TEROR

TEROR
|42| MASALAH


__ADS_3

Malam hari telah tiba, Echa dan teman-temannya akan berangkat menjenguk Ivy.


"Kak Tiara gak apa-apa disini?" Tanya Echa ketika Mutiara dan Alvero menjaga Daniel dan Aira.


"Iya gak apa-apa, kalian pergi aja kesana, Vivi pasti butuh kalian." Jawab Mutiara sambil tersenyum manis.


Echa sudah menjelaskan semuanya kepada mutiara dan Mutiara tidak apa-apa dengan kejadian Echa tidak pamit padanya, Mutiara tahu Echa dan Bara tidak akan meninggalkan acara jika tidak begitu penting.


"Makasih kak.." ucap Echa. Mutiara dan Alvero menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ca, ayo." ajak Bara yang berada di ambang pintu kamar Daniel. Echa melangkahkan kakinya keluar, mengikuti Bara, Nathan, Hanin dan Gavin.


Mereka semua melangkahkan kakinya menuju parkiran, banyak perawat wanita yang terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh Nathan, Bara dan Gavin.


Ada yang seolah tidak peduli namun mereka menjerit dalam pikirannya, berharap bahwa mereka berada di samping Bara. Echa dapat membaca pikiran beberapa perawat yang terlihat cuek namun tidak dengan pikirannya.


Sedangkan Echa melihat kearah Bara yang sedang memasang wajah dingin dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku jaketnya.


Bara memang seperti itu di hadapan publik. Dingin seolah tidak mudah tersentuh. Sedangkan jika di depan Echa, Bara akan mengeluarkan sisi manjanya yang membuat siapapun kewalahan.


...----------------...


10 menit telah berlalu, mereka telah sampai di parkiran sambil menaiki motor sportnya masing-masing. Echa bersama Bara, Hanin bersama Nathan dan Gavin sendirian.


"Udah?" Tanya Bara.


"Udah." Jawab Echa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bara.


Mereka semua melajukan motornya dengan kecepatan standar, membelah jalanan kota dimalam hari yang masih agak macet.


"Kak.. kalau nanti Vivi marahin Caca biarin aja ya." ucap Echa memecah keheningan di motor mereka.


"Kenapa? Kakak gak bisa diem aja." ujar Bara.


"Caca minta tolong kali ini aja, biarin Vivi marahin Caca, kakak udah tau sifat Vivi kayak gimana, itu udah gak aneh kak." ucap Echa.


"Tapi Caca juga jangan diem terus, itu buat orang-orang seenaknya sama Caca kayak kemarin, buat kakak gak masalah mereka ngomong gini gitu tentang kakak tapi kali ini Caca jangan diem terus." ujar Bara sambil menatap kearah Echa lewat kaca spion.


"Kak, ada waktunya Caca juga ngeluarin amarah Caca, Caca juga manusia kok, Caca pasti marah kalau terus-terusan orang bilang ini itu tentang Caca tapi Caca tau tempat, tau waktu buat ngeluarin amarah Caca. Kapan waktu yang tepat buat ngeluarin semua amarah Caca. Kalau udah kelewatan Caca pasti marah kak." jelas Echa sambil tersenyum lewat kaca spion.


Bara hanya menghela nafasnya panjang ketika mendapat penjelasan seperti itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika Echa sudah meminta izin padanya. Bara sama sekali tidak bisa menolak keinginannya.


...----------------...

__ADS_1


30 menit telah berlalu Echa sudah sampai diruangan Marisha-ibunya Ivy. Ivy memang tidak akur dengan keluarnya tapi bagaimana pun Ivy adalah seorang anak yang takut kehilangan sosok orang tua dalam hidupnya.


"Vi.." panggil Echa sambil masuk kedalam ruangan Marisha sedangkan teman-temannya pergi keruangan Afandi-ayahnya Ivy.


Echa menyuruh Hanin dan Bara untuk pergi keruangan Afandi, dia ingin berbicara berdua bersama dengan Ivy. Tanpa ada halangan apapun.


