TEROR

TEROR
|105| SAYANG


__ADS_3

"Ca, Bara mana?" tanya bunda An ketika Echa membantu Aira untuk menggunakan bajunya.


"Nunggu di parkiran, Bunda." jawab Echa sambil menatap kearah bunda An dan tersenyum manis.


"Kenapa gak kesini?" tanya bunda An bingung.


"Mungkin lagi pengen aja, bunda." jawab Echa, dia tidak berani berkata apa yang sedang dialami oleh Bara. Biarkan saja Bara sendiri yang menceritakan semuanya kepada bunda An.Bunda An hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Echa melihat sekilas kearah Daniel yang sedang duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


"Udah, yuk." ajak Echa sambil menurunkan Aira dari tempat tidur.


"Aira mau sama Kak Caca pulangnya," ucap Aira.


"Tapi..." ujar Echa yang langsung disela oleh Daniel.


"Suruh Bara pakai mobil ayah, biar ayah sama bunda yang pakai motor." ucap Daniel sembari memberikan kunci mobil miliknya kepada Echa.


"Iya, yah." ucap Echa sambil membawa kunci mobil itu dari tangan Daniel dengan senyumannya.


"Aira, ayo duluan sama Mama." ajak Bunda An kepada Aira.


"Bara cerita semuanya sama kamu?" tanya Daniel tiba-tiba, ketika melihat bunda An dan Aira sudah keluar dari ruangan. Echa hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayah cuman mau... Bara jadi suami sekaligus ayah yang bisa bagi waktu buat keluarga dia nantinya." ucap Daniel sambil menghela nafasnya panjang dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayah tau, Cara ayah ke Bara itu salah. Tapi, tujuan ayah biar Bara gak jadi kayak ayah yang sama sekali gak bisa bagi waktu buat keluarga, ayah mau tau seberapa tegas Bara ketika kehidupannya di usik, ayah juga bikin Bara marah, cuman mau tau gimana Bara mengambil keputusannya ketika lagi marah." jelas Daniel dengan mata yang berkaca-kaca. Dia akui caranya memang salah tapi semua demi kebaikan Bara. Daniel tidak ingin Bara menjadi seperti dirinya. Daniel hanya ingin tahu bagaimana Bara menyikapi semuanya ketika dalam keadaan marah dan ternyata apa yang diterima olehnya sesuai dengan ekspektasi. Bara tegas, teguh pada pendiriannya, selalu punya alasan dan terbuka kepada Echa. Yang nanti akan menjadi istrinya.


"Tapi, kak Bara..." ucap Echa yang langsung di timpah oleh ucapan Daniel.


"Ayah udah siap terima konsekuensi kalau Bara benci sama ayah." ujar Daniel sambil menyeka air mata yang menetes dari matanya, "Udah, ayo. Nanti Bara tambah marah kalau lama sama Caca." Daniel tersenyum menatap Echa yang sedang menganggukkan kepalanya.


Daniel dan Echa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan untuk menuju parkiran. Namun saat di perjalanan Echa melihat hantu tanpa kepala sedang menunggu seorang pasien lansia yang terlelap dalam tidurnya.


Dia mengalihkan pandangan ketika melihat hantu mulai membalikkan tubuh seperti ingin melihat kearahnya.


"Kenapa, Ca?" tanya Daniel ketika melihat Echa ketakutan.


"Eh.. itu, enggak apa-apa." jawab Echa.


"Om Daniel." panggil seseorang. Echa dan Daniel langsung melihat kearah sumber suara yang memanggilnya itu.


"Eh, Vin." sahut Daniel.


"Apa kabar, om?" tanya laki-laki berwajah tampan, kulit putih, mata berwarna coklat indah, sama percis seperti Bara, hidung mancung, alis lumayan tebal dan senyuman manis dengan name tag Kevin.


"Baik, kamu kenapa disini?" tanya Daniel sambil menepuk pelan bahu Kevin yang sedang mencium punggung tangannya.


"Biasa om, lagi magang." jawab Kevin sembari menatap kearah Daniel.


"Really? Sejak kapan?" tanya Daniel.


"Baru hari ini," jawab Kevin sekilas menatap kearah Echa yang berada disamping Daniel.


"Pantes aja om baru liat." ucap Daniel.


"Om sendiri kenapa disini?" tanya Daniel.


