
"Baik, terimakasih sebelum nya untuk para pendengar, saya meminta maaf sudah menganggu ketenangannya, ini hanya sebentar saja." Pantulan lampu yang mengarah pada mata Leon membuat semua tak berkedip. Mata itu sangat indah sekali. "Saya berusaha memberanikan diri untuk berdiri diantara ratusan orang hanya untuk menyampaikan satu kalimat."
Leon menatap kearah Echa yang juga sedang menatap kearahnya. Semua orang yang sedang bercanda dan tertawa ria tiba-tiba saja hening ketika melihat sosok Leon yang sangat tampan.
"Ada apa, Ca?" tanya Roslyn penasaran.
Echa hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap kearah Leon. Seolah gelengan kepala itu memiliki dua makna yang sangat berarti.
Leon tersenyum ketika mendapat gelengan kepala tersebut, wajahnya yang menggemaskan membuat Leon ingin mengajaknya seumur hidup bersamanya.
"Untuk seorang wanita yang sedang duduk manis dengan gaun senada dengan saya. Wajah menggemaskan yang tak pernah lepas dari tatapan saya, senyuman manis yang tidak bisa membuat saya berpaling. Demi wanita itu saya menguatkan diri untuk mengalahkan rasa takut. Echa Aprilia Anjani..."
Leon tersenyum yang masih saja menatap kearah Echa.Dia menarik nafasnya panjang, melawan rasa gugup dalam dirinya.
"Will you marry me?"
Tiba-tiba saja semua lampu di dalam hotel. Namun Echa dapat merasakan ada dua orang yang mengatakan hal tersebut. Dia tahu betul suara itu bukan menggema, namun suara dua orang dalam satu pertanyaan yang sama.
Semua kembali dalam kegaduhan, ketika lampu di dalam hotel mati. Namun lampu kembali menyala dengan menyorot satu orang wanita yang sedang membelakangi Echa.
alunan musik bersenandung, seolah akan ada nyanyian dari wanita tersebut.
"Hari ini hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu..."
Suara merdu yang sangat khas dan Echa kenali itu membuat dia teringat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh. Tepat pukul dua belas malam, dia mendapatkan kejutan yang luar biasa.
"Yang kuberi bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati."
Suara merdu milik Ivy Oktaviani memang tidak pernah gagal dalam menghanyutkan suasana. Kegaduhan yang sedang terjadi kembali hening ketika mendengar lembutnya suara Ivy.
"Maaf, bukannya pelit
Atau nggak mau ngemodal dikit..."
Dia melihat teman-temannya yang tersenyum tanpa ada Bara diantara teman-temannya. Dia sedikit menghela nafas, ketika Bara tidak ada di sana.
"Yang ingin aku beri padamu doa s'tulus hati."
Semua orang mengikuti irama musik dan alunan merdu suara Ivy untuk mengakhiri lagu tersebut.
"S'moga Tuhan melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah-mudahan dib'ri umur panjang
Sehat selama-lamanya."
Suara riuh tepuk tangan membuat Echa merinding, suaranya begitu menggema di dalam hotel seolah banyak yang merayakan bertambahnya usia Echa.
__ADS_1
Hanin, Shiren dan Mutiara melangkahkan kakinya kearah Echa sembari tersenyum manis dengan kue yang ada di tangan Hanin.

Tidak mewah namun mampu membuat dirinya sangat amat bersyukur, sederhana namun memiliki kenangan yang luar biasa mewahnya. Tidak akan bisa di beli uang. Hanya bisa di beli oleh waktu.
"Make a wish, cantik." ucap Hanin.
Echa menutup mata sembari terus menitikkan air mata, "Tuhan, tolong permudahkan segala hal yang Caca jalani, jauhkan dari hal yang mengguncang perdamaian, dekatkan dengan hal-hal yang selalu memberi makna positif, tuhan selalu tau mana yang terbaik, karena dengan indahnya menata skenario yang sangat luar biasa hingga Caca menyanggupinya untuk hidup."
