TEROR

TEROR
|101| HANTU


__ADS_3

Saat ini Echa, Bara, Bunda An dan Daniel sedang berada di ruangan Aira. Sedangkan Ivy, Hanin, Azka dan Nathan pulang kerumahnya masing-masing dengan perasaan lega.


"Aira, kamu baik-baik aja kan? Ada yang sakit?" tanya bunda An menatap lekat wajah anak perempuan satu-satunya.


"Aira baik-baik aja,ma. Emangnya kenapa sama Aira?" Tanya Aira sembari mengernyitkan dahinya.


Bunda An hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, dia hanya memeluk tubuh Aira. Tanpa menjawab pertanyaan anaknya.


Echa yang sedang berada di samping bunda An itu, langsung mengusap punggungnya agar tenang.


"Aira gak inget apa-apa?" tanya Echa.


"Enggak, Aira cuman inget.. waktu itu Aira lagi di kamar terus dibawa pergi," jawab Aira sambil menatap kearah Echa.


"Dibawa pergi?" tanya Bara bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh Aira.


"Pokoknya Aira dibawa pergi, udah gitu... gak inget apa-apa lagi." Aira menjawab pertanyaan Bara, sembari mengingat apa yang terjadi padanya.


Echa merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada Aira sebelumnya, dia harus menelpon Roslyn-ibunya, untuk mendapat jawaban yang pasti tentang perkataan Aira.


"Kak, Caca keluar sebentar," ucap Echa sambil menatap kearah Bara yang sedang menggenggam tangan Aira.


"Kemana? Udah malem" ujar Bara yang juga menatap mata Echa.


"Di luar, gak lama kok, boleh ya..." pinta Echa dengan wajah sedikit memelas.


"Jangan lama." ucap Bara. Echa yang mendapat perkataan seperti itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Echa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aira sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Duh.. ibu angkat," ujar Echa yang sedang menunggu sambungan telpon dengan Roslyn.


Echa terus menelpon ibunya, namun jawaban yang didapat adalah suara operator.


"02.20" ucap Echa sambil melihat jam yang ada di layar ponselnya. Dia melihat kiri dan kanan lorong rumah sakit. Ternyata, seram juga jika keluar sendiri di pagi buta seperti ini. Dia juga merasakan bulu kuduknya berdiri dan Echa pastikan sebentar lagi pasti akan ada sosok tak kasat mata menghampirinya.


__ADS_1


Tanpa berpikir panjang lagi, Echa langsung masuk kedalam ruangan Aira. Sebelum mahluk tak kasat mata dengan wajah memelas meminta bantuan datang kepadanya.


"Udah?" tanya Bara ketika melihat Echa masuk kedalam ruangan. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis.


Echa melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya ke dinding.


"Bara. Kamu pulang aja, biar Mama sama Papa yang jaga Aira disini, kamu sama Caca juga belum istirahat dari kemarin," ucap Daniel sambil memberikan kunci mobil miliknya kepada Bara.


Daniel tidak akan mengizinkan Bara menggunakan motor di pagi buta seperti ini, apalagi dia belum istirahat sejak kemarin.


"Tapi pa..." ucap Bara yang langsung disanggah oleh bunda An.


"Gak ada tapi-tapi, Bara. Pulang sekarang juga, istirahat." sanggah bunda An.


"Iya ma" ujar Bara yang langsung berdiri dari duduknya sambil menggenggam tangan Echa untuk mengikuti dirinya.


"Ayah, Bunda. Caca pulang dulu ya" ucap Echa sambil tersenyum manis menatap kearah Daniel dan bunda An.


Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya sembari membalas senyuman Echa sebagai jawaban.


Echa dan Bara melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aira, lorong gelap rumah sakit yang terasa mencekam dan mengerikan itu harus Echa lewati, meskipun bersama Bara. Tapi, tetap saja, dia takut.