"Aira sakit. Tapi, sekarang udah pulang." jawab Daniel.


"Syukurlah, sekarang dimana Aira?" tanya Kevin.


"Udah nunggu di parkiran," jawab Daniel yang melihat Kevin sesekali menatap kearah Echa.


"Kenalin, Echa. Anak om." ucap Daniel sambil memperkenalkan Echa kepada Kevin.


"Kakak bisa panggil Caca aja," ucap Echa dengan senyuman manis tanpa mengulurkan tangannya.


"Kevin." ujar Kevin memperkenalkan dirinya.



"Kevin baru tau om punya anak cewek selain Aira, cantik lagi." ucap Kevin.

__ADS_1


"Kenapa emangnya? Mau jadiin istri?" tanya Daniel tertawa pelan. Sedangkan Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Daniel seolah meminta penjelasan.


"Boleh, om." jawab Kevin sambil tersenyum kearah Echa.


"Bilang dulu sama Bara, soalnya punya dia." ucap Daniel.


"Lah om, kalau urusannya sama Bara, Kevin mending mundur ajalah." ujar Kevin.


"Kapan-kapan mampir kerumah ya, om takut kena amuk Bara kalau lama-lama sama istrinya." ucap Daniel. Sedangkan Echa yang mendengar itu merasakan panas disekitar pipinya.


"Eh, Bara udah nikah? Kok Kevin gak tau, om?" tanya Kevin bingung.


"Udah, nanti mampir aja kerumah, kalau mau tau jawabannya" jawab Daniel sambil menggenggam tangan Echa untuk mengikuti dirinya.


"Om. Kenapa Kevin gak di undang?" tanya Kevin ketika melihat Echa dan Daniel melangkahkan kakinya pergi.


Daniel melepaskan genggaman tangannya ketika akan memasuki parkiran.


"Jangan kasih tau Bara soal penjelasan ayah yang tadi," ucap Daniel.


"Caca gak bisa janji, yah." ujar Echa.


"Ayah percaya sama kamu," ucap Daniel sambil mengelus rambut Echa dengan senyuman manisnya.


"Kamu pergi duluan gih," ujar Daniel. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang duduk di atas motor membelakanginya.


Kali-kali kerjain kak Bara, seru kayaknya. ucap Echa dalam hati sambil memikirkan hal apa yang akan dia lakukan pada Bara.


Caca mau tau reaksi kak Bara kalau di panggil nama. ujar Echa dengan senyuman jahilnya.


Selama ini, Echa selalu memanggil nama Bara ketika Bara sedang melakukan kesalahan. Echa ingin tahu reaksi Bara jika dipanggil nama tapi tidak melakukan kesalahan apapun. Meskipun dia juga sedikit takut.


"Bara." panggil Echa sambil berdiri dihadapan Bara dengan senyuman manisnya.


"Apa? Sekali lagi?" tanya Bara dengan mata menyipit.


"Bunda sama Aira mana?" tanya Echa yang masih menampilkan senyuman manisnya tanpa menjawab pertanyaan yang Bara ajukan padanya.


"Gak tau." jawab Bara singkat.


"Coba sekali lagi," ujar Bara menatap kearah Echa dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tadi katanya mau nyusul, Bara." ucap Echa penuh penekanan.


"Kakak punya salah apa?" tanya Bara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Enggak." jawab Echa.


"Ca... Kakak punya salah apa? Bilang sama Kakak, jangan pake kode-kode." ucap Bara.


"Tadi, ayah bilang bawa mobil ayah. Biar ayah yang pake motor." ujar Echa sambil memberikan kunci mobil Daniel kepada Bara.


"Ca... Jawab pertanyaan kakak." ucap Bara dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diajak bercanda. Bahkan kunci mobil Daniel masih belum diambil oleh Bara.


"Enggak Kak, Caca cuman bercanda," ujar Echa cengengesan.


"Jangan gitu lagi." ucap Bara dengan tatapan dingin.


"Maaf... Jangan marah," ujar Echa sambil menangkup wajah Bara.


"Hm" gumam Bara yang melepaskan tangan Echa dari wajahnya dan mengambil kunci mobil Daniel dari tangan Echa.


"Kakak, jangan marah... Caca cuman bercanda" ucap Echa yang melihat Bara hanya diam saja.


