan beberapa sayuran, daging dan buah-buahan untuk stok di rumah barunya. Echa pun memasukkan beberapa bumbu dapur untuk melengkapi masakannya.


"Semuanya udah, apa lagi ya?" tanya Echa pada dirinya sendiri sambil melihat bahan-bahan yang dimasukan kedalam keranjang.


Namun saat Echa sedang melihat dan mengingat bahan-bahan dapur tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahunya.


"Ca." panggil orang tersebut sambil menepuk bahu Echa. Echa yang mendapat tepukan di bahunya itu terlonjak kaget dan melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya.


Arsenio. ucap Echa dalam hati ketika melihat orang tersebut adalah Arsenio Hans Pratama. Dia merutuki kebodohannya ketika tidak mengikuti Bara, dia sungguh takut ketika harus berhadapan dengan Arsenio.


Echa masih membungkam mulutnya ketika melihat Arsenio berada dihadapan wajahnya, deretan kejadian tentang Arsenio yang akan merenggut harga dirinya itu membuat Echa takut.


"Lagi apa?" tanya Arsenio sambil menjentikkan jarinya ketika Echa terus menatapnya.

__ADS_1


"Eh.. ini.. belanja." jawab Echa yang langsung memalingkan wajahnya sambil melangkahkan kakinya untuk segera menghindar dari Arsenio.


"Sendiri aja? mau ditemenin?" tanya Arsenio yang masih mengikuti setiap langkah Echa.


"Gak." jawab Echa sambil mempercepat langkahnya.


"Mau kemana buru-buru banget?" tanya Arsenio sambil menahan keranjang yang sedang di dorong oleh Echa. Mau tak mau Echa langsung memberhentikan langkahnya ketika Arsenio berada di hadapannya sambil menahan keranjang dorong miliknya agar tidak bisa maju.


"Lepas." jawab Echa menatap tajam kearah Arsenio. Namun tatapan tajam yang diarahkan kepada Arsenio itu seolah tidak ada gunanya.


"Gemes banget," ucap Arsenio sambil tersenyum manis menatap kearah Echa yang sedang menatap tajam kearahnya.


"Terserah." ujar Echa yang melepaskan paksa tangan Arsenio yang menahan keranjang miliknya.


"Mau kemana?" tanya Arsenio sambil mencekal tangan Echa dan mengelus pipi Echa lembut.


"Lepas." jawab Echa yang meronta dalam cekalan Arsenio.


"Tidak semudah itu." ucap Arsenio tersenyum sinis.


Echa memalingkan wajah sambil memejamkan matanya ketika Arsenio semakin mendekatkan wajah kearahnya.


BUGH..


Tiba-tuba saja Echa sudah tidak merasakan cekalan dari Arsenio, dia langsung membuka matanya menatap Bara yang sedang memukul Arsenio hingga mengeluarkan darah dari bibirnya.


Echa langsung mengambil Qiara yang ketakutan melihat Bara semarah itu. Dia dapat merasakan tangan Qiara yang bergetar hebat. Mungkin Qiara mempunyai trauma yang mendalam oleh sesuatu, Echa menyembunyikan Qiara dibalik tubuhnya.


"Bangsat!" teriak Arsenio ketika melihat darah keluar dari sudut bibirnya.


Banyak orang yang melerai Bara dan Arsenio yang sedang diselimuti oleh amarah.


"Kakak, udah. Kita pulang." ucap Echa sambil menggenggam tangan Bara. Sedangkan Bara yang mendengar itu langsung menatap kearah Echa dan melangkahkan kakinya pergi dengan amarah yang masih memuncak.


"Kak.. Qiara takut.." ucap Qiara lirih ketika melihat wajah Arsenio.


"Kita pergi dari sini," ajak Echa sambil menuntun tangan Qiara untuk menuju kasir.

__ADS_1


__ADS_2