
Pagi hari telah tiba Echa sudah bangun sejak tadi pagi, dia baru saja selesai mandi, membereskan rumah dan menghangatkan makanan yang dia simpan di dalam kulkas.
Setelah semuanya selesai, Echa melangkahkan kakinya menuju kamar Bara untuk membangunkannya.
"Kak." Panggil Echa sambil membuka pintu kamar Bara.
Echa melihat Bara yang masih memejamkan matanya, seperti biasanya Bara selalu bangun siang.
"Kakak, Ada kelas gak?" Tanya Echa yang kini sedang memegang kini kening Bara yang sudah tidak panas seperti malam.
"Gak ada.." gumam Bara sambil menggenggam tangan Echa.
"Bangun, mau kerumah sakit gak?" Tanya Echa yang mencoba melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bara namun Bara sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Kak.. bangun. Mau kerumah sakit gak? Udah siang." Ucap Echa.
"Iya." Ujar Bara tanpa membuka matanya.
"Ponsel kakak mana?" Tanya Echa.
"Ada di jas yang kemarin." Jawab Bara sambil menunjuk jas yang dia gantung.
"Lepasin dulu." Ucap Echa yang sedang melepaskan genggaman tangannya dari Bara tapi Bara tidak mau melepaskan genggamannya.
"Mau ngapain?" Tanya Bara belum melepaskan genggaman tangannya pada Echa.
"Mau ngasih tau yang lain tentang keadaan Bunda, ayah sama Aira. Kemarin juga kita gak pamit dulu, gak sempet." Jawab Echa.
Bara yang mendengar itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada Echa, membiarkan kekasihnya itu menelpon teman-temannya, untuk memberitahu keadaan yang sedang Bara alami saat ini.
Echa yang melihat tangannya sudah di lepas itu langsung melangkahkan kakinya mengambil ponsel Bara dan menelpon Alvero.
Namun Alvero tidak menjawab telpon tersebut hanya terdengar suara operator. Echa kembali menelpon Gavin namun tidak di angkat lagi.
"Mungkin mereka lagi sibuk Ca." ucap Bara yang mendengar suara operator yang menjawab telpon Echa. Echa menghela nafasnya dia kembali menelpon Azka. Dan Yap berhasil. Azka mengangkat telpon tersebut.
"Halo kak." ucap Echa ketika Azka mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Ini Vivi." ujar Ivy yang berada di balik sambungan telpon.
"Vivi.." ucap Echa yang kembali di timpah oleh Ivy.
"Apalagi si Ca?" Tanya Ivy dengan nada kesal.
"Caca mau minta maaf dulu soal kemarin, Caca sama kak Bara pulang duluan, tapi Caca punya alesan kok kenapa Caca pulang.." Jawab Echa yang langsung di timpah oleh suara seseorang yang Echa kenali.
"Udahlah Ca gak perlu lagi penjelasan, kita tau kok Caca sama kak Bara pulang gitu aja tanpa pamit, malu lah Ca." ucap Shiren yang menimpah ucapan Echa.
"Shiren.." ujar Echa yang kembali di timpah oleh seseorang yang membuat kepercayaannya memudar.
"Ca, Hanin gak nyangka banget ya sama Caca, pulang gitu aja. Hanin kecewa sama Caca, gak pamit, gak ada basa-basi apapun langsung pamit gitu aja, kita udah berusaha buat hubungin Caca, tapi sama sekali gak diangkat. Hanin bener-bener kecewa sama Caca." Ucap Hanin.
"Kenapa Caca jadi gini semenjak sama Kak Bara?" Tanya Ivy.
Pertanyaan itu mampu membuat Echa menatap kearah Bara yang sedang memejamkan matanya, mengatur emosinya agar tidak meluap saat itu juga.
Mereka belum mendengar penjelasan dari Echa tapi sudah menyimpulkan secara sepihak bahkan mereka tidak memberi waktu untuk Echa berbicara.
"Kenapa Ca? Gak bisa jawab? Caca udah nyadar diri? Atau mau nyangkal ucapan Vivi?" Tanya Ivy.
"Dengerin Caca dulu, kalian gak ngasih Caca waktu buat jelasin semuanya.." ujar Echa.
"Kita udah tau Ca, kita gak perlu penjelasan, Shiren udah kecewa banget sama Caca." ucap Shiren.
"Tapi Ren, Vi kita coba dengerin dulu penjelasan Caca." ujar Hanin dengan suara pelan namun dapat di dengar oleh Echa.
