
Saat ini Echa sudah selesai membersihkan dirinya dan membereskan apartemen miliknya dalam waktu 25 menit.
Echa, Hanin, Ivy dan Shiren berencana untuk ikut memilih baju tunangan dan Bridesmaid bersama dengan Mutiara.
"Akhirnya selesai." Ucap Echa sambil menghela nafasnya panjang ketika apartemen miliknya sudah tidak berantakan seperti tadi.
Echa langsung membuka layar ponsel dan memberi pesan singkat pada grup WhatsApp teman-temannya.
...Otw Nikah....
^^^Udah siap?^^^
Hanin udah dari 5 menit yang lalu.
Shiren lagi di baju.
^^^Vivi mana?^^^
Kayaknya lagi minjem kunci mobil
Echa tidak membalas lagi pesan dari teman-temannya itu, dia langsung beralih pada kontak Bara.
...KangMarah....
^^^Kakak, Kapan pulang?^^^
6
^^^Caca mau pergi sama Kak Tiara^^^
^^^Sama yang lain juga.^^^
Jngn lama
Echa hanya membaca pesan yang begitu singkat, padat dan jelas dari Bara. Itulah Bara, tidak ingin ribet.
"Baru jam 4." Ucap Echa yang melihat kearah jam dinding.
Cklek.
Pintu apartemen Echa terbuka, menampilkan Shiren yang berada di ambang pintu.
"Ayo Ca." Ajak Shiren.
"Kak Tiara sama Vivi?" Tanya Echa.
"Lagi ke apartemen Hanin." Jawab Shiren.
"Ayo." Ucap Echa sambil menyimpan ponsel ke saku jaketnya dan membawa kunci apartemen.
Echa dan Shiren melangkahkan kakinya menuju apartemen Hanin. Tak lama kemudian Hanin, Mutiara dan Ivy keluar dari apartemen miliknya tersebut.
"Nyetir mobil siapa?" Tanya Mutiara.
"Hanin aja." Jawab Hanin.
"Yaudah ayo." Ajak Mutiara.
Mereka semua melangkahkan kakinya menuju lift yang agak lumayan jauh. Tiba-tiba saja di pertengahan jalan menuju apartemen Echa dan Shiren merasakan ada sesuatu yang mengikuti dan mengawasinya dari belakang.
"Tunggu." Ucap Shiren mencegah teman-temannya untuk melangkah maju.
"Kenapa?" Tanya Mutiara.
"Shiren ngerasa ada yang gak beres di belakang kita." Jawab Shiren.
"Caca juga ngerasa ada yang ngawasin." Ucap Echa.
"Mau liat kebelakang?" Tanya Ivy ragu.
__ADS_1
"Bareng." Jawab Mutiara.
"Kalau itu sosok yang jahat jangan lari. Hanin gak mau terjadi apa-apa." Ucap Hanin.
Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan di saat itu mereka melihat kearah belakang.
Penglihatan mereka langsung di suguhkan oleh sosok yang pernah Echa temui saat kematian Tania. Berbulu, hitam, mata merah menyala dan kuku panjang.
"Apa itu?" Tanya Mutiara yang kaget melihat sosok dihadapannya.
"Kakak juga ngeliat?" Tanya Echa. Mutiara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Vivi juga liat." Jawab Ivy yang sama melihat sosok mengerikan di hadapannya.
"Auranya jahat banget, energinya cukup kuat, jadi dia menampilkan dirinya di hadapan kita." Ucap Hanin.
"Terus kita harus gimana?" Tanya Mutiara.
"Lari kena imbas, diem juga nanti malah apes." Jawab Ivy.
"Shiren gak tau harus gimana, matanya takut banget." Ucap Shiren.
"Mundur perlahan." Ujar Hanin sambil menggenggam tangan Echa dan Ivy yang berada di sampingnya. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain seolah bersiap untuk lari.
"Lari!" Teriak Hanin.
Mereka semua langsung lari sebisa mungkin untuk menuju lift yang masih agak jauh. Namun sosok mengerikan itu langsung memanjangkan tangan untuk mencegah Echa dan teman-temannya melangkah maju.
"Kalian tidak bisa pergi." Ucap sosok tersebut dengan suara yang berat dan sangat menakutkan hingga bulu kuduk mereka berdiri.
Sosok itu memajukan tangannya dan mau tak mau mereka semua harus berjalan mundur, sosok itu sama sekali tidak memberi celah jalan keluar untuk mangsanya.
"Berbalik." Ucap Mutiara yang merasakan merinding di sekujur tubuhnya.
Mereka semua membalikkan tubuhnya dan pemandangan masih sama, sosok mengerikan itu kini terlihat sangat dekat dengan mereka.
Mereka saling berpegangan sangat erat, seolah menguatkan satu sama lain di situasi yang menakutkan seperti ini.
Bahkan tangan dari sosok itu masih menghalangi jalan mereka dan kini tubuh dari sosok itu melebar, seolah tidak memberi jalan kepada siapapun.
"Ca, gimana dong?" Tanya Shiren.
"Caca juga gak tau." Jawab Echa.
"Hanin udah gak bisa mikir, takut banget." Ucap Hanin dengan nafas yang terengah seolah habis lari maraton.
