
"Ilang setengah gimana? Ini aja udah sakit banget," ujar Echa.
"Seharusnya kena di hati Caca tapi karna kekuatan yang ada di tubuh Bara sakitnya jadi pindah ke perut dengan beberapa gejala. Btw Caca udah punya ikatan kuat sama Bara? kayaknya udah kuat banget," tanya Shila penasaran. Jika mereka masih sebatas kekasih kekuatannya tidak akan sebesar itu. "Jangan jauh-jauh dari Bara, kalau bisa terus Deket aja, biar cepat ilang sakitnya."
"Caca sama kak Bara udah tunangan," ucap Echa.
Namun saat Shila ingin melontarkan ucapannya, tiba-tiba saja Bara keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan hanya handuk melilit di pinggangnya. membuat Shila melongo melihatnya.
Tubuh yang sangat di idam-idamkan oleh wanita itu kini Shila dapat melihatnya dengan jelas. Di tambah lagi wajahnya yang sempurna menambah kesan tampan berkali-kali lipat. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini.
"Shila pergi. Nanti Caca panggil lagi." batin Echa sembari melihat Shila yang terpesona melihat tubuh Bara.
"Sayang banget kalau dilewatin, Ca. Biarin Shila di sini aja ya." ucap Shila sambil terus menatap Bara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Engga. Pergi sekarang." ujar Echa.
Mau tak mau Shila harus pergi dari keindahan tubuh Bara untuk dia ingat. Jika tidak pergi, mungkin dia akan menjadi gelandangan jalanan lagi.
"Kenapa gak istirahat?" tanya Bara sembari melangkahkan kakinya kearah Echa dan kembali mengelus perut tunangannya tersebut.
Echa tidak merasakan sakit lagi ketika Bara mengelus perutnya. Namun kali ini jantungnya berdetak tak beraturan ketika melihat Bara telanjang dada. Mungkin saja saat ini pipinya sudah memerah.
Siapa yang tidak terpesona melihat tubuh atletis tersebut? dengan perut sixpack, rambut yang masih basah dan tatapan mata yang teduh.
Setiap tetesan air dari rambut Bara membuat Echa menggelengkan kepalanya dari hal-hal yang dia bayangkan.
Bara tertawa pelan melihat wajah merah Echa. "Gemes banget."
"Cepetan di baju," ucap Echa ketika Bara malah mendekatkan wajahnya.
"Iya, bentar lagi," ujar Bara yang masih mengelus lembut perut Echa sembari mengecup singkat pipi Echa yang memerah.
"Sekarang, nanti ada yang kesini." ucap Echa agar dia bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
Bara melangkahkan kakinya kearah ruang ganti sembari membawa pakaiannya.
Dan perut Echa kembali tercabik-cabik jantungnya seolah berdetak kencang, nafasnya hanya mampu sampai kerongkongan.
"Sakit banget." batin Echa sembari memegang perutnya. Dia mencoba untuk memejamkan mata agar bisa tertidur dan tidak bisa merasakan sakitnya.
Tak lama kemudian bara keluar dari ruang ganti dengan setelan jas berwarna hitam.
__ADS_1
"Ca, kakak berangkat dulu ya." pamit Bara sembari mencium kening Echa.
"Janji gak lama ya?" tanya Echa yang sudah tidak bisa menahan sakitnya.
"Sakit lagi?" tanya Bara sambil mengelus perut Echa.
Echa menganggukkan kepala nya lemah dengan mata yang berkaca-kaca. jujur saja, baru menahan 30 menit sudah membuat Echa ingin pingsan di tempat.
Bara mengeluarkan ponselnya. mencari nama Papa di layar ponselnya. Echa yang melihat itu langsung menggenggam tangan Bara.
"Caca masih bisa tahan sakit nya, kakak pergi sekarang aja, yang penting pulangnya cepet." ucap Echa membuat Bara mengurungkan niatnya menelpon Daniel. "Cincinnya di pake?"
Bara tersenyum sembari menunjukkan jari manisnya yang tersemat sebuah cincin sama persis dengan miliknya.
Echa tersenyum manis dengan tatapan sayu. "Pergi gih, jangan lama ya. Caca nungguin kakak pulang cepet."