Ivy tidak memberi sahutan kepada Echa dia masih saja menggenggam tangan Marisha yang sedang terbaring lemah.


"Vi, maafin Caca kemarin.." ucap Echa yang langsung ditimpah oleh Ivy.


"Kemarin apa ca?!" tanya Ivy dengan nada yang lumayan tinggi.


"Kemana aja? Oh iya, Vivi lupa. Pasti lagi nemenin kak Bara kan? Caca lupa sama Vivi disini?! Caca lebih milih kak Bara daripada Vivi!" sambung Ivy sambil menatap kearah Echa yang juga sedang menatap dirinya.


"Kemarin Bunda An.." ucap Echa yang kembali ditimpah oleh perkataan Ivy.


"Iya Vivi tau! Vivi tau semuanya, Bunda An, om Daniel, Aira kecelakaan. Tapi Vivi juga disini butuh kalian semua! Tapi kemana? Kemana Caca selama Vivi butuh?" Tanya Ivy dengan mata yang berkaca-kaca.


"Caca udah berubah semenjak sama kak Bara, Caca selalu mentingin kak Bara sama keluarganya dibanding temen-teman Caca yang selalu dukung Caca dalam keadaan apapun. Dari sebelum orang tua Caca meninggal, Vivi, Hanin udah ada di samping Caca! Tapi sekarang, Caca udah lupa sama semua itu." ucap Ivy.


"Bahkan saat ini Hanin kecewa sama Vivi, cuman gara-gara Caca! sehebat apa si Caca sampai buat Hanin ngejauh dari Vivi?!" Sambung Vivi.


Echa hanya diam mendengarkan Ivy mengeluarkan semua yang ada dihatinya, Echa tersenyum kearah Ivy. Ini adalah beban yang dia simpan dengan mengalihkan topik bahwa Echa tidak peduli terhadapnya.


"Tapi Vivi beruntung, Shiren masih di samping Vivi, dia orang baru Ca.. dia orang baru buat Vivi! Tapi dia selalu ada di samping Vivi!" ucap Ivy dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Ivy tidak lagi mengeluarkan kekesalannya lagi kepada Echa, dia masih terus menangis sambil menutupi wajah dengan tangannya itu.


"Udah kan?" Tanya Echa sambil mengelus bahu Ivy lembut. Sedangkan Ivy langsung menepis tangan Echa dan menatapnya tajam.


"Caca egois! Caca selalu mau ngerti tapi Caca gak ngertiin Vivi sama sekali!" Ucap Ivy dengan tatapan tajamnya.


Echa dapat membaca pikiran Ivy yang sedang dipenuhi oleh masalah keluarganya, Marisha yang selalu menyalahkan Ivy atas segala hal, Afandi yang seolah menutup mata dan telinga ketika Ivy dimarahi oleh ibunya.


Keluarganya bagaikan hidup dalam keterasingan, semuanya seolah hidup masing-masing, meskipun uang berlimpah tapi tidak menjamin kebahagiaan, kedua orang tua mereka gila akan harta dan dunia, mereka menutup mulut Ivy untuk tidak memberitahu pada publik bahwa dia adalah anak dari pengusaha terkaya nomor 6.


Bahkan di depan publik saja Marisha dan Afandi berkata tidak memiliki anak. Lantas Ivy itu putri siapa jika tidak diakui oleh mereka? Itu yang selalu ada di benak Ivy.


Dengan keapikan yang Ivy punya, dia selalu menyimpan masalah dengan rapi di memori kepalanya. Seolah Ivy memiliki perpustakaan di dalam otaknya itu.


Dia akan menyimpan di bagian paling belakang masalah keluarganya, menutupi semua dengan senyuman yang selalu dia berikan untuk teman-temannya.


"Vivi boleh marah semarah-marahnya saat ini sama Caca, keluarin apa yang mau Vivi keluarin sekarang, gak perlu ditutupin lagi Vi, Caca tau semuanya." ucap Echa sambil memeluk Ivy yang sedang menangis.

