
Bara menatap jam dinding yang ada di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 19.30 dan sebentar lagi teman-teman dari kampus akan datang ke rumahnya untuk mengerjakan beberapa tugas yang menumpuk sejak beberapa hari lalu.
Bara melangkahkan kaki menuju kamarnya, untuk mengambil jaket dan kunci mobil, dia ingin membeli beberapa cemilan untuk teman-temannya.
Cklek
Pada saat Bara membuka pintu kamarnya, dia melihat Echa yang sedang menonton drama korea dengan menggunakan baju kemeja miliknya yang kebesaran.
Echa yang merasa Bara sedang menatap dirinya itu langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop untuk melihat kearah Bara.
"Kenapa?" tanya Echa.
Bara melangkahkan kaki kearah kunci motor dan Hoodie yang menggantung. "Mau ikut ke super market?"
Echa menganggukkan kepalanya antusias. "Mau."
"Tumben kakak ngajak ke super market?" tanya Echa sambil mematikan layar laptop.
"Ada temen-temen kuliah kesini mau ngerjain tugas.
"Kapan?" tanya Echa.
"Nanti jam 9." jawab Bara sambil menggunakan Hoodienya. "Ganti baju sana."
"Males kak. Ini aja ya, kan Deket," rengek Echa.
Bara menatap datar kearah Echa, "ganti, Ca."
"Yaudah iya, tunggu." Echa menghentakkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Namun saat Bara ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ponsel Echa bergetar menampilkan nomor tidak di kenal.
"Ca, ada telepon." Teriak Bara.
"Angkat aja, kak." sahut Echa dari dalam kamar mandi.
Bara yang mendapat jawaban seperti itu langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Ca. Gimana udah sampai?" tanya seseorang yang berada dalam sambungan telepon.
Bara mengernyitkan dahi tanpa menjawab pertanyaan tersebut, sepertinya dia pernah mendengar suara ini sebelumnya. Erga. Satu nama itu tiba-tiba saja muncul di kepala Bara.
"Btw, besok free gak? Jalan yuk, katanya, Lo suka ke taman ya? Gimana kalau kita pergi ke taman aja? Gue mau bawa Lo ke taman yang indah banget, Lo mau kan?" tanya Erga bertubi-tubi.
"Halo, Ca? Gimana?" tanya Erga lagi. "Oke, kalau Lo diem berarti iya. Besok gue jemput ke rumah Lo, ya. Tinggal share lokasinya. See you and thanks ya waktunya tadi, gue seneng bisa kenal sama..."
Tut.
Bara langsung mematikan sambungan teleponnya, dia tidak ingin mendengar sepatah kata lagi keluar dari mulut Erga tentang kekasihnya.
Bara menyimpan kasar ponsel milik Echa, di saat yang bersamaan Echa keluar dari kamar mandi.
"Siapa kak?" tanya Echa penasaran.
Alih-alih menjawabnya Bara malah menatap datar ke arah Echa sambil melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
Brak.
__ADS_1
Echa terlonjak kaget saat Bara membanting pintu sangat keras.
"Kenapa lagi si tu anak," ucap Echa sambil melihat ponselnya.
Dia membaca satu notifikasi dari nomor tidak di kenal, masuk ke nomor WhatsApp nya.
Lah, kok dimatiin, Ca? Lagi sibuk ya?
Echa mengernyitkan dahinya saat membaca chat tersebut, dia melihat nama yang tertera pada info nomor tersebut. Erga.
Echa melototkan matanya sambil membalas pesan tersebut. Ternyata, orang ini yang membuat Bara marah besar.
Iya.
Kok tadi Lo diem aja?
Tapi kita jadi kan ke taman?
Tadi Lo diem aja, gue anggap iya.
Echa tidak membalas pesan tersebut, dia segera turun ke bawah sebelum Bara semakin marah besar.
"Kak," panggil Echa sambil menuruni anak tangga dengan tergesa.
Bara yang mendengar panggilan itu langsung berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki keluar dari rumah tanpa berbicara sepatah katapun.
Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika melihat tingkah Bara yang mungkin akan sulit di bujuk. Dia mengikuti Bara yang sudah masuk kedalam mobil. Keadaan di dalamnya sangat hening, tidak ada yang mau berbicara. Jika Echa berbicara pun Bara tidak akan menjawabnya.
Drt... Drt... Drt...
Ponsel Echa kembali bergetar dan lagi, nomor tidak di kenal muncul di layar ponsel Echa. Siapa lagi jika bukan Erga?
