
Saat ini Echa sedang berada di ruangan Daniel, dia baru saja memberikan obat kepada Daniel.
"Gimana Aira?" Tanya Daniel.
"Aira udah bangun yah." Jawab Echa sambil membantu Daniel untuk duduk.
"Anterin ayah ke ruangan Aira." Ucap Daniel sambil menatap mata Echa.
"Tapi.." ujar Echa langsung di sanggah oleh Daniel.
"Ayah udah baik-baik aja, ayah minta tolong anterin ke ruangan Aira." ucap Daniel.
"Yaudah Caca ambil kursi roda dulu." ujar Echa sambil melangkahkan kakinya menuju kursi roda yang berada di pojok ruangan.
Echa mendorong kursi roda itu menuju kearah Daniel, dia juga membantu Daniel agar duduk di kursi roda.
"Udah enak duduknya yah?" Tanya Echa yang melihat Daniel duduk di kursi roda.
"Udah." Jawab Daniel sambil tersenyum kearah Echa.
Echa mendorong kursi roda Daniel keluar ruangan, dia membawa Daniel keruangan Aira.
"Bara kemana?" Tanya Daniel yang tidak melihat keberadaan Bara sejak tadi.
"Ke kampus." Jawab Echa.
"Tadi kamu kesini sendiri?" Tanya Daniel memecah keheningan diantara mereka.
"Sama Kak Bara tapi kakak langsung pergi ke kampus." Jawab Echa.
Setelah perbincangan itu akhirnya Daniel dan Echa sampai di ruangan Aira. Dia membuka pintu ruangan dan menampilkan Aira yang tidak ingin memakan makanan rumah sakit yang hambar.
"Aira gak mau Kak.." rengek Aira yang masih belum menyadari kedatangan Echa dan ayahnya.
"Makan dulu, biar cepet sembuh, Aira mau pulang kan?" Tanya Mutiara yang sedang menyuapi Aira.
"Aira.." panggil Daniel ketika Echa membawanya menuju kearah Aira.
"Ayah. Aira mau pulang!" Rengek Aira yang melihat ayahnya datang kemari.
"Makan dulu biar Airanya sehat, bisa pulang." ucap Daniel sambil menggenggam tangan Aira.
"Gak mau! Aira pengen pulang." ujar Aira yang terus meminta pulang.
"Iya nanti Aira pulang." ucap Daniel lembut.
__ADS_1
"Sekarang?" Tanya Aira antusias.
"Gak sekarang, nanti kalau udah sembuh." Jawab Daniel.
"Aira mau pulang! Kak Caca Aira takut disini, Aira mau pulang!" Teriak Aira yang terus saja meminta pulang.
"Iya Aira sembuh dulu ya." ucap Echa.
"Gak mau! Papa Aira mau pulang! Aira gak suka disini." ujar Aira yang kini mulai meneteskan air matanya.
"Aira.." ucap Daniel yang langsung di sanggah oleh Aira.
"Gak mau! Pokoknya Aira mau pulang!" ujar Aira.
Aira memang keras kepala, sama seperti Bara, keinginannya harus dituruti jika tidak dia akan terus merengek sampai keinginannya terpenuhi.
"Aira pengen pulang pa.." ucap Aira dengan air mata yang sudah menetes.
"Aira, jangan nangis dulu. Aira bakalan pulang." ujar Daniel sambil menghapus air mata Aira.
"Serius pa? Mama sama papa juga pulang kan?" Tanya Aira yang kini sudah mengukir senyuman di bibirnya. Daniel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis kearah Aira yang sudah tidak merengek lagi padanya.
"Ca, telpon Bara." ucap Daniel menatap kearah Echa yang sedang berada di samping nya.
"Ayah yakin mau pulang sekarang?" Tanya Echa khawatir.
Echa yang mendapat jawaban seperti itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya pergi keluar ruangan Aira untuk menelpon Bara.
"Kenapa?" Tanya Bara, Echa mendengar suara lembut Bara di sambungan telponnya.
Padahal dia sering mendengar suara Bara, tapi kali ini, suara lembut itu sangat berbeda. Membuat jantungnya seolah terbang tinggi. Sangat menenangkan.
"Ca." Panggil Bara ketika Echa tidak menjawab pertanyaannya.
"Eh, iya, itu Aira mau pulang kerumah." Ucap Echa ketika Bara memanggil namanya.
"Kerumah?" Tanya Bara.
"Iya, Aira maksa ayah buat pulang kerumah." Jawab Echa.
"Jangan dulu, tunggu kakak pulang." Ucap Bara.
"Kapan pulangnya?" Tanya Echa.
"Bentar lagi." Jawab Bara yang langsung menutup sambungan telpon tanpa mendengar jawaban dari Echa.
__ADS_1
Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika Bara memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Dia kembali masuk kedalam ruangan Aira.
Echa juga melihat Aira yang sedang disuapi oleh Mutiara dengan wajah senangnya, meskipun rasa dari makanan itu hambar.
"Gimana Ca?" Tanya Daniel ketika Echa berada di sampingnya.
"Katanya tunggu kak Bara pulang." Jawab Echa menatap kearah Daniel.
"Yaudah, nanti kalau Bara udah pulang suruh keruangan." Ucap Daniel.
"Iya yah." Ujar Echa sambil tersenyum.
...----------------...
Sedangkan disisi lain ada seseorang sedang menawarkan sesuatu kepada seseorang.
"Siapa kamu?" Tanya seorang pria yang tampak kebingungan ada seseorang di dalam kamarnya. Aneh, padahal kamarnya ada di lantai dua dan jendelanya pun dikunci.
"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu." Jawab orang tersebut membelakangi seorang pria yang tadi bertanya padanya.
"Tawaran apa? Apa kau ingin menipu?" Tanya seorang pria berjaga-jaga.
"Tentu saja tidak. Apa kau ingin memiliki Echa Aprilia Anjani?" Tanya orang tersebut sambil menyunggingkan senyumannya.
"Siapa kau? Kenapa kau mengenali Echa?" Tanya pria tersebut kebingungan ketika nama Echa disebut.
"Ayolah Algi. Aku hanya menawarkan sesuatu bukan ingin menceritakan diriku." Jawab orang tersebut kepada Algi.
"Apa tawaranmu?" Tanya Algi yang tertarik dengan pembicaraan tersebut.
"Kau ingin memiliki Echa? Itu gampang." Jawab orang tersebut.
"Kenapa kau tahu aku ingin dia kembali?" Tanya Algi penasaran.
"Bagaimana tawarannya iya atau tidak?" Tanya orang tersebut.
"Tapi.." ucap Algi yang langsung disanggah oleh orang tadi.
"Jangan banyak bertanya, jawab saja, iya atau tidak. Aku tidak menyukai orang yang bertele-tele." ujar orang tersebut yang sudah geram dengan pertanyaan Algi.
Algi nampak berpikir untuk menerima Tawan tersebut, bahkan dia juga tidak mengetahui siapa orang tersebut dan apa yang akan dia kerjakan untuk sebuah tawaran ini.
"Cepatlah! Jangan banyak berpikir. Jika tidak aku akan memberikannya pada orang lain." ucap orang tersebut.
"Iya." ujar Algi. Dia tidak peduli apa yang akan dirinya kerjakan yang penting dia bisa mendapatkan Echa, apapun risikonya.
__ADS_1
Outfit ketika lamaran Mutiara