
Saat ini Echa, Hanin, Shiren dan Ivy sudah selesai memilih baju yang pas untuk acara pertunangan Mutiara.
Sedangkan Mutiara sudah memesannya sejak lama. Gaun yang menjadi impiannya selama ini.
"Udah kan?" Tanya Mutiara yang baru saja keluar dari kamar ganti.
"Udah." Jawab Echa dan teman-temannya kompak.
"Mba, besok tolong anterin ke rumah ya." Ucap Mutiara kepada salah satu pegawai wanita yang selama berada di toko itu membantu Mutiara.
"Baik Kak, nanti saya akan kirim, gaunnya akan di pakai kapan ya?" Tanya pegawai tersebut.
"Tanggal 27." Jawab Mutiara.
"Silahkan sebut alamatnya kak, nanti kami akan antar semua gaunnya." Ucap pegawai tersebut. Mutiara yang mendapat perkataan seperti itu langsung menyebut alamat rumahnya.
"Semuanya sudah selesai kan mba?" Tanya Mutiara.
"Sudah kak." Jawab pegawai tersebut.
"Kami pamit pergi dulu." Pamit Mutiara yang langsung diangguki oleh pegawai wanita itu.
Mutiara melangkahkan kakinya keluar dari toko gaun tersebut diikuti dengan Echa, Shiren, Ivy dan Hanin di belakangnya.
Sedangkan tentang bara yang menelpon Echa tanpa berpamitan Bara langsung mematikan sambungan telponnya. Menyebalkan.
"Gimana ada yang bisa di hubungi?" Tanya Mutiara yang sedang menelpon Alvero namun tidak diangkat sama sekali.
"Gak ada kak, gak di angkat." Jawab Shiren yang terus menelpon Gavin namun sama sekali tidak di angkat.
"Bukannya tadi Caca lagi telponan sama Kak Bara?" Tanya Hanin.
"Tadi, sekarang engga, tiba-tiba aja telponnya dimatiin." Jawab Echa.
"Nathan sama Azka gimana?" Tanya Mutiara.
"Gak bisa dihubungi juga." Jawab Hanin dan Ivy kompak.
"Terus gimana?" Tanya Mutiara.
"Disini juga jauh mau ke cafe. Udah pada tutup semua jam segini." Jawab Ivy yang melihat beberapa toko sudah tutup karena sekarang sudah menunjukkan pukul 21.40
Bahkan sudah tidak ada orang dan kendaraan yang berlalu lalang disekitar sini, aneh sekali.
"Iya," Ucap Hanin yang sedang berusaha menelpon Nathan.
Echa pun melakukan hal yang sama seperti teman-temannya dan hanya terdengar suara operator.
Tiba-tiba saja Shiren merasakan tengkuk lehernya dingin bahkan bisa dibilang suhu malam hari ini lumayan tinggi tapi kenapa Shiren merasakan dingin disekitar lehernya saja.
"Nin.." panggil Shiren sambil menggenggam tangan Hanin yang berada di sampingnya
"Kenapa?" Tanya Hanin.
"Dibelakang ada apa? Shiren ngerasa dingin." Jawab Shiren yang masih merasakan lehernya seperti sedang di selimuti salju.
Hanin yang mendengar perkataan seperti itu langsung memejamkan matanya, merasakan aura yang ada disekitar Shiren.
Nging...
Tiba-tiba saja telinga Hanin berdengung sangat nyaring, bahkan suara dengungan itu mampu menyamarkan suara teman-temannya yang memanggil dirinya.
"Nin." Panggil Shiren yang melihat Hanin sedang menutup kedua telinganya.
Echa, Ivy dan Mutiara langsung melihat kearah Hanin ketika shiren memanggil nama Hanin dengan nada khawatir.
"Hanin kenapa?" Tanya Ivy kaget yang melihat Hanin sedang memejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya.
"Nin.." panggil Echa sambil menyingkirkan rambut Hanin yang sejak tadi menutupi wajahnya.
Saat Echa sedang menyingkirkan rambut Hanin, dia melihat mata Hanin yang berubah menjadi putih, urat wajahnya terlihat berwarna hitam bahkan bibirnya sepucat mayat.
Hanin langsung mencengkram kuat tangan Echa sambil tersenyum sinis dengan wajahnya yang mengerikan.
"Kau yang selama ini kami cari." Ucap Hanin dengan kepala yang bisa di putar 180°
Echa, Shiren, Mutiara dan Ivy yang melihat itu kaget, linu sekaligus takut secara bersamaan, Hanin baru saja memutar kepalanya di hadapan mereka dengan suara seperti tulang yang patah.
Hanin yang melihat Echa dan yang lainnya ketakutan itu langsung membuka mulutnya dan mengeluarkan kalajengking dan kaki seribu yang bisa terhitung oleh jari namun ukurannya bisa dibilang sangat besar jika masuk kedalam mulut.
