
"Tadi gimana kejadiannya?" tanya Devan yang sedang melajukan motornya.
Beberapa menit yang lalu semua mahasiswa dipulangkan karena kejadian mahasiswi yang di simpulkan bunuh diri dan jatuh terpeleset.
"Gak tau, semuanya terjadi gitu aja." jawab Echa.
"Terus ada apa lagi yang buat Caca, ini ada yang gak beres." ucap Devan sambil menatap wajah cantik Echa lewat kaca spion.
Duh, bilang jangan ya? tanya Echa pada dirinya sendiri.
"Udah, gak usah dipikirin, biarin mereka tenang." ujar Echa sembari tersenyum manis. Devan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ada beberapa pertanyaan yang ingin Devan lontarkan kepada Echa. Namun sepertinya, Echa tidak ingin membahas ini dulu. Apalagi ini terjadi di depan matanya.
Namun saat ditengah perjalanan ada 3 motor yang mengikuti Devan. Sejak tadi, Devan terus melihat motor itu mengikutinya.
"Ca, pegangan." ucap Devan sambil menarik tangan Echa untuk memeluk pinggangnya.
"Dev..." ucapan Echa tertahan ketika Devan memberitahu bahwa ada yang mengikuti mereka.
"Pegangan, Bara gak bakalan apa-apa kalau demi keselamatan." ujar Devan mengambil ancang-ancang untuk melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Pohon-pohon yang berjajar hanya terlihat seperti sekelebatan saja, bahkan angin yang menerpa wajah Echa seperti sedang menusuknya.
"Dibelakang masih ada?" tanya Devan yang masih melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Echa melihat motor yang sempat mengikutinya itu sudah tidak ada. Dia merasakan bahwa orang yang mengikutinya itu sedang memata-matai dirinya.
Mayat, Darah, jatuh, bunuh diri, awalan nama i, 3 motor. ucap Echa dalam hati sambil mengingat beberapa memori yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.
"Udah gak ada, Dev." ujar Echa.
Devan yang mendapat perkataan seperti itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan standar.
Echa langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Devan, sedangkan Devan tersenyum pedih melihat hal tersebut.
Pantes aja Bara bertahan sampai sejauh ini. Echa itu cantik, baik, sabar, pengertian, lembut, apa yang kurang?
Udah, Dev. Sadar, Lo gak bakalan bisa dapetin Caca. Sekarang waktunya Lo cari perempuan yang bisa mencintai kekurangan Lo.
Lo harus percaya, yang kayak Caca itu pasti ada, meskipun cuman kemungkinan kecil. Setidaknya Lo bisa dapet yang bisa melengkapi kelebihan sekaligus mencintai kekurangan Lo.
Devan terus bergulat dengan batinnya, ya. Selama ini Echa alasan utama kenapa Devan masih belum memiliki tambatan hati. Dia selalu menunggu Echa dan Bara putus. Namun, itu hal yang mustahil untuk di tunggu.
Seandainya gue yang dapetin Caca lebih dulu dari Lo. Mungkin, Lo bakalan di posisi gue sekarang. ucap Devan pada dirinya sendiri sambil tersenyum getir menatap Echa dari kaca spion.
...----------------...
__ADS_1
20 menit telah berlalu, mereka sudah sampai di rumahnya. Lebih tepatnya perumahan yang mereka beli.
Echa turun dari motor Devan sambil tersenyum manis. Senyuman yang tidak pernah luntur itu mampu mengacak-acak hati Devan untuk melepaskan.
"Makasih ya," ucap Echa.
"Sama-sama." ujar Devan sembari menatap Echa dan membalas senyumannya.
"Mau masuk kerumah dulu?" tanya Echa.
"Em... Mau sih, tapi kayaknya Devan cari mati deh." jawab Devan tertawa pelan.
"Ya, gak bakalan." ucap Echa yang juga tertawa.
"Engga dulu deh, nanti aja kalau udah ada Bara." ujar Devan sambil menghidupkan motornya.
