
Echa mengerjapkan mata, merasakan pegal linu di sekujur tubuhnya terutama tangan sebelah kanannya seperti mati rasa.
"Aw.." ringgis Echa pelan ketika tangan sebelah kanannya mati rasa.
Echa langsung melihat kearah tangan sebelah kanannya itu, dia melihat Bara yang sedang tertidur pulas di bahunya. Echa pun melihat kearah tangan Bara yang memiliki luka kering di persendian tangannya.
"Kak Bara.." ucap Echa lemah saat melihat kearah kaca pecah yang ada di kamar Bara.
"Jam 1 malem." sambung Echa.
Echa masih merasakan sakit di sekitar lehernya, apalagi di tambah tangan kanannya yang hampir mati rasa.
"Aww.." ringgis Echa ketika tangannya berusaha untuk di gerakkan.
Bara yang mendengar suara ringgisan itu langsung membuka matanya dan melihat kearah Echa yang sudah sadarkan diri.
"Caca." ucap Bara saat melihat Echa sedang berusaha untuk bangun.
"Kakak ke ganggu ya tidurnya?" tanya Echa dengan suara lemah.
"Ada yang sakit? Butuh sesuatu?" tanya Bara.
"Enggak Kak, Caca baik-baik aja, Caca cuman mau minum." Jawab Echa sambil tersenyum manis kearah Bara.
"Bentar, kakak ambilin. Mau air anget atau air dingin?" tanya Bara.
"Air anget aja tapi jangan terlalu dingin." Jawab Echa yang masih dengan suara lemahnya, lehernya sungguh sakit jika berbicara seperti biasa.
Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil berlalu pergi menuju kearah dapur untuk mengambil air hangat.
Tak lama kemudian Bara membawa gelas berisi air hangat yang di minta oleh Echa.
"Kakak bantu." Ucap Bara sambil membantu Echa untuk bangun dari tidurnya, menjadikan tangan Bara sebagai bantalan untuk tubuh Echa.
Bara memberikan gelas yang dia bawa tadi kepada Echa, langsung di minum habis oleh Echa.
"Makasih." ucap Echa.
"Iya, mau tidur lagi atau senderan?" tanya Bara setelah menyimpan gelas yang Echa minum.
"Senderan aja kak." Jawab Echa.
"Gak pusing kan? kalau pusing tidurin aja jangan senderan." Ucap Bara khawatir. Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tenggorokannya sungguh sakit.
Bara membantu Echa untuk menyandarkan tubuhnya pada dinding, memberinya selimut agar tidak kedinginan.
"Sakit hm?" tanya Bara sambil mengelus lembut pipi Echa dan menatap lekat wajah Echa yang terlihat sayu.
Echa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis kearah Bara yang sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Maafin kakak.." ucap Bara menatap lekat wajah Echa dengan mata yang berkaca-kaca. Echa mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Bara, sedangkan Bara yang mendapat isyarat seperti itu menundukkan kepalanya.
"Kakak gak ada waktu Caca butuh kakak.. Kakak ga ada gunanya, kakak gak becus." ujar Bara sambil menggenggam tangan Echa tanpa melihat tangannya yang terluka.
"Hei.." Ucap Echa sambil menangkup wajah Bara menatap mata coklat indah itu dengan tatapan sayu dan teduh.
"Jangan salahin diri sendiri, kakak gak salah. Kejadian tadi secara tiba-tiba. walaupun kakak ada di dalam apartemen, percuma aja, kakak gak bakalan denger apa yang terjadi di luar, kalau kakak ikut sama Caca, gak bakalan ada yang ngobatin Caca." Sambung Echa sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Iya kan?" tanya Echa sambil menghapus air mata yang menetes dari mata Bara. Bara hanya menganggukkan kepalanya lemah, yang di katakan Echa memang benar.
"Terus ini kenapa?" tanya Echa sambil menggenggam tangan Bara yang terluka.
"Gak apa-apa." jawab Bara yang kini malah mencium punggung tangan Echa.
"Kakak gak boleh kayak gini lagi, Caca gak mau pas bangun ngeliat Kakak luka-luka." ucap Echa. Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia masih mencium punggung tangan Echa.
"Jangan lagi kayak gini.." sambung Echa dengan suara lemah.
"Kakak denger Caca kan?" tanya Echa yang melihat Bara tidak melepaskan ciumannya pada punggung tangan Echa.
"Iya." jawab Bara sambil tersenyum.
"Obatin dulu tangannya, kaca-kacanya juga beresin." ucap Echa.
"Sekarang?" tanya Bara.
"Iya. sekarang." jawab Echa.
"Tapi.." ucap Bara yang langsung di sanggah oleh Echa.