"Hanin.." ucap Echa, Mutiara, Shiren dan Ivy kaget saat melihat binatang itu keluar dari mulut Hanin.
"Ikut aku!" Ucap Hanin dengan seringai yang mengerikan sambil mencengkram kuat tangan Echa.
"Arghh.. sakit." Ringgis Echa ketika tangannya di cengkram sangat kuat oleh Hanin.
"Hanin, sadar." Ucap Shiren. Namun tidak di gubris sama sekali oleh Hanin, entah sosok apa yang sedang masuk kedalam tubuh Hanin, Shiren dan Echa tidak bisa melihatnya.
"Hanin!" Teriak Ivy di dekat telinga Hanin.
Hanin yang mendengar teriakan dari Ivy itu langsung menatap tajam kearah Ivy sambil mengeluarkan satu binatang dari dalam mulut Hanin untuk dilemparkan kearah Ivy.
"Nin, jangan.." ucap Ivy ketika Hanin sudah mulai menampilkan seringai mengerikan dengan kalajengking berukuran besar yang siap untuk di lemparkan kearah Ivy.
"Arghh!" Teriak Ivy ketika Hanin melemparkan kalajengking itu kearah bajunya.
"Vivi!" Teriak Mutiara ketika melihat kalajengking itu berjalan begitu cepat ingin masuk kedalam baju Ivy.
Mutiara yang melihat itu langsung mengeluarkan kekuatan dari tangannya dan mengarahkan kepada kalajengking yang masih berada di baju Ivy.
Wosh..
Kalajengking itu langsung hilang dari baju Ivy bersamaan dengan asap tipis berwarna hitam.
__ADS_1
Hanin yang melihat kekuatan Mutiara langsung melihat kearah Mutiara dengan tatapan kaget dan bingung.
"Kau.." ucap Hanin. Namun perkataan itu langsung terhenti ketika Shiren memegang punggung Hanin sambil membacakan beberapa ayat suci.
"Arghh!!" Teriak Hanin yang kini sudah melepaskan genggamannya pada tangan Echa.
Ivy yang melihat Hanin ingin mencakar Shiren itu langsung mengunci tangan Hanin agar tidak melukai Shiren.
Sedangkan Echa melihat pergelangan tangannya yang membiru, bahkan urat-urat tanganya terlihat menghitam.
"Panas! Jangan ucapkan kalimat seperti itu dihadapan ku!" bentak Hanin.
Shiren terus mengucapkan beberapa ayat suci kepercayaannya sambil memegang punggung Hanin yang terus meronta.
BRUGH..
Tiba-tiba saja tubuh Hanin langsung ambruk di pangkuan Ivy. Wajahnya sudah kembali seperti semula tidak mengerikan seperti tadi.
"Hanin." Panggil Echa dan Mutiara kompak sambil melangkahkan kakinya membantu Ivy yang kesusahan mengangkat Hanin.
"Shiren baik-baik aja kan?" Tanya Ivy yang melihat Shiren sedang memegang kepalanya.
"Shiren baik-baik aja. Kalian gak usah khawatir. Jaga Hanin, shiren takut sosok itu kembali lagi." Jawab Shiren.
Echa langsung membuka ponselnya untuk menelpon Bara yang sejak tadi susah dihubungi.
"Halo, kenapa Ca?" Tanya Bara yang kini telponnya sudah tersambung dengan Echa.
"Cepet kesini." Jawab Echa.
"Kenapa?" Tanya Bara.
"Hanin pingsan. Pokoknya kakak cepet kesini jangan banyak tanya." Jawab Echa dengan nada khawatir ketika melihat Hanin sudah membuka matanya namun dia terus meringgis kesakitan.
"Oke." Ucap Bara yang langsung menutup sambungan telponnya.
"Akhirnya ada yang bisa dihubungi, kemana aja sih mereka sampai susah dihubungin?!" Tanya Mutiara kesal.
"Udah nanti aja marahnya kak, sekarang keadaan Hanin dulu." Jawab Echa sambil menenangkan Mutiara.
"Hanin gak apa-apa kan?" Tanya Shiren yang melihat Hanin duduk di trotoar, untung saja tidak ada orang yang berlalu lalang. Hanin hanya menggelengkan kepalanya sambil memegang perutnya.
Tiba-tiba saja Echa dan yang lainnya mendengar suara kendaraan yang menuju kearahnya, mereka langsung melihat kearah sumber suara kendaraan itu.
Itu Bara dan teman-temannya yang langsung turun dari motor ketika sudah memarkirkan kendaraannya.
"Hanin." Panggil Nathan yang melihat keadaan Hanin.
"Kita bawa kerumah sakit aja." Ucap Mutiara.
