
Tok tok tok
Suara pintu ruangan pribadi mampu mengalihkan perhatian Bara, Daniel dan Echa.
"Permisi tuan, ada seseorang yang ingin bertemu," ucap Irina yang masih berada di luar ruangan.
"Siapa?" tanya Bara.
"Devan." jawab Irina.
Echa yang mendengar nama itu langsung tersenyum penuh arti, seolah sudah memiliki rencana selanjutnya.
"Caca ikut keluar ya, kak." ucap Echa sembari menggenggam tangan Bara.
"Gak boleh." ujar Daniel dan Bara kompak.
Echa mengerjapkan mata sembari menatap kearah Bara dan Daniel secara bergantian.
"Boleh ya?" tanya Echa dengan pupy eyes andalannya.
"Ca," panggil Bara dan Daniel kompak.
Echa hanya mengembuskan nafasnya. Dia mengerucutkan bibirnya.
Bara melangkahkan kaki keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Dia tersenyum tipis saat melihat Devan sedang duduk di sofa. Bahkan, Bara dapat melihat Devan mencuri pandang kearah Irina.
"Ngapain Lo nyuruh gue kesini?" tanya Devan ketika melihat Bara sedang melihat kearahnya.
Bara tidak menjawab pertanyaan Devan, dia mendudukkan dirinya di sebelah Devan. "Irina."
"Iya tuan?" tanya Irina.
"Sekarang, kamu pergi bersama Devan," jawab Bara.
Devan yang mendengar namanya disebut langsung menatap kearah Bara seolah meminta penjelasan.
"Caca nyuruh Irina ikut ke rumah Hanin, buat bantuin dia. Dan gue butuh Lo buat nganterin Irina ke rumah Hanin." jelas Bara.
Devan menatap Irina yang sedang menundukkan kepalanya. "Kak Mira..."
"Ini kan yang Lo mau?" tanya Bara dengan suara pelan.
Namun, saat Devan ingin menjawab pertanyaan Bara, tiba-tiba saja ada dua orang keluar dari ruang pribadi Bara.
"Hai Van," sapa orang tersebut dengan senyuman manisnya.
Siapa lagi jika bukan Echa dan Daniel? Daniel mencoba untuk memapah Echa sambil menggenggam tangan kekasih dari anaknya tersebut agar tidak jatuh.
"Kalau boleh bilang, dia yang gue maksud Bar," ucap Devan dalam hati sembari menatap kearah Echa yang mampu mengalihkan dunianya.
Bara yang melihat itu langsung melangkahkan kaki mendekat kearah Daniel, dan melepas genggaman tangannya. "Papa, tadi telepon papa bunyi," ucap Bara yang kini sudah mengambil alih tangan Echa.
"Siapa?" tanya Daniel penasaran.
"Mama," jawab Bara.
__ADS_1
"Serius kamu?" tanya Daniel tidak percaya.
"Liat dulu," jawab Bara.
Namun, saat Daniel ingin mengajukan pertanyaannya lagi, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Membuat dia mengurungkan niat untuk bertanya lagi. Dan, Yap. Mama, kontak yang tertera dilayar ponsel Daniel saat ini menjawab semua keraguannya.
"Angkat dulu, nanti marah-marah," ucap Bara. Daniel yang mendapat perkataan seperti itu langsung mengangkat telepon dari bunda An.
Bara menuntun Echa untuk duduk di sofa.
"Udah ke rumah Hanin atau kak Nathan, Van?" tanya Echa yang sudah duduk di sofa.
"Belum, rencananya sih tadi, tapi keburu Bara telepon jadi belok dulu kesini," jawab Devan.
"Yaudah kalau gitu bareng aja sama Caca, sekarang Caca juga mau ke sana," ucap Echa.
"Oke, btw tu jidat kenapa?" tanya Devan melihat kening Echa di balut kapas.
"Ada kecelakaan kecil," jawab Echa.
Devan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Nunggu apalagi? Kita kesana sekarang, Irina ayo" ajak Echa. Irina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sembari membantu Echa untuk berdiri dari duduknya.
Mereka melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
"Gimana Van?" tanya Bara.
"Baru biasa aja," jawab Devan seadanya.
"Kalau boleh, bisa gak si bar gantian aja, biar gue bisa ngerasain kasih sayang punya Echa yang selalu dia kasih ke elo?" tanya Devan dalam hati sambil menatap punggung Echa yang berada di hadapannya.
Mereka semua menuju kearah lift, banyak pasang mata yang menatap mereka. Terutama kearah Bara, daya pikat dari wajahnya sungguh tidak bisa di sia-siakan.
...----------------...
10 menit telah berlalu mereka telah sampai di parkiran.
"Riri!" Panggil seseorang dari arah belakang. Membuat Echa dan Irina melihat kearah sumber suara.
