
Pagi hari telah tiba, setelah kejadian semalam kini Echa, Bunda An dan Qiara sedang berada di ruangan Aira dengan alat medis yang menempel ditubuh Aira. Sedangkan Bara pergi keluar sebentar.
Semalam Bara sudah meminta maaf kepada Daniel, begitupun dengan Daniel, ayah dari Aira dan Bara itu akhirnya menyadari bahwa dia tidak pernah memiliki waktu luang untuk anak-anaknya.
Bahkan dia menyalahkan dirinya sendiri ketika mengingat bahwa Daniel meninggalkan kedua anaknya ini hanya untuk uang. Semua keadaan sudah kembali membaik namun tidak dengan keadaan Aira yang katanya kecil kemungkinan untuk selamat.
Dokter masih belum bisa memprediksi apa penyakit yang saat ini di derita oleh Aira hingga ,banyak mengeluarkan darah dari hidung maupun mulutnya.
Dokter pun memberi pesan jika Aira tidak bangun selama 24 jam, dokter akan angkat tangan karena penyakit Aira ini sama sekali tidak terdeteksi oleh apapun.
"Bunda, makan dulu ya, Aira pasti bakalan bangun kok." Bunda An hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil menggenggam tangan Aira dengan tatapan kosong.
Echa yang mendapat gelengan kepala seperti itu langsung menyimpan piring yang berisi nasi goreng.
Dia melangkahkan kakinya kearah Qiara yang sedang duduk manis di sofa.
Semalam Echa juga menceritakan tentang Qiara kepada Roslyn terlebih dahulu sebelum pada akhirnya dia bercerita kepada yang lain.
Flashback On
"Ca, ikut ibu." ajak Roslyn sambil menggenggam tangan Echa untuk mengikuti dirinya. Echa yang mendapat ajakan seperti itu hanya bisa mengikuti Roslyn. Sampai tiba di taman rumah sakit dengan udara yang terasa menusuk ke rongga kulit.
"Siapa anak kecil itu?" tanya Roslyn to the point.
"Qiara." jawab Echa.
"Kenapa bisa sama kamu?" tanya Roslyn sambil menatap kearah Echa.
Echa yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menjelaskan semua kejadian saat dia bertemu dengan Qiara tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Dia juga menceritakan tentang percakapannya dengan Hanin bahwa Qiara bukan anak biasa, Echa juga menceritakan beberapa kejadian yang menimpa dirinya saat bersama dengan Qiara
"Kamu beruntung." jawab Roslyn ketika mendengar cerita Echa tentang Qiara.
__ADS_1
"Beruntung?" tanya Echa bingung dengan perkataan Roslyn.
"Qiara bukan anak biasa." jawab Roslyn menatap kearah Echa.
"Dimana letak bukan anak biasanya?" tanya Echa penasaran ketika Roslyn berkata tentang sesuatu yang dimiliki oleh Qiara.
"Dia bisa tahu semuanya tentang hal-hal gaib bahkan ketika 'mereka' menutup matanya, itu gak bakalan mempan sama sskali buat Qiara." jawab Roslyn.
"Yang diucapkan Hanin tentang 'ketika Qiara mempertajam sesuatu yang ada dalam dirinya, itu akan membuat dia dalam bahaya.' ibu bisa ngerasain hal itu ketika semakin hari kemampuan Qiara akan semakin tajam jika dihadapkan dengan hal-hal yang mistis." sambung Roslyn yang masih menatap mata Echa.
Flashback off
"Qiara, kamu tau kenapa Aira bisa kayak gitu?" tanya Echa penasaran sudah sampai sejauh mana kemampuan Qiara.
"Enggak," jawab Qiara yang memang tidak tahu kenapa Aira bisa sampai seperti ini, tidak ada tanda-tanda apapun disekitar Aira yang membuatnya curiga. Echa menghela nafasnya lega ketika mendengar perkataan Qiara yang seperti itu.
Namun saat Echa ingin bertanya sesuatu kepada Qiara dia melihat Bara membawa cemilan yang banyak.