"Gak ada tapi kak, nanti kalau kena kakak gimana? atau ke injak sama Caca?" tanya Echa.
"Iya kakak beresin." Jawab Bara sambil membereskan kaca yang berserakan karena ulahnya.
Echa tersenyum manis melihat Bara yang sedang membersihkan pecahan kaca itu, terlihat tampan ketika Bara baru bangun tidur seperti ini.
...----------------...
20 menit telah berlalu, Bara telah selesai membersihkan pecahan kaca dan mengobati tangannya yang terluka.
"Gak separah Caca." jawab Bara.
"Ish, serius kak.. gimana keadaannya sekarang?" tanya Echa.
"Gak tau." jawab Bara.
"Kakak belum makan ya?" tanya Echa.
"Hm.." gumam Bara.
"Pesen aja Kak." ucap Echa.
"Caca mau?" tanya Bara.
"Mau." jawab Echa.
"Mau apa?" tanya Bara sambil mengambil ponselnya, untuk memesan makanan.
"Martabak telor enak kali ya," jawab Echa.
"Oke." ucap Bara yang langsung membeli 3 martabak telor kesukaan Echa.
"Besok kakak ada kelas?" tanya Echa sambil mengelus lembut rambut Bara yang ada di sampingnya.
"Ada." Jawab Bara.
__ADS_1
"Tidur aja, nanti kalau pesenannya udah nyampe Caca bangunin." ucap Echa.
"Enggak." ujar Bara sambil menyimpan ponsel miliknya ke sembarang arah.
"Jam berapa ada kelas nya?" tanya Echa.
"jam 8." jawab Bara.
"Tidur, nanti di kampus malah ngantuk dikasih tugas sama dosen baru tau rasa." ucap Echa.
"Ca.. nanti ya.." ujar Bara sambil menatap mata Echa.
"Sekarang kak." ucap Echa sambil mengikat rambutnya.
"Gak bisa tidur.." ujar Bara sambil memeluk pinggang Echa dari samping.
"Aww.. sakit kak." ucap Echa yang merasakan punggungnya sakit karena tangan Bara menyentuhnya.
"Sakit? yang mana?" tanya Bara khawatir ketika Echa mendengar ringgisan dari Echa.
"Punggung." jawab Echa.
"Makannya tidurin jangan senderan kayak gini." ucap Bara.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Bara, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari apartemen Bara.
"Tuh, kayaknya udah dateng." ucap Echa.
Bara yang mendengar suara ketukan itu langsung melangkahkan kakinya menuju pintu dan membuka pintu tersebut.
Saat pintu tersebut terbuka, bara meljhat Hans yang sedang menenteng kantung plastik berisi makanan pesanannya. Bara yang melihat wajah Hans itu langsung mengepalkan tangannya sambil mencengkram kuat kerah baju Hans.
"Lo berani nyakitin cewek gue!" ucap Bara pelan namun terdengar menusuk.
"Maksud Lo apa?" tanya Hans bingung ketika bara tiba-tiba saja mencengkram kuat kerah baju Hans.
"Lo berhasil udah buat cewek gue terluka dan Lo juga berhasil udah buat gue bersalah sama keadaan yang Lo buat sendiri!" jawab Bara sambil mengeluarkan cahaya biru di telapak tangannya untuk di arahkan kepada Hans, namun Hans tidak melihat kekuatan yang dimiliki Bara.
"Gue gak mungkin nyakitin cewek yang jelas-jelas gue cintai!" ucap Hans.
"Bangsat!" ujar Bara yang langsung mengarahkan tangannya itu kearah perut Hans.
"Lo..!" ucap Hans yang merasakan sakit di perutnya.
"Kakak." panggil Echa ketika bara tak kunjung datang.
Bara yang mendapat panggilan itu langsung menurunkan tangannya dari perut dan kerah baju Hans.
"Bentar Ca." sahut Bara.
"Caca laper.." ucap Echa.
"Iya, kakak pindahin dulu ke piring." ujar Bara sambil menatap tajam kearah Hans yang sedang meringgis kesakitan.
"Hari ini Lo selamat. Gue lepasin, lain kali hati-hati kalau mau melakukan sesuatu. Urusan Lo sama gue belum kelar." ucap Bara sambil mendorong tubuh Hans dengan kuat sambil menutup pintu apartemen dengan pelan.
Bara memindahkan martabak telor pesanan Echa ke piring sambil membawa segelas air hangat untuk Echa.
__ADS_1
"Kemana aja sih ka? lama banget." ucap Echa ketika bara sudah berada di kamar.
"Enggak. Makan, laper kan?" tanya Bara. Echa hanya menganggukkan kepalanya sambil memakan martabak telor kesukaannya.