
Bara, Nathan, Gavin dan Devan melangkahkan kakinya menuju pintu ketika derap langkah kaki semakin mendekat kearah apartemen.
Cklek.
Pintu apartemen terbuka menampilkan sekelompok orang berpakaian hitam membawa senjata yang diarahkan pada Nathan, Bara, Gavin dan Devan secara bersamaan, sedangkan mereka hanya mengangkat tangannya seolah menyerahkan diri.
"Cari orang itu." Perintah salah satu orang yang sedang menodongkan senjata dihadapan Gavin.
Orang yang yang diperintah itu langsung melangkahkan kaki untuk mencari orang yang mereka maksud.
Gavin menatap kearah Bara menggunakan ekor matanya, sedangkan Bara yang mendapat kode seperti itu dari Gavin menundukkan kepalanya seolah memberi kode kepada teman-trmannya untuk menjalankan aksinya sekarang.
BUGH.
Satu pukulan dari Gavin membuat satu orang musuh tersungkur kebelakang, Bara yang melihat musuh itu jatuh langsung mengambil senjata yang berada dibawah kakinya.
Dia mengarahkan senjata itu tepat di bagian jantung orang yang menodongkan senapan hadapannya.
Nathan tidak tinggal diam, dia menendang kaki orang yang ada dihadapan Bara hingga jatuh bersimpuh dihadapan Bara sambil meringgis kesakitan.
Devan langsung mengambil senjata yang dilempar oleh Nathan kearahnya, dia mengarahkan senjata tepat di kepala orang yang berada dihadapan Nathan.
"Siapa kalian?" Tanya Bara.
"Kau tidak perlu tahu." Jawab salah seorang pria yang sedang meringgis kesakitan di daerah kakinya karena ulah Nathan.
"Kenapa tiba-tiba masuk kedalam apartemen ini?" Tanya Gavin.
"Berhenti bertanya lebih jauh lagi." Jawab orang tersebut.
"Baiklah jika kita tidak boleh tau lebih jauh, cepat pergi dari sini." Ucap Nathan.
DUGH.
Tiba-tiba saja Gavin jatuh ketika satu orang musuh tanpa diketahui memukul dirinya dari arah belakang, mereka terlalu lengah.
BUGH.
Bara tiba-tiba saja memukul seseorang yang akan melumpuhkan dirinya dari arah belakang.
Orang yang sedang bersimpuh dihadapan Bara tiba-tiba saja menyayat kaki Bara dengan pisau yang dia bawa disaku jaketnya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Arghhh!" Teriak Bara ketika pisau itu menancap terlalu dalam menembus kulitnya.
"Bara!" Teriak Nathan langsung menendang tangan orang yang sedang melukai kaki Bara.
BUGH..
Satu pukulan tepat mengenai tengkuk leher orang yang melukai Bara itu oleh Devan hingga membuat hidung orang tersebut mengeluarkan darah.
BUGH.. BUGH.. BUGH..
Pukulan demi pukulan mengenai orang yang berada di hadapan Bara ketika orang itu ingin melumpuhkan Nathan yang sedang diserang oleh dua orang.
__ADS_1
Orang itu tidak terima ketika Bara terus memukulnya habis-habisan, dia mengeluarkan pisau dan melukai tangan Bara hingga mengeluarkan darah lagi.
Ketika Bara sedang meringgis kesakitan akibat pisau itu, orang yang dipukul habis-habisan oleh Bara memukul wajah Bara.
BUGH..BUGH..BUGH..
Devan yang melihat Bara sedang menahan rasa perih ditangan dan kakinya itu langsung menjatuhkan orang yang sedang memukul Bara.
BUGH.. DUGH..
"Argh!" Teriak Gavin ketika orang yang tadi di pukul Devan langsung melukai tangan Gavin menggunakan pisau.
"Kita pergi dari sini sebelum bom itu meledak." ucap salah seorang yang masih bisa berdiri walaupun dengan jalan tertatih-tatih.
Ketika mendengar perkataan itu semua orang berpakaian serba hitam langsung pergi meninggalkan Bara, Gavin, Nathan dan Devan yang tidak semulus sebelumnya.
"Ca, Nin, Ren." Panggil Devan ketika semua orang berpakaian serba hitam itu pergi.
Echa, Hanin dan Shiren langsung keluar dari tempat persembunyian, mereka langsung mendekat kearah pasangannya masing-masing.
"Kak. Hanin udah bilang jangan." Ucap Hanin khawatir melihat wajah Nathan lebam-lebam. Nathan tidak menjawab perkataan Hanin dia merasakan kaku disekitar wajahnya.
