TEROR

TEROR
|110| MUSUH


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Roslyn dengan raut wajah khawatir menatap anak sematawayangnya.


"Caca baik-baik aja, Bu." jawab Echa sambil tersenyum manis.


Beberapa menit yang lalu, Roslyn dan Qiara mengunjungi rumah Bara untuk melihat Echa. Dia ingin sekali menemani putrinya itu, tapi pekerjaan membuat Roslyn sulit untuk membagi waktu. Apalagi perusahaannya itu sedang banyak masalah.


Roslyn tidak bisa menyuruh Echa pulang kerumahnya, dia tidak bisa selalu berada disampingnya tapi jika Echa tinggal di rumah Bara. Setidaknya ada bunda An, Bara, Helena, Edwin dan Aira yang bisa memperhatikan Echa.


Ada rasa sakit dihatinya ketika tidak bisa menemani putrinya dikala sedang sakit.


Sedangkan Qiara malah asyik bermain dengan Aira dan teman-teman Echa yang lainnya di bawah. Bahkan, suara gelak tawa dari dua anak kecil dalam masa pertumbuhan itu terdengar sampai kamar Bara.


"Inget ya. Setelah kejadian ini, denger apa kata Bara." ucap Roslyn yang sedang menggenggam tangan Echa.


"Iya, Bu." ujar Echa.


"Kamu juga, semalem kemana? Gak ada waktu buat nganter Caca keluar?" tanya Bunda An yang juga berada di dalam kamar Bara.


"Ma, Caca sendiri yang nolak." jawab Bara.


"Iya, Bunda. Kak Bara udah kasih tau Caca tapi Caca nya gak mau." ucap Echa sambil menatap kearah bunda An.


"Awas ya kalau sampai kejadian kayak gini terjadi lagi. Mama gak bakalan maafin kamu." ujar bunda An.


"Udah, An. Bara gak salah." ucap Roslyn membela Bara yang sejak tadi terus dimarahi oleh bunda An.


"Ini siapa si mama Bara sama mama nya Caca?" gumam Bara yang mendengar Roslyn dan bunda An saling beradu argument.


Echa dan Bara hanya saling menatap satu sama lain seolah bertanya, bagaimana cara memberhentikannya?


"Bu, Ma... Udah ya, Caca butuh istirahat. Kepalanya sakit kalau denger Mama sama Ibu kayak gini, diluar aja yuk lanjutin nya." ucap Bara sambil menggenggam tangan Roslyn dan bunda An untuk keluar dari kamarnya itu.


Namun saat Bara ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja, Desvita- ibunya Hanin sedang berdiri diambang pintu.


"Vita." panggil Roslyn sambil tersenyum manis.


"Apa kabar Tante?" tanya Bara ketika berada dihadapan Desvita.


"Baik," jawab Desvita sambil tersenyum manis.


"Kayaknya bunda kedatangan tamu banyak, harus cepet-cepet masak." ucap bunda An sambil tersenyum senang.


"Gak perlu repot-repot, An. Aku gak bakalan lama kok, cuman mau liat Caca aja," ujar Desvita.


"Kamu ini, kebiasaan. An turun dulu kebawah ya, mau minum apa?" tanya bunda An kepada Desvita.


"Apa aja, tolong juga panggil Nathan sama Hanin buat kesini," jawab Desvita.


"Kayaknya bakalan ada berita baik," ucap Roslyn. Desvita hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau Vita sampai kesini, gak boleh ketinggalan, yaudah An bawa dulu minum ya," ujar bunda An sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.


Desvita melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Bara sambil mendudukkan dirinya di samping Echa.


"Tante Vita, apa kabar?" tanya Echa sambil tersenyum manis menatap seorang wanita cantik berumur 40 tahun yang terlihat masih awet muda.

__ADS_1


"Baik, kamu gimana?" tanya Desvita sambil mengelus lembut rambut Echa.


"Udah agak mendingan, Tante." jawab Echa.


"Apa ada sesuatu yang tidak beres?" tanya Roslyn sambil menatap kearah Desvita.


Desvita yang mendengar pertanyaan tersebut langsung menatap kearah Roslyn sambil menghela nafasnya panjang.


"Mama," panggil Hanin yang berada diambang pintu kamar Bara bersama dengan Nathan.


"Tutup pintunya," ucap Roslyn.


"Ada apa, Bu?" tanya Echa sambil mengerutkan dahinya.


Hanin tidak mengucapkan apapun, dia menutup pintu kamar Bara sesuai perintah dari Roslyn.


Desvita menatap kearah Roslyn sambil menganggukkan kepalanya, seolah ada sesuatu yang tidak beres sedang mengintai mereka semua.


"Tunggu, ini ada apa?" tanya Hanin bingung.


Desvita tidak menjawab pertanyaan Hanin maupun Echa, dia mengeluarkan sebuah buku. Saat Desvita membuka buku itu, keluar cahaya berwarna kuning keemasan bersama dengan api



"Buku ini, bukan sembarangan buku catatan biasa. Selama bertahun-tahun, buku ini tidak menampakkan api di dalamnya. Namun beberapa hari kebelakang, buku ini tiba-tiba saja mengeluarkan api," ucap Desvita.


"Buku apa ini? Kenapa bisa ada api di dalam buku?" tanya Nathan penasaran.


"Salah satu buku dari leluhur yang terpilih untuk menghabisi penganut ilmu hitam. Dulu, buku ini berisi 3 elemen. Air, angin dan cahaya. Itu sebagai tanda ketenangan. Tapi, tiba-tiba saja berubah menjadi api." jawab Roslyn sambil menatap buku yang mengeluarkan cahaya keemasan.


