
Saat ini Echa dan Bara sedang berada diatas motor, mereka baru saja berangkat beberapa menit yang lalu untuk melihat perumahan indah asri.
"Kak," panggil Echa sambil memeluk pinggang Bara yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan standar.
"Hm?" sahut Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Namun saat Echa ingin berbicara sesuatu tiba-tiba saja dia mendengar tangisan seorang anak kecil yang memanggil ibunya.
Echa melihat ke sisi kanan dan kiri untuk mencari keberadaan sumber suara itu, suara tangisan yang terdengar beda. Dia merasakan pilu, sakit, sesak secara bersamaan mendengar suara tersebut.
Matanya menangkap seorang anak kecil yang sedang memegang tangan ibunya sambil menangis, yang membuat Echa kaget ketika ibunya itu menyeret anaknya ke tengah jalan,
"Mama. Hiks..hiks.. mama." seru seorang anak kecil yang mengikuti langkah ibunya menuju tengah jalan.
"Kak. Berhenti." ucap Echa ketika melihat ada keanehan dalam diri ibu tersebut.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung memberhentikan laju motor dan membuka kaca helm full face nya.
"Kenapa?" tanya Bara bingung ketika Echa menyuruhnya berhenti begitu saja.
"Caca mau bantuin anak kecil itu." jawab Echa sambil menatap kearah anak kecil yang sedang diseret oleh ibunya menuju ketengah jalan.
Bara mengikuti arah tatapan mata Echa yang melihat seorang ibu yang sedang mendorong anaknya ke tengah jalan.
Echa dapat membaca pikiran ibu itu, dia ingin membunuh anaknya, entah untuk apa tujuan ibu itu membunuh anaknya di tempat ramai yang pasti semua orang seperti tidak melihat adegan tersebut, semuanya terlihat biasa saja.
Echa sudah turun sejak tadi, dia melangkahkan kakinya kearah anak kecil yang sedang jatuh terduduk di tengah jalan dengan lutut dan sikut yang berdarah.
"Mama.. hiks.. hiks.. hiks.. sakit.." panggil anak kecil yang usianya sekitar 6 tahun itu ketika ibu dari anak tersebut malah menginjak tangannya dengan sangat kencang.
"Ibu, maaf itu kasian anaknya." ucap Echa ketika sudah berada di hadapan ibu dari seorang anak kecil itu.
"Kenapa kamu bisa melihatnya?" tanya ibu itu bingung ketika melihat Echa menghampiri dirinya.
"Apa maksud ibu? Tentu saya melihatnya karena saya punya mata." jawab Echa sambil menyingkirkan kaki ibu tersebut dari tangan seorang anak kecil yang sedang meringgis kesakitan.
"Pergi. Kau tidak perlu menolong anak sialan ini." ucap ibu tersebut yang kini menarik paksa tangan anak kecil itu dari pangkuan Echa.
"Tidak. Daripada ibu membuatnya seperti ini lebih baik saya membawanya pergi." ujar Echa menepis tangan ibu tersebut yang sedang menarik paksa tangan anaknya.
"Mama.." panggil anak tersebut yang masih menangis dalam pelukan Echa.
"Kamu bakalan baik-baik aja sama kakak, jangan nangis ya cantik.." ucap Echa menenangkan anak yang kini berada dipangkuannya, mengelus lembut kepala anak tersebut.
__ADS_1
"Aku ibunya! Aku berhak melakukan apapun!" ujar ibu tersebut.
Echa yang mendengar itu langsung menurunkan anak kecil dari pangkuan dan menyembunyikan dibalik tubuhnya.
"Apa ibu akan membunuhnya? Mencelakainya? Ibu tega melihat anak ibu mati dihadapan ibu?" tanya Echa bertubi-tubi dengan suara berbisik tepat ditelinga ibu dari anak tersebut. Dia tidak ingin anak kecil itu mengetahui kejahatan yang akan dilakukan oleh ibunya sendiri.
Sedangkan ibu tersebut langsung melototkan matanya kaget seolah pertanyaan yang diucapkan oleh Echa tadi itu benar tanpa meleset sedikitpun.
"Apa yang aku tanyakan tadi itu benarkan Bu? Dimana hati nurani ibu? Jika saya harus membeli anak ini, saya akan membelinya dan semua tanggung jawab anak ini ada pada saya." ucap Echa menatap tajam kearah seorang ibu yang tega ingin membunuh anaknya dengan alasan tabrak lari.
Echa juga dapat melihat ibu ini menggunakan ilmu hitam untuk jabatan, entah lah Echa tidak habis pikir dengan orang-orang yang sudah tersesat seperti ini.
Echa melakukan ini karena dia takut, seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan ini menjadi korban berikutnya dari ilmu hitam yang belum sempat dia musnahkan. Beritahu Echa jika dia salah dalam mengambil keputusan.
