TEROR

TEROR
|72| BERUBAH-UBAH


__ADS_3

Perlahan Echa membuka matanya melihat sekeliling ruangan yang membuat dirinya sudah bernafas, Ruangannya tidak terlalu gelap tapi rasanya sangat pengap sekali padahal ada ventilasi udara.


Namun Echa tetap mencoba untuk mencari oksigen walaupun sangat minim, dia bangun dari duduknya untuk melangkah pergi dari ruangan yang membuatnya sesak nafas.


Echa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, melewati lorong yang gelap, anehnya diruangan tadi ada cahaya tapi di lorong yang dirinya lewati saat ini sama sekali minim akan pencahayaan, dia semakin merasa sulit untuk bernafas ketika melangkah melewati setiap pintu yang tertutup rapat.


Pengap banget. Ucap Echa dalam hati ketika sama sekali tidak menemukan pasokan oksigen. Dirinya seperti terjebak dalam sebuah lift. Sangat sulit untuk menemukan hembusan angin.


Echa tetap melangkahkan kakinya mengikuti lorong untuk menemukan jalan keluar dari tempat yang pengap ini, namun tiba-tiba saja Echa mendengar percakapan singkat diruangan yang berada disebelahnya.


"Aku pastikan mereka akan saling menyalahkan orang terdahulu." ucap orang yang berada dibalik ruangan itu.


Perlahan Echa membuka pintu disebelahnya, rasa ingin tahu didalam dirinya lebih menguasai daripada rasa ingin keluar untuk mendapat angin sejuk.


Pemandangan pertama yang Echa lihat adalah seseorang wanita berada ditengah-tengah lingkaran dan ditengah lingkaran itu ada sebuah lambang berbentuk bintang.



Echa tidak begitu bisa melihat dengan jelas wajah orang yang berada ditengah lingkaran, wajahnya selalu saja berubah-ubah setiap detik dengan gerakan tangan yang seolah memberikan sebuah simbol tersembunyi.


"Engkau yang mulia, aku hanya menyembahmu. Bahkan diriku sendiri." Ucap seorang wanita yang sedang duduk di tengah lingkaran itu.


Kalau Caca masuk dia bakalan tau gak ya? Tanya Echa ketika tidak bisa melihat dengan jelas simbol dari pergerakan ditangan wanita itu.


Ini kan visual, pasti dia gak bakalan bisa liat Caca. Ucap Echa sambil masuk kedalam ruangan penyembah setan itu.


Namun saat masuk kedalam ruangan tiba-tiba saja wanita yang berada di tengah lingkaran itu menatap kearah Echa.


"Akhirnya kau masuk kedalam sini." Ucap Wanita itu dengan senyuman sinis tercetak dibibirnya sambil menatap kearah Echa dengan tatapan bagaikan ular yang akan menyemburkan bisanya.


"Kau bisa melihatku?" Tanya Echa kaget sekaligus bingung secara bersamaan.


"Tentu saja, aku bisa melihat kalian baik itu di dunia nyata, dunia gaib ataupun dunia visual seperti ini." Jawab wanita tersebut dengan wajah yang mirip seperti Riana.


"Ana.." gumam Echa ketika melihat wajah wanita tersebut adalah Riana.


"Yah, aku temanmu, apakah kau mau berteman kembali denganku? Aku sudah hancur. Tolong aku, aku ingin keluar dari sini." ucap Riana dengan mata berkaca-kaca sambil mengulurkan tangannya kearah Echa.


Echa hanya menatap tangan yang Riana ulurkan untuknya, dia dapat melihat mata yang penuh dengan penyesalan, hancur dan sakit menyatu dalam ekspresi meminta tolong padanya.


Echa mencoba untuk menerima uluran tangan itu namun tiba-tiba saja wajah Riana berubah menjadi wajah Namira.

__ADS_1


"Kak Rara.." ucap Echa mengurungkan niatnya untuk menerima uluran tangan wanita yang memiliki wajah berubah-ubah.


"Caca.. tolong, ini Rara." ujar Namira dengan ekspresi wajah yang sama seperti Riana, penuh penyesalan.


Dalam seperkian detik wajah itu langsung berubah menjadi wajah beberapa wajah yang Echa kenali. Silviana, Evelyn, William, Bagas, Ratu dan Hans terus berganti diwajah wanita yang entah siapa wanita misterius itu.


"Siapa kamu?" Tanya Echa ketika tidak dapat menemukan pencerahan dari perjalanannya kali ini.


"Aku salah satu dari mereka." Jawab wanita tersebut sambil berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kearah Echa.


Echa melangkahkan kakinya mundur ketika wanita itu mendekat kearahnya dengan sebuah pisau berlumuran darah berada digenggaman tangannya.


"Siapa kamu?" Tanya Echa lagi.