Echa menatap lekat kearah Bara yang sedang menahan rasa sakit yang ada di kaki dan tangannya.
"Kak.." ucap Echa lirih sambil menggenggam tangan Bara.
"Hm?" sahut Bara sambil.menatap kearah Echa yang sedang mengkhawatirkan Bara.
"Sakit banget." Ujar Bara dengan wajah yang dibuat sesakit mungkin.
"Jangan gitu kak." Ucap Echa menatap kearah Bara.
"Kita harus pergi dari sini." ucap Devan.
"Kenapa?" Tanya Shiren bingung.
"Mereka nyimpen bom disini." Jawab Devan.
"Bom?" Tanya Echa menatap kearah Devan.
"Iya, kita harus cepet pergi dari sini. Mungkin mereka gak mau jejaknya diketahui sama polisi." Jawab Devan.
"Kakak bisa jalan kan?" Tanya Echa ketika melihat kaki Bara yang masih mengeluarkan darah, Echa lupa untuk membeli peralatan luka. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ketika mendapat perkataan seperti itu dari Echa.
"Ayo." Ajak Bara.
Mereka semua melangkahkan kakinya keluar dari apartemen sebelum bom yang ada di sekitar lingkungan apartemen meledak.
Meskipun Bara dan Gavin melangkahkan kakinya dengan jalan tertatih-tatih, sesekali mereka berdua meringgis kesakitan ketika melangkahkan kakinya.
"Biasanya juga gak manja Bar." Ucap Nathan yang sudah tahu mana saja luka kecil dan luka besar bagi Bara.
Luka itu hanyalah luka kecil jika dibandingkan dengan beberapa kejadian yang sering menimpanya.
__ADS_1
"Ck, perih." Ucap Bara menatap tajam kearah Nathan.
"Jangan gitu kak, mau Hanin tambah lukanya?" Tanya Hanin mendelik tajam kearah Nathan.
"Maaf." Jawab Nathan.
...----------------...
10 menit telah berlalu mereka keluar dari dalam lift, melihat banyak mayat yang berjatuhan dilantai apartemen dengan darah segar mengalir memenuhi lantai berwarna putih.
"Jangan diliat." ucap Bara sambil memeluk Echa ketika kekasihnya itu menatap kearah mayat yang berjatuhan dengan tragis.
Pada saat mereka keluar dari pintu apartemen tiba-tiba saja sebuah ledakan dari atas merambat ke bawah, membuat Bara memeluk tubuh Echa melindungi kekasihnya itu agar tidak terkena api atau bahkan pecahan kaca.
Bara melupakan rasa sakit yang ada di kaki dan tangannya ketika ledakan itu semakin mendekat kearah mereka semua.
Sedangkan semua orang yang berada di luar apartemen berteriak histeris ketika api merambat cepat sedangkan mereka masih berada di dekat apartemen.
DUGH. NGINGGG.
Echa merasakan telinganya berdengung sangat kencang ketika suara ledakan itu maghancurkan apartemen.
Matanya sedikit buram menatap kearah Bara yang berada disampingnya, dia melihat keadaan Bara yang lebih parah dari dirinya.
NGINGGGG...
Suara dengung yang keluar dari telinga Echa semakin terdengar nyaring, dia menutup telinganya yang samar-samar mendengar sebuah percakapan singkat.
"Hai Na."
"Hai Ra."
NGINGG...
Percakapan singkat itu langsung menghilang dari telinga Echa bersamaan dengan suara orang-orang yang mengelilingi mereka.
Echa sudah bangun dari jatuhnya ketika ledakan itu membuat mereka jatuh ke aspal hingga membuat kening mereka semua mengeluarkan darah akibat bergesekan dengan aspal.
"Kak." Panggil Echa ketika melihat Bara sedang menggelengkan kepalanya menyesuaikan suara berdengung dari telinganya.
"Kak, denger Caca kan?" Tanya Echa mengelus pipi Bara ketika dia tidak menjawab panggilan Echa.
Bara langsung menggengam tangan Echa ketika suara dengungan yang keluar dari telinganya semakin nyaring.
"Kak.. jawab Caca." Ucap Echa mempererat genggaman tangannya pada Bara.
Dia melihat kearah Hanin, Shiren, Devan, Gavin dan Nathan yang sudah bangun dari jatuhnya, mereka langsung mendekat kearah Bara.
"Bara." Panggil Nathan dan Gavin.
"Kak.." panggil Echa dengan mata yang sudah meneteskan air matanya.
Bara yang mendengar suara gemetar dari Echa itu sudah tidak lagi mendengar suara berdengung dari telinganya.
__ADS_1