"Ke rumah kita aja," jawab Echa sambil mempererat genggaman tangannya kepada Bara. Di ujung lorong yang gelap, Dia melihat sosok berbalut kain berwarna putih lusuh sedang menatap tajam kearah nya, ditambah darah keluar dari matanya menambah kesan mengerikan saat melihat pertama kali. Dan Echa dapat memastikan bahwa sosok seperti itu sering jahil.



Echa juga dapat merasakan ada satu pasang mata yang selalu mengawasinya.



Sedangkan Bara yang mendapat perkataan seperti itu dari Echa hanya tersenyum tipis. Apa yang baru saja Echa katakan? Rumah kita? Hanya dengan ucapan itu Bara bisa terbang setinggi ini.


"Kakak. Kenapa senyum-senyum kayak gitu?" tanya Echa ketika melihat Bara malah tersenyum tipis sambil menatap kearahnya yang sedang ketakutan.


"Kakak tanya, mau pulang kemana?" tanya Bara dengan suara lembut dan tatapan teduh yang selalu dia berikan kepada Echa.


"Ke rumah ki..." jawab Echa tertahan ketika menyadari apa yang akan diucapkan olehnya. Seketika pipinya memanas saat menyadari perkataan yang akan dilontarkan oleh mulutnya lagi.

__ADS_1


"Ki apa?" tanya Bara sambil tersenyum melihat wajah menggemaskan Echa yang tersipu malu, ketika menyadari perkataannya.


"Kakak... Jangan gitu." jawab Echa sambil menutup wajah memerah miliknya dengan kedua tangan.


Bara hanya tertawa pelan sembari mengacak gemas rambut kekasihnya, dia memeluk pinggang ramping Echa dan melangkahkan kakinya beriringan menuju parkiran.


Sesampainya di parkiran, Bara dan Echa langsung masuk kedalam mobil milik Daniel.


"Kakak, udah kasih tau tentang keadaan Aira sama yang lain?" tanya Echa sambil menatap kearah Bara yang sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


"Tadi kakak udah telpon. Tapi, gak ada yang diangkat." jawab Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


"Caca juga tadi telpon Ibu, tapi gak diangkat. Kenapa ya?" tanya Echa.


"Mungkin udah tidur, lagian telpon jam 2 pagi, lagi enaknya tidur." jawab Bara sambil melihat kearah Echa yang sedang memejamkan matanya.


Saat Echa ingin menjawab perkataan Bara, tiba-tiba saja ada sosok wanita berbaju putih lusuh, dengan rambut panjang menutupi wajahnya.


Ckit.. Dugh.


Mau tak mau Bara harus menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba, meskipun itu mahluk tak kasat mata. tapi, seperti manusia biasa pada umumnya.



Echa merasakan dahinya perih saat membentur sesuatu yang tajam di depan mobil. Sosok itu tersenyum dengan seringai yang mengerikan menatap kearah Echa. Seolah aksinya ini berhasil. Echa meraba dahinya yang perih dan mengeluarkan banyak darah.


Bara langsung melihat kearah Echa ketika sosok yang menghalangi jalannya itu tersenyum menyeringai kearah Echa.


"Ca" panggil Bara ketika Echa sedang membersihkan darah di dahinya.


"Caca gak apa-apa kak, jalan aja." ucap Echa ketika Bara sedang menatap kearah dirinya.


Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia malah menangkup wajah kekasihnya sambil menatap lekat mata Echa.


"Maaf," ujar Bara lirih sembari membersihkan darah yang tersisa di dahi Echa menggunakan jarinya.


"Kenapa minta maaf? Kakak gak salah, ayo jalan lagi, Caca udah ngantuk." ucap Echa sambil tersenyum manis menatap kearah Bara, seolah mengatakan bahwa dirinya memang baik-baik saja.

__ADS_1


Bara yang mendapat perkataan itu hanya menghela nafasnya panjang sambil mencium singkat dahi Echa yang terluka.


Bara kembali menancapkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan standar, sesekali dia juga menatap kearah Echa yang sedang menahan perih di dahinya.


__ADS_2