
Echa memberikan selembar kertas lusuh dengan tinta darah kepada Hanin dan Ivy. Sedangkan Shiren mendadak ada kelas.
Hanin dan Ivy membaca satu kata yang ditulis oleh noda darah tersebut. singkat namun memiliki arti yang dalam.
Jika bertanya kenapa Ivy diajak berdiskusi? siapa tau Echa mendapat jalan keluar atau bahkan penghianat itu dari ekspresi wajahnya.
"Wait, ini kertas sama kayak yang Vivi temuin," ucap Ivy saat melihat kertas tersebut.
"Maksudnya?" tanya Echa dan Hanin kompak ketika mendengar penuturan Ivy.
Ivy mengambil selembar kertas dari saku jaketnya, kertas yang sama.
"Ini," ucap Ivy sambil memberikan kertas tersebut kepada Echa dan Hanin.
Dia, ada diantara kalian.
Echa dan Hanin saling menatap satu sama lain, seolah bertanya kenapa?
"Vivi nemu ini dimana?" tanya Hanin kini beralih menatap Ivy.
"Waktu perempuan itu jatuh dari lantai atas," jawab Ivy.
"Terus?" tanya Echa penasaran.
"Tiba-tiba aja ada kertas dibawah kaki Vivi," jawab Ivy.
"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Hanin sambil menatap lekat mata Ivy.
"Vivi mau bilang dari awal tapi Vivi pikir-pikir lagi, setelah baca tulisan itu. Apa kalian tau diantara kita ada penghianat?" tanya Ivy menatap Echa dan Hanin secara bergantian.
"Engga," jawab Hanin. Seolah memang dirinya tidak tahu bahwa ada penghianat diantara mereka.
"Emangnya kenapa Vivi nanya gitu?" tanya Echa penasaran.
"Vivi dapet visual dari kertas itu," jawab Ivy.
"Apa?" tanya Echa.
"Vivi liat ada dua orang yang lagi ngeliat kaca. Satu kayak bayangan gitu yang satunya lagi nyata," jawab Ivy dengan tatapan serius.
Echa tidak melihat kebohongan di mata Ivy, dia tahu betul bagaimana Ivy.
"Emang gitu kan? Setiap manusia, orang pasti punya bayangannya Vivi." ucap Hanin yang sedang menahan kekesalannya atas penuturan Ivy.
"Iya, Vivi tau Nin. Tapi ini beda," ujar Ivy.
__ADS_1
"Letak beda nya dimana?" tanya Hanin.
"Cermin dua arah, kayak gini, Vivi liat cermin, tapi di cermin itu bukan wajah Vivi, tapi bayangan" jelas Ivy.
"Cuman itu aja?" tanya Hanin.
"Engga, entah bayangan atau orang nyata ada yang bilang 'Aku benci sebuah ikatan' terus ada yang tanya 'Apa yang akan kamu lakukan?' di jawab 'mereka saling menyalahkan dan mati satu persatu' udah itu aja," jelas Ivy.
Apa Vivi bisa di percaya? tanya Echa dalam hati sambil menatap lekat mata Ivy.
"Itu aja? Yakin?" tanya Echa.
"Iya, cuman itu. Abis itu langsung semuanya gelap," jawab Ivy.
"Kapan Vivi dapat visual itu?" tanya Echa.
"Waktu pegang kertas ini, ada yang kalian sembunyikan dari Vivi? Kalian tau kan tentang penghianat itu?" tanya Ivy sembari menatap lekat mata Hanin dan Echa.
Namun saat Hanin ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Vivi, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam kamar Echa.
"Ternyata kalian disini, Tiara panggil-panggil dari tadi gak ada, gak apa-apa kan Ca masuk sendiri? Abisnya gak ada yang buka pintu," ucap Mutiara dengan wajah cemberut.
Sedangkan Hanin, Ivy dan Echa langsung membawa kertas yang bertinta kan darah tersebut. Menyimpannya kedalam saku.
"Gak apa-apa kak, Caca minta maaf gak denger suara bel nya, kak Bara gak ada ya di ruang tamu?" tanya Echa.
"Gimana tugasnya, kak? Aman?" tanya Ivy sambil tersenyum kearah Mutiara yang berada di sampingnya.
