TEROR

TEROR
|54| PERISAI


__ADS_3

30 menit telah berlalu, Echa, Bara dan Misha sudah sampai dirumah Bara, mereka melangkahkan kakinya menuju kearah ruang tamu.


Tidak ada siapapun disana bahkan mereka tidak melihat keberadaan Helena dan Edwin.


"Kak, Shasha udah tidur." ucap Echa yang sedang duduk di sofa sambil menggendong Misha yang sudah tertidur sangat pulas.


"Bawa ke kamar kakak aja." ujar Bara yang sedang memainkan ponselnya.


Echa yang mendengar perkataan itu langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bara untuk menidurkan Misha.


Sesampainya di kamar Bara dia langsung menidurkan Misha diatas ranjang milik Bara dengan hati-hati.


Echa mengelus pelan kepala Misha ketika dia terganggu dengan pergerakan Echa, namun ketika Echa ingin bangun tiba-tiba saja Misha memeluk tangannya seperti guling dan perlahan membuka matanya.


Echa yang melihat Misha membuka matanya itu langsung mengelus kepala Misha dan membiarkan bayi mungil itu memeluk tangannya.


"Shasha tidur sama kak Caca dulu ya." ucap Echa sambil tersenyum kearah Misha, sedangkan Misha perlahan menutup matanya kembali tanpa bersuara.


...----------------...


10 menit telah berlalu, Misha sudah tertidur menjemput alam mimpinya terlihat dari nafasnya yang teratur, perlahan Echa membawa ponsel yang berada di saku celana.


Dia belum mengetahui keadaan Ibu dan Ayah nya Ivy setelah pulang dari rumah sakit.


"Halo Vi.." ucap Echa ketika Ivy mengangkat sambungan telponnya.


"Kenapa Ca?" Tanya Ivy.


"Gimana keadaan tante Mari sama Om Fandi?" Tanya Echa sambil menatap kearah Misha yang tertidur lelap memeluk tangannya.


"Udah baik-baik aja Ca, besok juga udah bisa pulang." Jawab Ivy.


"Vivi sama siapa disana?" Tanya Echa.


"Hanin, Kak Azka sama Kak Nathan." Jawab Ivy.


"Udah dulu ya Ca, Vivi mau bantuin mama ke kamar mandi dulu." Sambung Ivy.


"Iya, tutup aja telponnya." Ucap Echa.


Tut.


Ivy langsung mematikan sambungan telponnya sedangkan Echa menyimpan ponselnya itu diatas laci.


Tiba-tiba saja Echa merasakan ada sesuatu yang tidak beres disekitar sini, dia merasakan hembusan angin dari mahluk tak kasat mata.


"Tolong aku." ucap sosok yang pernah mendatangi Echa ketika dirumah sakit


Sosok yang bunuh diri akibat dari ulahnya sendiri.


"Tubuhku sangat sakit." sambung sosok tersebut.


Echa tidak mengindahkan ucapan tersebut dia masih mengelus lembut kepala Misha agar tidak terganggu dengan mahluk tak kasat mata.


"Aku tahu kau bisa melihatku, tolong dengarkan aku, bantu aku." ucap sosok tersebut.


Echa yang sudah geram dengan perkataan yang dilontarkan oleh sosok tersebut langsung memanggil nama Shila.


Biar Shila yang mengurus mahluk tak kasat mata bertopeng ini.


Shila. ucap Echa dalam hati sambil memejamkan matanya memanggil nama Shila.


Tak lama dari panggilan itu Shila langsung muncul di hadapan Echa dengan wajah yang ditekuk.


Namun pandangan Shila langsung tertuju pada sosok yang berada di belakang Echa. Sosok mengerikan. Bermata merah, tubuh yang dipenuhi sayatan, memiliki taring dan berambut panjang mengenai lantai.


"Pergi kau dari sini." ucap Shila kepada sosok yang meminta tolong kepada Echa.


"Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum aku bisa membawa wanita ini." ucap sosok tersebut yang mulai menunjukkan sisi aslinya.

__ADS_1


"Kau ingin membawanya?" Tanya Shila.


"Dia memiliki sesuatu yang bisa membuat aku pergi dari dunia ini." Jawab sosok tersebut.


"Bawa saja, aku memberikannya untuk mu." Ucap Shila tersenyum sinis.


"Shila." Ucap Echa sambil menatap kearah Shila ketika berkata seperti itu.


"Kau yakin?" Tanya sosok tersebut.


"Sangat yakin." Jawab Shila.


Echa hanya menatap kearah Shila yang sedang tersenyum sinis membiarkan sosok itu mendekat kearah Echa.


Dia menatap kearah Shila yang sedang memejamkan matanya, tiba-tiba saja dari dalam tubuh Shila keluar sebuah perisai untuk melindungi tubuh Echa dan Misha yang sedang berada diatas ranjang.


BRUGH..


Tiba-tiba saja sosok yang tadi mendekati Echa terpental sangat jauh mengenai dinding. Tubuhnya sudah setengah hancur karena perisai yang Shila keluarkan.


"Pergi dari sini atau aku akan membuatmu lebih hancur." Ucap Shila menatap tajam kearah sosok tersebut.


Sosok itu menatap tajam kearah Shila seolah tidak terima atas apa yang dilakukan Shila padanya.


"Aku akan kembali membuat kalian hancur." Ucap sosok tersebut.


"Pikirkan dengan baik jika memilih target." Ujar Shila.