"Adanya sebuah penghianatan." jawab Roslyn yang kini beralih menatap kearah depan dengan tatapan kosong.


"Penghianatan?" tanya Echa kembali teringat tentang mimpi yang menimpanya tadi malam.


"Iya, teman-teman kalian ada yang menjadi penghianat. Selama ini, kalian berdiskusi dengan musuh sendiri, berjalan beriringan bersama musuh." jawab Desvita menatap buku yang ada dihadapannya. Api yang ada di dalam buku itu semakin besar.


"Kita?" tanya Hanin.


"Hanya kalian yang Ibu sama Tante Vita percaya." jawab Roslyn.


"Tunggu, Ibu sama Tante Vita ini..." ucap Echa tertahan.


"Ya, Mama sama Ibu Ros generasi pertama yang pernah diberi kepercayaan untuk memusnahkan ilmu hitam. Tapi, gagal karena adanya penghianatan." jelas Desvita.


Echa, Bara, Hanin dan Nathan kaget mendengar pengakuan dari Desvita. Mereka tidak pernah tahu jika Desvita dan Roslyn ini adalah generasi pertama.


"Termasuk Mama?" tanya Bara dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Iya," jawab bunda An yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar Bara dengan nampan ditangannya yang ditempati gelas berisi jus.


Bara benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Selama ini, bunda An juga generasi pertama seperti Roslyn dan Desvita. Bahkan Echa, Hanin dan Nathan pun merasakan hal yang sama.


"Itu kenapa kalian selalu dipertemukan dengan orang-orang yang punya kemampuan lebih, ini jalan takdir hidup kalian." sambung bunda An sambil menyimpan nampan tersebut diatas meja.


"Tunggu, Hanin masih belum paham, apa maksudnya?" tanya Hanin yang masih belum percaya bahwa Ibunya adalah generasi pertama.

__ADS_1


"Singkatnya, Ibu, Bunda An sama Mama kamu adalah peneliti buku ini." jawab Roslyn sambil menatap kearah buku yang berada dihadapan Desvita.


"Bukannya buku ini dari leluhur terus dikasih sama Mama?" tanya Hanin.


"Buku ini memang dari leluhur. Namun, sebelum mereka menceritakan isi dan makna di dalamnya, mereka sudah tiada. Dengan terpaksa Ibu, Bunda An sama Tante Vita yang mencari semua makna dan arti dalam buku tersebut." jelas Roslyn.


"Kenapa Ibu gak pernah cerita?" tanya Echa sambil menatap lekat mata Roslyn.


"Karena belum waktunya Ibu cerita tentang latar belakang hidup Ibu. Dan ini saat yang tepat kalian mengetahui semuanya." jawab bunda An.


Kaget? Tidak percaya? Echa merasakan itu secara bersamaan ketika mendengar pengakuan dari tiga orang tua yang menjelaskan latar belakang hidupnya yang tidak pernah mereka ketahui selama ini.


"Jadi, mama tau kalau Aira..." ucap Bara.


"Iya, mama tau. Tapi sayang, kemampuan yang mama miliki turun ke kamu sama Aira. Jadi, Mama gak bisa apa-apa." ujar bunda An sambil tersenyum kearah Bara.


"Ini bukan waktunya buat keluarin semua pertanyaan yang ada di kepala kita. Jadi, kenapa Mama cuman manggil kita?" tanya Hanin.


"Ca, kamu udah dapet mimpi tentang penghianat itu kan?" tanya Roslyn tanpa menatap kearah Echa.


Hanin, Nathan dan Bara yang mendengar pertanyaan seperti itu langsung menatap kearah Echa. "Oke, Caca ceritain."


Echa menceritakan semua mimpi yang dialaminya tadi malam, sebuah percakapan tentang penghianatan.


"Awalnya, Caca gak percaya sama Hanin tentang musuh dalam selimut itu. Tapi setelah dapet mimpi tadi malam Caca jadi takut sendiri dan gak tau harus cerita ke siapa." ucap Echa sambil menghela nafasnya panjang.


Namun, saat bunda An ingin mejelaskan sesuatu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Bara.


Tok.. tok.. tok..


Semua orang yang berada di dalam kamar tersebut saling menatap satu sama lain, seolah mengatakan untuk tetap tenang dan tidak terjadi apapun.


"Masuk aja," ucap bunda An setelah melihat Desvita sudah memasukan buku dari leluhurnya.


"Vivi capek banget, angkat tangan deh kalau harus jagain Aira sama Qiara." ujar Ivy yang sudah membuka pintu kamar Bara dengan nafas yang terengah-engah.


"Yaudah sama Hanin aja yuk," ucap Hanin sambil menuntun Ivy untuk mengikuti dirinya.


"Nin... Gak liat Vivi udah capek kayak gini? Istirahat sebentar," ujar Ivy.


Namun Hanin tidak mendengar perkataan Ivy, dia terus melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.


"Bar, keluar dulu ya." ucap Nathan sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.


"Gue juga mau keluar." ujar Bara.


"Kak, mau kemana?" tanya Echa ketika melihat Bara keluar dari kamarnya.


"Keluar bentar." jawab Bara.


"Vita mau ngasih ini." ucap Desvita sambil mengeluarkan sebuah surat bertuliskan nama Hanin dan Nathan berserta dengan tanggalnya.


"Wah, apa nih?" tanya bunda An membawa surat tersebut.


"Lamaran?" tanya Roslyn menatap kearah Desvita setelah membaca dengan seksama surat yang diberikan oleh Desvita.

__ADS_1


"Iya," jawab Desvita sambil tersenyum manis.


__ADS_2