TEROR

TEROR
|86| TENANG


__ADS_3

Echa, Hanin, Ivy dan Shiren melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang katanya angker itu. Dari rumor yang beredar banyak tangisan anak kecil, tawa anak kecil, anak kecil yang sedang bermain-main dan yang paling sering dialami anak kecil yang meminta tolong, ya. Itu memang benar tapi rumor nya bukan hantu yang memiliki pengaruh jahat, mereka hanya anak kecil menggemaskan yang ingin diakui keberadaannya, namun orang menanggapinya berbeda.


Kesimpulannya, jangan pernah percaya pada rumor yang beredar, bisa saja sosok yang meminta tolong atau menampakkan wujudnya itu hanya ingin diakui saja keberadaannya.


"Seneng banget gak sih?" tanya Ivy pada teman-temannya.


"Lega, seneng pokoknya ada kebahagiaan tersendiri," jawab Hanin sambil tersenyum.


"Bahagia banget, rasanya kayak adem aja pas mereka bilang terimakasih.." ucap Echa yang juga tersenyum membayangkan anak kecil itu sudah berada di tempat yang sesungguhnya.


"Sama, enak banget ngeliatnya." ujar Shiren sambil tersenyum.


Mereka melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu untuk bertemu dengan yang lainnya. Mereka tidak berbicara apapun kepada yang lainnya ketika ingin pergi keruangan yang baru saja dimasuki.


Semua terjadi secara tiba-tiba tanpa berpikir panjang dan tanpa persiapan apapun, ketika Echa menceritakannya mereka langsung pergi keruangan tadi dengan keberanian dalam diri mereka.


Echa melihat Bara yang sedang memainkan ponsel bersama dengan yang lainnya, dia melangkahkan kakinya kearah Bara.


Bara melihat kearah Echa yang sedang menuruni anak tangga, Bara langsung menyimpan ponsel miliknya diatas meja tanpa keluar dari game yang sedang dimainkan olehnya.


Dia merentangkan tangannya, seolah siap menerima pelukan Echa. Sedangkan Echa yang melihat itu langsung memeluk tubuh Bara dari samping dan menyimpan kepalanya di bahu Bara.


"Abis darimana, hmmm?" tanya Bara ketika Echa sudah berada di pelukannya, dia kembali mengambil ponselnya untuk melanjutkan game.


"Dari atas." jawab Echa yang sedang tidak ingin berbicara panjang lebar.


Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia hanya mencium pucuk kepala Echa berkali-kali.


"Btw kapan mau liat-liat rumah di perumahan indah asri?" tanya Alvero secara tiba-tiba.


"Sekarang aja gimana? Mumpung lagi gak ada kerjaan. Kalau di nanti-nanti takutnya bakal banyak tugas dari dosen, apalagi harus ngejar deadline malam hari." jawab Azka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Udah liat kesana?" tanya Nathan kepada Alvero.


"Udah." jawab Alvero.


"Aman?" tanya Gavin.


"Aman, penjagaannya juga lumayan ketat." jawab Alvero.


"Rata-rata yang isi cewek atau cowok?" tanya Devan.


"Cowok." jawab Alvero seadanya.


"Kemarin gak ada yang nyantol Dev?" tanya Azka.


"Enggak, pada jahat semua." jawab Devan bergidik ngeri mengingat banyak wanita yang menggunakan susuk dan pesugihan.

__ADS_1


"Jahat apanya? Belum juga kenal." ucap Azka tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Biasalah biar cantik, bersinar." ujar Devan. Azka yang mengerti dengan ucapan Devan itu tidak membalas lagi.


"Eh, kak Tiara mana?" tanya Hanin yang baru menyadari tidak melihat keberadaan Mutiara diantara mereka.


"Ada di kamar," jawab Alvero.


"Kenapa gak turun kak?" tanya Ivy.


"Susah jalan," jawab Alvero.


Semua orang yang mendengar itu langsung menatap kearah Alvero secara bersamaan, perkataan yang dilontarkan dari mulut Alvero itu membuat semua orang ambigu.


Sedangkan Alvero yang melihat semua tatapan tertuju padanya itu langsung melihat kearah teman-temannya.


"Apa?" tanya Alvero bingung ketika semua tatapan mengarah padanya.


"Abis ehem-ehem?" tanya Devan menatap dengan curiga kearah Alvero.


