TEROR

TEROR
|22| KEHILANGAN KENDALI


__ADS_3

"Kakak!!" Teriak Echa di sela-sela nafasnya.


Pandangannya mulai memburam, Echa hanya mengandalkan sisa-sisa nafas terakhirnya hingga semuanya gelap. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Tiba-tiba saja ada satu cahaya biru yang menghalangi tubuh Echa ketika sosok itu ingin menancapkan kuku tajam di jantungnya.


"Argh!" Teriak sosok itu yang kemudian melepaskan cekikannya dari leher Echa.


BUGH...


Echa jatuh ke lantai dengan kondisi yang agak mengenaskan. Di balik cahaya biru itu ada sosok yang menatap dengan amarah.


Siapa lagi jika bukan Shila? Yang memiliki sebagian dari kekuatan Bara, dirinya seolah dipanggil oleh Bara untuk datang kemari dan benar saja semuanya sedang tidak baik-baik saja bahkan lebih parah dari pada itu.


"Kenapa kau memiliki cahaya biru?!" Teriak sosok itu yang mulai melepuh karena cahaya biru yang keluar dari tubuh Shila.


"Kau telah membuat kekacauan!" Teriak Shila penuh amarah, cahaya berwarna biru itu semakin besar.


"Argh!! Hentikan!!" Teriak sosok mengerikan itu seolah meminta ampun kepada Shila.


"Aku tidak akan mendengar teriakan kesakitan mu!" Bentak Shila.


"Hentikan!! Cahaya itu membuatku melepuh!" Teriak sosok itu yang kemudian menghilang secara tiba-tiba bersamaan dengan hancurnya dinding pengaman yang telah tuan dari sosok itu buat dengan susah payah.


Shila memejamkan matanya, perlahan cahaya berwarna biru itu mulai redup, amarah dalam diri Shila pun mulai hilang.


"Caca.. Vivi.. Hanin.. Tiara.. Shiren.." ucap Shila yang melihat keadaan mereka semua sangat mengenaskan terutama Echa. Lehernya membiru karena cekikan dari sosok mengerikan itu.


Jika saja Bara ada di sampingnya, dia tidak akan segan mengeluarkan kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya yang mampu membuat tuan dari sosok itupun hancur.


"Shila harus gimana? Shila gak bisa angkat mereka." Ucap Shila.


"Shila cari bantuan sama siapa ya? Gak tau apartemen yang ada orangnya." Ujar Shila yang bingung harus memilih apartemen mana.


Tanpa berpikir panjang dia mengecek semua apartemen dengan kecepatan yang maksimal. Hingga dirinya menemukan apartemen yang berisi Azka sedang menonton film.


"Duh gimana ya biar di notice." Ucap Shila bingung.


"Pintu." Sambung Shila yang langsung membuka pintu apartemen Azka dengan sangat keras.


BURGH..


"Berhasil." Ucap Shila ketika Azka terlonjak kaget dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Vi.. udah selesai? Kenapa harus banting pintu?" Tanya Azka yang mengira bahwa itu Ivy.


"Ayo Azka liat keluar." Ucap Shila yang melihat Azka menuju pintu.


"Hanin!" Teriak Azka yang melihat Hanin berada di depan pintu apartemen yang berhadapan dengan apartemen miliknya.


Dia melangkahkan kaki menuju kearah Hanin dengan darah yang mengalir di pelipisnya.


Azka melihat kesekeliling. Dia kaget melihat kearah sebelah kiri yang menampilkan Shiren dan Mutiara yang juga tidak sadarkan diri, namun tidak ada luka apapun di tubuh mereka, hingga dia melihat kearah kanan yang langsung di suguhkan dengan kondisi Ivy yang sama mengenaskan nya dengan Hanin, dia pun melihat kearah Echa yang lebih parah dari yang lainnya.


"Kenapa mereka semua kayak gini?" Tanya Azka yang masih belum paham dengan semua ini.


Tanpa berpikir panjang Azka langsung mengendong tubuh Hanin ke apartemen miliknya, Azka menidurkan Echa dan teman-temannya yang lain kedalam apartemennya.


"Untung gak berat-berat banget." Ucap Azka sambil mendudukkan dirinya di sofa.

__ADS_1


"Kenapa mereka bisa kayak gini? Dan sama sekali gak ada yang denger semuanya?" Tanya Shila yang melihat satu persatu teman-temannya itu.


"Jam setengah enam." Ucap Azka yang melihat jam di layar ponselnya.


Dia ingin memberi pesan singkat pada Bara.


...BaraEs....


^^^Bar, Caca di apartemen gue.^^^


^^^Dia pingsan sama yang lainnya.^^^


^^^Kasih tau Gavin sama yang lain.^^^


Send fotonya.


^^^Gak, gue gak mau Lo kenapa-kenapa.^^^


^^^Lo mendingan kesini aja, cepetan.^^^


Jngn bcnd.


^^^Gue gak berani bercanda disituasi^^^


^^^Yang emang nyata.^^^


Ok


Azka tidak membalas pesan dari Bara, dia mencari kotak P3K di apartemen nya itu.


...----------------...


Orang misterius berjubah hitam itu sedang berada dalam satu ruangan yang gelap dengan darah yang keluar begitu banyak dari mulutnya.


