
Malam hari telah tiba, kini Echa dan Hanin sedang berada di kamar Bara. Angin berhembus kencang lewat jendela, mampu membuat tubuh Echa kedinginan. Satu kata yang Echa pikirkan saat ini, Aneh.
"Kira-kira siapa ya, Ca?" tanya Hanin secara tiba-tiba sambil menutup jendela yang terbuka di kamar Bara.
"Apa?" tanya Echa sembari menyimpan ponselnya.
"Penghianat." jawab Hanin mendudukkan dirinya di samping Echa.
Hanin dan teman-temannya yang lain masih belum pergi dari rumah Bara. Kecuali Roslyn, Qiara dan Desvita, mereka sudah pulang setelah makan siang.
"Caca gak bisa simpulin gitu aja, Caca butuh Shila." ucap Echa menatap lekat mata Hanin. Sedangkan Hanin yang mendapat perkataan seperti itu hanya menghela nafasnya panjang. Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan agar Shila bisa membantu menyelesaikan semua masalahnya ini.
"Caca kangen banget sama Shila," ucap Echa menatap kosong kearah depan.
"Hanin juga," ujar Hanin.
"Dulu, Caca berpikir kalau siklus hidup itu... sukses, nikah, punya anak, hidup bahagia." ucap Echa yang masih menatap kosong kearah depan.
"Ternyata jalan buat lewatin semua itu gak mudah,"
"Iya, Ca. Hanin juga berpikir gitu, tapi nyatanya malah stress." ujar Hanin sembari menidurkan tubuhnya di samping Echa.
"Wait... " ucap Hanin terhenti ketika menatap mata Echa.
"Apa?" tanya Echa yang sedang mengerutkan dahinya.
"Shila gak bisa deket-deket sama kita itu karena ada 'dia' Caca paham kan?" tanya Hanin.
"Bentar, jangan bilang kalau selama ini Shila tau siapa penghianat itu?" tanya Echa menyimpulkan ucapan dari Hanin.
"Iya. Bahkan Hanin mikir kalau Shila tau apa rencana 'dia' Coba di pikir lagi sama Caca, Shila ilang gitu aja gak mungkin tanpa alasan kan? Dia selalu cari tau apa yang selama ini membahayakan hidup kita." jelas Hanin yang masih menatap mata Echa.
"Pertama, Shila ilang di acara pernikahan kak Tiara sama Alvero." ucap Echa kembali mengingat awal renggangnya komunikasi antara dirinya dan Shila.
"Kedua, Aira masuk rumah sakit dan keadaannya hampir memburuk ketika ada Hanin sama Vivi." ujar Hanin yang mengingat bagaimana keadaan Aira tiba-tiba saja memburuk ketika Ivy dan dirinya ada disana.
"Ketiga, Shila cerita kalau dirinya gak bisa deket-deket Caca, Hanin sama Vivi dihadapan Devan, kak Tiara, kak Vero, kak Gavin sama Shiren." ucap Echa.
"Keempat,mungkin Hanin aja yang terlalu kejauhan mikirnya. Tapi, akhir-akhir ini kak Tiara sama kak Vero jarang banget kumpul sama kita." ujar Hanin yang berpikir bahwa Mutiara dan Alvero jarang kumpul dengan mereka, meskipun mereka sudah berumah tangga. Tapi, entah kenapa Hanin terdorong untuk membicarakan hal tersebut.
"Terakhir, kenapa Vivi gak dipercaya Ibu, Tante Vita sama Bunda An? Padahal dia lama banget kenal sama kita, apa itu gak terlalu jahat buat Vivi gak tau tentang ini?" tanya Echa penasaran.
"Iya juga ya, kenapa Hanin gak berpikir kesitu?" tanya Hanin pada dirinya sendiri sambil menatap kearah Echa. "Firasat Hanin kenapa ke Vivi sama Shiren ya?"
"Gak mungkin lah, Nin. Masa iya Vivi jahat banget sama kita." jawab Echa meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ivy bukan penghianat itu, meskipun ada celah kecil dihatinya tentang Ivy.
"Sebenernya Shila bisa deketin kita, cuman dia gak mau kalau si penghianat itu ngadu tentang rencana kita kedepannya." ucap Hanin yang nampak berpikir sambil menatap langit-langit kamar Bara.
"Serius?" tanya Echa.
