
Echa yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menceritakan semua percakapan dia dan ibunya beberapa jam yang lalu tentang kenapa jalan satu-satunya harus menikah.
"Wahh.. kalau gitu Vivi juga mau nikah, tapi kayaknya Vivi belum siap." ucap Ivy ketika mendengar cerita dari Echa.
"Jadi, siapa dulu nih yang bakalan nikah?" Tanya Shiren menatap kearah Echa, Hanin dan Ivy secara bergantian.
"Feeling bakalan Hanin dulu sih.." jawab Ivy sambil menatap kearah Hanin.
"Feeling Hanin bakalan Caca duluan, udah dapet lampu hijau dari dua keluarga." ucap Hanin menatap kearah Echa.
"Caca gimana baiknya aja. Kalau sekarang ya ayo kalau nanti juga gak apa-apa." ujar Echa.
"Wah fiks sih ini bakalan Caca duluan." ucap Shiren sambil tersenyum kearah Echa.
"Btw, Shila kemana ya?" Tanya Shiren penasaran ketika Shila sama sekali tidak menampakkan dirinya dihadapan mereka.
"Gak tau, mungkin disekitar sini lagi deketin cogan." Jawab Hanin yang sudah hafal betul watak Shila.
"Tapi dari tadi shiren panggil gak dateng, biasanya suka dateng." Ucap Shiren.
"Caca juga sempet panggil Shila tapi gak dateng." Ujar Echa bingung.
Echa mencari keberadaan Shila dari banyaknya para tamu undangan yang seolah tidak ada habisnya, bahkan tak sedikit dari para tamu undangan yang berdatangan itu ditempeli oleh mahluk tak kasat mata, dimulai dari sosok yang jahil, main-main dan ada juga yang memang menggunakan pesugihan untuk kekayaan.
Dia tidak terlalu menghiraukan sosok yang menempel pada orang lain, dia takut jika harus menolong orang ketempelan dan sosok yang lain akan mengetahui bahwa dirinya istimewa, Alhasil dia yang akan kewalahan sendiri. Echa hanya fokus pada pencariannya terhadap Shila.
"Gak ada kan?" Tanya Shiren ketika melihat Echa mencari keberadaan Shila.
"Iya, kemana ya?" Tanya Echa yang sama sekali tidak menemukan keberadaan Shila.
Namun saat Hanin ingin menjawab pertanyaan Echa dan Shiren tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang menghampiri meja mereka.
"Permisi.." ucap pria tampan blasteran jerman-indo dengan senyuman manisnya.
"Iya, kenapa?" Tanya Hanin ketika pria itu menatap kearahnya.
"Saya boleh minta nomor WhatsApp kalian?" Tanya pria tersebut.
Saat mendengar perkataan itu Hanin, Shiren, Echa dan Ivy saling menatap satu sama lain seolah memberikan pertanyaan siapa yang akan memberikan nomor ponsel pada pria tampan ini?
"Saya atau teman saya?" Tanya Hanin yang kini beralih menatap pria tersebut.
"Kalian berempat." Jawab pria tersebut masih menampilkan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya boleh kenalan dulu? Biar enak manggilnya, Ivy." Ucap Ivy sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Arzan." Ujar pria yang meminta nomor ponsel Echa dan teman-temannya, Arzan menerima uluran tangan Ivy dan tersenyum manis.
"Arzan maunya yang mana?" Tanya Ivy sambil melepaskan uluran tangan yang diterima oleh Arzan. Sedangkan Echa, Shiren dan Hanin melototkan matanya kearah Ivy seolah berkata itu sebuah penawaran untuk cari mati.
"Eh.." ucap Arzan yang bingung bagaimana cara memanggilnya namun tatapan matanya nya mengarah pada Shiren.
"Oh iya, kenalin ini Shiren, ini Hanin dan yang ini Caca." ujar Ivy memperkenalkan satu persatu teman-temannya yang hanya melemparkan senyuman pada Arzan.
"Sebenarnya saya hanya ingin meminta nomor Shiren tapi teman-teman saya menyuruh untuk meminta nomor kalian." ucap Arzan canggung.
"Oke, ini nomor Vivi..." Ucap Ivy yang menyebutkan nomor ponsel miliknya untuk di tulis Arzan. Arzan yang mendengar seperti itu langsung mengetik nomor ponsel Ivy.
Berlanjut pada Shiren, Hanin dan yang terakhir Echa, namun yang Echa sebutkan bukanlah nomor WhatsApp miliknya tapi milik Bara.
"Terimakasih, teman Arzan yang itu titip salam buat Caca." Ucap Arzan sambil menatap kearah seorang pria tampan yang sedang menatap kearah Echa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Echa mengikuti tatapan Arzan dan seketika dahinya mengernyit, wajah pria itu tidak asing baginya, dia seperti pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Siapa namanya?" Tanya Echa penasaran ketika melihat wajah dari pria itu sangat tidak asing baginya.