"Jangan telepon cewek gue lagi." ucap Bara pelan namun menusuk sambil menutup sambungan teleponnya dan memblokir nomor tersebut.
...----------------...
20 menit telah berlalu, kini mereka sedang berbelanja di super market.
Bara memasukkan beberapa cemilan, sedangkan Echa hanya mengikuti Bara.
"Kalau mau sesuatu, ambil aja," ucap Bara tanpa melihat kearah Echa.
"Engga," cicit Echa.
Bara menatap kearah Echa yang sejak tadi mengikuti dirinya di belakang, terlihat seperti anak kecil yang habis di marahi oleh orang tuanya karena tidak di belikan sesuatu.
"Sini," ucap Bara sembari menggenggam tangan Echa. "Jangan nunduk, liat kakak."
Echa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa, hm?" tanya Bara.
"Caca takut kalau liat kakak marah," cicit Echa.
"Liat kakak," titah Bara.
Echa mengangkat kepalanya sembari menatap mata Bara yang kembali lembut dan teduh seperti biasanya.
__ADS_1
"Kakak gak bakalan pernah marah tentang segala yang ada di kehidupan Caca, karena lemahnya kakak ada di Caca. Mungkin, Caca bakalan baik-baik aja tanpa kakak, tapi kakak gak akan pernah baik-baik aja tanpa Caca, sekalipun keliatan baik, kakak lagi hancur." jelas Bara dengan tatapannya yang teduh dan menenangkan.
Echa di buat terbang oleh kata-kata yang keluar dari mulut Bara. Sekalinya orang dingin berbicara, dia tidak pernah main-main.
Echa memeluk tubuh Bara, menyembunyikan rasa bahagia, haru dan sedih secara bersamaan. Bara membalas pelukan tersebut sambil mengelus rambut Echa.
"Udah, jangan disini, diliatin orang," bisik Bara. Echa yang baru menyadari itu langsung melepaskan pelukannya sembari melihat sekeliling. Tidak ada satu orang pun disana. Dia menatap tajam kearah Bara yang sedang menampilkan deretan giginya.
"Udah, ayo. Nanti keburu Aira pulang," ajak Echa.
"Perasaan Aira terus dari kemarin, kali-kali full time sama kakak," ucap Bara dengan wajah cemberut.
"Kakak, kan tiap hari dua puluh empat jam, Caca selalu sama kakak." ujar Echa.
"Engga, Aira terus yang sama Caca." celetuk Bara sambil menuju kearah kasir.
"Yaudah nanti sama kakak, kita pulang dulu," ucap Echa yang ingin segera pulang.
Setelah membayar belanjaannya mereka berdua langsung masuk kedalam mobil.
"Ca, gimana keadaan ibu?" tanya Bara yang sedang membereskan belanjaannya di dalam mobil.
"Baik-baik aja," jawab Echa.
"Kapan pulang dari Bandung nya?" tanya Bara.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi," jawab Echa sambil melihat kearah Bara.
Echa melihat bibir Bara yang pecah-pecah. "Kakak jarang minum air putih?"
Bara yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung mengernyitkan dahinya bingung.
"Bibir kakak pecah-pecah, pake lipbam ya, biar gak berdarah." jelas Echa sambil mengeluarkan lipbam yang ada di dalam tasnya.
"Engga, kakak gak mau pake lipstik. Nanti bibir kakak merah," ucap Bara.
"Engga kak, ini gak merah." ujar Echa.
"Enggak." ucap Bara.
"Nih ya, Caca pake," ujar Echa sambil memakai lipbam ke bibirnya.
Bara melihat kearah bibir Echa yang sedang menggunakan lipbam, bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda itu terlihat menggoda di mata Bara.
"Gak merah kan?" tanya Echa sambil menunjukkan bibirnya yang sudah menggunakan lipbam.
Cup
Bara tiba-tiba saja mencium bibir Echa, manis. Itu kesan pertama yang Bara rasakan. Sedangkan Echa melototkan matanya ketika merasakan benda kenyal mengenai bibirnya.
5 menit telah berlalu, Bara masih belum melepaskan bibirnya dan Echa masih diam mematung. Otaknya tidak bisa mencerna semua ini.
Bara melepaskan ciumannya, dia mengelus bibir Echa sambil tersenyum sangat manis.
"Manis." ucap Bara seolah tidak terjadi sesuatu.
Echa memalingkan wajahnya. Dia malu. Bara baru saja mengatakan tentang bibirnya. Dan semoga saja Bara tidak candu dengan bibirnya ini.
__ADS_1
"First kiss Caca." gumam Echa sambil memegang bibirnya.