
Pagi hari telah tiba, Echa sudah bangun dan membersihkan dirinya sejak tadi. Kini dia harus pergi keruangan Daniel dan Aira untuk mengecek keadaannya.
"Kak." Panggil Echa membangunkan Bara yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Kakak." Panggil Echa lagi ketika Bara tidak membuka matanya.
"Hm.." gumam Bara.
"Udah pagi, mandi gih sana." ucap Echa.
"Iya.." ujar Bara yang masih belum membuka matanya.
"Caca mau ke ruangan ayah dulu." ucap Echa.
"Iya," ujar Bara.
Setelah mendapat jawaban seperti itu, Echa langsung melangkahkan kakinya kearah ruangan Daniel yang berada disebelah ruangan Bunda An.
"Nin." Panggil Echa ketika membuka pintu ruangan tersebut.
Pemandangan pertama yang Echa lihat Hanin masih tertidur pulas dengan ponsel yang berada di genggaman tangannya.
Echa juga melihat mata sembab Hanin, mungkin dia sudah bertengkar sangat hebat dengan Nathan.
Echa tidak berani membangunkan Hanin yang masih berada di alam mimpinya itu, biarkan dia istirahat lebih lama dari masalah semalam.
Echa melangkahkan kakinya kearah Hanin untuk menyimpan ponselnya agar tidak jatuh, dia pun membenarkan selimut yang menutupi tubuh Hanin.
Setelah menyimpan ponsel Hanin diatas meja kini Echa melangkahkan kakinya kearah Daniel yang masih memejamkan matanya.
"Ayah.. cepet bangun ya, Bunda sama Aira belum bangun." ucap Echa sambil menggenggam tangan Daniel dan mengelusnya lembut.
Tak lama dari ucapannya itu, Echa merasakan Daniel yang menggerakkan jarinya. Echa dapat merasakan gerakan itu dalam genggaman tangannya.
Tanpa berpikir panjang lagi Echa langsung memencet tombol untuk memanggil perawat yang berada di atas tempat tidur.
"Ayah denger suara Caca kan?" tanya Echa ketika sudah memencet tombol untuk memanggil perawat.
Echa melihat Daniel yang mulai menggerakkan mata dan tangannya secara bersamaan.
"Ayah.." panggil Echa ketika Daniel perlahan membuka matanya.
Tiba-tiba saja satu orang perawat dan satu orang dokter masuk kedalam ruangan Daniel sambil membawa beberapa alat medis yang dibutuhkan.
"Biar saya cek keadaannya dulu." ucap dokter tersebut.
Echa langsung melangkahkan kakinya mundur, memberi dokter jalan untuk mengecek keadaan Daniel yang sudah sadarkan diri.
"Tekanan darahnya normal, denyut nadinya normal, keadaannya juga baik-baik saja." ucap dokter tersebut kepada Echa.
"Suster, tolong antarkan makanan keruang ini." Sambung dokter tersebut sambil menatap kearah perawat yang sedang menormalkan cairan infusan yang masuk kedalam tubuh Daniel.
"Baik dok." ucap perawat tersebut.
"Baik, saya pergi dulu, jika ada keluhan lagi tentang pasien beritahu kami." ujar dokter tersebut.
"Terimakasih dok, sus." ucap Echa sambil tersenyum manis kearah Perawat dan Dokter ketika mereka ingin keluar dari ruangan.
"Ayah.." panggil Echa sambil tersenyum kearah Daniel yang kini sudah membuka matanya meskipun terlihat lemas.
"Dimana Aira sama Bunda?" Tanya Daniel dengan suara lemah.
__ADS_1
"Ayah gak usah khawatir tentang bunda sama Aira. Bunda sama Aira baik-baik aja, sekarang ayah istirahat dulu ya." Jawab Echa sambil membenarkan posisi Daniel agar nyaman.
"Bara?" Tanya Daniel.
"Kak Bara ada di ruangan Bunda, ayah mau ketemu sama kak Barra?" Tanya Echa.
"Nanti, ayah mau tidur sebentar, badan ayah masih agak sakit." Jawab Daniel sambil memejamkan matanya. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Caca pergi dulu yah.." pamit Echa kepada Daniel.
"Mau kemana?" Tanya Daniel.
"Keruangan Aira sambil Meu beli sarapan." Jawab Echa, Daniel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah mendapat jawaban seperti itu Echa langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Daniel untuk pergi keruangan Aira.
...----------------...
7 menit telah berlalu, kini Echa sudah berada diruangan Aira. Dia melihat gadis kecil berumur 7 tahun itu sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat medis menempel ditubuhnya.
"Aira sayang.. kak Caca kesini lagi, Aira kenapa masih belum bangun?" Tanya Echa sambil mengelus lembut kepala Aira.
"Aira gak kangen Mama, Papa, Kak Bara sama Kak Caca?" Tanya Echa lagi. Namun tetap tidak ada jawaban dari Aira, gadis kecil.itu masih saja asik dalam istirahatnya yang cukup panjang.
"Jangan lama istirahatnya, kak Caca cuman mau ngasih tau kalau papa udah bangun, Aira gak mau bangun juga? Masih mau istirahat?" Tanya Echa yang kini matanya sudah berkaca-kaca melihat keadaan Aira.
"Aira kenapa bisa gini? Aira liat sesuatu?" Tanya Echa sambil menggenggam tangan Aira. Namun masih tidak ada jawaban dari Aira.
"Kak Caca pergi dulu ya.. jangan lama-lama istirahatnya, Kak Caca nungguin Aira bangun buat cerita semuanya sama Kak Caca." ucap Echa sambil mengecup singkat kepala Aira dan menghapus air mata yang ada di pelupuk matanya.
Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aira untuk membeli sarapan.
"Ca, gimana keadaan Bunda An, Aira sama Om Daniel?" Tanya Gavin ketika sudah berada di hadapan Echa.
Setelah pertengkaran yang hebat malam hari tadi akhirnya Bara mengalah untuk memberitahu semua teman-temannya tentang keadaan Bunda An, ayah dan Aira.
Dan respon teman-teman Bara adalah memarahi Bara habis-habisan karena tidak memberitahu masalah sebesar itu.
"Om Daniel udah bangun, Aira sama Bunda An masih belum bangun." Jawab Echa.
"Caca mau kemana?" Tanya Mutiara.
"Mau beli sarapan, Kakak udah sarapan?" Tanya Echa sambil menatap satu persatu teman Bara.
"Belum.." jawab mereka kompak.
"Caca beli dulu, nanti tinggal masuk aja keruangan ayah sama Bunda An disana ada Hanin sama Kak Bara." ucap Echa.
"Hanin dimana?" Tanya Nathan.
"Diruangan ayah, masih tidur.." jawab Echa sambil tersenyum.
"Yaudah kita kesana dulu ya." ucap Alvero. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka semua melangkahkan kakinya menuju ruangan Aira, Daniel dan Bunda An.
...----------------...
10 menit telah berlalu Echa sudah membeli sarapan untuk Echa dan yang lainnya. Echa masuk kedalam ruangan Daniel untuk memberikan Hanin makanan.
"Nin.." panggil Echa ketika dia tidak melihat keberadaan Hanin.
__ADS_1
"Hanin di kamar mandi Ca." sahut Hanin yang berada di kamar mandi.
"Ini sarapannya Caca simpen diatas meja ya." ucap Echa sambil menyimpan sarapan untuk Hanin diatas meja.
"Iya, simpen aja nanti Hanin makan. makasih." ujar Hanin.
Echa melangkahkan kakinya kearah Daniel yang masih tertidur, bahkan makanan yang suster itu simpen belum dimakan.
"Ayah.." panggil Echa. Namun tidak ada jawaban dari Daniel.
"Ayah.. Bangun sebentar, makan dulu sedikit terus minum obat biar gak sakit lagi badannya." ucap Echa membangunkan Daniel.
Daniel yang mendengar perkataan itu perlahan membuka matanya dan menatap kearah Echa yang sedang mengambil mangkuk berisi bubur untuk dimakan oleh Daniel.
"Gak ada rasanya Ca." ucap Daniel ketika Echa ingin menyuapkan bubur tersebut.
"Gak apa-apa sedikit aja, biar ayah cepet sembuh." ujar Echa. Daniel yang mendapat perkataan seperti itu langsung memakan bubur tersebut meskipun rasanya hambar.
Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Daniel, di suapan ke empat kali, Echa melihat Hanin yang sudah mandi dengan baju yang melekat ditubuhnya.
"Lho om udah bangun?" tanya Hanin kaget melihat Daniel sudah sadarkan diri.
"Udah.." jawab Daniel yang masih menerima suapan dari Echa.
"Kok Hanin gak tau?" tanya Hanin.
"Bangunnya udah dari tadi Nin, cuman ayah tidur lagi jadi Hanin gak tau." jawab Echa sambil memberikan obat kepada Daniel ketika bubur tersebut habis tak tersisa.
"Kenapa gak bangunin Hanin?" tanya Hanin.
"Kayaknya Hanin capek semalam kurang tidur, jadi Caca gak bangunin." jawab Echa.
"Kak Nathan kesini?" tanya Echa yang sudah selesai memberikan obat kepada Daniel.
"Emangnya kesini?" tanya Hanin.
"Iya, tadi Caca ketemu sama Kak Nathan." jawab Echa, sedangkan Hanin yang mendapat perkataan seperti itu hanya menghela nafasnya panjang.
"Siapa aja yang kesini?" tanya Daniel.
"Banyak yah, nanti Caca suruh kesini." jawab Echa sambil menyamankan tempat tidur Daniel.
"Nin, yah.. Caca pergi dulu mau ngasih sarapan." ucap Echa sambil menatap kearah Daniel dan Hanin
"Iya." ujar Hanin dan mendapat anggukkan kepala dari Daniel sebagai jawaban.
setelah mendapat jawaban seperti itu Echa langsung melangkahkan kakinya pergi ke ruangan Bunda An untuk memberikan sarapan kepada yang lain.
Sesampainya di ruangan bunda An, Echa melihat Bara dan teman-temannya yang sedang berkumpul seperti biasanya.
Ini yang Echa inginkan, berkumpul seperti biasanya, setidaknya hubungan persahabatan Bara tidak boleh renggang hanya karena dirinya.
"Kak Nathan gimana keadaan orang tua Vivi?" tanya Echa.
"Mereka udah bangun, lukanya juga gak terlalu berat." jawab Nathan.
"Shiren disana?" tanya Echa.
"Iya, tadi Kakak ajak kesini gak mau, katanya mau nemenin Vivi." jawab Gavin. Echa hanya tersenyum mendengar perkataan itu.
Jika ditanya hatinya sakit? tentu. Sakit yang susah untuk dijelaskan, entahlah Echa juga bingung dengan keadaan dirinya sendiri. Ingin kecewa tapi itu ia untuk kebaikan Vivi, padahal kemarin Echa juga membutuhkan mereka semua disisinya. Ingin marah, apa yang harus Echa keluarkan untuk meredakan amarahnya?
__ADS_1