TEROR

TEROR
|88| HARMONIS


__ADS_3


Echa dan Bara sudah membeli rumah di perumahan Indah asri yang bisa langsung dihuni. Dan pastinya mereka akan tinggal berdua dalam satu rumah, tidak mungkin jika harus berpisah, mereka takut terjadi apa-apa. Fasilitas kamar di dalam rumah ini ada dua. Jadi, mereka tidak perlu khawatir untuk memikirkan salah satu akan tidur di luar.


"Serius Ca? Kok kita gak liat ya?" tanya Ivy bingung ketika mendengar cerita Echa tentang Qiara yang saat ini sedang diobati oleh Bara.


"Serius. Mungkin mata semua orang ditutup sama Ibu Qiara" jawab Echa sambil menatap kearah Ivy.


Saat ini Echa, Hanin, Ivy dan Shiren sedang berada di kamar rumah baru milik Echa dan Bara.


"Iya juga ya, apa sih yang gak bisa dilakuin kalau udah punya kayak gitu." ucap Ivy.


"Shiren juga sempet denger suara anak kecil manggil nama mama sambil nangis-nangis tapi Shiren langsung mikir. Ah, mungkin itu cuman 'mereka' aja. Jadi, shiren gak terlalu liat kiri kanan." ujar Shiren yang menceritakan kejadian menimpanya tadi saat di jalan yang Echa sebutkan. Namun, dia tidak menghiraukan suara tangisan dari Qiara.


"Jadi, Qiara bakalan sama siapa nantinya?" tanya Hanin penasaran.


"Mungkin sama Ibu di rumah," jawab Echa yang masih belum tahu Qiara akan tinggal dimana dan dia pun masih ragu bagaimana ekspresi Roslyn jika dia membawa Qiara.


"Tapi Ibu kan banyak kerja ke kantor, gimana?" tanya Hanin.


"Ada Bi Neni," jawab Echa.


"Terus soal tadi yang Kak Bara bayar itu, Caca tau gak bayar berapa? Penasaran banget pengen tau." ucap Ivy antusias.


"Caca belum tanya soal itu, kayaknya emang kasih sesuai target ibu itu," jawab Echa yang belum tahu jika Bara memberi 5 Miliar kepada ibunya Qiara.


"Hanin ngerasa ada sesuatu yang beda dari Qiara." ucap Hanin yang merasakan ada sesuatu dalam diri Qiara.


"Beda gimana? Shiren gak ngerasain apapun," ujar Shiren ketika mendengar perkataan Hanin tentang Qiara.


"Gak tau, ngerasa beda aja." ucap Hanin yang tidak mengetahui alasan jelas tentang kata beda ketika melihat Qiara.


"Aura yang Hanin liat gimana?" tanya Echa penasaran.


"Auranya bagus, ungu cerah." jawab Hanin.


Warna ungu yang tampak cerah, akan menunjukkan jika orang tersebut memiliki kemampuan dalam bidang psikis serta insting kuat.


"Bisa di bilang indigo ya?" tanya Shiren.

__ADS_1


"Iya, tapi dia belum bener-bener bisa ngeliat tapi kalau di perdalam lagi dia bakalan jadi kayak Aira. Hanin takut kalau Qiara memperdalam apa yang dia punya dalam dirinya malah jadi sasaran buat ibunya." jawab Hanin dengan ekspresi yang serius, jika sudah begini maka dia sedang tidak bercanda.


"Sasaran gimana?" tanya Ivy bingung dengan perkataan Hanin.


"Ibunya itu bakalan kasih Qiara sebagai persembahan." jawab Hanin menatap satu persatu teman-temannya.


"Tapi Qiara udah punya Caca sama kak Bara. Ibunya juga udah gak mau ngaku lagi Qiara jadi anaknya," ucap Echa ketika mendengar perkataan Hanin.


"Yang paling kejam dan licik di dunia adalah manusia. Manusia akan melakukan apapun untuk kesenangan dunia yang fana." ujar Hanin memberitahu Echa tentang busuknya manusia.


Echa hanya menghela nafasnya panjang ketika mendengar perkataan Hanin, apa yang dikatakan oleh Hanin itu benar.