"Arsen." Jawab Arzan.
Arsenio Hans Pratama, gak mungkin.
Echa kini beralih menatap kearah Ivy dan Hanin seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
" Itu cuman masa lalu, anggap aja gak pernah terjadi." Bisik Ivy.
"Kalau gitu saya permisi dulu, terimakasih.." ucap Arzan sambil melangkahkan kaki meninggalkan meja mereka. Hanin, Ivy dan Shiren hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Arzan.
"Ca.." panggil Hanin ketika melihat Echa malah melamun.
"Caca takut Nin." Sahut Echa dengan tatapan kosong, dia kembali teringat dengan perlakuan Arsenio yang hampir saja ingin menodai dirinya, jika saja pria itu tidak datang entah bagaimana hidupnya sekarang.
Echa masih trauma berat atas yang terjadi beberapa tahun yang lalu, kenapa semua datang secara bertubi-tubi?
"Caca pura-pura amnesia aja, sekarang Caca gak usah khawatir. Caca udah punya kak Bara, dan Hanin percaya kak Bara gak bakalan biarin Caca diambil gitu aja." ucap Hanin sambil menggenggam tangan Echa untuk menenangkannya.
Echa yang mendapat perkataan dan perlakuan seperti itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia punya Bara. Itu satu kalimat yang bisa menenangkannya.
Saat Ivy ingin mengucapkan sesuatu kepada Echa tiba-tiba saja Gavin datang ke meja mereka berempat,
__ADS_1
"Kak Gavin turun sendiri? Devan sama yang lainnya mana?" Tanya Shiren ketika melihat hanya Gavin yang turun.
"Ada dibelakang." Jawab Gavin sambil melihat kearah tangga.
Echa, Hanin, Shiren dan Ivy melihat kearah yang dituju oleh mata Gavin, mereka melihat Bara, Nathan, Azka dan Devan sedang menuruni anak tangga dengan gaya nya yang cool terlihat penuh misterius, berwibawa dan yang paling mencolok adalah tampan.
Tak sedikit orang yang menatap sekaligus memuji secara terang-terangan ketampanan mereka, siapa yang dapat menyangkal bahwa mereka tidak memiliki ketampanan diatas rata-rata?
Bahkan mahluk tak kasat mata yang menempel sekaligus sosok pesugihan yang ada di dalam gedung pernikahan lenyap dalam seketika, bagaikan debu yang di tiup oleh angin.
"Kakak udah sembuh?" Tanya Echa sambil memegang kening Bara. Suhu tubuhnya masih agak sedikit panas tapi wajahnya sudah tidak sepucat tadi.
"Udah." Jawab Bara dengan wajah andalannya ketika didepan publik.
"Kenapa turun? Kakak... Kenapa selalu gak nurutin Caca?" ucap Echa yang lagi-lagi harus sabar karena tingkah laku Bara.
"Kalau Caca diatas kakak gak bakalan turun," ujar Bara sambil berjongkok dihadapan Echa yang sedang duduk di kursi.
"Kak.." ucap Echa tertahan ketika Bara mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Mau dansa?" tanya Bara.
"Kak.." ucap Echa yang kembali tertahan karena ucapan Bara.
"Temen-temen Caca udah pada disana, Caca gak mau ikutan?" tanya Bara sambil menatap kearah teman-temannya yang sedang berdansa dengan kekasihnya masing-masing. Echa langsung melihat kearah yang dilihat oleh Bara, teman-temannya sedang berdansa.
"Caca gak bisa," jawab Echa.
"Bisa, ayo." ajak Bara sambil menuntun tangan Echa untuk bergabung dengan yang lainnya.
Bara menuntun tangan Echa untuk memegang bahunya, sedangkan tangan Bara berada di pinggang ramping milik Echa.
Suara alunan musik terdengar begitu indah, kakinya menari dengan langkah kecil, mata yang saling menatap satu sama lain mengikuti irama musik dengan lampu yang agak sedikit redup membuat semua terbawa suasana.
"I love you." ucap Bara sambil menatap lekat mata Echa yang berada dihadapannya.
"How much?" tanya Echa yang juga menatap lekat mata coklat indah milik Bara. Mata yang mampu menghipnotis wanita manapun bila melihatnya sedekat ini.
"Lebih besar dari yang kamu kira." jawab Bara dengan tatapan teduh, menenangkan dan menghipnotis. Wanita manapun akan benar-benar jatuh cinta ketika melihat tatapan yang sangat menenangkan itu, Echa adalah bukti bahwa keseriusan laki-laki dapat dilihat dari matanya.
"Really?" Tanya Echa.
__ADS_1
"You win." Jawab Bara sambil tersenyum manis.