"Aku sudah bilang bukan? Aku salah satu dari mereka. Atau bahkan aku salah satu dari teman-temanmu itu." Jawab Wanita tersebut yang masih mendekat kearah Echa.


"Kau wanita." Ucap Echa yang masih berjalan mundur sambil sesekali melihat kebelakang, takut jika salah dalam mengambil langkah.


"Aku bisa berubah menjadi siapapun, bahkan orang yang sangat kau sayangi." Ucap wanita itu yang kini berubah menjadi Bara.


"Kak Bara.." gumam Echa ketika melihat yang berada di hadapannya saat ini adalah Bara.


"Kamu bukan Kak Bara!" Bentak Echa ketika orang yang itu mengulurkan tangannya kearah Echa.


"Kak Caca, ini Aira." Ucap wanita yang tadi duduk di tengah lingkaran merubah wujudnya menjadi Aira.


"Aira.." gumam Echa yang mulai ketakutan ketika wanita penyembah setan itu bisa merubah wujudnya menjadi siapapun.


"Ca, jangan mundur, ikut Hanin, kita harus keluar dari sini." Ucap wanita yang kini berubah menjadi Hanin.


"Jangan mundur Ca, ikut Vivi juga, kita keluar sama-sama dari sini." Sambung wanita yang merubah wujudnya menjadi Ivy.


Echa semakin takut berada disini ditambah sulit untuk bernafas bahkan saat ini dirinya seolah mempunyai penyakit asma.


"Kini giliran ku yang bertanya." ucap wanita tersebut sambil tersenyum sinis. Echa tidak menjawab perkataan wanita yang dapat merubah-ubah wujudnya, dia sedang mencari cara untuk tetap bernafas dan keluar dari tempat terkutuk ini.


"Siapa yang akan kau percaya?" Tanya wanita dengan menampilkan wajah Shiren sambil tersenyum sinis kearahnya.


"Jangan.." ucap Echa ketika wanita itu mengarahkan pisau kearahnya.


Lari. Satu kata itu yang ada dipikiran Echa saat ini, dia harus segera lari dari visual yang sangat mengerikan, tidak peduli seberapa jauh lorong yang harus dirinya tempuh.

__ADS_1


Namun saat Echa ingin lari, kakinya seolah bergerak lambat, sangat lambat, bagaikan dalam mimpi.


"Kau tidak bisa lari." Ucap wanita tersebut ketika Echa ingin lari namun langkahnya malah lambat.


Ayo kerjasamanya, ini bukan mimpi. Ucap Echa dalam hati ketika ingin lari malah bergerak lambat.


"Ini saatnya giliranku." Ucap wanita tersebut yang langsung menancapkan pisau berlumuran darah tepat di jantung Echa.


SRETT .


"Arrrghhh! Ibu!" Teriak Echa ketika pisau itu menancap sangat dalam mengenai jantungnya.


"Ca, hei, bangun." Ucap seseorang sambil menepuk pelan pipi Echa.


"Sakit.." ucap Echa lirih yang masih membuka matanya.


"Ca, hei, Bangun ini kakak." sambung seseorang yang sedang berusaha membangunkan Echa dari mimpi buruknya itu.


"Kakak.." ucap Echa lirih sambil membuka matanya melihat Bara sedang membangunkannya.


"Kakak disini." ujar Bara sambil merapikan rambut Echa yang menghalangi wajahnya.


Echa langsung mengambil pasokan oksigen untuk dihirup sambil memegang tempat dimana pisau itu menusuk jantungnya sangat dalam, bahkan rasa sakit itu masih terasa, seperti 12 tulang yang dipatahkan secara bersamaan dan sengaja. Rasa sakit ini seperti nyata.


"Mau tidur lagi?" Tanya Bara sambil memeluk Echa dan mengelus punggungnya. Bara belum berani mempertanyakan mimpi yang sempat menganggu tidur kekasihnya itu.



"Caca takut.." Jawab Echa menatap kosong kearah depan.


"Kakak disini, jangan takut." Ucap Bara sambil menatap kearah Echa.


Echa hanya menggenggam tangan Bara seolah genggaman itu menyiratkan untuk tidak beranjak pergi dari tempat tidur.


Echa benar-benar sangat takut mimpinya tadi terulang kembali tapi baginya itu bukan mimpi, itu visual. Echa tau betul mana mimpi dan mana visual.


Anehnya dia merasakan dua hal itu secara bersamaan, berada diantara mimpi dan visual sangatlah mengerikan, ini pertama kalinya bagi Echa.


"Jangan kemana-mana." Ucap Echa ketika Bara membaringkan tubuh Echa kembali untuk menjemput alam mimpinya.


"Iya." Ujar Bara sambil mengelus lembut tangan Echa yang berada di genggaman tangannya.

__ADS_1


__ADS_2