
Mentari pagi mulai menampakkan dirinya membangunkan mereka yang masih terlelap dari tidurnya. Tapi, tidak bagi Echa. Dia bangun lebih awal karena hari ini Echa harus segera pergi ke rumah Hanin untuk persiapan. Sebelum pergi, Echa membereskan rumah Bara, menyiapkan sarapan dan yang terakhir membangunkan Bara dan Aira yang mungkin saja masih tertidur pulas.
"Selesai, sekarang tinggal Caca bangunin kak Bara sama Aira." Echa melangkahkan kaki menaiki anak tangga.
Cklek
Echa membuka pintu kamar Aira, dan melihat anak kecil berusia tujuh tahun itu masih menggulung dirinya dalam selimut.
Echa membuka tirai jendela kamar Aira, membuat sang mentari menyinari kamar milik Aira bernuansa serba merah muda tersebut. Dia kembali melangkahkan kaki menuju ranjang, membangunkan anak kecil yang masih belum saja membuka matanya.
"Aira, bangun sayang," ucap Echa sembari membuka selimut yang menggulung tubuh Aira.
Aira menyipitkan matanya, menyesuaikan dengan sinar mentari yang masuk kedalam kamarnya. "Kenapa kak? Sekolah kan libur, Aira mau tidur lagi."
"Bangun dulu, mau ikut ga?" tanya Echa.
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Echa mampu membuat Aira membuka matanya lebar-lebar. "Kemana? Aira ikut. And wait. Jangan dulu pergi."
Echa menggelengkan kepalanya ketika Aira berlari dengan cepat menuju kamar mandi, padahal nyawanya saja belum terkumpul penuh.
Echa segera melangkahkan kakinya menuju kamar Bara.
Cklek.
Echa sudah melihat Bara menggunakan setelan jas dengan rambut yang masih basah. Dia mendengar Bara sedang berbicara dengan seseorang dibalik telepon.
"Kamu sudah saya peringatkan sebelumnya! Saya sampai minta tolong sama kamu untuk segera memperbaiki sistem keamanan agar data-data mengenai perusahaan tidak mudah di bobol! Apa kamu tidak mendengar kata tolong dari saya?!" Bentak Bara kepada seseorang yang berada di balik sambungan telepon.
"Maaf Pak, saya sudah memperbaikinya tapi tetap saja mereka bisa melewati keamanan yang telah saya buat," ucap seorang pria yang sedang menelepon Bara.
"Apa kamu mendengarkan arahan saya? Memperbaiki sistem yang mana saja? Tidak kan?" tanya Bara dengan nada bicara yang cukup membuat bulu kuduk merinding mendengarnya.
"Ma..aaf..."
"Saya akan kesana sekarang. Jangan menyentuh apapun sebelum saya datang! Peringatkan pada staf lainnya juga." Bara langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari pria yang berada di balik sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
"Argghhh!" Bara mengacak rambutnya frustasi.
Echa yang mendengar teriakan tersebut terlonjak kaget. Padahal dia tahu Bara akan melakukan hal tersebut. Dia segera melangkahkan kaki kearah Bara memeluknya dari belakang.
"Love you," ucap Echa sembari mengelus tangan Bara. Dia dapat merasakan Bara yang sedang mengatur nafasnya.
Aroma parfum Bara membuat Echa menarik senyumannya, ini yang dia suka.
Bara melepaskan tangan Echa yang melingkar di pinggangnya menatap dingin kearah kekasihnya itu. Membuat Echa ketakutan saat melihat tatapannya. Bara jarang sekali memperlihatkan tatapan mengerikannya itu kepada Echa kecuali jika marah besar.
"Maaf," cicit Echa sambil menatap takut Bara.
Bara mengelus lembut pipi Echa sembari tersenyum manis. "Kenapa harus minta maaf, hm?"
"Kakak! Jangan kayak tadi liatnya, Caca takut!" seru Echa sembari menutup mata Bara dengan tangannya.
"Ikut kakak ke kantor, ya?" tanya Bara seraya menurunkan tangan Echa, tatapannya kembali teduh seperti biasanya.
"Nanti abis dari kantor aja ke rumah Hanin nya," ucap Bara.
"Terus Caca ngapain di kantor? Liatin kakak?" tanya Echa sembari menggunakan dasi untuk mempercantik jas yang digunakan oleh Bara.
"Jangan ngapa-ngapain, temenin kakak aja, kakak cuman mau ditemenin, oke. Kakak gak mau ada lagi sanggahan. Caca harus ikut." titah Bara.
"Tapi..."
"Aira udah kakak titipin sama Tiara, sekarang tinggal bujuk Aira nya, dandannya jangan cantik-cantik, pake baju yang bener, jangan yang pendek-pendek." titah Bara sembari keluar dari kamarnya.
Echa hanya melongo mendengar ucapan Bara. Permintaan apa itu? Kenapa banyak sekali. Dan kenapa dirinya tidak boleh terlihat cantik? Padahal orang lain ingin melihat pacarnya terlihat cantik agar tidak malu dibawa.
"Ngeselin banget jadi orang, untung sayang," ucap Echa pada dirinya sendiri.
sebelum menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya, Echa menghubungi Hanin terlebih dahulu.
__ADS_1
"Halo Nin, Caca disuruh ke kantor dulu sama kak Bara, gak apa-apa kan?" tanya Echa ketika Hanin sudah mengangkat sambungan teleponnya.
"Gak apa-apa Ca, lagian yang lain juga datangnya nanti siang, santai aja," jawab Hanin.
"Yaudah kalau gitu, kalau ada apa-apa atau ada keperluan yang harus dibeli telepon Caca aja ya," ucap Echa.
"Iya Ca makasih, btw udah dulu ya, Mama teriak-teriak mulu," ujar Hanin sembari menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Echa. Bahkan, Echa saja sudah tahu sejak tadi ada suara teriakan yang menggelegar memenuhi gendang telinganya. Dan dia tahu darimana dan siapa suara tersebut.
...----------------...
30 menit telah berlalu, Echa melangkahkan kaki menuju ke meja makan. Dia melihat Aira dan Bara yang sedang tertawa bersama sambil menyantap sarapannya masing-masing.
"Kak Caca cantik banget," ucap Aira ketika melihat Echa yang ingin duduk di hadapannya.
"Makasih," ujar Echa sembari tersenyum manis.
"Kak Bara, kalau ada yang suka sama kak Caca terus bisa ngambil kak Caca, kakak bakalan ngapain?" tanya Aira sambil menatap Bara yang sedang memakan sarapannya.
"Gak bakalan ada yang bisa, Ra." jawab Bara dengan santainya.
"Percaya diri banget ya, Kak?" tanya Aira sambil menatap kearah Echa yang sudah mulai memakan sarapannya.
"Kak Bara emang gitu," jawab Echa.
"Padahal kan yang deketin kak Caca lebih ganteng, ya?" tanya Aira dengan senyuman penuh arti.
Bara menatap dingin ke arah Aira. "Ra, masih pagi lho."
Aira menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari ancaman yang Bara berikan.
Echa menggenggam tangan Bara yang berada di sebelahnya, memberi isyarat untuk tidak melanjutkan semua ini. Sedangkan Bara langsung membalas genggaman tangan Echa seolah tidak ingin melepaskannya.
"Cantik banget," bisik Bara. Membuat Echa merasakan panas disekitar pipinya.
__ADS_1