__ADS_1


"Maafin Vivi Ca.." ucap Ivy di sela-sela tangisannya.


"Keluarin apa yang mau Vivi keluarin, Caca tau apa yang Vivi keluarin tadi itu bukan buat Caca tapi buat hilangin semua yang selama ini Vivi simpan." ujar Echa sambil mengelus punggung Ivy untuk menenangkannya.


"Vivi itu sebenernya siapa sih dikehidupan mereka? Benalu? Beban? Vivi seolah jadi orang asing di hidup mereka, Vivi siapa Ca?" Tanya Ivy membalas pelukan Echa.


"Mungkin itu cara orang tua Vivi buat ngelindungin Vivi dari jahatnya dunia perusahaan." Jawab Echa yang masih mencoba untuk menenangkan Ivy dalam pelukannya.


"Tapi mereka sama sekali gak pernah mau dengerin cerita Vivi." ucap Ivy.


"Mereka sebenernya denger tapi di samping itu mereka juga dituntut buat kerja Vi, siapa tau kan tiap malem Tante Mari sama om Fandi itu sebenarnya sembunyi-sembunyi ngelus rambut Vivi, pas Vivi tidur." ujar Echa.


"Vivi sama sekali belum ngerasain hal itu Ca, bahkan Vivi belum sama sekali ngerasain gimana dipindahin dari ruang tv ke kamar sama papa." ucap Ivy.


"Vivi sama sekali belum ngerasain gimana di dengerin sama Mama, kayak Ibu Roslyn dengerin Caca cerita, bunda An yang dengerin Aira cerita tentang sekolahnya. Vivi belum sama sekali didengerin kayak gitu. Bahkan makan satu meja aja belum pernah." Sambung Ivy sambil memeluk Echa erat, meluapkan apa yang selama ini tersimpan dalam hatinya.


"Akan ada saatnya Vivi ngerasain hal itu." ucap Echa.


"Kapan Ca? Kapan? Vivi selalu nunggu tuhan ngasih keajaiban sama Vivi." ujar Ivy.


"Vivi selalu nanya sama tuhan, apa Vivi seburuk itu buat dikasih kebahagiaan dalam sebuah hubungan keluarga?" Tanya Ivy.


"Jangan bilang gitu, tuhan baik sama Vivi, tuhan ngasih apa yang orang gak punya ke Vivi, Vivi punya Caca, Hanin, Shiren yang selalu disamping Vivi meskipun kadang Caca gak selalu ada disamping Vivi, Vivi juga punya kak Azka yang selalu jadiin Vivi prioritasnya." Jawab Echa.


"Maafin Vivi.." ucap Ivy lirih sambil memeluk Echa, menumpahkan segala isi hatinya kepada Echa.


Dibalik Ivy yang pemarah ada diri Ivy sedang menyimpan memori keluarganya di jajaran paling depan bukan di jajaran paling belakang.


"Caca ngerti kok.." ucap Echa sambil mengelus rambut Ivy.


"Maafin Vivi.. sebenernya yang egois disini adalah Vivi. Vivi butuh Caca, Caca selalu ngertiin Vivi tapi Vivi sama sekali gak ngertiin Caca.." ujar Ivy.


"Udah ya nangisnya, sekarang bukan waktunya buat nyalahin diri sendiri, Tante Mari sama Om Fandi butuh Vivi." ucap Echa sambil menghapus air mata Ivy. Ivy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Caca gak bisa lama disini, Caca juga harus jaga bunda An, Aira sama ayah.." sambung Echa sambil tersenyum kearah Ivy.


"Gak apa-apa, Vivi udah makasih banget Caca selalu ngehadepin sikap Vivi yang kadang kayak gini." ucap Ivy sambil membalas senyuman manisnya.


"Makasih.." sambung Ivy dengan pandangan mata yang mulai buram.


Echa yang melihat Itu langsung memapah tubuh Ivy menuju sofa yang ada diruangan Marisha.


"Istirahat, Vivi butuh istirahat yang cukup." ucap Echa sambil melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.10

__ADS_1


__ADS_2