TEROR

TEROR
|90| PERGI


__ADS_3

Setelah kejadian di supermarket tersebut, Bara dan Echa masih saling membungkam mulutnya bahkan sudah hampir 4 jam lamanya.


Echa belum berani untuk membuka suara ketika melihat Bara yang masih menahan emosi atas apa yang terjadi di supermarket. Sedangkan Qiara sudah tertidur pulas di dalam kamar Echa, karena jam sudah menunjukkan pukul 20.15.


"Siapa dia?" tanya Bara pelan namun menusuk.


"Ha?" tanya Echa kaget ketika Bara membuka suara dengan nada yang tidak bersahabat, entahlah. Tiba-tiba saja aura yang ada disekitar sini menjadi mencekam.


"Siapa?" tanya Bara sambil menatap kearah Echa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung mendudukkan kepalanya. Dia takut jika Bara sudah seperti ini, meskipun tidak dengan nada tinggi namun auranya berbeda.


"Ca, di dengerin gak? Siapa dia?" tanya Bara yang menyimpan ponselnya kasar keatas meja hingga menimbulkan suara yang membuat Echa terlonjak kaget.


"Arsenio." jawab Echa dengan suara pelan.


"Arghh." ucap Bara sambil mengusap wajahnya kasar ketika mendengar nama Arsenio. Dia tahu siapa itu Arsenio, laki-laki yang meminta nomor ponsel Echa saat di pernikahan Mutiara dan Alvero.


Echa masih belum berani menatap kearah Bara yang masih sedang menahan amarahnya tersebut. Bara juga tidak bisa melampiaskan semuanya kepada Echa, kekasihnya itu sama sekali tidak bersalah. Yang membuatnya menahan amarah sampai saat ini tidak bisa menghajar habis-habisan Arsenio yang telah berani menyentuh calon istrinya itu.


Saat Bara ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba saja ponselnya bergetar menampilkan nama Mama yang terpampang di layar ponselnya.


Drt.. drt.. drt..


"Halo Bar, kamu dimana?" tanya Bunda An ketika Bara sudah mengangkat sambungan telponnya.


"Di komplek." jawab Bara.


"Kamu cepet kesini, Aira demam lagi ditambah muntahnya darah, Mama takut.. di rumah gak ada siapa-siapa." ucap Bunda An.


"Bara kesana." ujar Bara sambil menatap kearah Echa yang juga menatap dirinya.


"Cepetan ya, Mama takut Aira kenapa-kenapa. Mama tutup telponnya." ucap Bunda An yang langsung menutup sambungan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Bara.


"Kenapa kak?" tanya Echa penasaran.

__ADS_1


"Aira demam lagi." jawab Bara sambil menggunakan jaket miliknya.


"Caca ikut." ucap Echa yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membangunkan Qiara.


"Qiara, bangun sayang.. " panggil Echa ketika berada di dalam kamar, dia membangunkan Qiara yang sedang tertidur.


"Hm?" gumam Qiara perlahan membuka matanya.


"Kita harus pergi, yuk bangun.." ucap Echa membantu Qiara yang sudah bangun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Qiara bingung ketika dirinya tiba-tiba saja dibangunkan oleh Echa.


"Ke rumah Bunda." jawab Echa sambil melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Qiara.


Bara yang melihat Echa dan Qiara keluar dari kamar langsung mengambil kunci motor dan keluar dari rumah diikuti Echa dan Qiara dibelakangnya untuk mengunci pintu.


"Pegangan." ucap Bara ketika Echa a Qiara sudah naik keatas motornya.


Echa yang mendengar perkataan itu langsung memeluk pinggang Bara. Sedangkan Qiara berada diantara Bara dan Echa, Bara yang merasakan semuanya sudah aman, dia langsung melajukan motornya dengan kecepatan maximal.


...----------------...


30 menit berlalu, mereka sudah sampai dipekarangan rumah Bara yang terlihat sepi. Echa dan Qiara langsung turun dari atas motor dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah diikuti Bara dibelakangnya.


