TEROR

TEROR
|38| RENGGANG


__ADS_3

Malam semakin larut, Bara masih belum pulang ketika dia pergi untuk membeli nasi goreng. Sudah satu jam bara belum kembali, padahal jarak ruangan bunda An dengan pintu keluar tidak terlalu jauh.


Hanin sedang menunggu Daniel, menggantikan Mang Agus yang sudah seharian menjaga Daniel dari istirahatnya itu.


"Kakak kemana sih?" Tanya Echa saat melihat jam dinding, ini sudah menunjukkan pukul 23.20, sudah satu jam lamanya Echa menunggu Bara. Echa takut terjadi sesuatu kepada Bara.


"Duh, semoga gak terjadi apa-apa, perasaan Caca gak enak." ucap Echa sambil menatap kearah Bunda An yang masih saja memejamkan matanya.


"Mau Caca telpon tapi ponselnya disimpan disini." sambung Echa sambil melihat kearah ponsel Bara yang berada di atas meja.


"Caca telpon Hanin aja kali ya? Tapi apa hubungannya sama Hanin?" Tanya Echa saat ingin menelpon Hanin.


Echa merasakan hawa dingin di sekitar tengkuk lehernya sampai bagian tangan sebelah kanannya.


Dia dapat melihat sosok itu tidak terlalu mengerikan namun terlihat mengenaskan, seluruh tubuhnya basah, matanya sayu seperti selalu mengonsumsi obat terlarang, mulutnya tidak bisa diam namun tidak sama sekali mengeluarkan suara.


Perempuan yang malang, Echa dapat melihat sekelebat visual dari sosok itu ketika dia memegang bahu Echa. Namun tidak dia hiraukan.


Echa melihat dulunya gadis itu adalah kembang desa yang merantau untuk kuliah di kota, namun perempuan itu memilih pergaulan yang salah, sering ke club malam, meminum-minuman keras dan terakhir dia di ajak oleh sahabatnya untuk mengonsumsi obat terlarang sampai dia mengakhiri hidupnya di jembatan sebelah rumah sakit ketika dia menyadari bahwa pergaulannya itu sudah kelewatan.


Echa juga dapat merasakan pola pikirnya bahwa sosok itu mengakhiri hidupnya karena ini akan mengakhiri segalanya, membuat orang tuanya tidak malu karena gaya hidupnya.


Padahal bunuh diri bukanlah jalan terbaiknya, itu malah akan membuat mereka merasakan sakitnya jatuh berkali-kali karena memori terakhir ketika bunuh diri selalu diulang-ulang oleh jiwanya sendiri.


"Kau bisa melihatku?" Tanya sosok itu dengan suara gemetar karena kedinginan. Echa tidak menggubris ucapan sosok tersebut, Echa tidak bisa menolongnya. Itu sudah jalan yang dia pilih.


"Kau sudah melihat semuanya, tolong bantu aku. Ini sangat sakit bagiku." ucap sosok tersebut yang masih memegang bahu Echa.


Lagi dan lagi Echa tidak menggubris perkataan itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk sosok tersebut, biarkan mereka menjalankan hukumannya sendiri.


Meskipun sedikit takut karena sosok itu mulai memancarkan energi negatif tapi Echa tetap berusaha menjaga tubuhnya agar tidak dirasuki begitu saja. Apalagi ini adalah malam hari, waktu yang produktif untuk mahluk tak kasat mata masuk kedalam tubuhnya.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam ruangan Bunda An, orang itu yang Echa khawatirkan saat ini, siapa lagi jika bukan Bara? Dengan santainya Bara menenteng kantung plastik berisi cemilan yang banyak dan 3 bungkus nasi goreng. Sambil meminum susu coklat kesukaannya.


"Kakak kemana aja si?" Tanya Echa khawatir. Bara hanya mengangkat alisnya dengan mulut yang dipenuhi oleh susu coklatnya.


"Udah hampir satu jam lho kak. Caca khawatir tau." ucap Echa ketika melihat ekspresi Bara yang menggemaskan.

__ADS_1


"Tadi banyak yang beli nasi gorengnya." ujar Bara sambil menyimpan kantung plastik berisi cemilan dan nasi goreng.


"Belinya yang di depan?" Tanya Echa, dia sudah tidak merasakan ada sosok mengenaskan itu dibelakangnya lagi, mungkin sosok itu sudah pergi karena kehadiran Bara.


