TEROR

TEROR
|32| MUSIK


__ADS_3

Acara penyambutan telah selesai kini tinggal acara pemasangan cincin, Mutiara semakin gugup ketika pembawa acara menyebutkan kepada Alvero untuk duduk di kursi bersama dengan keluarganya.


Saat ini Echa, Hanin, Ivy dan Shiren sedang bersama dengan Mutiara untuk menenangkannya.


"Tenang kak, jangan gugup. Kakak pasti bisa senyum." Ucap Shiren mencoba untuk membuat Mutiara tenang.


Mutiara mencoba untuk tersenyum manis tapi tetap saja bibirnya seolah gemetar ditambah detak jantung tidak seperti biasanya.


"Mama.. Tiara gak bisa senyum." Ucap Mutiara menghela nafasnya.


"Tiara." Panggil Roslyn sambil membuka pintu ruangan.


"Kenapa Tante?" Tanya Mutiara.


"Ayo." Ajak Roslyn.


"Tapi Tiara gugup banget." Ucap Mutiara.


"Gak apa-apa, ayo." Ujar Roslyn sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.


Mutiara membalas senyuman Roslyn sambil mengeggam tangan Roslyn, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan make up diikuti Hanin, Echa, Shiren dan Ivy di belakangnya.


"Anggap aja cuman kamu Vero sama temen-temen kamu yang ada disana." Ucap Roslyn. Mutiara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalian yang antar Tiara." Ujar Roslyn sambil menatap kearah Echa dan teman-temannya.


"Caca aja sama Hanin yang di depan, Vivi sama gugupnya." bisik Ivy kepada Hanin dan Echa.


"Iya, kalian aja ya, cuman nganter doang, kita ada di belakang. Kaki shiren gemeter." ucap Shiren.


"Caca juga gugup Vi, Ren." Ujar Echa.


"Ayo nak." Ucap Roslyn.


Echa dan Hanin langsung menggenggam tangan Mutiara, Hanin disebelah kiri dan Echa disebelah kanan.


Mereka semua melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Alvero sedang menunggu kedatangan Mutiara.


Bahkan mata para tamu tertuju pada mereka semua. Siapapun akan berkata sangat cantik jika melihat Mutiara. Apalagi di dampingi oleh teman-temannya yang tak kalah cantik dan manis.


"Ayo senyum kak. Anggap aja cuman ada kita." Ucap Hanin.


"Tiara lagi coba." Ujar Mutiara sambil tersenyum manis.


Alvero yang melihat mutiara langsung berdiri dari tempat duduknya, terpukau pada kecantikan Mutiara.


Mutiara akan menjadi tanggung jawabnya, bukan hanya kedua orang tuanya saja yang harus dia jaga, kini Alvero juga harus menjaga calon istrinya itu.


Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca ketika Mutiara semakin mendekat kearahnya dengan senyuman manis andalannya.


Hatinya campur aduk, rasa bahagia tidak bisa terbendung lagi. Alvero langsung melangkahkan kakinya kearah mutiara, mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh mutiara.


Echa dan Hanin yang melihat uluran tangan Alvero itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada Mutiara, sedangkan mutiara langsung menggenggam tangan Alvero yang sejak tadi terulur untuknya.


"Cantik banget ya calonnya." ucap salah satu pembawa acara ketika Mutiara sudah berada di tempat duduk yang telah di sediakan.


Mutiara duduk diantara kedua orang tuanya, begitupun dengan Alvero, dia duduk di sebelah orang tuannya sambil membawa sebuket bunga yang besar untuk di berikan kepada Mutiara.


Sedangkan Echa, Hanin, Ivy dan Shiren langsung melangkahkan kakinya menuju kearah Bara, Nathan, Azka dan Gavin.


"Kenapa tangannya gemetaran?" Tanya Bara ketika Echa menggenggam tangannya.


"Gak tau, Caca juga ikut gugup." Jawab Echa.


"Duduk." Ucap Bara mempersilahkan Echa duduk di kursi sebelahnya. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil mendudukkan dirinya di kursi begitupun dengan teman-temannya.


"Untuk Alvero, apa tujuan anda datang kemari?" Tanya pembawa acara yang bernama Gerald ketika Mutiara berada di hadapannya.


"Tujuan saya kemari ingin meminang Mutiara." Jawab Alvero sambil menatap kearah Mutiara.


"Bagaimana Mutiara?" Tanya Gerald. Namun saat ingin menjawab pertanyaan dari Gerald, tiba-tiba saja pembawa acara satu lagi berbicara mendahului mutiara.


"Eits tapi gak semudah itu loh, gini ya Gerald kata orang, seorang putri adalah milik ayahnya, jadi biarkan Alvero meminta izin kepada ayahnya Mutiara." Jawab pembawa acara tersebut yang bernama Vina sambil menatap kearah Ferdinan yang sedang tersenyum penuh haru kearah Mutiara.