"Uhuk..uhuk.. Air.." ucap orang misterius itu yang sedang mencari air ketika darah keluar dari mulutnya.


"Sial!" Teriak orang misterius sambil melemparkan semua dupa kesembarang arah.


"Kenapa aku tidak bisa melihat apa yang terjadi pada budakku itu?" Tanya orang misterius yang sedang menutupi wajahnya dengan jubah hitam.


"Argh! Apa yang terjadi!" Teriak sosok misterius itu.


"Kenapa kau seperti ini?" Tanya Hans yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan orang misterius itu.


"Ini gara-gara wanita yang kau cintai!" Bentak orang tersebut sambil menatap tajam kearah Hans.


"Apa maksudmu?" Tanya Hans tidak mengerti dengan semua ini.


"Dia sungguh kuat. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi ketika budakku itu melepuh." Jawab orang misterius.


"Itu salah budak mu bukan salah Echa!" Bentak Hans.


"Argh! Kau membuatku kesal!" Teriak sosok itu sambil melempar tubuh Hans ke dinding.


BURGH..


"Argh!! Kenapa harus aku yang menerima semua ini?!" Ucap Hans sambil meringgis kesakitan ketika di lempar sangat keras.


"Kau membuatku kesal! Berhenti berbicara bodoh!" Teriak orang misterius itu.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Bara dan yang lainnya datang ke apartemen Azka, yang langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya berada dalam amarah.


"Caca!" Ucap Bara saat melihat keadaan Echa yang parah daripada yang lainnya. Bara langsung melangkahkan kakinya menuju kearah Echa dan menggendongnya, membawa kekasihnya itu menuju apartemen Bara yang berada di samping Azka.


Nathan, Gavin dan Alvero melakukan hal yang sama kepada kekasihnya masing-masing.


Cklek..


Bara langsung masuk kedalam apartrmen miliknya dan menidurkan tubuh Echa di kasurnya. Dengan tangan gemetar, mata yang berkaca-kaca dan keringat dingin keluar dari tubuhnya.


"Ca.." panggil Bara sambil menggenggam tangan Echa.


Dia mencari kotak P3K di kamarnya itu dengan perasaan khawatir, amarah dan takut secara bersamaan.


Setelah mendapat kotak P3K yang di cari, Bara langsung menuju Echa untuk mengobatinya.


Darah masih saja keluar dari hidung dan kening Echa, bahkan Bara melihat di leher Echa terlihat seperti cekikan yang begitu keras.


"Ca.." panggil Bara sambil menggenggam tangan Echa dan meneteskan air matanya ketika sudah selesai mengobati semua luka yang ada di tubuh Echa dengan telaten dan hati-hati.


"Ca.. bangun.." ucap Bara yang sedang mencium punggung tangan Echa dengan air mata yang menetes. Tangannya sungguh gemetar.


"Ah sweet banget sih.." ucap Shila yang melihat Bara begitu mengkhawatirkan kondisi Echa.


"Jadi pengen di tubuh Caca tapi kasian nanti Bara malah kaget tiba-tiba Caca bangun terus pingsan lagi." Sambung Shila sambil menatap kearah Bara yang sedang meneteskan air matanya melihat kondisi Echa.


"Argh!!" Teriak Bara.


"Kaget woi.." ucap Shila yang mendengar teriakan dari Bara.


"Gue gak becus!" Teriak Bara sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Gue gak ada gunanya!" Teriak Bara lagi.


PRANG..


Bara memukul dengan keras kaca yang ada di kamarnya itu, hingga membuat tangannya berdarah, bahkan ada beberapa serpihan kaca yang menusuk ke persendian jari tangan Bara.


"Bara.." ucap Shila yang melihat Bara mulai kehilangan kendali.


"Jangan lakuin hal itu, Caca gak bakalan suka kamu kayak gini.. jangan sampai kehilangan kendali.." sambung Shila yang berada di samping Bara, namun Bara tidak mendengar ucapannya.


"Arghh! Gue bodoh! Bodoh! Bodoh!" Teriak Bara sambil menjambak rambutnya sendiri sambil menangis.


"Bara.. stop!" Teriak Shila yang melihat Bara mulai menyakiti dirinya sendiri.


"Arghhh!" Teriak Bara sambil membenturkan kepalanya kedinding.


"Bara! Berhenti! Jangan lakuin hal bodoh kayak gini! Caca pasti bangun! Ini cuman luka kecil buat Caca!" Teriak Shila mencoba untuk menghentikan Bara.


Bara mengusap wajahnya kasar namun tangisannya masih belum reda, dia tidak bisa berhenti mengumpat dirinya sendiri.


Bara masih menatap kearah Echa yang terluka begitu parah dengan bibir pucat.


"Ca.. bangun.." ucap Bara yang kembali menggenggam tangan Echa tanpa memperdulikan rasa sakit di persendiannya.


"Bangun.." sambung Bara sambil menidurkan tubuhnya di samping Echa, menatap kearah wajah Echa. Ini sangat menyakitkan bagi dirinya.


Bara menjadikan bahu Echa sebagai bantalan kepalanya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Echa.

__ADS_1


"Hans. Ini pasti ulah Hans." Ucap Bara menatap dengan penuh dendam.


__ADS_2