"Engga, yang di depan udah pada tutup katanya udah abis, jadi kakak nyarinya diluar." Jawab Bara.


"Pantesan. Lain kali bawa ponsel kalau mau kemana-mana." sambung Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara.


"Iya, kan kakak gak tau bakalan keluar kayak tadi." ucap Bara.


"Ini kasih ke Hanin." Sambung Bara sambil memberikan satu bungkus nasi goreng kepada Echa untuk diberikan kepada Hanin.


"Caca keruangan ayah dulu." Ucap Echa sambil membawa bungkus nasi goreng tersebut untuk diberikan kepada Hanin.


"Iya, jangan lama." Ujar Bara saat melihat Echa melangkahkan kakinya kearah pintu.


"Iya kak." ucap Echa yang ingin membuka pintu, namun tiba-tiba saja ada orang yang lebih dulu membuka pintu tersebut.


"Ca!" ucap orang tersebut panik.


"Kenapa Non?" Tanya Echa bingung ketika melihat Hanin masuk kedalam ruangan bunda An dengan wajah panik.


"Vivi kenapa?" Tanya Echa yang terlihat panik.


"Keluarga Vivi kecelakaan." Jawab Hanin. Perkataan itu mampu membuat Echa dan Bara kaget bukan main. Kecelakaan? Lagi? Kenapa semua terjadi seolah berurutan.


"Tapi Vivi gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Echa khawatir.


"Dia gak kenapa-kenapa." Jawab Hanin.


"Dirumah sakit mana?" Tanya Bara to the point.


"Rumah sakit Gandaria." Jawab Hanin.


"Lumayan jauh kalau dari sini." Ucap Bara.


"Tapi Caca mau kesana kak, nemenin Vivi.." ujar Echa khawatir, matanya berkaca-kaca, itu pasti hal yang sangat menyakitkan meskipun kadang Vivi dan orangtuanya tidak pernah akur.

__ADS_1


"Ini udah malem, besok aja." ucap Bara.


"Tapi Kak.." ujar Echa yang langsung disanggah oleh Hanin.


"Apa yang dibilang sama kak Bara bener Ca, kalaupun kita kesana Vivi sama Shiren bakalan gak nganggep Caca ada, ini udah malem rumah sakit juga bakalan udah di tutup gerbangnya." Ucap Hanin.


"Tapi kasian Vivi.." ujar Echa.


"Vivi banyak yang nemenin Ca." ucap Hanin sambil menghapus air mata yang menetes dari mata Echa. Echa hanya menghela nafasnya panjang ketika mendapat perkataan seperti itu.


"Kakak udah bilang sama tante Mala kalau bunda gini?" Tanya Echa sambil menatap kearah Bara.


"Belum.." jawab Bara.


"Tante Mala juga perlu tau tentang keadaan Bunda, ayah sama Aira." ucap Echa.


"Iya, kakak telpon dulu." ujar Bara sambil membawa ponsel untuk menghubungi Nurmala dan Ferdinan.


"Siapa yang ngasih tau Hanin?" Tanya Echa.


"Kak Nathan." Jawab Hanin.


"Pasti hubungan Hanin sama Kak Nathan renggang karena disini ya?" Tanya Echa yang dapat melihat dari sorot mata Hanin.


"Iya, tadi kak Nathan Dateng kerumah buat jemput Hanin tapi Hanin gak ada dan Hanin gak tau harus jelasinnya gimana, akhirnya cuman diem.." Jawab Hanin dengan mata berkaca-kaca. Menahan air matanya tidak turun.


"Maafin Caca ya, nanti Caca coba bilang sama kak Bara biar bisa ngasih tau temen-temannya." ucap Echa sambil mengelus bahu Hanin untuk menguatkannya.


"Tapi kalau itu buat hubungan Caca malah renggang jangan di paksain ya.." ujar Hanin sambil tersenyum pedih.


"Nih makan dulu, Hanin pasti belum makan kan?" tanya Echa.


"Makasih.." jawab Hanin sambil mengambil makanan tersebut.


"Kalau Hanin mau kesana gak apa-apa, kesana aja, nanti biar Kak Bara yang anterin Hanin." ucap Echa.


"Gak perlu Ca, lagian Vivi banyak yang nemenin, sedangkan Caca disini sendirian, siapa lagi kalau bukan Hanin yang nemenin Caca?" tanya Hanin.

__ADS_1


"Makasih.." jawab Echa.


__ADS_2