
[Untuk Part 110, silahkan baca diatas, sudah di revisi lagi👆]
"Bosen banget." ucap Echa kesal ketika dirinya sama sekali tidak boleh keluar dari kamar. Padahal dibawah bunda An, Roslyn, Desvita, Helena dan yang lainnya sedang memasak makanan untuk merayakan kebahagiaan Desvita.
"Keluar aja gak apa-apa kali ya," ujar Echa mencoba untuk berdiri dari duduknya di tempat tidur.
Namun, saat Echa ingin melangkahkan kakinya untuk ketiga kalinya, tubuhnya tidak seimbang ditambah lantainya licin karena minuman yang tumpah.
"Kakak!" teriak Echa sambil memejamkan matanya saat dirinya akan terjungkal kebelakang.
Echa tidak merasakan apapun, harusnya saat ini dia sudah terjungkal kebelakang dan kepalanya terbentur ke tepi tempat tidur. Perlahan Echa membuka matanya melihat ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Mau kemana?" tanya orang yang saat ini sedang menggendong tubuh Echa menuju tempat tidurnya lagi.
"Caca mau keluar, kak." jawab Echa yang melihat orang tersebut adalah Bara.
"Gak." ucap Bara singkat sambil membuka jaket yang melekat ditubuhnya.
"Kak... Caca bosen dikamar," ujar Echa sambil menatap kearah Bara yang terlihat lebam-lebam. Sedangkan Bara tidak menjawab perkataannya, dia melangkahkan kakinya mendekat kearah Echa.
"Abis darimana?" tanya Echa.
"Silaturahmi." jawab Bara sembari tersenyum tipis.
"Sama siapa? Kenapa bisa lebam-lebam kayak gitu?" tanya Echa.
__ADS_1
Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, dia malah memeluk tubuh kekasihnya itu. Mencium aroma vanila di rambut Echa mampu membuatnya agak tenang dari sebelumnya. Sedangkan Echa hanya mengelus punggung Bara lembut.
"Kenapa?" tanya Echa.
"Lagi pengen gini aja," jawab Bara yang masih memeluk tubuh Echa.
Echa tidak mengatakan apa-apa, dia membiarkan Bara memeluk tubuhnya.
"Kakak ngantuk." ucap Bara yang masih memeluk tubuh Echa, dia menyamakan kepalanya di bahu Echa.
"Kak, jangan gini." ujar Echa.
"Hm..." gumam Bara yang tidak melepaskan pelukannya dari Echa.
"Kak, tidurnya samping Caca aja, jangan gini." ucap Echa.
Sabar, Ca. ucap Echa dalam hati sambil mengelus punggung Bara.
"Jangan lama, nanti pegel." ucap Echa.
"Heem," gumam Bara sambil memejamkan matanya.
Echa membiarkan Bara tidur dalam pelukannya, manjanya Bara sudah kumat lagi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba saja, bunda An masuk kedalam kamar Bara, melihat anaknya itu sedang tertidur dalam pelukan Echa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya bunda An menatap kearah Echa dengan suara pelan agar tidak membangunkannya, sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Bara.
Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, seolah mengatakan Tidak apa-apa.
"Kak," panggil Echa sambil mengelus rambut Bara.
"Jangan dibangunin, biarin aja, semalam dia gak tidur." ucap bunda An sembari mendudukkan dirinya di samping sebelah kanan Echa.
Bunda An mengelus sambut Bara yang sedang tertidur dalam pelukan Echa. "Gimana udah kenal Bara yang manjanya minta ampun?"
"Banget. Sampai susah mau kemana-mana." jawab Echa sambil tersenyum kearah bunda An.
"Bara emang gitu, keliatannya aja dingin, cool. Padahal aslinya bikin geleng-geleng kepala." ucap bunda An tertawa pelan. Sedangkan Echa hanya tersenyum manis menanggapi perkataan bunda An.
Apa yang dikatakan bunda An memang benar. Bara terlihat dingin dan tidak tersentuh dari luar, tapi aslinya tidak seperti apa yang dilihat orang-orang.
"15 menit lagi turun ya, kita makan sama-sama." ucap bunda An sambil mencium kening Echa dan tersenyum manis.
"Iya, bunda." ujar Echa membalas senyuman bunda An.
Bunda An melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara. Meninggalkan Echa bersama dengan Bara yang tertidur pulas dalam pelukannya.
Echa tersenyum menatap wajah Bara yang begitu tampan meskipun sedang tertidur seperti ini, dia merapikan rambut Bara yang menghalangi penglihatannya.
Gila. Kenapa Ganteng banget, kak? tanya Echa dalam hati sambil menatap wajah Bara yang terkena sinar matahari. Dia mengecup singkat kening Bara yang sedang tertidur dalam pelukannya.
__ADS_1