
Semua orang yang mendengar itu diam mematung, mereka masih mencerna apa yang baru saja di katakan oleh Dokter tentang Aira.
"Maksud Dokter apa ya? Aira gak mungkin meninggalkan, Dok?" tanya bunda An dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dokter menghela nafasnya panjang, berusaha meyakinkan kedua orang tua Aira "Saya sudah berusaha dengan maximal tapi.. Anak ibu tidak bisa diselamatkan."
Suara tangisan bunda An pecah ketika mendengar perkataan dokter, Daniel merengkuh tubuh istrinya sambil menguatkan dirinya sendiri bahwa kematian adalah hal yang pasti, tidak bisa di tarik ulur.
"Papa.. Aira gak mungkin ninggalin Mama kan? Aira anak yang kuatkan? Papa bilang Aira kuat. Aira bakalan bertahan. Tapi.. Kenapa Dokter bilang Aira gak ada." ucap bunda An yang sedang memukul dada bidang Daniel ketika meraih tubuhnya agar tenang.
Bara, Echa dan teman-temannya yang mendengar perkataan Dokter itu langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam, melihat keadaan Aira yang katanya sudah tidak bernyawa.
"Aira.. " ucap Bara sambil memeluk tubuh Aira yang sudah pucat dan kaku.
"Aira, bangun sayang.." ujar Echa yang sudah meneteskan air matanya melihat keadaan Aira.
"Aira! Bangun! Kakak mohon bangun.." ucap Bara dengan mata yang terlihat memerah menahan air matanya agar tidak tumpah, dia hanya sedang menyakinkan dirinya, bahwa Aira belum benar-benar pergi sepenuhnya.
__ADS_1
Bara terus menggoyangkan tubuh Aira dalam pelukannya sambil mengelus kepala Aira lembut.
"Bara. Udah.. Aira udah gak ada." ucap Azka ketika melihat Bara terus menggoyangkan tubuh Aira.
Bara yang mendapat perkataan itu langsung menatap tajam kearah Azka "Enggak! Aira masih ada, dia masih ada Ka!" Bara kembali memeluk tubuh Aira yang sudah agak kaku "Dia adik gue, Dia kuat, Aira gak mungkin ninggalin kakaknya. Itu janji dia waktu dulu sama gue. Dia gak bakalan pergi sebelum gue!"
Bara terus menangis sambil memeluk tubuh Aira, Hari ini dia menunjukkan kelemahannya di depan semua orang.
"Aira bangun.. kamu berani ingkar janji sama kakak?" tanya Bara mencium kening Aira berkali-kali dengan air mata yang membasahi pipinya.
Seorang kakak yang sedang kehilangan adiknya itu,terus menangis tanpa henti. Dia benar-benar hancur ketika melihat adik kesayangannya pergi secepat ini, bahkan sebelum melihat pernikahan kakaknya.
Tangisan pilu memenuhi ruangan Aira, pemilik raga yang sudah tidak bernyawa itu, mampu membuat semua orang benar-benar merasakan sakitnya hilang akan kematian.
"Aira.. bangun. Kamu gak bakalan ninggalin kakak sendirian kan? Kamu gak boleh pergi.. Nanti kakak sama siapa Ra?" tanya Bara dengan tangisan pilu."Ra, kamu alasan satu-satunya Kakak bertahan di Rumah, dan sekarang.. Enggak. Kamu gak pergi kan, Ra?" Lagi-lagi Bara bertanya pada orang yang sudah tidak akan pernah menjawab pertanyaannya itu, dia masih memeluk raga yang sudah tidak memiliki tuan.
Nathan menepuk bahu Bara sambil mengusap air matanya yang sejak tadi menetes melihat seorang kakak yang kehilangan adiknya."Bara. Udah, kasian Aira." Bara tidak mendengarkan ucapan Nathan, dia terus memeluk tubuh Aira.Bara takut pelukan ini adalah pelukan terakhir kali baginya.
__ADS_1
"Kak.." panggil Echa sambil mengelus punggung Bara lembut. "Udah, Aira udah gak ada. Kasian, nanti berat ke Airanya."
"Ca, Aira belum pergi. Dia masih ada, dia disini." sahut Bara.
...----------------...
Sedangkan disisi lain, seorang pria tertawa penuh kemenangan ketika melihat lawannya itu hancur. Siapa lagi jika bukan Algi?
Algi, dia dalang dari kematian Aira. Dia yang menyarankan kepada perempuan misterius itu untuk membuat Aira mati. Karena Aira adalah jembatan bagi Bara agar hancur dengan cepat.
"Akhirnya.. aku bisa melihat Bara yang lemah." ucap Algi sambil menatap kearah cermin, melihat Bara dan yang lainnya sedang menangis dengan kepergian Aira. Dia menatap kearah Echa yang sedang meneteskan air matanya sambil menggenggam tangan Aira. "Sayangnya aku tidak ada disana untuk menemani Echa, tapi.. ya sudahlah, yang penting aku bisa membuat musuhku hancur."
Algi tersenyum sinis menatap Bara yang sedang memeluk raga tak bernyawa, namun dalam beberapa detik senyuman itu luntur ketika dia mengingat tuannya itu.
"Tuan, kemana dia? Aku tidak melihatnya, biasanya dia ada disini melihat kekalahan musuhnya." ucap Algi dengan kerutan di keningnya."Apa dia baik-baik saja?"
Algi merasakan ada sesuatu yang tidak beres ketika tuannya itu, tidak ada disini, menyaksikan Bara yang sangat hancur.
__ADS_1
"Arghh! Kenapa dadaku sakit?" ucap Algi tiba-tiba saja jantungnya seperti ditikam oleh pisau yang tajam.
"Arghhh!" teriak Algi ketika disekitar jantungnya semakin sakit. Dia berusaha meraih telpon yang berada di atas nakasnya.