
Echa, Hanin, Disa dan yang lainnya masih saja berkutat dengan buku dan laptop.
"Ca, kakak keluar dulu sebentar." ucap Bara dengan wajah dingin andalannya.
Echa menatap kearah Bara sambil menganggukkan kepalanya. "Iya,"
Setelah mendapat jawaban dari Echa, bara melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Nathan.
"Ini udah selesaikan, ca? tinggal satu paragraf lagi?" tanya Reyhan yang sedang menatap layar laptop miliknya.
"Iya," jawab Echa.
"Yaudah kalau gitu Disa pulang ya, Ca. Udah mau malem, rumah Disa juga lumayan jauh dari sini," ucap Disa.
"Iya, Sa. Hati-hati ya," ujar Echa.
"Iya, Ca. Maaf kalau Disa pulang cepet." ucap Disa sambil berdiri dari duduknya.
"Gino juga ya, Ca. Mama udah telepon beberapa kali suruh buat jemput ayah di bandara." ujar Gino.
"Iya, Caca anter sampai depan," ucap Echa sembari berdiri dari duduknya.
Mereka bertiga melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Kita pamit ya, Ca. Kalau ada yang salah atau apa-apa, besok kita kerjain lagi," ujar Gino sambil tersenyum.
"Iya, nanti Caca kabarin lagi kalau ada yang salah, hati-hati ya," ucap Echa.
Setelah mengantar Gino dan Disa yang pergi dari rumahnya, kini Echa duduk kembali di samping Reyhan.
"Biar Caca yang lanjutin, Rey istirahat aja, pusingkan dari tadi liat layar laptop?" tanya Echa.
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia memberikan laptop miliknya kepada Echa, untuk melanjutkan tugas kelompok mereka.
"Ca, biar aku aja, dari tadi kamu udah ngumpulin materi, Caca juga capekan?" tanya Algi.
"Bukan dari tadi, dasar buaya." ketus Hanin.
"Namanya juga usaha," ucap Algi.
"Hanin aduin ke kak Bara baru tau rasa." ujar Hanin.
"Ya gak apa-apa,"ucap Algi santai.
Namun saat Hanin ingin membalas ucapan Algi, tiba-tiba saja bel rumah Echa berbunyi.
Ting tong.
Echa berdiri dari duduknya untuk membuka pintu.
Ting tong.
"Iya tunggu sebentar." ucap Echa sambil membuka pintu rumahnya.
Dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah Alvero dan Arsenio. Dia masih diam tak berkutik melihat Arsenio yang sedang tersenyum kearahnya. Banyak pertanyaan yang ingin Echa lontarkan kepada Alvero, namun itu tidak mungkin, apalagi disini ada Algi.
Kenapa harus datang sama-sama? tanya Echa dalam hati.
Semoga gak terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Bara nya ada Ca?" tanya Alvero ketika Echa terus saja diam.
"Eh... Itu, kak Bara keluar dulu, kakak masuk aja," jawab Echa sembari mempersilahkan Arsenio dan Alvero untuk masuk.
"Udah lama?" tanya Alvero.
"Udah, mungkin sebentar lagi juga kesini," jawab Echa.
"Kak, Caca ngerjain tugas dulu ya, gak apa-apa kan di tinggal?" tanya Echa sambil menyimpan jus kepada Alvero dan Arsenio.
"Iya, gak apa-apa, santai aja," jawab Alvero sambil tersenyum manis.
Echa membalas senyuman Alvero. Dia juga melirik kearah Arsenio yang terus menatap dirinya. Dia bergegas menuju ruang tamu depan dan mendudukkan dirinya di samping Reyhan.
"Siapa, Ca?" tanya Hanin yang berpindah kesamping Echa.
"Arsenio," bisik Echa.
Hanin melototkan matanya, apa dia salah dengar yang Echa ucapkan tadi?
"Bisa panjang urusannya," ucap Hanin pelan ketika melihat kearah ruang tamu tengah, ada Arsenio dan Alvero disana.
"Caca takut, padahal semalem Arsenio yang udah buat kak Gavin celaka," ujar Echa dengan suara yang pelan.
"Semoga gak terjadi apa-apa," ucap Hanin sambil memohon kepada Tuhan agar harapannya terkabul.
"Caca gak yakin bakalan aman," ujar Echa.
Cklek.
Echa dapat mendengar suara pintu rumah yang terbuka, dia pastikan itu Bara bersama dengan Nathan.
"Kalian kenapa liat-liat gitu?" tanya Algi penasaran.
