
"Kamu udah bangun sayang? Kamu butuh sesuatu? Mau Mama beliin apa?" tanya bunda An sambil mengelus kepala Aira penuh sayang sambil meneteskan air mata kebahagiaan saat melihat Aira sudah bangun.
"Ra.. Maafin papa ya.." ucap Daniel sambil menggenggam tangan Aira dan mencium punggung tangannya lama. Aira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari perkataan Daniel.
"Ma.. Pa.. Aira minta maaf" ujar Aira dengan suara lemahnya.
"Iya sayang, kamu mau sesuatu? Kamu mau apa?" tanya bunda An sambil tersenyum bahagia.
"Aira cuman sebentar.." jawab Aira sambil menatap satu persatu orang yang sedang mengelilinginya.
Semua orang menatap kearah Aira, seolah meminta penjelasan apa yang baru saja dikatakannya itu?
Namun saat Bara ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba saja terdengar suara burung gagak yang sangat jelas seperti ada di atap ruangan Aira.
"Gagak." gumam Echa ketika mendengar suara gagak.
Echa langsung menatap kearah Hanin dan Ivy secara bergantian, seolah sedang memikirkan hal yang sama.
Mitosnya, suara gagak adalah tanda akan ada kematian dan semoga itu tidak terjadi.
"Aira.." panggil bunda An ketika nafas Aira mulai tidak terkontrol bahkan suara dari Elektrokardiograf membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu panik sekaligus takut secara bersamaan.
"Aira, kamu denger kakak kan?" tanya Bara panik ketika melihat Aira mulai kejang-kejang.
"Aira, nak." panggil Daniel khawatir ketika melihat Aira kejang-kejang.
"Panggil dokter." ucap bunda An.
"Udah, Bunda.Sama Kak Nathan" ujar Hanin ketika melihat kearah pintu Nathan belum juga datang bersama dokter.
"Aira.." panggil Echa khawatir ketika garis yang ada di layar monitor mulai menunjukkan garis lurus.
"Nin, Vi. Kita harus ngapain?" tanya Echa sambil menatap kearah Hanin dan Ivy. Mereka menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aira sayang kamu yang kuat ya, sebentar lagi Dokter pasti datang, kamu kuat." ucap bunda An khawatir.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Dokter masuk kedalam ruangan Aira bersama dengan beberapa orang perawat. Disaat yang bersamaan juga banyak burung gagak dan kelelawar yang masuk kedalam ruangan, mengelilingi tubuh Aira.
"Caca Awas." ucap Hanin ketika satu burung gagak ingin menancapkan kukunya di leher Echa.
Echa yang melihat itu langsung menghindar, bahkan semua orang menunduk ketika sekumpulan gagak itu dengan liarnya meninggalkan luka cakaran menggunakan kukunya yang lumayan panjang.
Bara, Azka, Daniel, Nathan dan Edwin mengusir sekumpulan kelelawar dan burung gagak yang mengelilingi tubuh Aira dengan nafas yang sudah melemah.
"Udah gak ada." ucap Daniel yang melihat beberapa orang sedang menunduk ketakutan.
Dokter dan beberapa orang perawat langsung mengambil tindakan cepat terhadap Aira agar bisa ditolong secepat mungkin.
"Bapak, Ibu silahkan tunggu di luar." ucap salah satu perawat sambil tersenyum menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan.
"Tolong anak saya sus.." ujar bunda An dengan air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.
"Saya dan dokter akan berusaha yang terbaik bagi keselamatan anak ibu, ibu segera keluar, agar kami dapat menanganinya dengan cepat" ucap perawat tersebut.
"Saya mau temenin anak saya.." ujar bunda An yang langsung di tuntun oleh Daniel dan Bara untuk keluar dari ruangan.
"An.. Biarin dokter yang tanganin Aira." ucap Daniel ketika melihat bunda An terus memaksa agar bisa menemani Aira.
"Bara. Mama mau temenin Aira, dia butuh Mama, dia manggil Mama terus.." ucap bunda An yang mendengar Aira meringis kesakitan sambil terus memanggilnya.
"Mama.. Mama mau Aira kenapa-kenapa?" tanya Bara menatap mata bunda An yang sedang menangis. Bunda An yang mendengar pertanyaan itu langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayo keluar" ajak Bara sambil menuntun bunda An keluar dari ruangan bersama dengan Daniel disampingnya.