"Kalian tidak bisa lari dariku, kalian adalah makananku." Ujar sosok tersebut.
"Apa maksudmu?" Tanya Echa.
"Kalian sudah menjadi stok makananku." Jawab sosok tersebut
"Kami tidak berbuat kesalahan tapi kenapa kami dijadikan makananmu?" Tanya Echa.
"Karena dia menyuruhku untuk menghabisi kalian." Jawab sosok tersebut dengan air liur yang menetes.
"Siapa dia?" Tanya Hanin.
"Kenapa kau sangat ingin tahu tentang tuanku?" Tanya sosok tersebut.
"Karena kami ingin memperbaiki kesalahan kami." Jawab Echa.
Sosok itu tidak menjawab perkataan Echa dia mengangkat satu tangannya dan mengarahkan pada Echa.
BRUGH...
Tubuh Echa menghantam dinding dengan sangat keras, membuat suara yang begitu terdengar di lorong gelap ini.
__ADS_1
"Caca!!" Teriak Hanin, Ivy, Shiren dan Mutiara yang melihat Echa di lempar sangat jauh kearah dinding.
"Argh.." Ucap Echa ketika tubuhnya jatuh di lantai, darah keluar dari hidungnya bahkan di tembok itu ada sedikit darah yang mungkin keluar dari belakang kepala Echa.
Sosok itu tertawa sangat keras ketika Echa meringgis kesakitan, tawa yang mampu membuat gendang telinga semua orang tidak berpungsi.
"Berhenti!" Teriak Ivy yang tidak kuat mendengar suara tawa dari sosok terssebut.
Suara tawa itu kini berhenti, di gantikan dengan tangannya yang mulai melempar tubuh Ivy ke tembok samping.
BUGH..
Suara hantaman lagi, tubuh Ivy di lempar samping dinding yang tidak jauh dari tempat Echa, hingga keningnya membentur ke pintu apartemen yang mungkin tidak ada orang.
"Vivi!!" Teriak Hanin, Shiren dan Mutiara kompak.
"Sakit.." ucap Ivy sambil memegang kepalanya yang terasa pening dan berdengung.
"Vivi.." ujar Echa yang melihat Ivy mulai kehilangan kesadarannya.
Echa berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Ivy, meskipun tubuhnya terasa begitu sakit.
Entah seberapa kuat energi dan kekuatan dari sosok mengerikan ini, mereka mampu membuat semua orang yang berada di apartemen seolah tidak mendengar kebisingan dan kekacauan yang ada di sini, bahkan cctv pun seolah tidak.bekerja.
Namun Echa dapat melihat seperti ada penghalang agar aksi dari sosok tersebut berjalan mulus dan lancar dan pastinya ada orang dibalik semua ini, tidak mungkin sosok ini bekerja sendirian.
"Giliran kalian." Ucap sosok tersebut.
"Tidak! Tolong!!" Teriak Shiren.
"Tidak akan ada yang mendengar atau bahkan yang melihat semua ini." Ucap sosok tersebut dengan seringai yang begitu mengerikan.
Sosok tersebut langsung melempaar tubuh Hanin, Shiren dan Mutiara secara bersamaan kearah pegangan tangga.
BUGH.. DUGH..
"Argh.." ringgis mereka bertiga ketika punggungnya seolah dipatahkan oleh pegangan tangga yang terbuat dari besi, tapi untungnya mereka tidak sampai jatuh kebawah.
"Mereka sungguh lemah." Ucap sosok tersebut sambil melihat kearah Echa yang berusaha menggapai tubuh Ivy yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ah ternyata dia kuat." Ucap sosok tersebut yang melihat Echa sedang mendekati Ivy.
"Ca.. berhenti.." ucap Hanin yang mencoba untuk berdiri ketika sosok itu mengulurkan tangannya untuk mencekik Echa.
"Caca.." panggil Mutiara lemah.
"Argh.. to-lo-ng.." ucap Echa ketika sosok itu berhasil mencekik lehernya.
"Caca!!" Teriak Hanin sambil berlari kearah sosok itu, namun sosok tersebut langsung melempar tubuh Hanin ke arah pintu apartemen
BRUGH..
"Arghh!!" Teriak Hanin ketika pelipisnya terbentur ke pegangan pintu.
Echa mulai kehilangan oksigennya, bibirnya pucat hingga terbatuk-batuk.
"Kau akan mati sekarang." Ucap sosok tersebut.
"Jangan.. Caca!" Teriak Shiren yang tiba-tiba saja kepalanya pening.
"Arghh.." Ucap Echa dengan mata yang berkaca-kaca, mungkin saja lehernya sudah membiru.
"Mati." Ucap sosok tersebut dengan mata melotot dan seringai mengerikan.
"Caca.." panggil Hanin lemah dengan mata yang mulai buram.
"Ca.." panggil Mutiara yang langsung kehilangan kesadarannya.
"Mati." Ucap sosok itu ketika Echa mulai meneteskan matanya, bahkan kuku tangannya yang satu lagi siap untuk menancap tepat di jantung Echa.
__ADS_1
"Kakak!!" Teriak Echa di sela-sela nafasnya.