"Ah iya, tidak mudah ya mengambil seorang putri dari ayahnya, jadi harus lah minta izin dulu sama ayahnya." Ucap Gerald.


"Ayo silahkan Alvero." Ujar Vina mempersilahkan Alvero untuk berbicara kepada Ferdinan.


"Ayah, saya disini berdiri sebagai seorang pria yang ingin meminang putri ayah, saya tidak mengambil cinta pertama darinya, saya hanya ingin mengambil tanggung jawab putri ayah dari tangan ayah. Saya akan berusaha untuk membahagiakan putri ayah dengan sangat maximal. Saya meminta izin kepada ayah agar memberi tanggung jawab mutiara kepada saya." ucap Alvero sambil menatap kearah Ferdinan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kamu yakin bisa membahagiakan putri saya?" Tanya Ferdinan.


"Saya akan berusaha membuat putri ayah bahagia bersama saya dan saya akan meletakkan kebahagiaan putri ayah di atas kebahagiaan saya." Jawab Alvero.


"Saya izinkan untuk mengambil tanggung jawab putri saya." Ucap Ferdinan dengan mata yang berkaca-kaca. Alvero menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum kearah Ferdinan.


"Akhirnya sudah diberi izin ya, mari kita lihat jawaban dari putri dari ayah Ferdinan, bagaimana Mutiara?" Tanya Vani sambil menatap kearah Mutiara yang sedang menghapus air matanya sebelum jatuh membasahi pipinya.


"Saya terima." Jawab Mutiara sambil menatap kearah Alvero.

__ADS_1


"Kita sudah mendapat jawaban dari Mutiara, tolong Alvero cincinnya pasangkan." Ucap Gerald sambil menatap kearah Ibunya Alvero.


Alvero menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil membawa cincin di genggaman tangan ibunya.


"Perlahan ya, kita akan mengabadikan semua ini." Ujar Vani.


Alvero memakaikan cincin di jari manis milik Mutiara secara perlahan, banyak kamera yang mengabadikan semua ini.


"Akhirnya, Mutiara sudah milik Alvero ya tapi belum sepenuhnya, janur kuningnya belum melengkung." Ucap Gerald.


"Mari kita tepuk tangan." Ujar Vani sambil bertepuk tangan diikuti oleh para tamu undangan lainnya.


Suara riuh tepuk tangan dari para tamu undangan memenuhi rumah besar tersebut.


"Dari para Bridesmaids sama Grossmen tidak ada yang ingin menyumbang sebuah nyanyian?" Tanya Gerald sambil menatap kearah Echa dan teman-temannya.


"Caca aja dulu ya." Ucap Shiren. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada pembawa acara bahwa dia yang akan menyumbang sebuah lagu.


"Ternyata ada Bridesmaids cantik yang mau menyumbang sebuah lagu buat calon pengantin. Silahkan kakak cantik." Ujar Gerald.


Echa melangkahkan kakinya untuk mengambil mic dari pembawa acara bernama Gerald itu.


"Mari kita dengarkan." Ucap Vina.


Echa melangkahkan kakinya kearah Bara yang sudah duduk menunggu dirinya di tempat yang telah disediakan, di tengah-tengah para tamu undangan.


"Sebelumnya saya minta maaf jika suaranya tidak enak didengar." Ucap Echa sambil tersenyum manis.


Tiba-tiba saja semuanya menjadi hening ketika Bara mulai memetik senar gitar, tangannya seolah lihai menghipnotis para penonton yang mendengarnya untuk menikmati alunan musik tersebut.


Bahagiaku bersamamu


Senang bila dekat denganmu


Kamu mahluk yang aku tuju


Yang lainnya ku tidak mau


Genggam erat tanganku sayang


Dan jangan pernah kau lepaskan


Suara petikan gitar mengalun indah mengiringi suara lembut milik Echa yang mampu membuat para penonton terdiam, menikmati suara dan alunan musik tersebut.


Karena aku butuh bimbingan


Cinta ku jangan kau lewatkan


Tenang hatiku dalam pelukanmu


Tetap denganku hingga kau menua


Hingga memutih rambutmu


Senang hatiku hidup bersamamu


Belahan jiwa jagalah diriku


Karena denganmu damai lah hatiku


Menualah bersamaku


(Bahagia bersamamu-Haico)


Petikan gitar yang terakhir mampu membuat para penonton bertepuk tangan sangat meriah yang mendengar nyanyian tersebut.


"Terimakasih." Ucap Echa sambil membungkukkan tubuhnya seolah memberi tanda terimakasih sekaligus tanda hormatnya.


