TEROR

TEROR
|57| SENJATA


__ADS_3

30 menit telah berlalu Echa sudah sampai di apartemen miliknya, dia tidak merasakan ada energi jahat apapun didalam apartemen miliknya itu.


Sedangkan Bara pergi ke apartemen miliknya sendiri.


"Caca harus telpon Shiren sama Hanin." Ucap Echa sambil membuka layar ponselnya itu untuk menelpon Hanin dan Shiren secara bersamaan.


"Halo kenapa Ca?" Tanya Shiren dan Hanin kompak.


"Caca pengen cerita sesuatu, bisa ke apartemen Caca?" Tanya Echa ketika mendengar suara dari dua orang yang berada di apartemennya masing-masing.


Ivy masih menjaga kedua orang tuanya dirumah, jadi dia tidak sempat untuk melihat bagaimana kondisi apartemen miliknya itu.


Tak lama kemudian Hanin dan Shiren datang ke apartemen milik Echa.


"Ca." Panggil Hanin dan Shiren kompak.


"Masuk aja, Caca lagi di atas." Sahut Echa sambil bangun dari tidurnya untuk bertemu dengan Hanin dan Shiren.


"Kenapa Ca?" Tanya Hanin penasaran ketika melihat Echa menuruni anak tangga.


"Keadaan Aira semakin kesini semakin memburuk, Caca takut dia kenapa-kenapa." Jawab Echa sambil mendudukkan dirinya disalah satu sofa kosong.


"Kenapa gak dibawa kerumah sakit aja?" Tanya Shiren.


"Aira bilang gak mau kerumah sakit, dia takut dibawa lagi, Caca gak tau maksud dibawa ini apa." Jawab Echa.


"Mungkin waktu koma Aira sempet diajak orang buat ikut ke alam gaib jadi mungkin dia masih trauma." Ucap Hanin.


"Tapi Caca punya mimpi aneh." Ujar Echa menatap satu persatu teman-temannya itu.


"Mimpi aneh, maksudnya gimana?" Tanya Shiren.


"Entah ini mimpi atau visual." Jawab Echa.


"Coba ceritain semuanya." Ucap Hanin.


Echa menghela nafasnya panjang menceritakan deretan mimpi yang agak mengganjal di pikirannya tentang kecelakaan keluarga bara dan kematian Tania yang saling berkaitan erat dan dia juga menceritakan tentang kejadian Bara dan Hans, pegawai apartemen yang menginginkan Echa namun menggunakan jalan pintas untuk mendapatkannya.


"Gitu ceritanya." Ucap Echa.


"Jadi, kematian Tania sama kecelakaan bunda An itu diiendaliin sama sosok yang serupa?" Tanya Hanin.


"Iya, mau dibilang sosok bukan juga, itu masuknya bayangan, ibarat kita berdiri dibawah matahari, pasti keliatan kan bayangan kita sendiri, nah hampir mirip kayak gitu." Jawab Echa.


"Bentar deh, dia kayaknya masih manusia tapi menggunakan bayangannya sendiri buat celakain orang." Ucap Shiren sambil menatap satu persatu teman-temannya itu.


"Hanin pernah nemu kejadian yang kayak gitu dan orang itu punya kekuatan besar banget." Ujar Hanin.


"Dia bisa menghancurkan keadaan dalam sekejap, memanipulasi sekitar dan bahkan bisa hancurin hubungan demi hubungan." Sambung Hanin.


"Sekuat itu?" Tanya Echa.

__ADS_1


"Iya, Hanin jadi curiga sama orang yang berlambang segitiga itu masih ada mengintai kita." Jawab Hanin.


"Caca juga gitu Nin, sempet berpikiran kalau William kembali bangkit lagi." Ucap Echa.


"Kita harus waspada, apa jangan-jangan kesalahpahaman yang waktu itu terjadi karena dia?" Tanya Hanin beralibi.


"Waktu Shiren sama Vivi gak mau dengerin penjelasan Caca?" Tanya Shiren.


"Iya, gak logis aja tiba-tiba kalian gak mau dengerin penjelasan Caca dulu, padahal sering dengerin dulu penjelasan sebelum menyimpulkan." Jawab Hanin.


"Caca juga ngerasa aneh akhir-akhir ini, kayak keadaan Aira yang semakin memburuk, apa itu ada kaitannya sama Hans yang mau balas dendam gara-gara kak Bara?" Tanya Echa.


"Gak mungkin lah Ca, kalau udah ada aura dari permata biru dari Kak Bara gak mungkin balas dendam kayak gitu." Jawab Shiren.


"Iya juga sih." Ucap Echa.


"Gimana keadaan Hans sekarang?" Tanya Hanin.


"Caca juga gak tau gimana keadaan dia." Jawab Echa.


"Kak Bara gak bolehin Caca buat tau segalanya tentang Hans." Sambung Echa.


"Mungkin apa yang dilarang sama Kak Bara itu baik buat kita semua, jadi ya udahlah biarin aja lagian Hans udah gak seburuk itu, lagi yang sekarang kita harus cari tau lambang segitiga." Ucap Hanin.