"Mungkin. Kalau Shila datang kesini, diantara temen-temen kita semua pasti ada yang ngerasain kehadiran dia. Jadi, Shila lebih berhati-hati lagi sebelum bilang semuanya, karena musuh yang kita hadepin sekarang, bukan orang luar tapi orang dalam." jawab Hanin. Echa hanya menghela nafasnya panjang.
Echa tidak tahu harus bagaimana lagi, ini adalah hal yang terberat dalam hidupnya. Sebuah penghianatan dari orang dalam, menyakitkan dan tentunya kecewa. Dia lebih baik melawan seribu orang demi sahabatnya dari pada harus melawan satu sahabat demi seribu orang yang tidak dikenalnya.
"Kita salah apa si, Nin. Sama dia?" tanya Echa menatap kosong kearah depan dengan mata berkaca-kaca.
Lagi dan lagi dia harus menghadapi sebuah kekecewaan yang besar terhadap orang yang dia sayangi. Kenapa dunia begitu jahat padanya? Apa tidak cukup hanya dengan mahluk tak kasat mata? Ilmu hitam yang harus dia musnahkan? Apa lagi yang harus dia hadapi sekarang? Dadanya sesak sekali. Mengingat apa yang telah Echa lewati sebelumnya. Itu saja sudah sangat berat. Namun, dia dipaksa untuk tetap kuat.
"Kita coba aja panggil Shila disaat gak ada siapapun. Kalau emang dia gak datang berarti kita salah menyimpulkan." jawab Hanin dengan suara yang pelan sembari beralih menatap kearah Echa yang sedang meneteskan air matanya.
Hanin juga merasakan hal yang sama seperti Echa. Sesak, lelah, kecewa, semuanya begitu sangat menyiksa dirinya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kamar Bara.
__ADS_1
"Mereka lagi ngomongin apa si?" tanya orang tersebut yang mencoba untuk mendengar lebih jelas apa perkataan terakhir Hanin.
"Ah bodo amat." jawab orang tersebut sambil melangkahkan kakinya pergi ketika tidak mendengar perkataan apapun lagi dari dalam.
"Btw, besok udah masuk kampus ya?" tanya Hanin mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab Echa sambil menghapus air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Mau masuk?" tanya Hanin.
"Ya mau lah, Masa engga." jawab Echa.
"Emang udah sembuh? Gimana sama kak Bara? Udah siap mental buat bilang besok mau masuk kampus?" tanya Hanin sambil tersenyum meledek kearah Echa.
"Nin. Jangan bikin overthingking, Kak Bara bakalan bolehin kok." jawab Echa kesal.
"Ya, gimana... Hanin cuman ngingetin aja, biar bisa siapin mental." ucap Hanin.
"Nin, jangan gitu. Caca jadi takut kan bilangnya," ujar Echa dengan wajah di tekuk.
"Iya deh, Hanin minta maaf," ucap Hanin sambil beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana?" tanya Echa saat melihat Hanin melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.
"Keluar bentar, lagi pengen yang dingin-dingin." jawab Hanin sambil mengikat rambutnya.
"Jangan lama," ucap Echa ketika Hanin menutup pintu kamarnya.
Echa merasakan hawa dingin di sebelah kanannya, dia benar-benar takut. Entahlah, kenapa bisa takut seperti ini. Hawa dingin yang berada di sebelahnya ini tidak seperti biasanya. Ada aura jahat bercampur di dalamnya.
"Kalian tidak akan bisa lepas dari bahaya yang telah aku rencanakan..."
Ucapan itu terdengar sangat jelas ditelinga Echa bersamaan dengan hawa dingin yang seperti menyentuh telinganya.
"Siapa?" tanya Echa dengan rasa takut.
Bersamaan dengan ucapan itu tiba-tiba saja ada yang masuk kedalam kamar.
Cklek.
"Aaaa!!" teriak Echa kaget dengan suara pintu yang terbuka begitu saja.
"Hei, kenapa? Ini kakak." ucap Bara panik sambil mendudukkan dirinya di samping Echa yang sedang menutup kedua telinga seraya memejamkan matanya.
Perlahan Echa membuka matanya, menatap Bara yang berada dihadapannya dan tiba-tiba hawa dingin yang ada di samping Echa menghilang begitu saja.
"Kakak..." ucap Echa sambil memeluk tubuh Bara.