"Jangan, bawa Hanin pulang ke rumah Kak Tiara aja." Ujar Hanin dengan suara lemah.
"Bar, pake motor gue." Ucap Nathan yang melempar kunci motor miliknya kearah Bara, yang langsung diterima oleh Bara.
Bara pun melakukan hal yang sama seperti Nathan, dia memberikan kunci mobil kepada Nathan.
Mereka semua melangkahkan kakinya menuju kendaraan masing-masing, saat Bara menggenggam tangan Echa, Echa langsung meringgis pelan ketika Bara menggenggam tangannya yang baru saja Hanin cengkram dengan kuat.
"Aww.." ringgis Echa pelan. Bara yang mendengar itu langsung melihat kearah tangannya Echa.
"Ini kenapa?" Tanya Bara yang melihat pergelangan tangan Echa biru malah hampir nyaris berwarna hitam.
"Ceritanya panjang." Jawab Echa.
"Kenapa tadi telponnya dimatiin?" Tanya Bara.
"Lho, kirain Caca kakak yang matiin." Jawab Echa.
"Kakak telpon balik gak diangkat terus." Ucap Bara.
"Caca juga dari tadi telpon kakak gak diangkat, emang gak ada panggilan masuk?" Tanya Echa.
"Gak ada." Jawab Bara.
Echa dan Bara sama-sama bingung dengan keadaan yang menimpanya, mereka seolah sedang dipermainkan.
"Bar! Ayo, nanti pacarannya lanjut dirumah Tiara!" Teriak Azka. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Bara dan Echa melangkahkan kakinya kearah motor Nathan, menyusul teman-temannya yang sudah melajukan motornya.
Saat di perjalanan Bara terus melihat kearah tangan Echa yang sedang melingkar di pinggangnya.
Dia melihat urat tangan di pergelangan Echa berwarna hitam, itu bukanlah luka karena sentuhan dari orang.
"Sakit gak?" Tanya Bara sambil mengelus tangan Echa.
"Sakitlah." Jawab Echa. Bara yang mendengar penuturan tersebut kembali mengelus tangan Echa lembut sambil melajukan motor Nathan dengan kecepatan standar.
...----------------...
30 menit telah berlalu, kini Echa dan teman-temannya sudah sampai di rumah Mutiara. lebih tepatnya seperti sebuah mansion.
"Wah, kalian semua mau nginep disini?" Tanya salah seorang wanita yang sudah tidak terlihat muda lagi.
"Iya Tante." Ucap Gavin sambil bersalaman dengan wanita tersebut.
Wanita itu adalah Nurmala Ayu, ibu dari Mutiara umurnya sudah mencapai 48 tahun namun wajahnya masih muda seperti baru berumur 30 tahun.
"Siapa ma?" Tanya seorang pria tua, namun memiliki ketampanan dan kewibawaan yang mencolok.
Pria itu adalah Fernandi Ledian, ayah dari Mutiara, Fernandi adalah seorang CEO di salah satu perusahaan ternama milik kakeknya mutiara.
"Biasa pa, temen-temennya Tiara." Jawab Nurmala.
__ADS_1
"Oh, yaudah suruh masuk, udah malem pasti capek abis pilih gaun?" Tanya Fernandi sambil merangkul bahu Echa.
Echa sudah menganggap Ferdinan sebagai ayahnya, 2 tahun terakhir dia sering kerumah Mutiara jika ada waktu luang. Ferdinan sangat suka melihat raut wajah Bara ketika cemburu.
Ferdinan selalu mencari kelemahan Bara karena ayahnya Bara dan ayahnya Mutiara sudah seperti sahabat. Semenjak Bara mengenal Mutiara dan saat itu juga Ferdinan seperti musuh bagi Bara.
2 tahun terakhir ini Ferdinan akhirnya menemukan kelemahan Bara, siapa lagi jika bukan Echa?
"Ayo masuk Ca." Ajak Ferdinan sambil melihat Bara yang terlihat sedang memasang wajah kesalnya.
"Iya om." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya mengikuti Ferdinan.
"Besok pasti bakal capek ya, sekarang langsung istirahat aja." Ujar Ferdinan.
"Iya om." Ucap Echa.
"Hanin kenapa Nat? Kamu gak bener ya jagainnya?" Tanya Nurmala ketika melihat Hanin sedang dipapah oleh Nathan.
"Tadi Hanin pingsan Ma, mungkin kecapean." Jawab Mutiara.
"Kalian langsung istirahat aja ya, disini banyak kamar kok." Ucap Nurmala.
Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mutiara yang begitu besar dan mewah, sudah seperti istana.
"Bibi, tolong bawain jus buat mereka ke kamarnya ya." teriak Nurmala.
"Terserah kalian mau pilih yang mana. Tante masih mau ngurusin buat pertunangan Tiara ya." sambung Nurmala.
