TEROR

TEROR
|84| KISAH


__ADS_3

Echa membuka matanya ketika mendengar suara tawa riang dari anak kecil.


"Apa kalian merasa bahagia?" tanya seorang anak kecil pada teman-temannya yang berada di pojok ruangan.


"Ya, aku sangat bahagia sekali, ternyata ibu dan ayah terlihat bahagia dengan kepergian ku ini." jawab seorang anak kecil perempuan yang usianya sekitar 5 tahun dengan darah memenuhi baju putih yang lusuh.


"Aku Geon." ucap seorang anak laki-laki yang tadi mengajukan pertanyaan.


"Aku Cila." ujar seorang anak kecil yang usianya sekitar 4 tahun.


"Aku Fia." ucap anak kecil yang menjawab pertanyaan Geon.


"Aku Methew." ujar seorang anak laki-laki yang usianya 6 tahun.


"Hatiku sakit ketika dipanggil sebagai anak haram oleh ayahku. Tapi aku bahagia disaat itu ayah benar-benar berbicara padaku." ucap Methew dengan senyuman polos nya.


Echa melangkahkan kaki mendekat kearah 4 orang anak kecil yang sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Hatinya tergerak ketika mendengar cerita Methew, anak berusia 6 tahun itu ternyata bunuh diri karena tidak kuat dengan perlakuan ayahnya.


Methew, anak hasil dari hamil diluar nikah itu selalu di panggil 'anak haram' oleh ayahnya. Bukankah itu terlalu kejam? Padahal semua itu karena ulah dari ayahnya sendiri. Anak seusia ini harus menerima kenyataan pahit, Methew tidak salah tapi kenapa dia yang dihukum?


Echa dapat merasakan rasa perih di hatinya Methew ketika mengingat bagaimana ayahnya itu berbicara dengan nada yang tinggi sambil menyebutnya dengan kata-kata yang tidak pantas didengar oleh anak kecil.


"Kenapa ayahmu berbicara seperti itu? Namamu sudah bagus, Methew." ucap Cila.


"Aku juga tidak tahu kenapa ayah memanggilku seperti itu, tapi aku tidak membenci ayah, aku hanya marah pada diriku sendiri dan selalu bertanya kenapa ayah membenciku? Aku bukan anak berguna jadi aku lompat dari atas agar ayah bahagia. Karena itu yang ayah inginkan.." ujar Methew sambil menghela nafasnya panjang.


"Apa yang ayahmu ucapkan?" Tanya Geon.


"Jika kau ingin membuat ayah bahagia, maka lompat lah dari atas." jawab Methew menirukan suara ayahnya dengan wajah yang sangat menggemaskan meskipun agak mengerikan.


"Kau beruntung bisa membuat ayahmu bahagia sebelumnya sedangkan aku, aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini." ucap Cila dengan tatapan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kau tidak mengingatnya sama sekali?" tanya Fia.


"Yang aku ingat hanyalah gelap, dadaku terasa sakit dan perih seperti ditikam sesuatu." jawab Cila sambil melihat tubuhnya.


Ada luka tusukan di dada sebelah kirinya, entah seberapa dalam tusukan itu yang pasti Echa merasakan perih yang amat luar biasa, bahkan dadanya terasa sesak ketika menghirup udara.

__ADS_1


Cila. Anak berusia 4 tahun ini sungguh sangat malang, dia menjadi korban pesugihan kedua orang tuanya hanya demi jabatan dan harta.


Echa dapat melihat ibu dan ayahnya mendapat jabatan terpenting bagi negara dengan cara yang sangat instan, dia hanya perlu mengorbankan anak-anaknya setiap setengah tahun sekali.


Padahal jika dipikir-pikir, orang tua bekerja itu hanya untuk melihat senyum bahagia dari anak-anaknya bukan? Tapi kenapa ini malah sebaliknya? Orang tua yang hanya mementingkan diri sendiri.


"Aku tidak tahu kenapa ibu dan ayah ingin sekali membunuhku, padahal aku selalu mendapat rangking, ikut kejuaraan antar sekolah tapi ibu tidak pernah melihat itu, dia malah menyiksaku dan membandingkan dengan anak tetangga yang sudah bisa membangun rumah dari hasil sosial media." ucap Fia.


"Sosial media? Apa itu?" tanya Geon.


"Aku juga tidak tahu apa yang ibu ucapkan waktu itu, aku tidak bisa mengingatnya." jawab Fia.