"Kakak pergi sekarang," ujar Bara sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar meninggalkan Echa yang menahan sakit sembari meneteskan air matanya.
Rasanya luar biasa sakit, ketika Bara semakin menjauh darinya. Kini sakitnya bertambah ke ulu hati.
Tak lama dari perginya Bara tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya. "Ca. Hanin sama Vivi masuk ya."
"Kenapa Ca?" tanya Hanin sembari mendudukkan dirinya di ranjang kosong sebelah Echa bersama dengan Ivy.
Echa menceritakan semuanya kepada Hanin dan ivy. Terutama apa yang di ucapkan oleh Shila padanya tentang kejadian yang menimpanya ini.
"Hanin gak liat ada aura jahat yang nempel di tubuh Caca, apa yang di bilang Shila emang bener. Ini gak akan lama tapi sakitnya bakalan luar biasa banget apalagi gak ada kak Bara."
"Tolong dong Nin, Caca udah gak bisa nahan sakitnya." ucap Echa.
Hanin melihat kearah Ivy seolah memberikan pertanyaan bagaimana dari tatapan matanya itu.
"Caca panggil aja sosok tadi, terus nanti kita ajak interaksi." ucap Ivy.
Echa menganggukkan kepalanya sembari bangun dari tidurnya, di bantu oleh Hanin agar Echa nyaman dalam mediasi.
Echa memejamkan matanya memanggil sosok yang dia temui di dapur. Angin halus seolah menerpa rambutnya. Sejuk dan tenang. Tidak ada amarah sama sekali.
Sosok tersebut membuka mata Echa sembari menatap kearah Ivy dan Hanin.
"Permisi, kenapa anda melakukan hal ini kepada teman saya? Dia sangat kesakitan." ucap Hanin dengan hati-hati.
__ADS_1
"Saya kasihan melihat anak ini," ujar Echa sembari mengelus rambutnya sendiri.
"Lalu kenapa anda melakukan ini?" tanya Ivy.
Echa menatap kearah Ivy dengan tatapan tajam. "Hal luar biasa akan terjadi pada kalian, perpecahan yang sangat besar dari masa lalu. Kalian akan mendapat hukuman sepadan darinya." jawab Echa.
"Siapa dia?" tanya Hanin penasaran.
"Saya hanya ingin anak ini selamat, saya menyimpan ketenangan dalam dirinya tapi ternyata energinya tidak sama dengan ku. Maafkan aku." jelas sosok yang masih berada di dalam tubuh Echa.
"Bisakah anda mengambilnya lagi?" tanya Ivy.
Echa menggelengkan kepalanya. "Ini akan menghilang dengan sendirinya."
"Tapi yang punya badan gak bisa tahan sakitnya."
"Tidak akan lama, percayalah." ucap sosok yang berada di dalam tubuh Echa.
"Terimakasih sudah menjaga rumah ini dengan baik, boleh saya meminta teman saya kembali?" tanya Hanin.
Echa menganggukkan kepalanya, namun tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dadanya seperti ditusuk ribuan jarum, organ dalam perutnya pun seperti di putar paksa.
"Nin, Caca gak kuat." ucap Echa sambil memegang kepalanya yang terasa pening.
"Tahan sebentar bisa?" tanya Hanin.
"Gak bisa, tolongin Caca," jawab Echa yang merasakan ada tetesan darah keluar dari hidungnya.
"Ca, berdarah," ucap Ivy ketika melihat darah keluar dari hidung Echa.
Namun, dia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Sepertinya ada bentrokan energi yang memang sengaja di tujukan kepadanya.
"Caca gak kuat..." gumam Echa ketika pandangan nya mulai kabur.
"Ca, hei..." panggil Hanin khawatir.
"Ca, buka matanya, coba telepon kak Bara aja Nin." ucap Ivy.
Echa menggenggam tangan Hanin sembari menggelengkan kepalanya. "Please jangan..."
Echa sudah tidak tahu apa lagi yang terjadi setelah mengucapkan dua hal tersebut yang dia ingat hanya suara dari teman-temannya yang terus memanggi dirinya.
__ADS_1