"Ayo pa, jangan bikin kesel Bara terus." ajak Nurmala yang melihat Ferdinan sedang merangkul bahu Echa.
"Padahal lagi seru." ucap Ferdinan sambil melangkahkan kakinya mengikuti Nurmala.
"Kalian pilih sendiri aja ya kamarnya. kakak masih ada beberapa kerjaan. Nathan kalau mau sesuatu tinggal panggil Bibi aja ya, di setiap kamar ada bel nya kok." ujar Mutiara
"Iya kak." ucap Echa, Ivy dan Shiren kompak.
Echa dan teman-temannya yang lain masuk kedalam kamar yang sudah menjadi pilihan mereka. Echa masuk kedalam kamar yang terlihat begitu mewah, elegan, ukiran kuno dan modern menyatu layaknya kamar di sebuah kerajaan.
"Capek banget." ucap Echa sambil merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk.
Dia langsung melihat kearah pergelangan tangannya, dia melihat urat di pergelangan tangannya yang menghitam.
"Kenapa bisa gini ya?" tanya Echa bingung.
"Caca telpon ibu kali ya, mungkin ibu tau obatnya." sambung Echa sambil membuka layar ponselnya.
Namun saat Echa ingin menelpon Roslyn tiba-tiba saja Bara masuk kedalam kamarnya itu tanpa mengetuk pintu.
Echa yang melihat Bara dengan wajah tidak bersahabat itu langsung mendudukkan dirinya di ranjang, sedangkan Bara langsung tidur di ranjang Echa.
"Kenapa kakak kesini?" tanya Echa yang melihat Bara malah tidur dikamar pilihannya ini.
"Emang gak boleh?" tanya Bara sambil menatap Echa.
"Bukan gitu, Caca juga mau tidur udah capek banget." jawab Echa.
"Tadi kakak liat Caca lagi main handphone jadi kakak kesini aja." ucap Bara.
"Caca cuman mau telpon ibu, abis itu tidur." ujar Echa.
"Telpon aja." ucap Bara sambil memejamkan matanya. Echa yang mendengar itu langsung menutup ponselnya dan menyimpan di atas meja rias.
"Kak.." panggil Echa sambil melihat kearah pergelangan tangannya yang tidak separah tadi namun tetap saja Echa khawatir dengan keadaan dirinya sendiri.
"Hm?" gumam Bara tanpa membuka matanya.
"Tangan Caca kenapa gini ya?" tanya Echa yang terus melihat pergelangan tangannya itu.
Bara yang mendengar perkataan itu langsung membuka matanya dan melihat kearah pergelangan tangan Echa yang tidak separah tadi.
"Kakak sembuhin tapi jangan teriak." ucap Bara.
"Kalau sakit ya Caca teriak." ujar Echa kini beralih menatap Bara yang sedang mendudukkan dirinya dihadapan Echa.
"Liat ke kakak." ucap Bara sambil menggenggam tangan Echa.
"Kenapa?" tanya Echa bingung.
"Kalau sakit, gigit aja tangan kakak, jangan teriak. udah malem. yang lain juga pasti udah tidur." jawab Bara sambil memberikan tangannya ke arah mulut Echa.
"Emangnya mau di gimanain si?" tanya Echa bingung.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia memejamkan matanya sambil mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk menyembuhkan luka di pergelangan tangan Echa karena ulah ilmu hitam.
Mungkin kekuatan Bara yang disaluran kan untuk menyembuhkan luka Echa akan menjadi seperti sengatan listrik.
"Jangan teriak, gigit aja tangan kakak." ucap Bara sambil menyembuhkan luka di pergelangan tangan Echa.
"Tapi kak.." ujar Echa yang langsung merasakan tangannya seperti di sengat oleh listrik, urat-urat tangannya yang menghitam mulai kembali semula.
Echa yang merasakan sakit di pergelangan tangannya itu langsung menggigit tangan Bara yang sudah ada di hadapan mulutnya.
Echa mengigit tangan Bara dengan sangat kuat ketika tangannya seperti di paksa untuk utuh secara langsung ketika sudah patah.
"Selesai." ucap Bara yang melihat pergelangan tangan Echa sudah baik-baik saja, kembali seperti semula.
Echa yang mendengar penuturan itu langsung membuka matanya sambil melepaskan gigitannya pada tangan Bara.
"sakit banget." ucap Echa ketika masih merasakan sakit dipergelangan tangannya.
Echa langsung melihat kearah tangan Bara yang baru saja dia gigit begitu kuat, dia melihat bekas gigitan giginya membekas ditangan Bara.
"Pasti sakit ya?" tanya Echa kini menggenggam tangan Bara.
__ADS_1
"Enggak." jawab Bara sambil tersenyum manis.