Echa meniup lilin tersebut sembari tersenyum manis dan menghapus air mata bahagianya. Sungguh, ternyata part ini yang Echa sanggupi untuk hidup di dunia.
"Selamat ulang tahun Ca, semoga segera dipertemukan dengan jodohnya ya," ucap Mutiara sembari menghapus air mata yang sedari tadi tidak berhenti dari mata Echa.
"Makasih kak," balas Echa sembari tersenyum manis.
"Caca, selamat ulang tahun ya, semoga di pertemukan dengan orang-orang baik, jangan lelah juga buat selalu jadi orang baik." ucap Shiren sembari memeluk Echa.
"Makasih Ren," balas Echa sembari membalas pelukan Shiren.
"Kalau lagi bahagia jangan nangis, Caca jadi jelek," ujar Ivy sembari tersenyum kearah Echa.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Ivy, tiba-tiba saja alunan musik terdengar begitu merdu, seperti memberi ruang untuk seseorang kembali melantunkan suara merdunya.
Semua lampu hotel menyala tanpa terkecuali menampilkan seorang pria yang selalu menemani hari-harinya. Pria yang kadang membuatnya naik darah. Siapa lagi jika bukan Bara?
Pria tampan dengan hidung mancung, mata sipit dan bibirnya yang tipis membuat semua orang mengalihkan pandangannya dari Leon. Ditambah setelan jas yang Bara gunakan harganya tidak main-main.
"Sir, I'm a bit nervous
Still not real sure of what I'm going to say
So bare with me please."
Suaranya begitu indah memenuhi seluruh hotel, masuk dengan begitu sopan kedalam Indra pendengaran. Jujur saja, saat ini kakinya gemetar, hatinya bergemuruh hebat, bibirnya terus saja mengulas senyuman manis.
"If I take up too much of your time
But you see, in this box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side..."
Wanita mana yang tidak akan tergerak hatinya ketika di lamar bertepatan dengan hari ulang tahunnya? rasanya itu adalah hal yang paling membahagiakan.
"Cause very soon I'm hoping that I
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life."
__ADS_1
Bara tersenyum manis kearah Echa yang sedang menatap kearahnya. Wanita cantik dengan gaun berwarna hitam di atas lutut di tambah polesan make up yang tidak terlalu mencolok, senyuman manis nya tidak pernah pudar. Dan itu alasan kenapa Bara menyukai wanita tersebut sampai saat ini.
"And give her the best of me 'til the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen"
Bara melangkahkan kaki kearah Roslyn sembari membawa buket bunga mawar kesukaannya. Bunganya mekar dengan indah, mewakili perasaannya saat ini.
"She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter"
Bara memberikan buket bunga tersebut kepada Roslyn dan diterima dengan pelukan hangat dari Roslyn sambil meneteskan air matanya.
"She's been hear every step since the day that we met
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)"
Bara dapat merasakan kebahagian itu, kebahagian yang tidak akan pernah terulang lagi. Dia pun juga meneteskan air matanya membalas pelukan Roslyn. Seolah pelukan itu sebuah tanda terimakasih.
"So don't you ever worry about me ever treating her bad, no
We've got most of our vows done so far (so bring on the better or worse)"
Roslyn melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang menjadi saksi hari bahagianya. Dia tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya. Memberi jawaban atas apa yang Bara lakukan.
"And 'til death do us part
There's no doubt in my mind
It's time
I'm ready to start
I swear to you with all of my heart..."
Kini Bara melangkahkan kaki kearah Echa yang sejak tadi menatap kearahnya, air mata yang tidak ada hentinya mewakili perasaan Echa saat ini.
"I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life."
Bara menggenggam tangan Echa, tangan kecil ini yang mulai saat ini akan menjadi tumpuan hidupnya, tangan yang akan membantunya berjalan, menyusuri kehidupan panjang.
__ADS_1
"Will you marry me?"