TEROR

TEROR
|123| KEMBALI


__ADS_3

Ting tong


Suara bel berbunyi mampu membuat Echa membuka matanya, dia menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.40


Echa juga melihat kearah Hanin, Ivy dan Shiren yang sedang tertidur pulas.


"Ketiduran," gumam Echa sambil melangkah kearah pintu.


Ting tong


Suara bel kembali berbunyi, seolah ada sesuatu yang terjadi.


"Iya, sebentar," ucap Echa yang sedang mengikat rambutnya.


Cklek.


"Kak Gavin..." ucap Echa tertahan ketika melihat Bara yang sedang memapah Gavin yang terluka, bahkan wajah Bara, Nathan dan Azka dipenuhi luka yang sudah mengering dan lebam-lebam.


"Bawa ke ke kamar kakak aja, disini lagi pada tidur," ucap Echa.


Bara dan Nathan yang mendapat perkataan seperti itu langsung memapah tubuh Gavin menuju kamarnya.


Darah milik Gavin menetes ke lantai. Echa pastikan luka itu cukup parah.


"Kak, kenapa bisa sampai kayak gitu?" tanya Echa sambil melihat kearah Azka yang juga terluka.


"Gak tau, tiba-tiba aja ada yang datang, terus nyerang gitu aja, awalnya ada orang yang mau nusuk Bara tapi malah Gavin yang kena," jawab Azka sambil mendudukkan dirinya di sofa.


Echa mengambil kotak P3K yang berada di dalam kamarnya dan memberikannya kepada Azka.


"Kak, mau bangunin Vivi?" tanya Echa ketika Azka kesulitan untuk mengobati tangannya yang terkena goresan pisau.


"Gak usah, biarin aja," jawab Azka berusaha untuk menahan rasa perih.


"Biar Caca obatin aja, Kak," ucap Echa sambil mendudukkan dirinya di samping Azka.


Azka yang mendengar itu menyandarkan kepalanya ke sofa sambil meringis pelan ketika Echa mulai membersihkan luka di tangannya.


"Jangan lama-lama, Ca. Nanti Bara marah," ucap Azka sambil melihat Echa yang sedang mengobati lukanya dengan telaten.


"Enggak, Kak. Tenang aja, kak Bara gak bakalan marah," ucap Echa. Azka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sembari menahan perih ketika kapas yang di beri alhkohol mengenai lukanya.


"Btw, Devan mana, Kak?" tanya Echa ketika tidak melihat Devan ikut bersama yang lainnya kemari.


"Dia lagi beli obat buat Gavin, mungkin sebentar lagi juga datang," ucap Azka.


"Devan baik-baik aja?" tanya Echa sambil menatap Azka ketika sudah selesai mengobati luka Azka.

__ADS_1


"Gak ada yang baik-baik aja, Ca," jawab Azka sambil menghela nafasnya panjang.


"Kakak kemana? Ngapain malam-malam diluar?" tanya Echa.


"Cuman mau beli makanan sama cemilan aja, tiba-tiba ada yang nyerang, gak tau siapa, kayaknya Bara tau orang itu," jawab Azka yang sedang mengobati wajahnya.


"Yaudah, Caca liat dulu kak Gavin, kakak bisa sendiri kan?" tanya Echa.


"Bisa, Ca," jawab Azka.


Echa melangkahkan kakinya menuju kamar Bara untuk melihat keadaan Gavin.


"Gimana, kak?" tanya Echa ketika melihat Gavin sedang meringis kesakitan.


"Ca, tolong ambilin kotak P3K, di dalam laci," pinta Bara. Tanpa lama-lama, Echa langsung mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci dan memberikannya kepada Bara.


Echa ngilu sendiri ketika melihat luka yang ada di perut Gavin. Gavin terus saja meringis pelan ketika Bara mengobati lukanya.


"Bar, ini obat nya," ucap seseorang dari ambang pintu.


Echa yang mendengar itu langsung melihat kearah sumber suara. "Devan."


Banyak luka yang sudah mengering dan lebam-lebam di wajah Devan. Entah apa yang terjadi pada mereka, namun jika hanya untuk melampiaskan kekesalan atau hanya bersenang-senang saja, Echa tidak akan segan untuk memarahi habis-habisan Bara.