"Hanin.." ujar Echa yang langsung di timpah oleh Bara.
"Tutup sambungan telponnya." ucap Bara yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Tapi Kak.." ujar Echa yang kembali di sanggah oleh Bara.
"Kakak bilang tutup ya tutup!" bentak Bara saat Echa membantah dirinya. Bukan karena bara melarang tapi itu sudah kelewatan.
"Dengerkan? Biar Vivi aja yang matiin Ca. Gak perlu Caca yang matiin nanti kena marah." Tanya Ivy sambil tersenyum sinis di balik sambungan telponnya.
__ADS_1
Tut.
Ivy mematikan sambungan telponnya secara sepihak, Echa hanya bisa menghela nafasnya, menahan rasa kecewa pada teman-temannya itu.
"Maafin Kakak." ucap Bara sambil menggenggam tangan Echa.
"Kakak gak salah kok, temen-temen Caca aja yang gak kasih waktu buat Caca bilang semuanya." ujar Echa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf udah kakak bentak. kakak cuman gak mau Caca denger hal yang buat Caca sakit." ucap Bara sambil mengelus tangan Echa untuk menenangkannya. Echa hanya tersenyum manis sambil menyeka air mata ketika ingin turun dari pelupuk matanya.
"Kakak mandi dulu ya. Kita kerumah sakit sekarang, gak perlu ada yang dikasih tau lagi, kita udah berusaha ngasih tau tapi mereka yang gak ngasih waktu buat tau semuanya." sambung Bara sambil mengelus kepala Echa sambil mencium singkat kening Echa sebelum melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi.
Echa yang melihat Bara sudah melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi itu mendadak air matanya menetes dengan tiba-tiba.
Hanin yang Echa percaya akan memberinya waktu untuk menjelaskan semuanya malah tidak ingin mendengar penjelasannya.
"Hanin.." ucap Echa sambil meneteskan air matanya sambil keluar dari kamar Bara.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain Hanin, Ivy dan Shiren sedang berada di kamar yang Ivy tempati di rumah mutiara.
"Vi, Ren, kita gak tau penjelasan Caca kenapa kalian malah gitu sih?" Tanya Hanin saat Ivy menutup sambungan telponnya.
"Lah Hanin juga kecewa kan sama Caca?" Tanya Shiren.
"Hanin sebenernya gak kecewa sama Caca karena belum tau penjelasan dari dia, kita aja gak ngasih Caca waktu buat jelasin semuanya." Jawab Hanin sambil menatap mata Ivy dan Shiren.
"Terus tadi kenapa bilang gitu sama Caca? Hanin sama aja kayak kita, jangan salahin kita juga dong, Hanin juga salah disini." Ucap Ivy nyolot.
"Karna Hanin juga kebawa emosi sama kalian, Hanin ngaku, Hanin salah." Ujar Hanin.
"Yaudah sana sama Caca aja. Vivi yakin Caca di jadiin boneka sama Kak Bara." Ucap Ivy sambil tersenyum sinis.
"Vivi!" Bentak Hanin yang tidak terima saat Echa dihina seperti itu.
"Shiren juga setuju sama Vivi, coba Hanin pikir sebesar apapun masalahnya Caca selalu hubungin kita. Sebesar apapun Nin meskipun shiren baru tau beberapa tahun ini tapi itu waktu yang cukup buat kenal sama Caca. Apa jangan-jangan Caca cuman manfaatin kita ya?" Tanya Shiren beralibi.
__ADS_1
"Vivi! Shiren! Kalian itu udah dewasa, jangan nyimpulin secara sepihak, kita gak tau masalah sebesar apa yang lagi Caca hadepin sekarang! Biasanya kalian gak kayak gini, Kecewa Hanin tadi sama Caca karena kebawa emosi tapi kecewa Hanin sama kalian berdua murni karena Hanin yang rasain sendiri!"
"Hanin nyesel tau gak kebawa emosi kayak tadi sama kalian! Dan itu penyesalan terbesar dalam hidup Hanin! Semoga kalian gak nyesel pas tau apa yang bakalan Caca jelasin! Dan perasaan Hanin sekarang harus tau penjelasan dari Caca, terserah kalian mau disini atau mau ikut sama Hanin, Hanin udah gak peduli!" Bentak Hanin sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ivy dan Shiren yang seolah tidak peduli dengan kepergiannya itu.