
Malam hari telah tiba, Echa dan Bara masih berada di ruangan Bunda An tapi Echa sudah mengecek keadaan Daniel dan Aira beberapa kali, mereka masih saja memejamkan matanya.
Echa sama sekali belum melihat ponsel sejak tadi pagi, setelah kejadian teman-teman yang kecewa padanya, Echa seolah enggan untuk membuka ponsel.
Echa memberanikan diri untuk membuka ponselnya, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah banyaknya panggilan masuk dari Hanin.
"Hanin. Kenapa telpon Caca?" Tanya Echa.
Echa langsung melihat kearah Bara yang sepertinya sudah tertidur pulas, dia kembali menelpon Hanin.
"Halo Ca? Kemana aja? Semuanya baik-baik aja kan?" Tanya Hanin ketika mengangkat sambungan telpon Echa.
"Maafin Hanin, tadi Hanin cuman kebawa emosi Vivi sama Shiren, maafin Hanin ya.." sambung Hanin sambil menghela nafasnya.
Echa yang mendengar itu mengulas senyuman manisnya, dia percaya Hanin tidak akan percaya begitu saja jika belum mendengar penjelasan dari orangnya langsung.
"Iya gak apa-apa kok, Caca ngerti, Caca juga bakalan ngelakuin hal yang sama kayak Hanin kalau Hanin pergi gitu aja tanpa pamit apapun." ucap Echa.
"Maaf.. perkataan Hanin tadi pasti udah bikin Caca gak percaya sama Hanin." ujar Hanin.
"Sebelumnya Caca emang gak percaya sama Hanin, kenapa Hanin bisa bilang kayak gitu padahal Hanin belum denger penjelasan Caca, tapi Caca berusaha buat percaya kalau Hanin bakalan dengerin semuanya penjelasan dari Caca." ucap Echa sambil tersenyum manis.
"Hanin malu banget Ca.. Hanin minta maaf.." ujar Hanin.
"Hanin gak salah kok, tadi Hanin cuman kebawa emosi, Caca ngerti kok. Gimana keadaan disana?" Tanya Echa mengalihkan pembicaraan.
"Hanin gak tau, tadi Hanin langsung pamit sama Tante Mala sama Kak Tiara juga buat pulang ke rumah." Jawab Hanin.
"Kenapa pulang?" Tanya Echa.
"Hanin kecewa banget sama Vivi sama Shiren, Hanin muak ngeliat mereka." Jawab Hanin yang terdengar emosi.
"Tenang dulu, jangan gegabah lagi. Siapa tau mereka juga lagi emosi." Ucap Echa.
"Mereka gak lagi emosi, mereka sadar sepenuhnya." Ujar Hanin.
"Yaudah gak apa-apa tapi Hanin juga harus inget mereka masih sahabat kita, kita pernah ngalamin hal-hal sulit sama-sama." Ucap Echa.
"Hanin gak habis pikir lagi sama pola pikir Caca. Udah di kecewain kayak tadi tapi kenapa masih bisa bilang gitu? Mereka jahat Ca." Ujar Hanin.
"1 kesalahan bisa aja nutup mata dari 1000 kebaikan. Jangan selalu liat dari kesalahannya aja Nin, kita juga harus liat dari kebaikannya juga." Ucap Echa sambil menatap kearah bunda An yang masih memejamkan matanya.
"Caca terlalu baik buat Hanin yang mikir pake logika. Jadi, apa yang sebenernya terjadi?" Tanya Hanin to the point. Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang sambil menatap kearah Bara yang sedang memejamkan matanya.
"Kenapa Ca? Ada masalah apa?" Tanya Hanin ketika mendengar Echa menghela nafasnya.
"Kak Bara gak boleh ngasih tau apa yang sebenernya terjadi, tapi Caca juga gak bisa nutupin ini dari Hanin." Jawab Echa.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Hanin penasaran.
"Tapi janji sama Caca jangan bilang sama siapa-siapa lagi. Sebelum kak Bara yang bilang sendiri buat jelasin semuanya." Jawab Echa.
"Hanin janji." Ucap Hanin Serius.
Echa sudah matang dengan pemikirannya itu, Hanin tipikal sahabat yang bisa diandalkan dalam menjaga sebuah rahasia.
"Kemarin Caca dapet kabar kalau mobil ayah kecelakaan." Ujar Echa.
"Serius?! Kenapa gak bilang dari awal Ca?! Gimana keadaan bunda An sekarang? Aira? Om Daniel?" Tanya Hanin bertubi-tubi.