"Hati-hati." ucap Echa.
"Deket ini, gak perlu khawatir." ujar Devan melajukan motornya. Sedangkan Echa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Echa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya.
Dia menghela nafasnya panjang, mengingat banyak sekali mahasiswi yang masih saja mengincar Bara. Padahal ada yang lebih tampan dari calon suaminya itu. Tapi kenapa selalu Bara yang menjadi incara para wanita cantik?
Echa menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Caca telpon kak Bara aja kali ya?" tanya Echa sambil mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
"Kenapa? Caca udah pulang?" tanya Bara.
"Udah," jawab Echa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Cepet banget," ucap Bara.
"Pokoknya panjang ceritanya, kakak kapan pulang?" tanya Echa yang kini sudah duduk dari tidurnya itu.
"Maunya Caca kapan?" tanya Bara yang malah bertanya padanya.
"Kalau kerjaannya belum selesai, jangan pulang tapi kalau kerjaannya udah selesai pulang sekarang." jawab Echa.
"Oke." ucap Bara yang langsung menutup sambungan telponnya secara sepihak.
"Nyebelin banget jadi orang!" ujar Echa kesal ketika Bara mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Mending tidur aja," ucap Echa pada dirinya sendiri yang kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Namun saat memejamkan mata, tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian tadi.
__ADS_1
"Awalan i, 2 mayat, penghianat, jatuh, bunuh diri." ucap Echa sambil mengerutkan dahinya mengingat kejadian yang menurutnya ada kaitannya dengan penghianat.
"Intania, Ivana." sambung Echa.
"I, apa jangan-jangan itu Ivy?" tanya Echa yang menyimpulkan bahwa semua ini karena ulah Ivy. Semua clue menjurus langsung padanya.
"Caca harus panggil Shila." ucap Echa ketika dirasa bahwa semuanya memang aman. Tidak akan ada yang merasakan kehadiran Shila.
Echa memejamkan matanya sambil memanggil nama Shila.
"Caca! Ya ampun. Shila kangen, banget." ucap Shila antusias ketika sudah berada di hadapan Echa.
"Kemana aja? Kenapa gak pernah mau muncul?" tanya Echa ketika Shila sudah berada dihadapannya.
"Diantara teman-teman Caca itu ada penghianat. Diskusi yang kalian buat selalu saja diketahui musuh, iya kan?" tanya Shila.
"Siapa penghianat itu?" tanya Echa penasaran.
"Shila gak tau pasti siapa penghianat itu, Shila juga belum menemukan titik temunya." jawab Shila menatap lekat mata Echa.
"Siapa yang Shila curigain sekarang?" tanya Echa.
"Hanin." jawab Shila sambil menatap kosong kearah depan.
"Kenapa?" tanya Echa.
Saat Echa melontarkan pertanyaan itu, Shila tiba-tiba saja menghilang dari hadapannya. Begitu saja.
Namun disaat yang bersamaan Echa juga mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka.
"Kakak, cepet banget." ucap Echa ketika melihat Bara berada didepan pintu kamarnya.
"Hm," gumam Bara sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah Echa.
"Udah selesai?" tanya Echa ketika Bara menjadikan pahanya sebagai bantal untuk menidurkan kepala Bara.
"Belum," jawab Bara sembari memejamkan matanya.
"Kenapa pulang? Caca bilang jangan dulu pulang kalau kerjaan nya belum selesai." ucap Echa.
"Pusing. Kakak mau istirahat." ujar Bara sambil menatap mata Echa.
Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia memijat pelipis Bara untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.
"Perutnya masih sakit?" tanya Bara.
"Udah mendingan." jawab Echa.
__ADS_1
Bara mengecup singkat perut Echa, entah dorongan darimana. Bara hanya ingin melakukannya saja.
Bara tertawa pelan melihat wajah Echa yang memerah malu. Dia kembali memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya di pangkuan yang membuat dirinya pulih kembali.