Tiba-tiba saja sosok itu menghilang begitu saja dari hadapan Echa sedangkan Shila sudah tidak menggunakan perisai yang dia keluarkan.


"Kalau mau apa-apa bilang dulu, kaget." Ucap Echa sambil menatap kearah Shila.


"Namanya juga refleks ca." Ujar Shila juga menatap kearah Echa.


Mata Shila tertuju pada bayi cantik yang sedang tertidur di samping Echa sambil memeluk tangannya.


"Ya ampun Ca sejak kapan bikin anak sama kak Bara?" Tanya Shila kaget saat melihat bayi imut dihadapannya.


Shila tidak mendengarkan perkataan Echa, dia mendekat kearah bayi cantik yang berada di samping Echa.


"Cantik banget ca, siapa namanya?" tanya Shila melihat bayi dihadapannya.


"Misha." Jawab Echa mengelus lembut pipi Misha.


"Namanya cantik banget, gak kalah cantik sama wajahnya." Ucap Shila.


"Misha sayang, liat Kak Shila gak?" Tanya Shila mengajak Misha berbicara dengannya.


"Lagi tidur Shil, jangan ganggu." Jawab Echa yang melihat Shila meniup wajah Misha gemas.


"Gemes banget Ca." Ucap Shila.


Namun saat Echa ingin membalas perkataan Shila tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk dari seseorang.


Echa langsung melihat notifikasi tersebut, itu nomor Algi yang tadi menelpon padanya.


...Algi...


Udah tidur Ca?


^^^Belum.^^^


Kenapa?


Echa tidak membalas pesan dari Algi, dia menyimpan ponselnya itu diatas laci menatap kearah Misha yang masih tertidur.


"Siapa Ca?" Tanya Shila yang masih tersenyum melihat betapa menggemaskan bayi yang ada di hadapannya itu.


"Algi." Jawab Echa sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Algi?" Tanya Shila penasaran.


"Besok aja ceritanya, Caca ngantuk banget." Jawab Echa yang merasakan matanya sudah berat.


"Tidur aja, Shila masih mau disini." Ucap Shila.


Echa tidak menjawab perkataan Shila, matanya sungguh berat untuk kembali dibuka, dia sangat lelah.


...----------------...


Sedangkan disisi lain Bara masih menatap layar ponsel dan layar laptopnya untuk mengerjakan beberapa tugas.


Cklek..


Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka, Bara langsung menatap kearah pintu dan melihat Helena bersama dengan Edwin membawa beberapa koper.


"Shasha mana Bar?" Tanya Helena yang sudah sangat lelah.


"Sama Caca." Jawab Bara mengalihkan pandangannya.


"Tante titip sebentar dulu ya, mau beres-beres." Ucap Helena.


"Iya, Shasha juga udah tidur." Ujar Bara.


"Tumben bisa tidur sama orang yang belum di kenal." Ucap Helena.


"Mungkin capek." Ujar Bara.


"Kita ke kamar dulu ya, nanti om bawa Shasha." Ucap Edwin.


"Iya, ada dikamar Bara." Ujar Bara.


Edwin dan Helena melangkahkan kakinya menuju kearah kamar tamu yang sudah di bersihkan.


Bara menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.30 pantas saja matanya terasa sangat berat, ternyata sudah larut malam.


Bara menutup layar ponsel dan laptopnya membawa dua barang itu menuju ke kamarnya.


Sesampainya dikamar Bara melihat Echa dan Misha yang sudah tertidur pulas, terlihat sangat menyejukkan mata.


Bara menyimpan pelan laptop dan ponselnya diatas meja, melangkahkan kaki menuju kesamping Misha.


Dia mengelus lembut kepala Misha yang sedang memeluk tangan Echa, jika saja Misha bangun dia akan mengigit pipi chubby itu.


Saat Bara sedang menatap wajah menggemaskan dari Misha tiba-tiba saja ponsel Echa berdering.


Drt...drt..drt..


Bara yang mendengar itu langsung melihat kearah ponsel Echa yang berada diatas laci, dia membawa ponsel tersebut takut mengganggu tidur Echa dan Misha.


Namun saat Bara ingin menolak panggilan tersebut, dia melihat nama Algi tertera dilayar ponsel Echa.


Tanpa berpikir panjang Bara langsung mengangkat sambungan tersebut tanpa mengatakan sesuatu.


"Halo Ca." sapa Algi ketika ponsel yang ditelpon oleh dirinya itu tersambung.


"Kamu udah tidur?" Tanya Algi. Namun Bara tidak menjawab pertanyaan Algi, dia masih menunggu Algi akan berbicara apa saja pada kekasihnya itu.


"Maaf ganggu ya? Yaudah kamu tidur ya, besok aku telpon lagi." Ucap Algi tertawa pelan dibalik sambungan tersebut.


"Good night baby." Sambung Algi yang langsung menutup sambungan telponnya secara sepihak.


Tut.


Bara yang berada dibalik sambungan telpon Echa itu bergidik ngeri, apa yang baru saja dia dengar? Baby?


"Jijik." ucap Bara bergidik ngeri dengan kalimat yang dilontarkan Algi padanya.


Bara langsung menatap kearah Echa yang berada dihadapannya, dia mengelus lembut kepala Echa sambil tersenyum.

__ADS_1


"Makasih udah datang dikehidupan kakak." ucap Bara yang masih mengelus lembut kepala Echa.


__ADS_2