TEROR

TEROR
|106| MATA


__ADS_3

Saat ini Bara dan Echa sedang berada di kamar Aira yang ingin ditemani oleh keduanya. Beberapa jam yang lalu, mereka berdua sudah sampai di rumah Bara.


"Aira tidur?" tanya Bara yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Iya," jawab Echa sembari melihat kearah Aira yang sedang memeluk dirinya.


"Tadi, Caca belum cerita tentang Kevin." ucap Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menceritakan tentang pertemuannya dengan Kevin. Tanpa terkecuali.


"Apa? Papa bilang jadiin istri?" tanya Bara dengan tatapan dinginnya.


"Heem..." gumam Echa. Bara hanya diam saja setelah mendengar cerita dari Echa tentang dirinya yang bertemu dengan Kevin.


Echa melihat kearah Bara yang masih menatap layar laptop dengan beberapa data perusahaan yang sudah Daniel berikan padanya. Dia melepaskan pelukan Aira sambil turun dari tempat tidur untuk duduk di samping Bara. Bukan kah Echa sudah berjanji untuk selalu ada disamping Bara? Apapun yang terjadi.


"Kak." panggil Echa yang sedang melangkahkan kakinya menuju Bara. Namun saat Echa sudah berada di hadapannya, Bara langsung membawa laptopnya dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Aira.


"Tolong bawain berkasnya." ucap Bara dengan suara yang tidak bersahabat. Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang sambil membawa berkas yang ada di meja belajar Aira.


Caca salah ya? tanya Echa pada dirinya sendiri.


Echa mengikuti Bara yang sedang menuruni anak tangga, tiba-tiba saja Bara mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga. Suasana rumah terlihat sepi, hening, seperti tidak ada penghuni. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 19.30.



"Tante Helen sama Om Edwin mana?" tanya Echa yang duduk di sebelah Bara.


"Belanja." jawab Bara.


"Bunda?" tanya Echa.


"Sama." jawab Bara singkat.


Echa tidak membuka suaranya ketika Bara terus menjawab dengan perkataan singkat.


"Awas ilang," ucap Echa sambil menyimpan berkasnya disamping Bara.


"Hmm." gumam Bara.


"Caca keatas, capek. Mau tidur." ucap Echa sambil berdiri dari duduknya.


Bara yang mendengar itu langsung mencekal tangan Echa agar tidak melangkahkan kakinya. Dia menarik tangan Echa, sehingga Echa duduk diatas pangkuan Bara.



"Mau kemana?" tanya Bara dengan suara lembut dan tatapan teduhnya.

__ADS_1


Echa hanya diam tak berkutik ketika mendapat perlakuan seperti itu, tatapan Bara mampu mengunci mata dan mulutnya.


"Hei..." panggil Bara sambil meniup pelan mata Echa yang sama sekali tidak berkedip.


"Eh... Caca mau telpon Shiren," ucap Echa ketika sudah tersadar dari pesona yang dimiliki oleh Bara.


"Kenapa harus keatas? Disini aja," jawab Bara sembari menyimpan kepalanya di bahu Echa.


"Ya abisnya... Kakak singkat mulu jawabannya" ucap Echa yang sedang menyambungkan telponnya dengan nama Shiren.


"Diem." ujar Echa sambil menatap kearah Bara yang sedang memejamkan matanya, Bara yang mendengar perkataan seperti itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Halo, Ren. Gimana kabarnya?" tanya Echa ketika Shiren sudah mengangkat sambungan telponnya.


"Baik kok, Ca. Aira gimana?" tanya Shiren.


"Syukurlah kalau baik, makasih ya... Aira udah baik-baik aja, dia juga udah pulang," jawab Echa.


"Makasih?" tanya Shiren bingung ketika Echa mengucapkan kata tersebut padanya.


"Iya, makasih buat semua yang udah Shiren, Shila, kak Gavin, kak Tiara, kak Vero, Qiara sama Ibu lakuin buat Aira. Caca udah denger ceritanya dari Ibu." jawab Echa.


"Sama-sama, kirain apa, kayaknya gak enak kalau ngobrol di telpon, kita kesana aja ya. Sambil liat keadaan Aira." ucap Shiren.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Bara yang juga menatap dirinya.


"Iya, kak. Nanti shiren sama yang lain kesana." ucap Shiren.


"Cepet kesini ya, biar Caca ada temen." ujar Echa.


"Iya, Ca. Shiren tutup dulu," ucap Shiren sambil menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Echa.


"Kak, berat." ujar Echa ketika Bara kembali menyimpan kepalanya di bahu Echa.


"Hm..." gumam Bara yang malah memejamkan matanya.


Namun saat Echa ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba saja ada yang memanggil nama Bara.


"Bara." panggil seseorang dari ambang pintu.


Echa melihat Helena yang sedang kesusahan membawa barang belanjaannya, namun ada yang aneh dari Helena. Namun ada yang aneh dari Helena. Wajahnya pucat pasi, seperti tidak memiliki darah dan ada lingkar hitam di matanya. Aneh.


"Kak, lepasin. Itu bantuin Tante Helen." ucap Echa yang melihat Helena diam diambang pintu.


"Biarin aja," ujar Bara sambil menatap lekat kearah Helena yang tak bergeming.


"Bara, bantuin Tante." ucap Helena dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Kak..." ujar Echa sembari melihat kearah Bara yang hanya diam saja menatap kearah Helena.


Ada yang aneh dari Helena. Bara menatap mata Helena yang bisa berubah dalam beberapa detik.



"Mau liat?" tanya Bara.


"Apa?" tanya Echa bingung.


Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia mengeluarkan cahaya biru dari tangannya.


"Kak." ucap Echa ketika Bara akan mengarahkan cahaya biru itu kepada Helena.



Bara tidak mendengar perkataan Echa, dia malah mengerahkan kekuatannya itu kepada Helena. Echa melototkan matanya ketika kekuatan itu mengubah Helena menjadi seorang wanita cantik namun memiliki aura gelap. Dia salah satu abdi dari ilmu hitam.



"Tolong..." ucap wanita tersebut ketika dirinya dikunci oleh kekuatan Bara.


Matanya terlihat berkaca-kaca dan tiba-tiba saja wanita cantik itu berubah menjadi wanita mengerikan.



"Kakak..." ucap Echa ketika mata dari wanita itu menatap tajam kearah nya dengan kekuatan yang mengarah padanya.


"Aku akan membawa dia." ucap wanita tersebut dengan senyuman sinisnya sambil menatap kearah Echa.


"Bisa?" tanya Bara yang membuat wanita itu semakin tersiksa.


"Apapun akan aku lakukan untuk membawa gadis itu." teriak wanita tersebut di sela-sela tubuhnya yang seperti ada aliran listrik.



Bara hanya menyunggingkan senyumannya, apa wanita itu sedang menantang dirinya?


Tiba-tiba saja wanita itu lepas dari kekuatan Bara, dia melesat pergi dengan tubuh yang sudah setengah hancur. Dan Echa pastikan tubuh wanita itu akan lama pulih. Angin berhembus kencang menerpa wajah Bara dan Echa.


"Kalau ada yang kayak gitu, liat matanya." ucap Bara sambil menatap kearah Echa yang masih kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Mata?" tanya Echa.


"Iya, mata mereka pasti berubah dalam beberapa detik." jawab Bara sembari mengigit pipi Echa.


"Kakak! Sakit." ucap Echa yang mencoba menjauhkan wajah Bara dari pipinya itu.

__ADS_1


__ADS_2