Echa melihat Devan memberikan obat kepada Bara.


"Bar, jangan pake itu, gue gak bisa tahan perihnya," ucap Gavin ketika melihat obat untuk meredakan rasa nyeri berbentuk cairan.


"Gue gak mau dua-duanya," jawab Gavin dengan wajah memelas.


"Oke, Van, pinjem mobil Alvero," ucap Bara sambil menyimpan obat yang telah di beli oleh Devan.


"Jangan. Oke, mending pake ini aja," ujar Gavin.


"Jangan teriak, yang lain lagi tidur," ucap Bara.


"Tapi..." ucapan Gavin tertahan ketika Nathan memberikannya sebuah bantal untuk menutup teriakannya.


"Pake itu," ujar Nathan.


Perlahan Bara meneteskan obat tersebut keatas kapas untuk membersihkan luka Gavin.


Gavin langsung menyembunyikan wajahnya dibalik bantal yang diberikan oleh Nathan.


"Sakit!" teriak Gavin yang terdengar pelan karena tertutup oleh bantal.


"Kak, pelan-pelan," ucap Echa, dia dapat merasakan sensasi perih ketika obat itu menyentuh luka Gavin.

__ADS_1


"Udah," ucap Bara yang sudah selesai mengobati luka Gavin. Bahkan, darah yang awalnya keluar begitu banyak, sudah tidak keluar lagi setelah diobati menggunakan obat yang dibeli oleh Devan.


"Kak, Ikut Caca sebentar," ucap Echa ketika Bara sudah selesai mengobati Gavin. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan beranjak dari tempat tidur.


Echa melihat Azka yang sudah menjemput alam mimpinya, dia membawa kotak P3K yang ada diatas meja sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Kenapa?" tanya Bara sambil mendekat kearah Echa yang sedang duduk diatas tepat tidur sambil menyiapkan kotak P3K.


Echa tidak menjawab pertanyaan Bara, dia menatap tajam kearah Bara, seolah akan mengintrogasi bukan mengobati.


Bara menidurkan kepalanya di pangkuan Echa sambil tersenyum manis, dia tahu betul, Echa akan memarahinya jika pulang dengan keadaan seperti ini.


Lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diam seribu bahasa. Bara paling tidak bisa jika harus dihadapkan dengan sifat Echa yang tahan tidak berbicara padanya dalam waktu lama.


"Kenapa bisa gini?" tanya Echa yang sedang mengobati wajah Bara.


"Gak tau, tiba-tiba aja ada yang serang kakak," jawab Bara.


"Kakak gak mulai duluan kan? Gak mungkin ada asap kalau gak ada api," ucap Echa.


"Kakak juga gak tau, tiba-tiba banyak orang yang datang, padahal kakak lagi pesen nasi goreng, kasian penjualnya sampai ketakutan," ujar Bara.


"Gimana sama dagangannya?" tanya Echa.


"Aman," jawab Bara.


"Kata kak Azka, kakak tau orangnya, siapa?" tanya Echa.


"Kakak lupa siapa namanya, tapi pernah ketemu waktu di supermarket," jawab Bara sambil meringis pelan.


"Sama Caca?" tanya Echa.


"Iya, yang waktu sama Qiara," jawab Bara.


Echa melototkan matanya. Seingatnya, orang yang pernah bertemu nya dengan Qiara adalah Arsenio.


"Nio. Itu nama panggilannya, dia juga sempet sebut namanya, tapi kakak lupa" ucap Bara.


Arsenio Hans Pratama. ucap Echa dalam hati, sambil menatap wajah Bara yang sedang memejamkan matanya.


Echa merapikan rambut Bara yang sedang tidur dalam pangkuannya.


"Kenapa dia kembali?" gumam Echa sambil mengelus luka Bara.


Bara menggenggam tangan Echa, dia mencium punggung tangan Bara berulang kali.


"Kak, jangan pergi ya," ucap Echa dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Bara mengernyitkan dahinya sambil menatap Echa. "Are you okay?"


Echa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan mengelus lembut rambut Bara. "Selama ada kakak disamping Caca, Caca baik-baik aja."


__ADS_2