TEROR

TEROR
|109| PENGHIANAT


__ADS_3

Echa merasakan dirinya sedang berada di ruangan gelap yang dikelilingi oleh banyak lilin dengan angin berhembus kencang. Sayup-sayup telinganya mendengar sebuah percakapan.


"Kau sudah mendapatkannya?" tanya seorang wanita yang tidak diketahui keberadaannya.


"Sampai saat ini, belum. Aku baru membuat mereka celaka. Dan untuk target yang kau suruh, sesuai dengan perintah mu." jawab seorang wanita yang suaranya sangat Echa kenali.


"Menyiksanya secara perlahan." ucap wanita yang tadi bertanya.


"Aku tidak menyangka bisa sejahat ini pada mereka, apa aku yang terlalu apik atau mereka yang terlalu naif?" tanya wanita yang suaranya sangat amat Echa kenali. Tapi, dia tidak bisa mengungkapkannya.


"Mereka nya saja yang terlalu naif, bahkan teman yang benar-benar mereka anggap sebagai sahabat ternyata seorang penghianat. Aku suka caramu bermain," jawab wanita pertama tadi.


"S*alan. Ternyata kata-katamu itu bisa menamparku." ucap wanita yang suaranya Echa kenali.


"Ini adalah kenyataan yang harus mereka terima. Berdiskusi dengan musuh sendiri." ujar wanita tersebut.


Percakapan itu terdengar menggema di ruangan, Echa tidak tahu dimana keberadaan dua orang wanita yang sedang berbicara tentang penghianatan. Namun yang pasti, Echa sangat mengenali suara dari salah satu wanita tersebut.


Kepalanya terasa pening, suara berdengung dari telinganya muncul begitu nyaring membuat Echa harus menutup telinga sembari menahan rasa sakit di kepalanya. Tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.


"Ca," panggil seseorang sambil mengelus rambut Echa yang sedang memejamkan matanya.


Echa perlahan membuka matanya, ketika mendengar suara yang memanggil namanya.


"Bangun, sarapan dulu" ucap orang tersebut dengan senyuman manis dan semangkuk bubur yang berada di tangannya.


"Kakak, jam berapa?" tanya Echa yang melihat Bara dihadapannya.


"Aw..." Echa meringgis kesakitan ketika bangun dari tidurnya tanpa menyadari bahwa perutnya masih luka karena kejadian semalam.


"Hati-hati." ucap Bara yang membantu Echa agar bisa nyaman dengan duduknya.


Echa memegang perut sebelah kanan yang masih terasa sakit, dia menghela napas agar bisa meredakan rasa sakit diperutnya sembari menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat tidur.


"Makan dulu ya," ujar Bara.


"Heem, sebentar." ucap Echa sambil menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 8 lebih 30 menit.


Bara menghela nafasnya panjang sambil menggenggam tangan Echa. "Kakak udah telpon Ibu sama Mama tentang keadaan Caca."

__ADS_1


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Bara. "Kak, Caca udah bilang, jangan kasih tau Ibu sama Bunda. Nanti yang dimarahin kakak, padahal yang salah Caca. Caca yang gak dengerin kakak."


"Maaf... Kakak gak bisa bilang sama Ibu kalau Caca baik-baik aja, Kakak mendingan dimarahin habis-habisan daripada harus bohong sama Ibu atau Mama." ucap Bara sambil menundukkan kepalanya.


Echa menghela nafasnya panjang sambil menggenggam tangan Bara. "Bunda dimana?" tanyanya sembari melihat kearah Bara yang masih menundukkan kepala.


"Masih belum pulang," jawab Bara sambil menatap mata Echa.


"Aira?" tanya Echa.


"Ada di bawah sama yang lain, tadi juga dia kesini. Tapi, gak berani bangunin." jawab Bara.


"Gimana keadaan yang lain?" tanya Echa dengan tatapan khawatir.


"Mereka baik-baik aja," jawab Bara sambil menyuapkan bubur kedalam mulut Echa.


Echa menerima suapan bubur tersebut sambil menahan rasa sakit di perutnya yang semakin perih.


Drt ... Drt ...


Tiba-tiba saja ponsel Bara bergetar ketika ingin memberi suapan lagi kepada Echa.


Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melihat siapa yang menelponnya itu. Dia menatap kearah Echa ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Echa penasaran ketika Bara malah menatap dirinya bukan mengangkat telpon tersebut.


"Mama, Video Call" jawab Bara yang masih belum mengangkat video call bunda An.


"Angkat aja," ucap Echa sambil tersenyum untuk meyakinkan Bara.


Bara mengangkat video call tersebut sambil memejamkan matanya, seolah dia mengetahui apa yang akan terjadi jika sudah tersambung.


"Bara!! Kamu ini! Dimana Caca?!" teriak bunda An yang mampu memenuhi kamar Bara. Bahkan Echa saja menutup telinganya ketika mendengar teriakan bunda An.


"Eh... Ada ma," ucap Bara sambil membuka matanya.


"Kamu gimana sih!" ujar bunda An kesal.


Echa yang mendengar bunda An akan memarahi Bara itu, langsung mengambil ponsel Bara sambil tersenyum manis kearah bunda An yang terpampang di layar ponsel milik kekasihnya itu.

__ADS_1


"Caca baik-baik aja, bunda." ucap Echa sambil tersenyum manis.


"Kamu beneran baik-baik aja kan? Ada yang sakit? Kemana Bara sampai gak nganter kamu keluar?" tanya bunda An bertubi-tubi.


"Caca baik-baik aja, Bunda. Dan soal yang semalam. Kak Bara gak salah, Caca yang gak mau dengerin apa kata kak Bara. Caca juga yang maksa kak Bara biar gak ditemenin keluar." jawab Echa yang masih tersenyum manis.


"Syukur kalau kamu baik-baik aja, udah sarapan?" tanya bunda An sambil tersenyum manis.


"Ini lagi sarapan, Bunda kapan pulang?" tanya Echa.


"Sebentar lagi pulang, yaudah bunda tutup dulu ya, biar cepet pulang." jawab bunda An sambil melambaikan tangannya di layar ponselnya.


"Iya bunda." ucap Echa membalas lambaian tangan bunda An.


Tut.


Echa memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya setelah bunda An menutup sambungannya.


"Kak..." panggil Echa sambil menatap Bara.


"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Bara khawatir. Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Terus?" tanya Bara bingung.


"Caca mau ke kamar mandi." jawab Echa sambil menundukkan kepalanya malu.


Bara tertawa pelan mendengar perkataan Echa. "Mau kakak panggilin siapa?"


"Gak perlu, anterin aja sampai pintunya, Caca bisa sendiri." jawab Echa yang masih menundukkan kepalanya.


Bara yang mendengar perkataan itu langsung mengendong tubuh Echa untuk menuju kamar mandi.


"Kakak! kaget!" ucap Echa ketika Bara tiba-tiba saja mengendong tubuhnya.


"Maaf," ujar Bara sambil menurunkan Echa ketika sudah sampai di depan pintu kamar mandi.


"Yakin bisa sendiri?" tanya Bara ketika melihat Echa menahan rasa perih di perutnya ketika melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.


"Yakin." jawab Echa sambil menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2