"Gak perlu tau," Hanin langsung berdiri dari duduknya diikuti dengan Echa dibelakangnya.
"Lo." ucap Nathan saat melihat Arsenio duduk di sofa bersama dengan Alvero.
"Kenalin, dia Arsenio. Temen Vero," ujar Alvero memperkenalkan Arsenio yang tersenyum kearah Nathan dan Bara.
"Ver, Lo tau siapa dia?" tanya Nathan sambil menatap kearah Alvero.
Alvero hanya diam dengan dahi yang mengernyit tidak mengerti.
"Dia yang udah buat Gavin celaka," ucap Nathan yang langsung menarik baju Arsenio untuk keluar dari rumah.
"Nat," panggil Bara yang mencegah Nathan untuk tidak keluar. Namun, Nathan malah menepis tangan Bara.
"Bar, Lo tau? Dia yang udah buat Gavin celaka. Dan Lo mau diem aja?" tanya Nathan sambil menatap tajam kearah Bara dengan tatapan penuh emosi.
"Gak usah ditarik! Gue bisa keluar sendiri!" seru Arsenio dengan tatapan tajam.
"Lo punya masalah apa sama temen-teman gue? Sampai harus buat dia hampir sekarat!" ucap Nathan kesal.
"Gue..."
BUGH.
Satu pukulan melayang diwajah Arsenio. Nathan sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.
__ADS_1
"Lo!"
BUGH.
Lagi, satu pukulan mendarat di wajah Arsenio.
"Nat, udah. Terbangun diri Lo," ucap Bara sambil mengunci pergerakan Nathan.
"Bar! Lo bela dia?" tanya Nathan dengan tatapan tajam ketika Bara menghalanginya.
"Gue gak bela dia, gue gak mau masalah ini semakin panjang, biarin aja." jawab Bara.
BUGH.
Nathan memukul perut Bara, membuat dia meringis kesakitan.
"Lo, Gavin luka buat nyelametin Lo, Bar. Dan yang dia selametin malah bela orang yang buat Gavin celaka!" bentak Nathan yang melihat Bara sedang memegang perutnya. Nathan menatap tajam kearah Bara dengan tangan yang masih mengepal.
"Nat, gue tau. Tapi tahan emosi Lo, sebentar aja." ucap Bara.
Bara tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Nathan, apalagi dia akan segera menikah dengan Hanin. Bisa saja Hanin yang akan menjadi incaran Arsenio karena diperlakukan tidak baik oleh Nathan.
Bara juga marah, kesal, emosi dengan perbuatan Arsenio, tapi tidak melampiaskannya sekarang. ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan kekesalannya.
"Ada apa?" tanya Reyhan dan Algi kompak sambil melihat apa yang terjadi di luar.
Echa dan Hanin hanya diam melihat Nathan, Bara, Alvero dan Arsenio yang sedang beradu mulut, mereka juga takut sendiri dengan nada tinggi yang keluar.
"Arsenio..." gumam Algi ketika melihat orang itu adalah Arsenio.
Algi menatap kearah Echa yang sedang gemetar.
"Puas Lo!" bentak Hanin sambil memeluk Echa yang gemetar.
"Nin..." ucap Echa lirih.
"Gak apa-apa, semua bakalan baik-baik aja," ujar Hanin sambil mengelus punggung Echa.
"Caca takut..." ucap Echa gemetar.
Kejadian buruk yang menimpanya beberapa tahun lalu harus teringat kembali. Dia masih trauma dengan apa yang dilakukan Arsenio. Echa sungguh takut.
Arsenio dan Algi harus kembali datang dihadapannya.
"Gi, bantuin, gue takut." ucap Reyhan ketika melihat Nathan yang emosi, bahkan dia tidak mengenal siapa temannya, jika sudah emosi seperti itu.
"Lo aja, gue juga takut." ujar Algi.
"Badan aja sixpack, dalemnya Disney." ucap Reyhan.
Algi langsung menatap tajam kearah Reyhan. "Lo juga."
"Kak Bara! Caca pingsan!" teriak Hanin saat merasakan Echa pingsan dalam pelukannya.
Bara yang sedang mencoba untum melerai perkelahian itu langsung menatap kearah Hanin yang tidak kuat menahan tubuh Echa.
"****!" umpat Bara sembari berlari kearah Hanin.
"Rey, gue minta tolong buat jaga Nathan, jangan sampai dia kelepasan. Hanin, jangan deket dulu sama Nathan," ucap Bara sambil mengendong tubuh Echa.
__ADS_1