"Bar, Ca.. mama titip Aira ya, mau mandi dulu." ucap Bunda An sambil melanggengkan kakinya untuk mengambil handuk dari dalam koper dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan Aira.
"Mama masih gak mau makan?" tanya Bara ketika melihat bunda An sudah masuk kedalam kamar mandi.
"Belum, masih gak mau makan." jawab Echa.
"Qiara, mau ini?" tanya Bara sambil menwarkan makanan yang dia beli di supermarket.
"Mau." jawab Qiara antusias.
Bara memberikan kantung plastik yang dirinya bawa kepada Qiara untuk dimakan, dia pun melangkahkan kakinya kearah Echa yang sedang duduk di sofa, Bara merebahkan tubuhnya sambil menyimpan kepalanya dipangkuan Echa.
Echa yang melihat Bara memejamkan mata di atas pangkuannya itu hanya bisa mengelus kepala Bara sambil sesekali memijat kepala Bara.
__ADS_1
"Kakak gak kuliah?" tanya Echa yang sedang mengelus kepala Bara yang ada dipangkuannya.
"Enggak." jawab Bara yang kini sedang menatap kearah Echa sambil tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum kayak gitu?" tanya Echa ketika melihat senyuman tak biasa yang tercetak di bibir Bara.
"Kapan kakak di panggil sayang?" tanya Bara yang masih menatap Echa.
"Kakak tau sendiri kan kalau Caca geli disuruh manggil sayang ke kakak." jawab Echa. Bara yang mendapat perkataan seperti itu tidak membalas perkataan Echa, dia kembali memejamkan mata di pangkuan Echa dengan wajah yang di tekuk.
...----------------...
Sedangkan disisi lain seorang wanita berjubah hitam sedang menatap dirinya di pantulan cermin dengan lilin berjumlah 11 berada dihadapannya.
"Sialan!" ucap wanita tersebut dengan amarah yang memuncak.
"Kenapa anak itu harus sama dia?" tanya orang misterius itu dengan nafas yang memburu menahan amarah.
"Arghhhh!" teriak wanita misterius itu yang mampu membuat ruangan yang sedang dia tempati bergetar hebat hingga menjatuhkan beberapa barang yang ada disekitarnya namun tidak untuk 11 lilin yang berada dihadapannya, lilin itu masih menyala, lilin itu sudah seperti nyawa.
"Aku harus lebih berhati-hati lagi ketika ingin melangkah, mereka semakin kuat." ucap orang tersebut sambil melangkahkan kakinya kearah sebuah pajangan foto yang ditempel di dinding.
"Apa secepat itu kalian melupakan ku? Apa aku sudah tidak artinya dalam hidup kalian? Padahal aku pernah menjadi orang yang sangat mengenal kalian, sampai pada akhirnya ulah kalian sendiri yang membuatku benci pada kalian semua." ujar orang misterius itu sambil memegang pigura yang menghiasi foto kebersamaan dia dengan Echa dan teman-temannya yang lain.
"Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana kalian menatapmu sebagai musuh." ucap orang misterius berjubah hitam itu sambil melangkahkan kakinya kearah burung gagak peliharaannya yang sedang tertidur dalam sangkar.
"Ah manis sekali, kalian memang teman terbaikku. Jika aku mengirim gagak ini maka salah satu dari kalian sudah berhasil aku ambil." ucap wanita berjubah itu sambil melihat gagaknya.
Wanita berjubah itu mengambil satu gagak yang ada di dalam sangkar, membuat gagak itu mau tak mau membuka matanya ketika diberi perintah oleh majikannya.
"Pergilah kepada anak kecil yang sedang berada terbaring lemah di rumah sakit rapat pukul 23.40. Setelah itu kamu bebas, terbang sesuka mu." ucap wanita berjubah itu sambil mengelus burung gagak dengan bulu berwarna hitam yang sangat indah baginya.
__ADS_1
Wanita itu menerbangkan gagak tersebut membuatnya terbang tinggi, dia tersenyum sinis ketika gagak itu terbang dengan sangat lancar menuju kearah yang sudah dirinya perintah.
"Mari kita lihat akan ada drama apa?" tanya wanita itu yang masih menyunggingkan senyum mengerikan.