"Terus gimana?" tanya Ivy.


"Hanin juga gak tau harus gimana." jawab Hanin.


Namun saat Echa ingin bertanya sesuatu tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk aja" ucap Echa ketika mendengar suara ketukan pintu.


Pintu kamarnya itu terbuka, menampilkan Bara yang sedang menggendong Qiara.


"Kemana?" tanya Echa.


"Supermarket." jawab Bara.


"Ikut, Caca mau beli bahan-bahan buat nanti makan malam," ucap Echa sambil turun dari tempat tidurnya untuk bersiap-siap.


"Kakak tunggu di luar." ujar Bara sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang ditempati oleh Echa dan kembali menutup pintu kamarnya.


Sedangkan Echa bersiap-siap untuk ikut pergi bersama dengan Bara dan Qiara ke supermarket untuk membeli bahan yang akan dia masak nantinya.


"Nanti kalau mau pulang kunci aja rumahnya, ada di dalam laci," ucap Echa yang sedang membawa tas nya.


"Terus Caca gimana?" tanya Hanin.


"Ada kunci cadangan, ada yang mau nitip sesuatu?" tanya Echa sambil menatap kearah teman-temannya.

__ADS_1


"Kalau pulangnya malem Vivi nitip beli sate yang di tempat biasa." jawab Ivy.


"Iya, kalau pulangnya malam, kalau enggak maafin Caca.." ucap Echa cengengesan.


"Iya, lagian sate yang di tempat itu bukanya selalu malam." ujar Ivy dengan ekspresi kesal.


"Biasanya sama Kak Azka, lagi ada masalah?" tanya Shiren.


"Enggak ada, kak Azka sibuk sama tugas dari dosen yang sempet ketinggalan." jawab Ivy dengan wajah cemberut.


"Caca pergi dulu.." jawab Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, membiarkan Ivy, Hanin dan Shiren bercerita di dalam kamarnya.


"Ayo kak." ajak Echa sambil menutup pintu kamarnya.


"Caca ikut juga? Terus gimana sama rumahnya?" tanya Devan ketika melihat Echa ikut bersama Bara dan Qiara pergi ke supermarket.


"Udah Caca titip ke Hanin," Jawab Echa. Devan yang mendapat perkataan seperti itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ayo." ajak Bara sambil melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Qiara yang berjalan beriringan dengannya.


Echa, Bara dan Qiara melangkahkan kakinya bersama keluar dari rumah barunya itu, sudah seperti keluarga yang sangat harmonis.


mereka bertiga naik keatas motor dan Bara melajukan motornya dengan kecepatan standar, membelah kota Jakarta yang terlihat lenggang.


"Qiara mau beli sesuatu?" tanya Echa sambil menatap kearah Qiara yang duduk di depan. Qiara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa? Qiara gak mau beli es krim yang besar? makanan yang banyak?" tanya Echa yang menyimpan kepalanya di bahu Bara sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bara.


"Mau, tapi.." jawab Qiara tertahan sambil menatap.kearah jalanan. Echa tahu apa yang dipikirkan oleh Qiara. Dia malu untuk meminta sesuatu.


"Kenapa?" tanya Echa sambil merapikan rambut Qiara yang berantakan akibat angin yang menerpa wajahnya.


"Qiara gak mau apa-apa kak," jawab Qiara sambil tersenyum lewat kaca spion sambil menatap kearah Echa.


"Yakin gak mau apa-apa?" tanya Echa. Lagi-lagi Qiara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Disatu sisi Qiara ingin meminta sesuatu tapi disatu sisi Qiara juga harus tahu diri siapa dirinya dikehidupan Echa dan Bara.


Namun saat Echa ingin mengajukan pertanyaan lagi kepada Qiara, ekor matanya menangkap seseorang yang sangat dia kenali. Riana.


Echa melihat dari ekor matanya Riana sedang berjalan di trotoar dengan menggunakan baju serba hitam, saat Echa ingin memastikan bahwa, yang dilihat lewat ekor matanya itu benar, tiba-tiba saja...

__ADS_1


Tinnnnn...


BRUGH.


__ADS_2