Mereka langsung menuju ke kamar Aira dan pemandangan pertama yang mereka bertiga lihat saat membuka pintu adalah bunda An yang sedang membantu Aira memuntahkan isi perutnya. Yang membuat mereka kaget Aira memuntahkan darahnya.


Bahkan saat ini keadaan Aira sangat buruk, mata yang terdapat lingkar hitam, tubuh agak kurus, bibir pucat dan lemah.


"Bara, bantu Mama buat bawa Aira kerumah sakit." ucap Bunda An ketika melihat Bara yang membukakan pintu kamar Aira. Bara yang mendapat perintah seperti itu langsung mengendong tubuh Aira menuju mobilnya diikuti Echa dan Qiara dibelakangnya. Sedangkan bunda An membawa kunci mobil yang berada di kamarnya.


"Kakak.." panggil Qiara menggenggam tangan Echa erat.


"Gak usah takut ya, Aira cuman lagi sakit," ucap Echa mengelus rambut Qiara untuk menenangkannya.


"Aira mau dibawa pergi kemana." ujar Qiara menatap kearah Aira yang sedang berada diambang kematian.

__ADS_1


"Aira mau dibawa kerumah sakit." ucap Echa panik ketika melihat tangan Aira yang lemas dengan mata yang mulai terpejam.


Echa tidak menyadari perkataan Qiara, jika di simak dengan baik apa yang diucapkan oleh Qiara adalah sebuah pernyataan bukan pertanyaan.


Perkataan yang keluar dari mulut Qiara itu adalah sebuah pemberitahuan kepada Echa jika saat ini Aira sedang dibawa pergi.


"Ca, kamu temenin Aira dibelakang ya, Bunda gak kuat liatnya." ucap Bunda An yang mengimbangi langkahnya dengan Echa dan Qiara.


"Iya Bunda." ujar Echa.


Tatapan bunda An langsung tertuju pada Qiara seolah bertanya siapa anak ini? Kenapa ikut bersama dengan Echa dan Bara? Namun sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal seperti ini.


"Nama kamu siapa sayang?" tanya bunda An sambil tersenyum manis kearah Qiara menutupi rasa khawatirnya dihadapan anak kecil yang sedang menggenggam tangan Echa.


"Qiara Tante," jawab Qiara membalas senyuman bunda An.


"Cantik banget namanya, panggil aja Bunda ya , jangan Tante, Qiara sama bunda dulu ya di depan, kak Caca duduknya dibelakang sama Aira." ucap bunda An sambil menggenggam tangan Qiara.


"Tapi bunda.. Aira mau dibawa pergi." ujar Qiara.


"Iya sayang, Aira mau dibawa pergi kerumah sakit, kamu gak usah khawatir ya, dia anak yang kuat, kayaknya Aira bakalan seneng punya temen main." ucap Bunda An yang lagi-lagi tidak menyadari perkataan dari Qiara tentang Aira yang akan dibawa pergi.


"Ma, cepet." ucap Bara yang sudah berada di pintu belakang mobil dengan raut wajah khawatir menatap kearah Aira yang sudah memejamkan matanya.


"Iya.." sahut Bunda An yang langsung membuka kunci pintu mobilnya.


Mereka langsung masuk kedalam mobil dengan posisinya masing-masing, Echa berada di belakang dengan kepala Aira yang tidur diatas pahanya, sedangkan Qiara duduk dipangkuan bunda An.


Echa menatap wajah Aira yang sudah sangat parah, tidak sehat seperti dulu.


"Aira yang kuat ya.. Kak Caca tau Aira anak yang kuat, tunggu sebentar ya, sayang." ucap Echa dengan mata berkaca-kaca melihat Aira yang sudah tidak berdaya, rasanya sakit sekali ketika melihat Aira yang tidak sehangat dulu.


Echa tidak akan tinggal diam saja ketika sudah seperti ini, dia harus bertindak lebih cepat dari musuhnya atau selangkah lebih maju. Namun, tetap hati-hati.


Qiara terus menatap kearah Aira yang sudah memejamkan matanya lewat kaca yang ada didalam mobil. Ada sesuatu yang dia lihat, sesuai dengan perkataannya, Aira akan dibawa pergi.

__ADS_1


__ADS_2