Bara, bunda An dan Daniel keluar dari ruangan, sedangkan yang lain sudah keluar sejak perawat tadi menyuruh untuk keluar ketika Aira akan ditangani oleh Dokter dengan beberapa perawat lainnya.
"Bunda" panggil Echa ketika melihat bunda An terus menangis sambil menatap kosong kearah depan.
"Aira baik-baik aja kan Ca? Dia kuat kan? Bunda salah denger kan dia bilang sebentar? Bilang sama bunda kalau kata sebentar itu bukan ucapan perpisahan dari Aira." sahut bunda An yang masih menatap kosong kearah depan.
"Aira baik-baik aja, dia juga kuat." ucap Echa meyakinkan bunda An jika Aira akan baik-baik saja. Dia tidak akan menyerah begitu saja meskipun Echa juga khawatir ketika mendengar suara gagak sekaligus melihat banyak burung gagak dan kelelawar mengelilingi Aira.Dia takut kejadian tadi itu sebagai pertanda atau bahkan petunjuk bahwa Aira akan pergi.
__ADS_1
Bunda An tidak menjawab perkataan Echa, dia kembali menangis sambil meneteskan air matanya. Tidak ada yang bisa menenangkan bunda An jika sudah seperti ini.
Echa melihat kearah Bara yang sedang memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya kedinding dan memijat pelipisnya.
"Kak" panggil Echa memegang bahu Bara. Bara yang mendapat panggilan seperti itu langsung menatap kearah Echa dengan mata yang sedang menahan agar air matanya tidak tumpah.
Echa yang melihat Bara sedang menahan rasa gelisah, takut, khawatirnya itu langsung memeluk Bara dan mengelus punggungnya seolah mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bara membalas pelukan Echa, menyembunyikan wajahnya di bahu mungil milik Echa.
Bara menggelengkan kepalanya dalam pelukan Echa seolah ketenangan yang diberikan oleh Echa tidak cukup untuk membuat kegelisahan di hatinya hilang.
"Aira kuat kak." ucap Echa sambil mengelus punggung Bara.
"Kakak gak kuat Ca.. Kakak takut." ujar Bara dengan suara pelan namun terdengar jelas oleh Echa.
Echa tidak tahu harus menjawab apa, dia juga takut dengan keadaan Aira.
Sedangkan di sisi lain seorang wanita berjubah hitam sedang tertawa penuh kemenangan sambil menyaksikan rasa sakit yang sedang dialami oleh Echa dan teman-temannya.
Bagi dia, membuat orang tersiksa itu adalah sebuah kesenangan sekaligus kepuasan batin.
"Kau merasakan sakit itu?" tanya wanita itu sambil tertawa menatap Echa dan Bara lewat cermin
"Sakit bukan? Itulah yang aku rasakan dulu." ucap wanita tersebut dengan senyuman sinis menatap Hanin, Ivy, Azka dan Nathan yang juga takut kehilangan Aira.
"Aira.. Aira.. aku sudah memilih sasaran yang sangat tepat. Anak yang malang itu harus menerima semua dendam dariku." sambung wanita tersebut yang kini melangkahkan kakinya kearah foto yang terpajang di dinding.
"Mari kita lihat hasil dari dokter. Selamat tinggal Aira sayang.." ucap wanita tersebut sambil melihat kearah darah yang tiba-tiba sudah menetes dari pisau disebelah Poto Aira.
Cklek..
Pintu ruangan terbuka, menampilkan seorang dokter keluar dari ruangan Aira dengan tatapan yang sudah dapat terbaca.
"Dokter.. bagaimana keadaan anak saya? dia sudah pulih kan?" tanya bunda An sambil menatap kearah dokter yang berada dihadapannya.
"Dokter.. Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Daniel ketika dokter yang menangani Aira sama sekali tidak menjawab pertanyaan bunda An, dia hanya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dokter.." panggil Bara ketika dokter itu tidak membalas pertanyaan kedua orang tuanya.
"Saya sudah berusaha dengan sebaik mungkin untuk keselamatan anak ibu, tapi.. nyawa anak ibu tidak tertolong." jawab Dokter yang menangani Aira sambil menatap kearah Bunda An, Daniel dan Bara secara bergantian.