Echa melihat seorang pria bertubuh tinggi, kulit putih, tampan, mata berwarna biru, hidung mancung dan alisnya yang tebal.
Echa tidak dapat menyangkal bahwa pria itu sangat tampan. Dia baru melihat mata seindah itu.
"Raja ..." Cicit Irina, namun masih bisa di dengar oleh Echa.
"Ikut gue." Titah Raja sembari mencekal kuat tangan Irina.
Irina mencoba untuk melepaskan cekalan tangan Raja, namun nihil. Dia malah mendapatkan tanda merah di tangannya akibat berontak.
"Gue gak mau, Ja."
Raja masih saja mencekal tangan Irina tanpa berniat melepaskannya. "Ikut gue atau gue tarik."
"Maaf, tapi dari tadi Irina sama saya, jadi kakak bisa tolong lepasin Irina? Tangannya udah merah," ucap Echa ketika melihat pergelangan tangan Irina memerah.
__ADS_1
Raja langsung menatap kearah Echa. Tidak memberikan respon apapun, dia hanya menatap Echa. Dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ja, lepasin sakit!" Bentak Irina.
Raja kembali mengalihkan pandangannya dari Echa sembari melepaskan cekalan tangan Irina.
"Maaf, Ri." Ucap Raja dengan tatapan sendu.
Irina tidak menjawab ucapan Raja, dia mencoba untuk meredakan sakit di tangannya.
"Ca," panggil Bara yang sudah siap dengan motornya, diikuti Devan di belakangnya.
"Ayo, Ri." ajak Echa.
Namun, langkahnya terhenti ketika raja menggenggam tangan Irina. "Maafin gue, Ri. Kasih gue kesempatan."
Irina melepaskan genggaman tangan nya dari Raja sembari mengembuskan nafasnya. "Ja, gue udah gak mau bahas itu lagi, lebih baik Lo sama Lia aja, bukannya itu kan yang Lo mau?"
"Gue gak mau sama dia! Lo salah paham!" Bentak Raja.
Devan yang melihat itu merasakan rasa sakit di hatinya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadanya terasa di tusuk benda tajam. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Mau sampai kapanpun, gue gak bakalan denger penjelasan Lo, ja. Gue liat, bahkan denger sendiri. Mau apa lagi yang Lo sangkal?" tanya Irina dengan mata yang berkaca-kaca.
Echa yang melihat itu hanya bisa mengelus punggung Irina, seolah menguatkannya.
"Ri, maaf. Kasih gue kesempatan, dan gue gak bakalan sia-siain Lo. Gue janji." ucap Raja dengan mata penuh harap.
Irina hanya menyunggingkan senyumannya, sembari melangkahkan kaki kearah Devan.
"Irina stop!" teriak Raja. Namun, Irina tidak mendengarkannya, ucapan raja seolah angin lalu baginya.
Irina naik keatas motor Devan sembari membisikkan sesuatu kepada Devan. "Maaf kalau Riri sedikit lancang, mohon kerja sama nya sebentar, ya."
Devan menahan nafasnya ketika Irina melingkarkan tangan di pinggang sembari menyimpan kepala di bahunya. Dia merasakan ada sesuatu yang berterbangan di perutnya bahkan wajahnya terasa panas.
"****! Ada apa sama diri gue?" batinnya.
"Nafas kak, setelah ini bakalan Riri lepasin lagi kok, maaf kalau udah bikin kakak gak nyaman," ucap Irina ketika merasakan Devan sedang menahan nafasnya.
Devan yang mendapatkan perkataan seperti itu langsung tersadar dari lamunannya, dia kembali bernafas sembari melajukan motornya.
Tapi sebelum itu, Devan berhenti tepat di depan raja yang sedang memandang kearah dirinya dan tangan Irina.
"Kebetulan banget kita ketemu, gue cuman mau ngasih tau. Mulai saat ini, Lo berhenti ganggu dia. Sekarang dia cewek gue dan gue gak bakalan biarin siapapun nyakitin dia terutama diri gue sendiri." ucap Devan pelan namun menusuk.
Deg.
Irina merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, ada banyak sekali kebahagiaan yang tidak bisa di jelaskan ketika Devan berbicara seperti itu, padahal. Ini pertama kali dia bertemu dengan lelaki bernama Devan ini. Tapi, rasanya sudah mengenal begitu lama.
"Tolong, jantung tetap aman di tempatnya ya." batin Irina.
"Lo gak bakalan bisa milikin Irina seutuhnya, karena dia akan selalu jadi milik gue." ujar Raja.
"Kalau manusia biasanya mikir." ketua Devan sembari melajukan motornya kencang, membuat Irina semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Devan tersenyum tipis di balik helm full facenya ketika melihat Irina yang sedang memejamkan matanya. Rambutnya yang berwarna coklat indah beterbangan bebas dengan kulit seputih salju membuat Devan kembali merasakan panas di area wajahnya.