Fia. Anak berusia 5 tahun ini sudah masuk sekolah dasar, mengikuti banyak kejuaraan dan mengharumkan nama sekolah, di kamar kecilnya banyak terpajang piala dengan bertuliskan juara 1 semua.


Ibu dan ayahnya Fia tidak ingin prestasi tapi yang diinginkan oleh mereka hanyalah sensasi, seperti anak tetangganya yang bisa menghasilkan uang dari beberapa sosial media.


Mereka berdua sepakat untuk membunuh Fia agar bisa menjadi sorotan publik. Apa harus sekejam ini mencari kamera? Kenapa tidak prestasi anaknya saja yang dibanggakan di sosial media? Aneh.



"Aku dibunuh oleh semua keluargaku. Mereka ingin menjadikan aku sebagai makanan, aku tidak tahu apa yang dimaksud makanan oleh keluargaku yang pasti mereka memaksaku untuk meminum 3 liter minyak tanah." ucap Geon yang liidahnya terlihat seperti ada luka bakar dan gosong.



"Aku tidak tahu bagaimana rasanya, mulutku seperti terbakar dan perutku rasanya ingin meledak." jawab Geon.


Geon. Seorang anak berusia 7 tahun yang dipaksa untuk meminum minyak tanah sebanyak 3 liter oleh keluarganya.


Mereka ingin menjadikan Geon sebagai persembahan agar kekayaan mereka semakin bertambah dan tidak ada habisnya.


Sosok yang mereka sembah memilih Geun sebagai santapannya. Anak kecil dengan paras tampan ini harus menjadi korban kekayaan lagi.


Zaman sekarang semua orang gila akan harta dan jabatan, tapi ketika sudah mendapat keduanya mereka lupa bahwa mereka juga akan mati.


Empat anak kecil malang ini harus merima kenyataan pahit, menerima hukuman atas perbuatan kedua orang tuanya, ah entahlah Echa menjadi marah ketika mendengar cerita dari anak seusia ini.


Apa orang tuanya tidak memiliki hati nurani? atau jangan-jangan memang tidak memiliki hati? Padahal diluar sana masih ada orang yang ingin memiliki seorang buah hati.

__ADS_1


Sepertinya bagi mereka buah hati itu tidak ada maknanya. Echa sudah meneteskan air mata mendengar bahkan melihat sekelebat visual dari anak-anak kecil ini.


Namun tiba-tiba saja tubuh nya ditarik oleh sesuatu, seolah tidak boleh tahu lebih dalam lagi. Echa kembali masuk kedalam tubuhnya.


Dia menyipitkan mata ketika mentari pagi tepat mengenai matanya. Semalam acara pernikahan Mutiara dan Alvero selesai pukul 22.30.


Mereka masih tinggal di gedung yang katanya angker ini, terlalu lelah jika harus pulang sangat larut.


Echa turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sebelum itu dia membawa bathrobe terlebih dahulu.


15 menit telah berlalu Echa sudah selesai dengan acara mandinya dan sudah menggunakan baju, kini tinggal menggunakan skincare.


"Ca." panggil seseorang sambil membuka pintu kamar Echa.


"Hm?" sahut Echa menatap orang yang masuk kedalam kamarnya melalu pantulan cermin.


"Kirain belum bangun." ucap orang tersebut sambil melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.


"Kakak gak tidur?" Tanya Echa. Orang itu adalah Bara, siapa lagi jika bukan Bara? Tidak akan ada yang mengunjungi kamar Echa sepagi ini.


"Hm.." gumam Bara sambil memejamkan matanya.


"Ngapain aja semalam?" tanya Echa.


"Ngejar deadline." jawab Bara.


Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia melangkahkan kakinya kearah Bara untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Ca.. pusing," ucap Bara ketika Echa memegang keningnya.


"Sebanyak itu ngerjain nya sampai gak tidur sama sekali?" tanya Echa sambil memijat kepala Bara.


"Engga." jawab Bara.


"Terus kenapa sampai gak tidur?" tanya Echa.


"Main game dulu sebentar sama yang lain, maaf.." jawab Bara yang kini menatap mata Echa. Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika mendapat perkataan seperti itu.

__ADS_1


"Kak, Caca gak bakalan ngelarang kakak buat main game atau apapun yang kakak suka, tapi kakak harus tau waktu jangan sampai bikin kakak sakit," ucap Echa yang masih memijat kepala Bara. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil memejamkan matanya kembali.


__ADS_2