"Ayah sama Bunda udah baik-baik aja tapi belum bangun dan keadaan Aira koma." Jawab Echa.
"Disana ada siapa?" Tanya Hanin.
"Cuman Caca, Kak Bara sama Mang Agus." Jawab Echa.
"Hanin kesana. Hanin juga mau minta maaf sama Kak Bara." ucap Hanin.
"Iya. Tapi Hanin jangan sama siapa-siapa kesininya. Rumah sakit Widhibarata ruangan anggrek 10." ujar Echa.
"Iya Ca, yaudah Hanin tutup telponnya." ucap Hanin yang langsung menutup sambungan telponnya.
Echa langsung melihat kearah Bara yang sedang memejamkan matanya, dia melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang terjaga dalam mimpinya.
Echa menidurkan kepalanya di atas tangan Bara yang sedang dia genggam sambil menatap wajah Bara, baginya wajah Bara itu pahatan yang sempurna.
"Mine." ucap Echa sambil tersenyum manis dan mengelus lembut pipi Bara. Sedangkan si pemilik wajah tersebut langsung membuka matanya dan melihat kearah Echa yang sedang duduk dibawah lantai menatap dirinya.
"Kenapa dibawah?" Tanya Bara dengan suara khas orang bangun tidur sambil menatap kearah Echa.
"Pengen aja duduk gini." Jawab Echa yang masih tertidur di atas tangan Bara.
"Jangan gitu dingin, awas dulu." ucap Bara sambil mengelus rambut Echa.
"5 menit." ujar Echa mengikuti gaya bicara Bara saat padanya jika meminta waktu.
"Dingin Ca, jangan gini." ucap Bara sambil bangun dari tidurnya itu.
"Ah kakak mah! giliran Caca yang kayak gitu langsung marah." ujar Echa yang kini sudah duduk di sofa bersama Bara.
"Dingin Ca, apalagi pake celana pendek kayak gitu, nanti masuk angin." ucap Bara.
Namun saat Echa ingin menjawab perkataan Bara tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam ruangan.
"Hanin." ucap Echa sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Echa melangkahkan kakinya kearah Hanin yang sedang mengatur nafasnya. Tanpa berpikir panjang lagi Hanin langsung memeluk Echa.
"Maafin Hanin.. tadi Hanin kebawa emosi Vivi sama Shiren, maaf.." ucap Hanin sambil memeluk Echa.
"Iya, Caca maafin, Caca percaya kalau Hanin gak bakalan ngambil keputusan kalau belum tau semua dari orangnya langsung." ujar Echa sambil mengelus punggung Hanin.
Setelah mendapat jawaban seperti itu dari Echa, Hanin langsung melepaskan pelukannya pada Echa dan menatap kearah Bara yang sedang memejamkan matanya seolah enggan untuk melihat dirinya.
"Kak Bara.. maafin Hanin.." ucap Hanin sambil menundukkan kepalanya.
"Tau dari siapa? Dari Caca?" Tanya Bara tanpa membuka matanya.
"Engga, Hanin cari tau sendiri." Jawab Hanin dengan nada serius seolah memang dia yang mencari tahunya sendiri.
"Secepat itu?" Tanya Bara.
"Iya, Hanin tadi nyoba pergi kerumah Caca terus ada Bi Neni, Bi Neni bilang Caca lagi disini." Jawab Hanin.
"Siapa aja yang udah tau?" Tanya Bara.
"Gak ada kecuali Hanin." Jawab Hanin.
"Maafin Hanin ya kak.." ucap Hanin.
"Hm.." gumam Bara.
"Kakak maafin Hanin kan?" Tanya Hanin.
"Iya. Inget. Jangan ada yang tau lagi." Jawab Bara sambil menatap kearah Hanin yang sedang menundukkan kepalanya.
"Iya kak Hanin janji." Ucap Hanin sambil tersenyum. Bara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aira dimana?" tanya Hanin.
"Ada di ruangan khusus." jawab Echa.
"Dibawah?" tanya Hanin.
"Iya, Hanin mau kesana? biar Caca anterin." jawab Echa.
"Gak perlu biar Hanin aja sendiri, ini juga udah malem takut Caca kenapa-kenapa, lagian masuk keruangan khusus harus sendiri-sendiri kan?" tanya Hanin.
"Iya, tapi Hanin kan gak tau ruangannya." jawab Echa.
"Gampang, tinggal nanya sama perawat." ucap Hanin sambil melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut untuk menemui Aira.
"Duduk lagi." ucap Bara saat Hanin sudah keluar dari ruangan bunda An.
__ADS_1