Namun tidak hanya disitu saja, petikan gitar kembali berbunyi, membuat para penonton ingin kembali mendengarnya.


Sedangkan Echa yang mendengar petikan gitar tersebut langsung melototkan matanya kearah Bara, pasalnya Echa hanya berlatih satu lagu saja.


Tapi kenapa bara kembali memetik senar gitarnya seolah masih ada lagu lagi yang akan mereka nyanyikan.


"Kakak, Caca kan cuman satu lagu." ucap Echa dengan nada berbisik di telinga Bara.


Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia masih memetik senar gitarnya itu, menikmati setiap alunan musiknya begitupun para penonton.


Here we are under the moonlight


I'm the one without a dry eye


'Cause you look amazing


Bara menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang lembut dan menenangkan ditambah petikan gitar mampu menghipnotis para penonton untuk bungkam.


I'm sorry for whatever I've caused


Before today I knew I felt lost

__ADS_1


But now you're my lady


So take my hand now, see me


'Cause you've made me into this man


Bara yang matanya menatap kearah gitar kini beralih menatap Echa yang juga sedang menatap dirinya.


I promise I'll treasure you, girl


You're all that I've needed


Completing my world


Echa yang mengetahui arti dari lagu tersebut langsung tersenyum kearah Bara sambil menatap mata coklat indahnya.


You


You're my love, my life, my beginning


And I'm just so stoked I got you


Girl, you are the piece I've been missing


Remembering now


All the times I've been alone, showed me the way


Led me here, led me home


Right through that door straight to you


You're my love, my life, my beginning


It's you..


(it's you-Sezairi)


Petikan gitar kini sudah berakhir, suara riuh tepuk tangan kembali terdengar ditelinga Echa dan Bara yang sedang menatap satu sama lain sambil tersenyum manis.


Mereka berdua langsung tersadar dari tatapan yang menyita waktu lama itu ketika seorang pembawa acara bernama Gerald berbicara sesuatu.


"Wah bagus-bagus suaranya, couple goals gak nih?" Tanya Gerald menyapa para penonton.


"Goals banget!" Teriak para tamu undangan yang diantara nya adalah teman-teman mutiara dan Alvero.


"Masih ada lagu yang mau di nyanyiin buat para tamu undangan kakak manis?" Tanya Vina sambil menatap kearah Echa.


"Gak ada." Jawab Echa sambil tersenyum manis.


"Yah para penonton mulai kecewa." Ucap Vina.


"Lagi! Lagi! Lagi!" Teriak para tamu undangan, menyuruh Echa dan Bara untuk menyanyikan lagu lagi.


"Gimana tuh penonton nagih banget sama suaranya." Ucap Gerald.


"Maaf banget, latihannya cuman satu lagu. Nanti kalau lagi malah jadi sumbang." Ujar Echa.


"Baik tidak apa-apa ya.. nanti kita akan tagih lagi siangnya. Silahkan kakak duduk kembali pasti pegel ya itu kakinya." Ucap Gerald.


Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bara dan Echa melangkahkan kakinya kembali ketempat duduk mereka. Yang langsung di beri pujian oleh teman-temannya.


"Couple goals banget." Ucap Ivy.


"Suaranya gak pernah gagal." Ujar Hanin.


Namun saat Echa ingin membalas ucapan teman-temannya itu tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya sambil berteriak.


"Kak Caca!!" Teriak Aira sambil berlari kearah Echa yang sedang duduk di samping Bara.


"Sini Ra, awas nanti kesandung." sahut Echa yang melihat Aira berlari kearahnya dengan terburu-buru.


Aira langsung memeluk Echa dengan erat sambil tersenyum bahagia.


"Kak Caca bagus banget." Ucap Aira.


"Makasih sayang.." Ujar Echa sambil mengelus kepala Aira lembut.


"Mama sama Papa dimana Ra?" Tanya Bara.


"Ada disana lagi sama Ibu Ros." Jawab Aira, sambil menunjuk salah satu meja yang sedang di tempati oleh Roslyn, Bunda An, Daniel, Fernandi dan Nurmala yang sedang berbincang.


"Kak Caca tadi Aira ketemu sama perempuan jahat, Aira gak tau namanya siapa tapi dia bilang gini ' kalian akan menderita' gitu katanya." Ucap Aira yang kini berada di pangkuan Echa.


"Aira tau mukanya?" Tanya Echa.


"Gak keliatan, dia pake masker." Jawab Aira.


"Terus Aira jawab apa?" Tanya Echa.

__ADS_1


"Pas Aira mau jawab tiba-tiba aja perempuan itu pergi gitu aja." Jawab Aira.


"Cuman iseng doang, perempuan itu mau main sama Aira tapi malu." Ucap Echa sambil mengelus lembut kepala Aira seolah semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2