"Hampir meledak, ya ampun serasa udah gak punya otak lagi, pusing banget," jawab Mutiara.
"Sabar ya kak, Hanin cuman bisa bilang itu aja, cuman bisa bantu doa," ucap Hanin cengengesan.
"Gak apa-apa, lagian udah beres dan sesuai dengan harapan," ujar Mutiara. "Kapan nih persiapannya?"
"Antara besok atau lusa, kak" jawab Hanin.
"Abis ini pasti Vivi nih," ucap Mutiara sambil melihat kearah Ivy.
"Maunya sih gitu, kak. Tapi, gimana ya?" tanya Ivy dengan wajah cemberut.
"Gimana apanya?" tanya Mutiara bingung.
"Kak Azka gak pernah peka, semuanya harus to the point," jawab Ivy.
"Azka emang kayak gitu, Vi. Dia gak peka kalau gak to the point ya gak bakalan ngerti-ngerti," ucap Mutiara.
__ADS_1
"Emang, kak. Serius mending dapet yang cuek tapi ngerti apa yang kita rasain, daripada yang bisa mencairkan suasana tapi gak paham-paham," ujar Ivy dengan wajah cemberut.
"Meskipun kayak gitu, tapi Azka super duper romantis, serius. Jujur aja, waktu pertama ketemu Azka. Tiara sempet suka, waktu SMP, hal kecil yang Azka kasih mungkin gak ada apa-apanya, tapi beda lagi kalau perempuan yang dapet hal sederhana itu. pada akhirnya, Tiara kenal Vero yang super cuek, irit ngomong. Pokoknya nyebelin banget, tapi selalu ngerti apa yang Tiara rasain, dan akhirnya sampai jadi suami," ucap Tiara.
"Iya, Vivi juga gitu, hal kecil yang kak Azka kasih itu mungkin gak seberapa tapi damage nya, ya ampun. Bikin jantung maraton," ujar Ivy.
"Caca gimana sama Bara? Udah sejauh apa?" tanya Mutiara sambil menatap kearah Echa.
"Belum jauh," jawab Echa.
"Yakin? Gak percaya sih kalau belum jauh, Tiara tau gimana Bara," ucap Mutiara.
"Kak, jangan gitu..." ujar Echa sambil menutup wajahnya yang memerah malu.
"Btw, shiren kemana?" tanya Mutiara yang tidak melihat keberadaan Shiren.
"Ada kuliah," jawab Hanin.
"Kalian gak ada jadwal?" tanya Mutiara.
"Paling nanti siang," jawab Hanin.
"Sekarang giliran kita yang tanya kakak," ucap Ivy sambil menatap kearah mutiara.
"Jangan yang aneh-aneh ya," ujar Mutiara.
"Gak, kok kak" ucap Ivy.
"Yaudah, apa?" tanya Mutiara sambil melihat kearah Ivy.
"Akhir-akhir ini, Kakak ada yang aneh gak? Atau ngerasain hal aneh?" tanya Ivy.
"Beberapa hari yang lalu, Tiara ngeliat sekelebat bayangan gitu, tengah malam. Dan yang terakhir, Tiara lagi ngerjain tugas tiba-tiba aja denger suara batu yang di lempar ke tembok. Lama banget, sampai Tiara langsung nyamperin Vero karena takut, cuman itu aja" jawab Mutiara.
"Vivi juga akhir-akhir ini kayak ngeliat bayangan gitu, cuman lewat aja tapi sering," ucap Ivy.
"Caca juga sama, selalu ngeliat bayangan tapi cuman lewat gak ngapa-ngapain. Caca ngerasain ada aura jahat banget, tapi anehnya. Gak ngapa-ngapain cuman lewat gitu aja," ujar Echa sambil menatap kearah Mutiara dan Ivy yang ada di hadapannya.
"Hanin malah gak ngalamin hal-hal aneh, kayak kalian, kenapa ya?" tanya Hanin bingung.
"Jangan sampai Nin," jawab Mutiara.
"Kalau gitu Hanin gak bisa tau apa niat dari bayangan itu," ucap Hanin.
"Siapa tau nanti bisa lewat," ujar Ivy cengengesan.
__ADS_1
"Udah ah, jangan bahas kayak gitu, Tiara suka parno kalau di rumah sendiri," ucap Mutiara.