Echa kembali menangkup wajah Bara agar menatap matanya. Dia harus mengeluarkan panggilan yang Bara tunggu-tunggu keluar dari mulutnya.


"Sayang, maaf... " ucap Echa menatap lekat wajah Bara.


"Apa? Sekali lagi, gak denger." ujar Bara yang masih memasang wajah dinginnya.


"Maaf." ucap Echa.


Bara memutar bola matanya malas sambil melepaskan tangan Echa dari wajahnya.

__ADS_1


"Sayang..." panggil Echa, ketika Bara mengeluarkan Ekspresi seperti itu.


"Gak denger." sahut Bara yang masih memasang wajah dingin sambil menatap kearah Echa.


"Sayang, maaf..." ucap Echa sambil tersenyum manis dengan tatapan memohon.


"Apa? Gak denger." ujar Bara.


Ish, budeg. Sabar Ca, lagian Caca sendiri yang cari masalah. Untung sayang. ucap Echa dalam hati sambil menatap Bara.


"Sayang," panggil Echa sambil menangkup wajah Bara dan tersenyum manis. Bara masih diam tak berkutik dengan tatapan dinginnya.


"Sayang, maafin Caca..." ucap Echa ketika Bara masih diam saja.


"Sayang," panggil Echa lagi.


"Aduh, Sweet nya." ucap seseorang yang mampu membuat Echa malu setengah mati.


"Eh... bunda,ayah." ujar Echa sembari menahan malu ketika bunda An dan Daniel berada di hadapannya.


Bara tersenyum tipis ketika melihat wajah memerah milik Echa.


"Kak Caca, Aira mau denger lagi," ucap Aira yang juga ikut menggoda Echa. Anak kecil usia 7 tahun ini sangat piawai dalam menggoda.


"Eh..." ujar Echa sambil menatap kearah Bara seolah meminta bantuan padanya.


"Udah, ayo." ajak Bara sembari menggendong tubuh Aira untuk masuk kedalam mobil di ikuti Echa yang sudah seperti kepiting rebus. Sedangkan kunci motor, Bara sudah simpan di motornya.


"Kakak, Aira mau jalan aja." ucap Aira dalam gendongan Bara. Bara yang mendengar itu langsung menurunkan Aira.


"Kakak, sih. Caca jadi malu." bisik Echa sambil mencubit lengan Bara.


"Aww...Sakit." ringis Bara ketika Echa mencubit lengannya.


"Bodo amat." ucap Echa sambil memeletkan lidahnya.


Bara yang melihat itu langsung memeluk tubuh Echa dan menyembunyikan wajah Echa di dada bidang miliknya.


"Lucu." ujar Bara sambil mencium pucuk kepala Echa.


"Jahat, tau gak?" tanya Echa dengan wajah cemberut.


"Caca sendiri yang mulai duluan." jawab Bara.


"Iya juga sih," ucap Echa tertawa pelan.


"Sayang..." panggil Bara dengan nada lembut dan tatapan teduhnya sambil tersenyum manis menatap kearah Echa yang juga menatap dirinya.


"Kakak!" ucap Echa geram ketika Bara malah menggodanya.


"Apa, sayang?" tanya Bara sambil tersenyum tipis.


"Kevin siapa?" tanya Echa yang penasaran dengan Kevin, lelaki yang menyapa Daniel.


"Ketemu dimana?" tanya Bara yang langsung memberhentikan langkahnya ketika mendengar nama Kevin. Bahkan tatapannya sulit diartikan.


"Di rumah sakit, katanya lagi magang." jawab Echa.


"Papa bilang apa sama dia tentang Caca?" tanya Bara.


"Nanti Caca cerita di mobil, Aira udah nunggu." ucap Echa sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil.


Namun saat Echa masuk kedalam mobil, dia melihat Aira yang duduk di kursi belakang.


"Lho, Aira. Kenapa di kursi belakang?" tanya Echa yang mendudukkan dirinya di kursi depan.


"Aira lagi mau dibelakang aja kak, jangan di temenin ya. Mau tidur." jawab Aira sambil memejamkan matanya.


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ca..." Panggil Bara yang sedang membuka pintu mobil.


"Jangan berisik." sahut Echa. Bara melihat kearah Aira yang sedang memejamkan matanya.

__ADS_1


Bara melajukan mobil Daniel dengan kecepatan standar, dia menatap kearah Echa yang sedang memejamkan matanya.



__ADS_2