"Kau ingin membelinya? Anak tidak berguna itu?" tanya Ibu itu sambil berdecak meremehkan kearah Echa dan Bara yang sedang menggendong anak kecil itu.
"Berapa yang ibu butuhkan?" tanya Bara dengan tatapan dingin, tajam dan menusuk.
Sepertinya anak ini membawa keberuntungan, aku akan memilih yang lain saja sebagai persembahan. ucap ibu tersebut dalam pikirannya dan tentunya Echa yang membaca pikiran tersebut.
"Mama.." panggil anak yang sedang berada di gendongan Bara.
"Diam anak tidak berguna! Mulai saat ini kau bukan anakku!" bentak ibu tersebut sambil melototkan matanya kearah anak kecil yang berada dalam gendongan Bara.
"Turunkan pandanganmu." ucap Bara dengan nada yang mulai tinggi. Ibu tersebut langsung menundukkan pandangannya takut ketika mendengar suara tinggi dari Bara.
"Berapa yang ibu inginkan?" tanya Echa.
"2 Miliar." jawab Ibu tersebut sambil menatap mata Echa dengan tatapan menantang seolah harga itu adalah harga yang tidak bisa di capai untuk Echa dan Bara.
"Hanya 2 Miliar? Berapa nomor rekening nya? Akan saya kirim sekarang juga." ucap Bara sambil mengetik nominal uang yang akan dikirim.
Sejak tadi dia merekam percakapan antara Echa dan Ibu dari anak kecil yang berada dalam gendongannya ini.
Ibu tersebut menyebut nomor rekening miliknya, dia kaget bukan main ketika Bara menganggap enteng uang seharga dua miliar itu,
Ting.
Tiba-tiba saja ponsel ibu tersebut berbunyi dan menampilkan nominal uang yang diberikan oleh Bara. Kalian tahu berapa yang Bara berikan kepada ibu tersebut? Lima Miliar.
"Sudah cukup? Anak ini sudah milik kami." ucap Bara menatap kearah ibu tersebut yang sedang kaget melihat layar ponselnya.
"Baiklah, aku pergi. Sejak kecil dia selalu merepotkan dan tidak berguna, bawa saja. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi." ujar Ibu tersebut yang sudah bisa menutupi rasa kagetnya dan berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mama!!" teriak anak kecil yang berada dalam gendongan Bara.
"Ada kakak disini, jangan takut lagi ya, sekarang kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan." ucap Echa sambil mengelus lembut kepala anak kecil yang berada di gendongan Bara.
"Apapun?" tanya anak kecil tersebut.
"Apapun, tidak untuk kembali pada ibumu." jawab Echa sambil tersenyum manis.
Echa dapat merasakan kelegaan dalam diri anak kecil ini ketika sudah lepas dari ibunya, dia juga melihat deretan kejadian penyiksaan terhadap anak kecil ini oleh ibunya.
"Apa aku akan bertemu ibu baru?" tanya anak tersebut sambil menghapus jejak air mata yang sempat membasahi pipinya.
"Tentu saja, 2 ibu baru sekaligus." jawab Echa sambil tersenyum manis.
"Apa mereka baik?" tanya anak kecil tersebut.
"Tentu saja. siapa namamu?" tanya Echa sambil tersenyum manis.
"Qiara." jawab anak kecil tersebut yang menyebut namanya Qiara.
"Nama yang indah." ucap Bara mengecup singkat pipi Qiara.
"Sekarang Qiara gak usah takut ya, ada kakak disini," ujar Echa mengelus lembut rambut Qiara sambil menetralisir tubuhnya dari energi negatif yang ada dalam diri Qiara.
"Sakit ya?" tanya Bara ketika melihat sikut dan lutut Qiara banyak mengeluarkan darah.
"Qiara udah biasa kak, jadi gak sakit." jawab Qiara sambil tersenyum manis.
"Qiara mau liat rumah baru?" tanya Echa mengalihkan pembicaraan.
"Mau!" ucap Qiara antusias.
Echa dan Bara melangkahkan kakinya menuju motor bersama dengan Qiara yang berada dalam gendongan Bara.
...----------------...
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat semua pergerakan Echa dan Bara, orang itu mengepalkan tangannya kuat dengan rahang yang sudah mengeras.
"Sial! Kenapa harus mereka yang membawa anak itu! Argh! Ini akan membuatku semakin sulit untuk mencelakakan mereka!" ucap orang tersebut dengan mata penuh amarah ketika melihat Qiara sudah berada di genggaman Echa dan Bara.
"Bodoh kau Lusi!" ujar orang tersebut menatap punggung ibu Qiara yang sudah mulai hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1