"Caca takut.." ujar Echa lirih ketika mengingat kembali bagaimana dirinya bertarung dengan anak buah dari lambang segitiga itu.


"Gak perlu takut, kita disini." ucap Hanin dan Shiren bersamaan sambil menggenggam tangan Echa.


"Apa perjalanan hidup kita hanya tentang kegelapan?" Tanya Echa menatap satu shiren dan Hanin secara bergantian.


Shiren dan Hanin hanya menghela nafasnya panjang, memang sangat melelahkan ketika harus berhadapan dengan dunia hitam kembali mencari teka-teki yang belum tuntas.


Namun mereka yakin apa yang sedang mereka perjuangkan akan baik bagi anak cucunya nanti, setidaknya tidak akan ada lagi menyekutukan Tuhan hanya untuk harta, tahta dan wanita.


"Ini udah jadi takdir hidup kita Ca. Daripada nanti anak-anak kita yang harus lanjutin perjalanan kita." Ucap Hanin sambil menghela nafasnya panjang.


Masa kecil, masa remaja dan bahkan masa untuk beranjak dewasa pun mereka masih dikelilingi oleh hal-hal yang bahkan orang tidak akan percaya hal seperti itu. Ilmu hitam dan hantu.


Namun saat Echa ingin membalas perkataan Hanin tiba-tiba saja Nathan, Bara, Gavin dan Devan masuk kedalam apartemen Echa.


Hanin, Echa dan Shiren langsung diam membungkam mulutnya ketika mereka datang secara tiba-tiba.


"Lagi apa nih kayaknya seru." Ucap Devan duduk di sofa kosong diikuti Nathan, Gavin dan Bara.


"Gak apa-apa, kita cuman lagi bahas keadaan Aira sama orang tuanya Vivi." Ujar Hanin.


"Gak ada kelas kak?" Tanya Shiren menatap kearah Gavin.


"Gak ada." Jawab Gavin.


"Gak ada rencana buat ngapain gitu?" Tanya Devan.

__ADS_1


"Gak ada." Jawab semua orang kompak.


"Kompak bener." Ucap Devan yang mendengar perkataan semua orang sudah seperti paduan suara saja.


Namun saat Echa ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba saja ada sesuatu yang menginterupsi.


"Apartemen sedang di kepung." ucap salah satu pengeras suara yang memenuhi lorong setelah ucapan itu tiba-tiba saja ada suara tembakan yang begitu nyaring.


"Ah, udah lama ya Bar, Nat, gak main kayak gini." ucap Gavin sambil menatap kearah Bara dan Nathan.


"Kak. Jangan macem-macem biarin pihak apartemen aja yang urus semua ini, mereka juga pasti udah lapor pihak berwajib." ujar Shiren ketika mengerti ucapan yang dilomtarkan oleh Gavin.


Dor..dor..dor..


suara tembakan dan suara teriakan itu mampu membuat Nathan, Gavin, Bara dan Devan saling menatap satu sama lain seolah pihak apartemen dibantai habis oleh orang yang tidak jelas ini.


"Kak. Jangan." ucap Hanin menatap kearah Nathan, seolah dia tahu yang akan dilakukannya Nathan.


"Kalian sembunyi." ujar Nathan tidak mengindahkan ucapan Nathan.


Tap..tap..tap..


Suara langkah kaki semakin terdengar ketika mereka saling menatap satu sama lain.


"Jangan ada yang keluar, kunci pintunya, matiin semua yang berfungsi disini jangan lupa telpon polisi." ucap Gavin berdiri dari duduknya.


"Tapi kak.." ucap Shiren yang langsung disanggah oleh Gavin.


"Semuanya bakalan baik-baik aja, percaya sama kakak." ucap Gavin sambil menggenggam tangan Shiren yang sedang menatap khawatir kearahnya.


"Sembunyi ya." ucap Bara yang kini berada dihadapan Echa, dia tahu kekasihnya ini sangat mengkhawatirkan dirinya tapi keadaan yang membuat Echa mau tidak mau mengubur rasa khawatirnya sejenak, dia percaya Bara akan baik-baik saja.


"Kak.." ucap Echa sambil menggelengkan kepalanya.


"Hei, semua baik-baik aja." ujar Bara sambil menangkup wajah Echa.


"Percaya sama kakak kan?" Tanya Bara menatap lekat mata Echa. Sedangkan Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban meskipun ada rasa khawatir dalam dirinya.


"Kakak harus baik-baik aja ya?" Tanya Echa.


"Iya." Jawab Bara sambil mengelus lembut pipi Echa.


"Setelah semua selesai kita harus pergi dari apartemen ini, kayaknya emang ada yang gak beres disini." Ucap Nathan.


"Iya, yaudah ayo." Ajak Gavin.


Bara mengelus lembut tangan Echa yang sedang menggenggam tangannya, seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


Echa takut. Sangat takut ketika mereka membawa senjata dengan peralatan yang lengkap sedangkan Nathan, Bara, Gavin dan Devan hanya tangan kosong.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa secara tiba-tiba ada pengepungan seperti ini? Ada sesuatu yang memang tidak beres.

__ADS_1


__ADS_2