"Bukan kesitu maksudnya. Kenapa jadi pada ambigu gini?" tanya Alvero yang paham dengan kata ehem-ehem yang diajukan oleh Devan, pasalnya mereka adalah pengantin dan Alvero tau apa kata yang disamarkan itu.


"Terus apa kalau bukan itu?" tanya Gavin.


"Udah si, biarin aja namanya juga pengantin baru kan, jangan sampai lewat." jawab Azka membela Alvero namun dengan senyuman meledek.


"Jatuh apa jatuh?" tanya Nathan yang juga tertarik untuk meledek Alvero.


"Terserah." jawab Alvero.


"Kak Tiara jatuh kenapa?" tanya Shiren.


"Biasa ada kecoa, dia phobia kecoa." jawab Alvero yang kini sudah kembali menatap layar ponselnya.


Shiren tidak lagi berkata apapun dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Saat Bara sedang asik bermain game, tiba-tiba saja ada yang menelpon dirinya yang terpampang nomor tidak dikenal.


"Bangsat." ucap Bara ketika ada yang menelponnya ketika sedang diserang oleh musuh.


"Itu mulut." ujar Echa sambil memukul pelan bibir Bara yang mengucapkan kata-kata kasar. Tanpa berpikir panjang Bara langsung mengangkat telpon tersebut.


"Halo, ini Caca kan?" tanya orang yang berada disambungkan telpon tersebut.


Bara yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap kearah Echa bingung, bahkan Echa yang mendengar namanya disebut oleh orang itu pun bingung sendiri, kenapa dia yang ditanyakan? Bara ataupun Echa tidak menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Aku Arsenio. Ini beneran nomor kamu? Tadi temen aku yang minta nomor kamu." ucap orang yang berada dibalik sambungan tersebut. Tiba-tiba saja Echa membulatkan matanya, dia ingat sudah memberikan nomor Bara pada Arzan.

__ADS_1


Tut.


Bara mematikan sambungnya tanpa membalas perkataan orang yang bernama Arsenio itu, dia kembali bermain game.


"Caca yang ngasih?" tanya Bara yang sedang menatap layar ponsel.


"Iya, tadi ada yang minta nomor Caca tapi Caca kasih nomor kakak.." jawab Echa cengengesan. Bara tidak membalas ucapan Bara, dia hanya mengacak gemas rambut Echa.


"Kakak gak marah?" tanya Echa.


"Engga, ngapain marah?" tanya Bara tersenyum tipis melihat wajah polos Echa.


"Caca kasih nomor kakak gitu aja." jawab Echa.


"Enggak.." ucap Bara sambil mencium pucuk kepala Echa yang masih berada di pelukannya.


"Ayo kita berangkat sekarang." ajak Alvero ketika mereka sudah selesai bermain game.


"Tiara gak diajak?" tanya Nathan.


"Mau, ini mau keatas dulu." jawab Alvero sambil melangkahkan kakinya menuju tangga.


"Kak, gimana keadaan Aira?" tanya Echa.


"Tadi pagi sempet telpon baik-baik aja, tapi tadi siang mama bilang demam lagi." jawab Bara sambil menggenggam tangan Echa.


"Nanti abis dari perumahan, Caca mau jenguk Aira." ucap Echa sambil menatap Bara.


"Jangan." ujar Bara.


"Kenapa?" tanya Echa bingung dengan jawaban Bara.


"Dia selalu manja kalau ada Caca," jawab Bara sambil merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Echa.


"Ya biarin aja, emang kakak gak manja?" tanya Echa.


"Itu masalahnya, Caca selalu sama Aira, gak ada waktu buat kakak." jawab Bara.


"Kak.." ucapan Echa tertahan ketika melihat Mutiara yang susah untuk berjalan, dia juga melihat lutut, paha dan pergelangan kaki Mutiara yang memar.


"Kak Tiara gak apa-apa?" tanya Ivy khawatir ketika melihat langkah Mutiara yang membuat orang melihatnya linu sendiri.


"Agak sakit sedikit tapi gak apa-apa kok masih bisa jalan." jawab Mutiara sambil tersenyum manis.


"Kirain abis ehem-ehem." ucap Devan.


"ehem-ehem?" tanya Mutiara bingung dengan perkataan Devan.

__ADS_1


"Udah, gak usah didengerin." ucap Alvero.


__ADS_2