Echa sangat ketakutan saat mendengar perkataan yang datang bersamaan dengan hawa dingin tadi. Suara itu mampu membuat tubuhnya seolah di bakar hidup-hidup karena merasakan betapa besar dendam yang ada di suara tersebut.
Bara tidak berkata apapun, dia dapat merasakan ketakutan dalam diri Echa. Bara juga merasakan akan ada sesuatu yang besar terjadi pada mereka.
"Ada kakak disini, jangan takut." ucap Bara ketika merasakan Echa menggenggam erat bajunya kuat.
"Caca takut..." ujar Echa lirih.
"Kenapa? Cerita sama Kakak." ucap Bara sambil mengelus rambut Echa.
"Dia bilang, 'Aku kembali untuk membalaskan dendam. Kini, nyawa kalian bukan di tangan Tuhan. Melainkan di tanganku.' Caca denger jelas banget." ujar Echa yang masih memeluk tubuh Bara.
"Kakak disini..." ucap Bara dengan suara lembut mengalun indah ditelinga Echa. Echa tidak menjawab ucapan Bara. Dia masih memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. Apa yang baru saja di dengar seperti sebuah ancaman serius.
"Besok ke kampus?" tanya Bara mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Echa sambil melepaskan pelukannya dan menatap kearah Bara.
Bara tersenyum sembari menatap mata Echa. "Gak." Seketika senyuman yang terbit diwajah Echa tiba-tiba saja memudar mendengar perkataan Bara yang singkat, padat dan jelas.
"Kak, Caca mau ke kampus, ya..." ucap Echa dengan tatapan memohon.
"Enggak." ujar Bara.
"Kak..." ucap Echa yang langsung disanggah oleh Bara.
"Sebelum masuk, Caca pasti pkkmb dulu dan kakak gak mau Caca kenapa-kenapa." ujar Bara menatap lekat mata Echa.
"Kalau kenapa-kenapa, kan ada Kakak." ucap Echa cengengesan.
"Enggak,Ca." ujar Bara yang tetap teguh pada jawaban tidaknya.
"Kak," ucap Echa.
"Ca." ujar Bara dengan tatapan dinginnya.
Echa yang mendapat tatapan seperti itu langsung menundukkan kepalanya.
"Ca..." panggil Bara ketika melihat perubahan sikap Echa.
"Caca mau tidur." ucap Echa sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Emang kakak aja yang bisa marah? Caca juga bisa. ucap Echa dalam hati dengan wajah merengut dibalik selimut.
"Ca, kakak gak mau Caca kenapa-kenapa lagi." ujar Bara.
"Iya. Udah. Caca ngantuk, mau tidur." ucap Echa ketus.
"Yaudah, iya boleh..." ujar Bara sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Echa.
"Bener?" tanya Echa sambil menatap mata Bara.
"Iya." jawab Bara.
"Serius?" tanya Echa sembari menyipitkan matanya, mencari kebohongan di mata Bara.
"Yaudah kalau gak mau, tidur aja." jawab Bara yang berdiri dari duduknya untuk melangkahkan kakinya pergi.
"Eh, tunggu." ucap Echa sambil mencekal tangan Bara.
"Apa?" tanya Bara.
"Duduk dulu sebentar." jawab Echa sembari menarik tangan Bara agar duduk kembali di sampingnya.
Bara menghela nafasnya, dia kembali mendudukkan tubuhnya di samping Echa sambil menatap kearah Echa yang sedang tersenyum manis.
Cup.
Kecupan singkat mendarat mulus di pipi Bara.
"Makasih," ucap Echa sembari tersenyum manis menatap Bara yang sedang mengedipkan matanya berkali-kali.
Lucu. Itu kesan pertama saat Echa melihat ekspresi malu dari Bara.
"A-pa?" tanya Bara gugup.
"Gak apa-apa, Caca cuman bilang ngantuk." jawab Echa sambil menutupi tubuhnya lagi dengan selimut.
Echa mengembangkan senyumannya dibalik selimut tersebut dengan wajah yang terasa panas.
__ADS_1
"Selamat malam." ucap Bara sambil tersenyum manis dan melangkahkan kakinya keluar.
Bara merasakan ada jutaan kupu-kupu diperutnya akibat dari perlakuan Echa padanya yang secara tiba-tiba. Bahkan senyuman dibibirnya masih belum memudar.